PT. Kertas Padalarang, Kebanggaan yang Terlupakan

Oleh : Mondriadi

Minggu ini (6 Maret 2011), saya berkesempatan kembali bergabung dengan teman-teman dari Komunitas Aleut menjelajah sejarah di Bandung dan sekitarnya. Kali ini di sepakati point de rendevouz di Stasiun KA Bandung yang menghadap ke Jl. Kebon Kawung. Setelah melahap sarapan pagi lontong padang di Simpang Dago saya segera menemui teman yang sudah dari dulu pengen ikutan aleut tapi baru kesampaian sekarang ,Rony Saputra. Ada dua pilihan kalo mau ke stasiun dari Simpang Dago, naik angkot Stasiun – Dago turun di pintu masuk yang kecil atau Caringin – Sadang Serang turun di pintu masuk besar. Berhubung kami berdua perantau yang tidak hapal yang mana Stasiun kebon Kawung itu, jadilah kami nanya sama tukang parkir. Dengan lugas dan tegas beliau bilang,’ naek Caringin aja dek’. Oke deh pak, hatur tengkyu dan kami meluncur dengan angkot biru tersebut. Saya sedikit cemas sebenarnya karena wajtu udah jam setengah 8 lebih sedangkan janjiannya jam setengah 8 teng. Segera sms Indra Pratama, koordinatornya aleut, setelah dapet lampu hijau dari Indra buat ‘santei aja bro’ hati sedikit tenang. Setelah 10 menit di angkot, kami sampai di depan gerbang tujuan dan waktu menunjukkan 7.45. Sambil celingak-celinguk, 2 pemuda kasep ini mencari para pegiat aleut dan ternyata kenyataan emang pahit….belum pada ngumpul anak-anak. Selidik punya selidik ternyata kereta ke Padalarang berangkat jam 9.15, tau gitu gak usah buru-buru. Emang kalo udah kebiasaan tepat waktu gini susah ngilanginnya. Eh lupa, mau ngapain ke Padalarang ya??? Alah…ikut aja dulu ya….

Jam 8an para pegiat mulai banyak berdatangan dan segera dikoordinir membeli tiket kereta. Cukup dengan 5ribu rupiah Anda bisa sampai Padalarang dalam 20 menit. Berhubung masih jam 8an dimulailah acara perkenalan di ruang tunggu stasiun. Sebagaimana khasnya Komunitas Aleut, perkenalan selalu di penuhi tawa segar, pegiat baru dan paparazzi (Mbak Ayu ‘Kuke’ Wulandari, Kang Yandhi Dephol, Kang Nara Wisesa, Teh Yanstri, Bedu dll). Jadi seneng nih di poto hehehhee…..

Ruang Tunggu Stasiun BandungRuang Tunggu Stasiun Bandung (Courtesy of Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

Waktu untuk boarding akhirnya tiba. Kesan pertama saya memasuki kereta ‘Wah gak kalah ama subway di Eropa nih’. Tapi saya terpaksa menarik kata-kata saya kembali setelah pedagang asongan lewat (doh). Harus saya akui kalo saya sangat excited karena udah lama gak naek kereta. Duduk di dekat jendela saya masih bisa lihat sawah dan rumah-rumah yang hanya berjarak 1 meter dari kereta (syerem…). Kembali perjalanan diisi oleh badut-badut Aleut which is everyone hahahahahaha (just kidding guys) membuat 20 menit berlalu dengan cepat. Mendarat di Stasiun Padalarang kita bisa tau kalo stasiunnya jadul juga dan relatif kecil mengingatkan saya dengan Stasiun Jatinegara yang juga kecil. Panitia penyambutan ternyata telah siap dengan Kang Oi sebagai kepala rombongan. Melangkah keluar stasiun kami berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita dan ilustrasi dari Pak Guru Erik mengenai Stasiun, PT. Kertas Padalarang dan Pasar Padalarang. Diceritakan bahwa Pasar Padalarang yang terletak tepat di depan stasiun juga merupakan pasar lama terlihat dari gambar ilustrasi yang disediakan. Setelah puas dengan penerangan dari Indra dan panas terik kami berjalan kaki menuju lokasi berikutnya yaitu Kantor PT. Kertas Padalarang.

Berjalan selama 10 menit di bawah terik matahari pagi menjelang siang cukup menguras keringat saya. Untung saja kami telah sampai tujuan yaitu Kantor PT. Kertas Padalarang. Keringat saya sedikit kering melihat senyum dari para penyambut kami yaitu pejabat PT. Kertas Padalarang: Pak Joko, Pak Eman dan Kang Andri. Dengan semangat bapak-bapak ini bercerita bahwa alasan didirikannya pabrik kertas di sini karena daerah ini memiliki sumber air dengan debit yang konstan baik di musim hujan maupun kemarau. Ternyata para kompeni membangun penuh perjitungan juga, karena air adalah komoditi penting dalam pembuatan kertas. Dahulu debit airnya 18 liter/detik namun sekarang kebutuhannya 80 liter per detik oleh karena itu PT. Kertas Padalarang mengambil sumber air yang baru berjarak 5 km dari kantor di Mata Air Cimeta. Kita juga dapat melihat tempat penampungan air zaman dahulu di salah satu sudut kantor namun sudah tidak dipergunakan lagi karena sering bocor.

Pak Eman, Pak Joko dan pegiat Aleut di halaman kantor PT. Kertas Padalarang (Courtesy of Nara Wisesa)
Penampungan air yang sudah tidak terpakai, indikator penuhnya air bila panah menunjuk ke bawah (Courtesy of Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

Sebelum lanjut, saya ingin bercerita sedikit mengenai sejarah PT. Kertas Padalarang ini. Berdiri tahun 1922 dengan Direktur Ir. CWJ Hoyer, NV. Papier Fabrik Padalarang merupakan pabrik kertas pertama di nusantara. Perusahaan ini merupakan cabang dari NV. Papier Fabrik Nijmegen dari Belanda. Perusahaan ini cukup berkembang sehingga pada tahun 1935 didirikan cabangnya di Leces, Probolinggo Jawa Timur. Perubahan terjadi ketika Indonesia merdeka, tahun 1958 dilakukan nasionalisasi perusahaan peninggalan Belanda termasuk PT. Kertas Padalarang. Tahun 1960 nama perusahaan resmi menjadi Perusahaan Negara (PN) Kertas Padalarang dan cabang Leces dilepas jadi badan usaha mandiri dengan nama PN Kertas Leces.

Oya, kalo teman-teman ke Padalarang dan bertanya ke penduduk setempat, “Punten a’, PT. Kertas Padalarang dimana ya??” mungkin mereka sedikit bingung karena masyarakat setempat lebih mengenal sebutan PN untuk PT. Kertas Padalarang. Jadi nanyanya gini, ” Punten a, jalan ke PN mana ya??” itu mah pasti langsung di anter hihihihih….Walaupun dahulunya sama tapi sekarang PT. Kertas Padalarang dan PT. Kertas Leces beda nasib. Dengan kurang lebih 2000 karyawan, PT. Kertas Leces sudah 6 bulan berhenti beroperasi berbeda dengan PT. Kertas Padalarang yang masih mampu bertahan dan mempekerjakan 350 karyawan. Mungkin kita hanya bisa berkata, “Kasian ya….” PT. Kertas Padalarang sekarang hanya melayani produksi kertas sekuriti macam sertifikat, ijazah, cukai rokok dari Pemerintah tanpa melayani klien swasta dan juga melayani produksi kertas untuk pabrik UKM dan usaha rumahan. Sekarang PT. Kertas Padalarang berada di bawah Kementerian BUMN namun jarang di perhatikan oleh pemerintah.

Setelah menghabiskan waktu dan mendengar cerita dari bapak-bapak PT. Kertas Padalarang, rombongan berangkat menuju pusat kegiatan sebenarnya yaitu pabrik. Berjalan di pinggir jalan raya tanpa trotoar kami rasakan memang tidak nyaman tapi untunglah hanya sementara karena segera saja kami memasuki pekarangan suatu rumah tua. Dari penjelasan ternyata ini adalah residennya direktur NV. Papier Fabrik Padalarang yang sekarang sudah kosong dan tidak terawat. Suasana yang teduh membuat rombongan betah melepas lelah sementara di sini sambil mendengarkan cerita, poto-poto pre-wed atau mengamati pohon beringin beranak kelapa. Ya, percaya atau tidak dari dalam pohon beringin tumbuh pohon kelapa. Subhanallah….

Rumah Direksi dengan pohon unik di sebelahnya (Courtesy of Yandhi Dephol)

Saya sudah puas duduk di antara pohon karena jujur pegel banget saat tak lama rombongan bergerak menuju lokasi pabrik yang ternyata tepat di belakang residen direktur. Ternyata kantor, residen dan pabrik masih dalam satu komplek alias berdekatan. Melintasi sungai (atau selokan yah) kami sampai di pintu masuk. Menurut Pak Joko, dulu bahan baku di bawa dari stasiun ke pabrik menggunakan lori. Sekarang bekas rel lori tidak terlihat karena telah di timbun jalan raya dan tanah. Setelah rombongan tertib kami bersiap memasuki lokasi pabrik dengan syarat semua barang harus dititipkan termasuk kamera dan tidak boleh mengambil gambar alias motret. Mendengar briefing dari bapak sekuriti ini saya tau ada pegiat yang dengkulnya langsung lemes hahahahahaha. Segera kami memasuki lokasi pabrik dengan ringan karena tidak bawa tentengan.

Gerbang masuk pabrik (Courtesy of Yandhi Dephol)
Foto Keluarga (Courtesy of Yandhi Dephol)

Mirip hanggar pesawat, begitulah kesan pertama saya karena memang cukup besar. Di lokasi pertama kami bisa melihat pulp padat, conveyor belt yang terhubung dengan suatu bak besar yang tembus ke lantai bawah tanah dan besar sekali. Ternyata di sini pulp di jadikan bubur. Saya sentuh pulp padat yang berupa lembaran besar, keras dengan tekstur kasar. Kalo kata saya sih mirip kertas karton. Oya, mesinnya buatan Jepang seingat saya Yamatake dan sudah ada dari tahun 1975 dan belum pernah diremajakan. Pindah ke ruang berikutnya dan naik satu lantai saya melihat pipa, air dan mesin penggulung kertas mungkin ya. Proses apa yang terjadi di sini saudara-saudara?? Saya tidak tau karena terlalu excited jadi tidak mendengarkan penjelasannya. Maap kan……

Turun satu lantai, kami sampai di ruang yang luas saya tidak tau fungsinya apa cuma yang jelas di sini ada timbangan yang besar sekali dan injakannya menyatu dengan lantai. Saya tidak berani mencoba karena timbangan ini sangat akurat :) )

Nah, begitulah sedikit tur singkat kami di pabrik tapi perjalanan belum berakhir. Setelah mengambil tentengan kami pamit kepada bapak sekuriti. Di pintu pabrik kami “foto keluarga” dan melanjutkan perjalanan yang saya tidak tau tujuannya. Ikut we lah!!! Melintasi lapangan bola yang jauh sekali kualitasnya dibandingkan lapangan Eropa, pegiat aleut yang dahaga mencegat mang-mang jualan es keliling dan warung terdekat. Segerrrrrr….yuk ah jalan lagi!!!!!Memasuki gang sempit pemukiman penduduk rombongan keluar di area persawahan. Akhirnya lihat sawah juga setelah sekian lama. Tetap tidak tau tujuan saya ikuti saja kemana para pegiat melangkah, menyusuri pematang, poto di pematang sawah hingga saya terjerembab dengan sukses di pematang untung saja tidak ada yang tau dan pematangnya tidak becek. Sakitnya tidak seberapa tapi malunya itu lho…..Memasuki akhir perjalanan kami menembus pintu kecil dan keluar di pekarangan suatu SLB. Ya Anda tidak salah baca…Sekolah Luar Biasa ini dikelola oleh istrinya Pak Eman, Bu Eman. dahulunya merupakan SLB pertama di Bandung Barat. Di pekarangan ini ternyata Pak Eman dan keluarga telah mempersiapkan jamuan untuk kami. Saya tidak menyangka dan terharu. Untuk menghargai jamuan ini tanpa malu-malu saya segera menyerbu rujak dan ubi goreng yang dihidangkan. SO DELICIOUS….

Berfoto di sawah (Courtesy of Nara Wisesa)
Jamuan yahud (Courtesy of Nara Wisesa)

Sambil ngemil semua pegiat bergiliran berbagi pengalaman selama ngaleut kali ini. Di sini kita bisa melihat sudut pandang yang berbeda dari setiap orang terhadap satu objek, mencerahkan dan menambah pengetahuan. Setelah menghabiskan semangkuk besar rujak dan berpotong-potong singkong goreng, rombongan dikejutkan oleh jamuan. Nasi dan saudara-saudaranya menunggu untuk dicicipi. Mimpi apa saya semalam hahahaha…SIKAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!

Hadueh perut kenyang banget….nasi ikan goreng tahu tempe lalapan plus sambel memang tiada duanya sore itu. Makan dengan lahap dan poto keluarga mengakhiri acara ramah tamah ini. Setelah pamit kepada tuan rumah kami berangkat pulang diiringi awan hitam. Dan benar saja, tak berapa langkah dari SLB hujan turun dengan deras memaksa kami berteduh. Basah..basah..basah seluruh tubuh….Hujan berhenti rombongan kembali bergerak dan lagi-lagi saya tak tau tujuannya, ikut we lah!!!!Setelah jalan cukup jauh dan capek 15 menit mungkin kami sampai di depan Kota Baru Parahyangan. Tau-tau angkot udah nyamperin dan memang kami booking angkot buat ke Bandung. 35 orang dimasukin 2 angkot jadi deh ada yang terpaksa duduk di lantai. Kali ini angkot kita memasuki tol dan sial bagi angkot yang tidak saya tumpangi karena bensinnya seep…Kedua angkot pun berhenti di jalan tol dan para penumpang yang jarang-jarang berhenti di tol langsung jadi narsis termasuk saya. Cukup dengan 1/3 botol Aqua bensin, angkot tersebut kembali ngebut ke Bandung. Ternyata di sinilah perpisahan kami semua, saya memilih turun di Cicendo meninggalkan teman-teman yang lain sambil membawa banyak cerita di benak dan rasa letih….

Foto keluarga sebelum pulang (Courtesy of Ayu ‘Kuke’ Wulandari)

Sampai bertemu di ngaleut berikutnya kawan-kawan…

Belum ke Bandung kalo belum ngaleut……

Sumber :

– Perjalanan Aleut 6 Maret 2011

http://pt-kertas-padalarang.com

http://www.kertasleces.co.id

– Paparazzi Aleut

Diposting juga di :

http://momonchubby.wordpress.com/2011/03/08/pt-kertas-padalarang-kebanggaan-yang-terlupakan-part-1/

http://momonchubby.wordpress.com/2011/03/08/pt-kertas-padalarang-kebanggaan-yang-terlupakan-part-2/

Iklan

14 pemikiran pada “PT. Kertas Padalarang, Kebanggaan yang Terlupakan

  1. PT.KERTA Padalarang sdh lama berdiri, mungkin salah satunya hilir mudik kendaraan yang lewat setelah rel padalarang menuju purwakarta sangat gelap tak ada penerangan sampai cikamuning, mohon diperhatikan atau diusulkan ke pihak PLN dan Polsek PDL juga karena rawan tindak kejahatan atau kecelakaan (truk terperosok, jambret kendaraan). mohon diperhatikan tuk kepentingan bersama………….

  2. sore…
    kalau mau ketemu sama bagian pemasaran untuk export ke luar negeri nya gimana ya, mohon penjelasannya.., saya mau joint tissu dalam partai besar untuk di export ke negara Brunei Darussalam.. mohon jawaban secepatnya.. atau tolong hubungi saya di no hp 0815-73721081 kebetulan skrg sya posisi lgi di indonesia atau kalau ga aktif tolong hubungi saya di no brunei +6738-875335 atau email saya ke alamat yg satunya lagi hany.nurdiansyah@yahoo.com

    Salam & tq b4…

  3. Halo komunitas aleut.

    Kebetulan saya sedang ingin menggarap skripsi yg membahas tentang sejarah pabrik kertas ini, namun belum melakukan survey.

    Saya ingin bertanya, klo kita mau berkunjung ke pabrik tersebut kira2 perijinan dengan pabrik tersebut bagaimana ya?? Karena komunitas aleut sudah pernah berkunjung kesana.
    Mohon bantuannya dan dibalas ya 🙂

    Oh iya saya juga sangat tertarik dengan komunitas anda, tapi saya berdomisili di Jakarta, apa saya bisa bergabung?
    Blog komunitas ini juga cukup menarik, semoga terus dapat di update. Salam.

  4. Salam untuk komunitas Aleut.
    Saya sedang ingin menggarap skripsi yang membahas pabrik ini. Kira-kira saya boleh tahu tidak, bagaimana cara nya untuk membuat perjajnian atau perizinan untuk mengunjungi pabrik kertas ini?? secara komunitas aleut sudah pernah berkunjung kesana.

    Oiya saya juga ingin bergabung dengan komunitas aleut, tetapi saya berdomisili di jakarta, bisa gak ya?

  5. saya adalh seorang pkerja pabrik kertas, bahkan sudah dua kali pindah di pbrik kertas. pertama lihat PT kertas padalarang saat main ke bandung… terlihat bangunannya sangat tua…
    saya tertarik ingin melhatnya dari bangunan bentuk fisik mesin yg katanya sudah tua…
    oleh karena itu jika ada kumpul bareng seperti tergambr di atas mohon diinfokan. saya sangat tertarik sekali. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s