Hollands Denken dan Kankergeest

 

Dalam posting  sebelumnya telah dijelaskan mengenai “Hollands Fatsoen”, sisa peradaban Belanda yang masih membekas dalam kejiwaan bangsa ini. Fatsoen yang bisa diartikan sebagai etika formalitas ternyata selain memiliki sisi positif juga memiliki sisi negatif yaitu resistensi terhadap segala sesuatu yang bersifat “tidak normal” atau perubahan radikal. Selain itu menurut Subagio Sastrowardoyo, masih ada dua sifat lagi yang menjadi warisan Belanda, yakni Hollands Denken dan Kankergeest.

 

Hollands Denken bisa diartikan sebagai cara berpikir orang-orang Belanda di zaman penjajahan dianggap tipikal bagi bangsa mereka, yaitu diwujudkan dalam sikap mereka yang terlalu mementingkan hal-hal remeh dan tidak berani menanggap atau merencanakan sesuatu secara besar-besaran.

 

Cara berpikir ala Hollands Denken berlawanan dengan gaya berpikir Think Big ala Amerika. Apabila cara berpikir orang Belanda hanya berkutat pada hal-hal kecil, maka cara berpikir orang Amerika tidak tanggung-tanggung hendak menghasilkan sesuatu yang besar-besaran, baik dalam bentuk gagasan maupun struktur ciptaan. Oleh karena itulah dalam satu kesempatan Presiden Soekarno pernah mengajak bangsa Indonesia untuk meninggalkan apa yang disebut dengan Hollands Denken. Soekarno memang dikenal sebagai seorang pemimpin dengan visi  yang sangat jauh.

 

Soekarno melahirkan perlawanan terhadap Hollands Denken lewat karya-karyanya yang luar biasa. Ia menyukai sensasi luar biasa yang dihasilkan dari aksinya. Filsafat Pancasila diprogandakan ke seluruh dunia lewat pidatonya di PBB, Stadion olah raga dan Masjid terbesar di Asia Tenggara didirikannya di Jakarta, Konferensi Asia-Afrika yang mengejutkan kalangan imperialis berhasil diadakan sepuluh tahun setelah negara ini merdeka, selain itu   berkali-kali Soekarno berkeliling dunia bersama rombongan besar pejabat untuk menguatkan eksistensi Indonesia di luar negeri. Berbagai proyek ini memang dinilai sebagai politik mercusuar semata, namun harus diakui semua itu merupakan upaya Soekarno untuk memperkenalkan konsep “Big Thinking” pada bangsa ini.

 

 

Gaya berpikir demikian berbeda sekali dengan kecenderungan politik Belanda di Indonesia yang dilandasi Hollands Denken. Dalam politik, cara berpikir orang Belanda itu terwujud dalam sebutan kruidenierspolitiek atau politik tukang meracik bumbu. Selaku pedagang kecil-kecilan itu Belanda terlalu takut merugi dalam usahanya. Dalam politik kolonialnya, pemerintah Belanda tidak berani terlalu banyak memberi konsesi dalam perundingan dengan pimpinan nasionalis Indonesia. Kemajuan rakyat juga dilakukan dengan sangat hati-hati supaya tidak menimbulkan resiko dan ancaman bagi kedudukan bangsa Belanda itu sendiri. Terlihat dalam sikap mereka yang setengah hati dalam usahanya memberi pendidikan bagi segenap bangsa Indonesia.

 

Gaya politik yang sama ditunjukan pasca kemerdekaan bangsa ini. Belanda sengaja mengulur-ulur waktu dan keputusan perundingan dengan berkali-kali melanggar perjanjian yang telah dicapai. Kelihaian mereka untuk mengutak-atik hukum dan bahasa selalu digunakan hanya langkah-langkah kecil saja yang bisa dihasilkan pemerintah Belanda untuk menahan gelora kemerdekaan Indonesia.

 

Perlu diakui bahwa Hollands Denken masih membekas pada cara berpikir bangsa Indonesia utamanya pada para birokrat dan pengambil kebijakan yang belum mampu berpikir “think big” dan hanya berkutat pada mempermasalahkan hal-hal kecil. Dalam politik kecenderungan ini terlihat lebih jelas lagi lewat sikap partai politik yang hanya mementingkan pencapaian kekuasaan alih-alih pembangunan bangsa.

 

 

 

Volksraad… Cermin kruidenierspolitiek di Hindia Belanda

 

Kankergeest

 

Karakter orang Belanda lainnya terlihat dalam bentuk Kankergeest, yaitu ciri pribadi bangsa mereka yang gemar mengomel dan menggerutu. Entah apa yang menjadi latar belakang sifat mereka yang demikian. Boleh jadi mereka pada dasarnya mereka kurang sabar menghadapi segala sesuatu di sekelilingnya. Bisa jadi karena mereka tidak puas dengan keadaan masyarakatnya sendiri di Belanda. Namun dari sudut ini bisa disimpulkan bahwa kankergeest  merupakan reaksi terhadap Hollands Fatsoen dan Hollands Denken, ciri-ciri tipikal bagi orang Belanda. Di dalam hal ini jiwa penggerutu mendapatkan kaitannyadengan kecondongan batin bangsa Belanda yang diwakili sikap masyarakat yang kleinburgerlijk, yaitu memiliki pandangan dunia yang sempit.

 

 

Kankergeest dapat dilihat dengan jelas pada pengarang Belanda terkenal, Douwes Dekker alias Multatuli, yang menulis roman Max Havelaar (1860). Dalam karya tersebut tersirat gerutuannya terhadap  tingkah laku kleinburgelijk orang sebangsanya yang diperlihatkan dalam Hollands Fatsoen dan Denken. Ia mencela sifat khas peradaban Belanda yang digambarkan dalam tokoh Droogstoppel dan Slijmering.

 

Namun sebaliknya, kecenderungan menggerutu itu terbit dari sikap tidak berdaya untuk memecahkan masalah. Artinya kankergeest muncul dari  norma kepatutan dan cara berpikir orang Belanda yang enggan keluar dari garis-garis yang telah ditentukan. Dengan demikian juga penggerutu adalah satu paket dalam peradaban yang bersifat kleinburgerlijk juga.

 

Tidak sulit untuk menemukan jejak kankergeest pada jiwa bangsa ini. Gerutuan-gerutuan tanpa makna bisa kita temukan di kehidupan sehari-hari maupun di media sosial, berusaha menyalahkan pihak  lain atas masalah yang dialaminya. Cara pandang Kleinburgerlijk juga ditunjukan lewat sikap resistensi terhadap gelombang perubahan yang tengah muncul, terutama di pemerintahan. Diperlukan kesadaran diri tingkat tinggi untuk mengkoreksi diri sendiri dan tentunya tidak mudah untuk menghilangkan peninggalan kolonial yang masih melekat pada diri kita. Namun, kecenderungan masyarakat pada akhir-akhir ini yang mulai bisa menerima tokoh-tokoh pemimpin bergaya nyeleneh mungkin bisa dianggap sebagai suatu perkembangan yang positif dalam rangka melepaskan diri dari sikap negatif peninggalan masa kolonial.

 

 

 

 

Hotel Indonesia… Salah satu proyek mercusuar Indonesia yang membanggakan…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s