Kakarěn KAA 2015

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Tina runtuyan acara Konpěrěnsi Asia Afrika (satuluyna ditulis KAA), tanggal 24 April 2015 minangka puncakna acara. Dina prak-prakanna kaběh kepala nagara jeung para delegasina miěling KAA nu munggaran ku cara Historical Walk anu hartina leumpang bersejarah. Kajadian ěta nu kungsi dilakonan ku Prěsiden Soekarno jeung kepala nagara nu sějěnna, dimimitian ti Hotěl Savoy Homann nepika Gedung Merděka (baheula mah ngaranna Corcordia).

Nya dina acara ěta pisan sabenerna mah hajatna Bandung těh, dan ari konpěrěnsina mah diayakeunna di Jakarta tegesna di JCC (Jakarta Convěntion Centre). Tah saměměh puncakna acara, atuh daěk teu daěk Kota Bandung kudu dibebenah jeung digeugeulis. Kurang leuwih piduabulaneun deui kana tanggal 24, pagawě geus sarigep měměrěs trotoar, masang lampu, masang bangku, ngecět wangunan nu kuleuheu, jeung sajabana.

Ku kituna, sababaraha juru Kota Bandung těh jadi rada alus meueusan. Di saparat Jalan Asia Afrika atawa baheula mah ngaranna těh Jalan Raya Timur (de Groote Postwěg), bangku ngajajar dina trotoar. Aya ogě bola-bola batu nu diukir ku tulisan ngaran-ngaran nagara Asia jeung Afrika. Atuh lampu-lampu jang nyaangan jalan jeung jang hiasan gě teu katinggaleun. Lampu-lampu ěta dijieunna makě gaya klasik, nu luhurna aya maung jěngkě nu siga keur ngagaur. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Konferensi Asia-Afrika Rasa Amerika

Oleh: Ariono Wahyu (@A13xtriple)

Jarak Jl. Pangarang dari Gedung  Merdeka bisa dikatakan hanya sepelemparan batu. Jaraknya tidak lebih dari seratus meter dari sisi timur Gedung Merdeka di Jl. Braga, hanya tinggal menyeberangi Jl. Asia Afrika ke Jl. Homann, kemudian menyeberangi Jl. Dalem Kaum dan kita sudah mendapati ujung Jl. Pangarang sebelah utara.

Daerah di sekitar mulut Jl. Pangarang itu mayoritas diisi bangunan penginapan dan hotel-hotel murah. Daerah tersebut akan lebih ramai jika hari sudah berajak malam. Jalan Dalem Kaum sebelah timur saat ini banyak diisi hiburan malam, mulai dari panti pijat dan spa, klub dangdut dan karaoke.

Siapa menyangka di antara gedung hotel tinggi dan semaraknya hiburan malam di sekitar Jl. Pangarang jika kita jeli, akan mendapati gang di mana tinggal keluarga pengerajin wayang golek yang telah dengan setia menjalani profesinya selama tiga generasi.

Abah Soma adalah seorang dalang wayang golek yang memulai usaha pembuatan wayang golek ini sekitar tahun 1950-an saat ia masih tinggal di Jl. Cibadak. Setelah tempat tinggal yang merangkap bengkel tempat memproduksi wayang golek itu pindah ke Jl. Pangarang, tepatnya di Jl. Pangarang Bawah 3 78/17B, usaha itu dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Ruchiyat. Nama Ruchiyat itulah yang tertera pada papan nama sanggar tergantung di mulut gang serta papan nama yang tertera di dinding rumah. Saat ini usaha membuat wayang golek sepeninggal Pak Ruchiyat dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Tatang.

Menurut Pak Tatang, dahulu sejak masa kekuasaan orde lama hingga orde baru, wayang golek buatan sanggar ini sering dipesan sebagai tanda mata bagi tamu-tamu kehormatan negara. Itulah puncak pencampaian tertinggi dan penghargaan akan karya sanggar ini.

Lain dulu lain sekarang, saat ini minat terhadap kerajinan wayang yang dihasilkan sanggar ini sudah semakin menurun. Sebagai usaha untuk memaksimalkan potensi, saat ini Pak Tatang tidak hanya memproduksi wayang golek, namun juga memproduksi cindera mata berupa pulpen wayang atau gantungan kunci yang berbentuk wayang. Pak Tatang juga menghadapi kendala untuk masa depan usahanya karena di dalam keluarganya tak ada lagi yang berminat untuk melanjutkan usaha membuat wayang golek. Keenganan itu memiliki alasan utama karena usaha ini tidak lagi memberikan pendapatan yang menjanjikan.

Kira-kira kurang lebih sebulan yang lalu, ada sedikit berita gembira bagi Pak Tatang. Kabar bahwa wayang golek yang dihasilkannya akan digunakan sebagai tanda mata bagi delegasi peserta peringatan Konferensi  Asia Afrika (KAA) ke-60 di Bandung yang akan diselenggarakan pada bulan April 2015.

Kenangan untuk mengulang pencapaian pendahulunya, bahwa wayang golek dari sanggar “Pitaloka” akan kembali digunakan sebagai cindera mata bagi tamu-tamu negara sudah berada di depan mata. Namun secepat kabar itu datang, secepat itu pula kabar tersebut berubah. Saat seorang teman mengunjungi sanggar Pak Tatang kira-kira dua minggu lalu, beliau berkeluh kesah bahwa pihak yang menjanjikan untuk memesan wayang buatannya tiba-tiba saja membatalkan pesanannya.

Memang beredar kabar jika cindera mata bagi peserta Peringatan KAA akan berupa kerajinan dari bahan batu akik. Kabar itu semakin jelas saat Metro TV dalam sebuah beritanya, mengabarkan jika souvenir bagi delegasi KAA akan berupa bolo tie dari bahan batu akik.

Apa itu bolo tie? Mengapa harus benda itu yang dipilih sebagai cindera mata?

Bolo tie adalah sejenis dasi yang sebenarnya berupa seutas tali dengan pengikat berupa bulatan yang berfungsi juga sebagai pengatur ukuran. Bahan yang dipilih sebagai bulatan bolo tie cindera mata KAA ini dipilih batu akik yang saat ini sedang menjadi tren di masyarakat. Bolo tie ini sangat terkenal digunakan oleh koboi di Amerika sebagai salah satu aksesoris pakaiannya.

Biasanya cindera mata bagi seorang tamu akan diberikan barang yang akan mengingatkan tempat yang dikunjungi. Seperti juga oleh-oleh atau buah tangan jika kita mengunjungi kota lain selain tempat tinggal kita. Misalnya, kita akan lebih memilih membeli jaket kulit atau dodol saat kita mengunjungi kota Garut atau tahu saat kita mengunjungi kota Sumedang. Semacam simbol “saya sudah pernah kesana” atau” “I was here”, tulisan merusak yang sering kita temui di tempat-tempat wisata.

Terasa sangat ironis jika cindera mata bagi peserta Konferensi Asia Afrika berupa bolo tie, benda yang sangat dikenal di Amerika, tanda mata yang justru tidak mewakili tempat di mana peristiwa itu digelar. Seorang teman mendapat oleh-oleh dari sahabatnya yang pulang dari Amerika berupa bolo tie. Akankah nanti tidak terjadi kebingungan saat para delegasi kembali ke negerinya masing-masing dengan membawa tanda mata berupa bolo tie?

Mungkin saja akan terjadi dialog ironi seperti ini :

“Katanya anda baru kembali dari Konperensi Asia Afrika di Kota Bandung?”

“Iya memang benar saya baru pulang dari sana. Memangnya kenapa?”

“Tak percaya saya sudah berada di sana dua hari lamanya?”

“Bandung itu nama kota di Amerika ya? Soalnya ini cindera matanya bolo tie. Sepengetahuan saya bolo tie sangat khas dan sering dipakai koboi.”

Kita tentu ingin Peringatan Konferensi negara-negara di kawasan Asia Afrika yang rata-rata memiliki kesamaan sejarah sebagai negara baru yang membebaskan dirinya dari belenggu kolonialisme ini akan meninggalkan kesan yang mendalam. Meninggalkan kenangan akan kota di mana KAA dilaksanakan dalam cindera mata yang diberikan. Namun justru cindera mata yang dibagikan adalah benda yang sangat terkenal di Amerika? Jika kita merujuk pada nama konferensi saja rasanya sudah tidak nyambung. Ini bukan Konferensi Asia-Amerika atau Konferensi Amerika-Afrika.

Jika alasannya ingin lebih mengenalkan batu akik khas Indonesia yang saat ini sedang menjadi tren ke peserta KAA. Mengapa batu akik yang dipilih? Apa karena saat ini masyarakat sedang demam batu akik? Memang demam bisa menular dan itu menjangkiti hingga ke petinggi kota dan provinsi di negeri di mana Peringatan KAA ini digelar. Mungkin karena terserang demam juga yang menyebabkan panitia Peringatan KAA mengigau sehingga memilih benda khas Amerika sebagai cindera mata.

Mengapa harus bergantung pada musim? Ketika musim batu akik, setiap orang mendadak jadi geolog. Banyak orang berlomba-lomba memburu batu alam. Kita sudah melewati beberapa tren yang tak lama waktunya, seperti contohnya tren tanaman anterium. Mengapa kita tidak memelihara tren sehingga dapat bertahan lama? Kita cenderung mengeksploitasi tren atau musim hingga ke titik nadir untuk setelah itu menjadi hambar dan pudar. Saat musim buah-buahan misalnya, harga buah-buahan yang sedang musimnya itu akan sangat murah karena pasar dibanjiri oleh produk tersebut. Kita jarang berusaha mencari cara untuk membuat bentuk produk lain dari musim buah-buahan yang ada untuk menjaga harganya.

Rasa-rasanya batu alam tidak khas Bandung. Serta lagi pula batuan bisa ditemukan di mana saja. Beberapa negara peserta juga memiliki batu alam khas negerinya, seperti Tiongkok yang terkenal akan batu gioknya.

Rasanya peribahasa berikut ini akan menggambarkan apa yang terjadi, “Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan tampak”. Padahal hanya sepelemparan batu dari gedung tempat penyelenggaran Peringatan Konferensi Asia Afrika ada pengerajian wayang golek yang rasanya akan lebih mewakili dan meninggalkan kesan yang khas akan Bandung dan Jawa Barat. Mengapa kita akan lebih bangga dengan Konferensi Asia Afrika dengan rasa Amerika?