Rias Muka Ala Purwakarta

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Otot kawat tulang baja julukannya, bertengger Sabtu pagi di Stasiun Purwakarta. Tak lain dan tak bukan adalah Gatot Kaca, putra dari Bima. Tokoh yang terkenal bisa melayang di angkasa ini menyambut gagah kedatangan para tamu yang singgah di Purwakarta lewat kereta. Seringai wajahnya menunjukkan wibawa, seolah menjadi penjaga kota.

Stasiun Purwakarta menjadi langkah pertama saya di daerah yang menjadi sub-urban Kota Bandung ini. Ukurannya tak terlalu besar, namun ada yang berbeda. Di balik kereta-kereta yang sedang menunggu giliran untuk berangkat, terdapat deretan gerbong-gerbong kereta tua yang sudah menjadi bangkai, bertumpuk rapi bagaikan mainan anak yang dapat dibongkar pasang.

“Tua..

Namun Begitu Indah di Mata..

Gerbong kereta yang beragam warna..

Menjadikannya Istimewa..”

Lalu saya ingat persis, tempat inilah yang ternama di dunia maya. Tempat orang berfoto diri karena latar belakang foto yang menjadi tak biasa.

Tak lama saya diperkenalkan kepada si kembar yang berdiri tepat di samping stasiun, tak seperti kembar yang saya bayangkan layaknya kembar yang berada di negeri Paman Sam memang. Si kembar yang dimaksud adalah Gedung Kembar yang sudah berusia satu abad lebih dan merupakan salah satu bangunan heritage di Purwakarta. Nakula Sadewa namanya kini, sama seperti nama si kembar dari ceritera Mahabarata, sehingga menambah kental nuansa pewayangan di Purwakarta. Gedung Kembar Nakula Sadewa kini dipergunakan sebagai museum yang diberi nama Bale Panyawangan Diorama Purwakarta.

Buat saya yang sebenarnya cukup mengikuti perkembangan teknologi terkini, Bale Panyawangan Diorama Purwakarta merupakan satu tempat yang cukup ajaib . Sebuah buku yang menayangkan gambar bergerak di setiap lembarnya seperti Film Harry Potter dan sebuah video virtual yang berjalan dengan kayuhan sepeda sukses membuat saya merasa ndeso. Pada umumnya, Bale Panyawangan, seperti titelnya yang menyandang nama Diorama Purwakarta, menceritakan tentang daerah Purwakarta dari mulai sejarah, perkembangan kota, hingga bagaimana Purwakarta mengangkat berbagai budaya nusantara menjadi bagian dari pariwisata.

Purwakarta memang sempat menjadi saksi sejarah perlawanan rakyat Indonesia terhadap VOC, namun hanya sedemikian saja. Secara budaya dan sejarah sebenarnya tak banyak yang dapat ditawarkan sebagai aspek pariwisata. Namun, kondisi itu tak membuat sang penguasa patah arang. Wajah Purwakarta kini cantik dengan daya tarik di berbagai titik. Dengan dalih ingin mengangkat berbagai kearifan lokal yang dimiliki Nusantara, kini Purwakarta menjelma menjadi kota istimewa yang pariwisatanya tak kalah asik dengan kota-kota besar lainnya. Gapura dan corak khas Pulau Dewata dapat dengan mudah ditemukan menghiasi sudut kota. Berbagai tokoh pewayangan Mahabarata pun menjadi satu gaya yang menjadi tanda kota.

Tak mau kalah dengan tetangganya Kota Bandung, Purwakarta memiliki beberapa taman cantik yang menjadi andalan muda-mudi menghabiskan banyak waktunya di ruang terbuka. Beberapa instalasi seni di sekeliling taman menjadi primadona untuk berfoto selfie tatkala segerombol wisatawan hadir lengkap membawa tongkat narsisnya. Memang tak seramai taman dan alun-alun di Bandung, namun justru hal ini yang menciptakan faktor kelestarian lingkungan sekitar. Tak banyak sampah berserakan dan fasilitas umum relatif masih baik dan terjaga.

Beranjak dari alun-alun, saya dikenalkan kepada Citra dan Sri. Sayangnya bukan dalam wujud perempuan tinggi cantik semampai seperti yang saya khayalkan, tetapi dua nama yang menjadi taman di Purwakarta; Taman Citra Resmi dan Taman Sri Baduga. Dyah Pitaloka Citra Resmi seorang putri kerajaan Sunda yang terlibat dalam terjadinya Perang Bubat merupakan inspirasi bagaimana Taman Citra Resmi di Purwakarta dinamakan. Secara fisik, keberadaannya sangat mencolok dengan keberadaan patung dan relief yang menggambarkan ringkasan peristiwa Perang Bubat ini tertata sangat indah. Di bagian tengah taman terdapat sang boga lakon, yaitu Dyah Pitaloka Citra Resmi yang sedang beradegan akan menikam lehernya dengan pisau, sementara di bagian belakangnya terdapat relief yang menceriterakan bagaimana perang tersebut berlangsung dan memakan banyak korban.

Sri Baduga, yang tentunya bukan nama seorang wanita layaknya nama Sri di jaman sekarang, merupakan nama lain dari Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi dikenal sangat erat kaitannya dengan binatang maung (macan), karena konon di saat kehancuran kerajaan yang dipimpinnya ia dan pengikutnya berubah menjadi maung saat ditemukan sang anak, Prabu Kian Santang, di lokasi bekas kerajaannya. Bagi orang Bandung, nama Sri Baduga sendiri sudah tidak asing, karena di Bandung Sri Baduga merupakan nama museum yang terletak di Jalan Lingkar Selatan.

Untuk memasuki wilayah Taman Sri Baduga yang ternyata sangat luas wilayahnya ini (mungkin hampir seluas Monas), pengunjung harus mengitari setengah lingkaran lebih taman tersebut dari mulai titik awal di Taman Citra Resmi. Sungguh melelahkan rasanya karena ketika menemukan pintu masuk, kita harus kembali mengelilingi setengah lingkaran sebuah kolam besar untuk dapat berfoto dengan patung Sri Baduga dan keempat maung pengikutnya di titik paling dekat. Melelahkan, namun cukup pantas didapat saat melihat dari dekat megahnya patung Sri Baduga dan empat maung pengikutnya yang memancarkan air layaknya patung singa di Singapore.

Sri Baduga dan Citra Resmi hanyalah dua tokoh yang sebenarnya tidak memiliki kaitan erat dengan Purwakarta, namun diangkat oleh pemerintah setempat sebagai bagian dari pariwisata daerah. Walaupun tidak memiliki hubungan budaya dan sejarah dengan tempat-tempat wisata yang dibuat di Purwakarta, namun cara cerdik pemerintah yang mengisi kosongnya kekurangan mereka dengan berbagai konten yang menarik perlu diacungi jempol.

Tentunya kurang rasanya bila berwisata ke suatu kota tapi tak mencoba kuliner khasnya. Es Kuwut, satu kuliner menarik yang menjadi penutup kunjungan saya ke Purwakarta. Lokasinya tepat bersebrangan dengan Stasiun Purwakarta. Es Kuwut terbuat dari air perasan jeruk nipis berisikan hirbis dan selasih, agak asam namun memberikan kesegaran di bawah suhu Purwakarta yang lebih sedikit eksotis dibandingkan di Bandung.

 

Tautan asli: http://ceritamatakata.blogspot.co.id/2016/06/rias-muka-ala-purwakarta.html

 

Bandung Tak Hanya Di Bagian Utara

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Bandung tentu saja menjadi kota yang paling penting bagi hidup saya. Dari lahir sampai sekarang sudah di pertengahan kepala dua, hampir 90% hidup saya dihabiskan di Kota Kembang. Semua jenjang studi juga saya jalani di kota ini, mulai dari TK hingga sekarang duduk di bangku strata dua. Pahit-manis dan berbagai macam pernik kehidupan saya rasakan di Bandung.

Jika mau bernostalgia, Bandung yang sekarang tentu saja sudah jauh berbeda dengan Bandung yang saya kenal di tahun 90-an. Dulu udara Bandung relatif lebih sejuk dibandingkan sekarang, hal ini bisa dilihat dari kabut yang hampir setiap pagi bisa terlihat. Sekarang ini sih kabut baru terlihat setelah turun hujan di dini hari. Itu baru cuaca, belum tentang pergeseran fungsi beberapa wilayah di Bandung. Baca lebih lanjut

Menelusuri Taman di Kota Bandung

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Hari Minggu tanggal 20 Oktober 2013, Komunitas Aleut berkesempatan untuk menelusuri beberapa taman yang ada di Kota Bandung. Kegiatan ini merupakan kegiatan kedua Komunitas Aleut di pekan ke-3 bulan Oktober. Kegiatan pertama berlangsung pada tanggal 19, yaitu kegiatan Ngaleut Kampung Adat Cirendeu.

Sebagai titik awal penelusuran, kami memilih boulevard yang berada di depan Masjid Istiqamah. Boulevard di Kota Bandung belakangan ini cukup sulit ditemui setelah boulevard yang menjadi ikon Bandung di Jalan Pasteur hilang akibat pembangunan jalan layang Pasupati. Kondisi boulevard di depan Masjid Istiqamah cukup terawat, hanya sedikit sampah yang terlihat di lokasi ini. Sayangnya di lokasi ini saya tidak sempat mengambil gambar, sehingga cukup sulit untuk membuktikan persepsi saya mengenai boulevard di sini.

Masih dari boulevard ini, saya beserta Hani menjelaskan Tjitaroemplein. Di atas lahan Tjitaroemplein pernah berdiri sebuah monumen untuk memperingati percakapan pertama melalui radio telepon antara Hindia Belanda (Indonesia) dengan Belanda pada tanggal 3 Juni 1927, di stasiun pemancar Malabar.

Bentuk monumen berupa bola besar yang mengibaratkan bumi dan dua patung lelaki berhadap-hadapan tanpa busana di kedua sisinya. Ekspresi sebuah patung tampak sedang berteriak dan yang lainnya menempelkan telapak tangan di telinga. Monumen ini melambangkan jarak bumi menjadi tidak berarti lagi melalui komunikasi radio telepon.

(sumber: Tropenmuseum)

Pada tahun 1950-an, monumen ini diruntuhkan karena dianggap melanggar norma kesusilaan. Setelah monumen diruntuhkan, kemudian dibangunlah sebuah masjid di atas lahan Tjitaroemplein. Nama masjid tersebut adalah… Masjid Istiqamah.

Kemudian sebagai titik kedua penelusuran, kami mendatangi Taman Lansia. Taman ini dahulu bernama Tjilakiplein. Taman ini memiliki aliran air yang berasal dari Sungai Cikapayang. Aliran ini berada di tengah-tengah taman. Taman Lansia sendiri terbagi menjadi 2 segmen. Segmen pertama membentang dari tepi Jalan Diponegoro hingga persimpangan Jalan Cisangkuy dan Jalan Cimandiri, sedangkan segmen berikutnya membentang hingga simpang Jalan Citarum.

Di segmen pertama, terlihat terjadi banyak aktivitas. Hal ini wajar, mengingat perjalanan kami dilaksanakan pada hari Minggu yang bertepatan dengan pasar kaget mingguan. Sayangnya, pada segmen ini taman digunakan juga untuk berjualan oleh beberapa pedagang pasar kaget, sehingga kurang nyaman bagi para pejalan kaki. Bahkan di foto kedua, terlihat adanya tumpukan sampah di dekat kanal air. Cukup disayangkan.

Di segmen kedua, kondisi taman lebih kondusif dibandingkan segmen pertama. Terlihat beberapa orang bersantai di segmen ini. Selain itu, di segmen ini juga terlihat beberapa orang yang berolahraga jalan santai, mengingat aktivitas di segmen ini tidak seramai segmen pertama.

Dari Taman Lansia, kami bergerak menuju Taman Cibeunying. Taman ini diresmikan pada tanggal 6 September 1986 dengan nama “Taman PKK Cibeunying”, merupakan hasil kerja sama antara Tim Penggerak PKK Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung dengan Dharma Wanita Unit Perumtel (sekarang Telkom) Pusat. Sempat beralih fungsi menjadi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina, pada awal tahun 2013 oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman fungsinya dikembalikan lagi menjadi taman.

Taman ini cukup luas. Saat kami mendatangi taman ini, terjadi banyak aktivitas. Saya melihat ada beberapa orang membawa anjing peliharaan mereka, ada yang duduk bersantai di gazebo, ada juga anak-anak yang sedang berlarian. Kondisi taman ini terbilang bersih, walapun di beberapa titik terlihat ada sampah gelas air mineral.

Luas Taman Cibeunying tidak hanya hingga tulisan “Cibeunying Park” pada foto di atas. Di belakang tulisan ini, masih terdapat taman yang juga bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.

Menurut Kabid Taman Dinas Pertanaman dan Pemakaman (Distankam) Kota Bandung, Dadang Darmawan, pihaknya sedang menjajaki kemungkinan pemasangan wi-fi di Taman Cibeunying. Beberapa provider telekomunikasi sudah melakukan pengajuan, namun pihak Distankam masih mempelajari dan menyeleksi terlebih dahulu. Sebagai fakir koneksi wi-fi, saya sangat mengharapkan adanya koneksi internet di taman ini, hehehe.

Dari Taman Cibeunying, kami beranjak menuju Taman Cilaki. Sesuai dengan namanya, taman ini terletak di Jalan Cilaki. Mudah untuk menemui taman ini, karena taman ini terletak dekat dari SD Ciujung dan SD Priangan.

Taman Cilaki

Kondisi taman cukup terawat dan terhitung bersih, karena tidak terlihat adanya sampah yang berserakan. Dari gambar di atas, terlihat jelas bahwa Taman Cilaki digunakan sebagai tempat berolahraga karena di tengah taman terdapat lantai beton dan terdapat tiang yang posisinya berseberangan. Umumnya, tiang seperti ini digunakan sebagai tempat menggantungkan jaring, baik itu untuk bulutangkis ataupun bola voli.

Taman ini juga memiliki sebuah bale di sudut yang dekat dengan Jalan Jamuju.

Bale di Taman Cilaki

Bale ini cukup nyaman untuk berteduh dari sinar matahari, mengingat Taman Cilaki tidak terlalu rindang. Jika tertarik berkegiatan di taman ini, saya menyarankan untuk menggunakan krim tabir surya jika tidak ingin kulit menghitam.

Kemudian kami bergerak menuju Lapangan Supratman, yang terletak hanya beberapa puluh meter saja dari Taman Cilaki. Lapangan ini sudah ada sejak pembangunan ruas Jalan Supratman di jaman penjajahan Belanda.

IMG_8385

Serupa dengan Taman Cilaki, lapanganini juga berfungsi sebagai tempat berolahraga. Namun, jika kita lihat lebih seksama, taman ini lebih difungsikan sebagai lapangan sepakbola karena di kedua ujung lapangan terdapat dua buah gawang.

Pada tahun 2010, lapangan ini pernah dijadikan lokasi syuting film Obama Anak Menteng. Menurut Damien Dematra, penulis skenario dan co-sutradara film Obama Anak Menteng, lokasi ini dipilih karena dinilai memiliki kesamaan dengan Jalan Matraman, tempat Obama dulu tinggal.

Walikota Bandung saat ini, Ridwan Kamil, berencana mengubah lapangan ini menjadi sebuah lapangan sekaligus Taman Persib. Kombinasi lapangan dan taman ini akan dibuat nyaman. Taman sebagai tempat nongkrong akan difasilitasi dengan wifi. Sedangkan lapangan, selain untuk bermain bola, suatu saat pun bisa dijadikan tempat untuk menggelar nonton bareng pertandingan. Rumput di Lapangan Supratman yang terkesan tak terurus ini juga sudah direncanakan Ridwan Kamil untuk diperbaiki.

Dari Lapangan Supratman, kami beranjak menuju Taman Anggrek. Taman yang berlokasi di Jalan Anggrek ini dahulu bernama Wilhelminaplein. Taman Anggrek sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.

Taman Anggrek

Pada saat kami berkunjung ke taman ini, kondisi taman berbeda dengan apa yang saya lihat 4 bulan yang lalu. Taman terlihat bersih dan bebas dari tuna wisma. Taman dicat warna oranye karena taman ini diperbaiki menggunakan dana CSR dari Bank Danamon. Taman ini merupakan taman bertema fotografi. Kondisi taman terhitung bersih, sampah hanya terdapat di beberapa bagian taman dalam jumlah kecil. Taman ini kini semakin nyaman digunakan anak-anak untuk bermain, seperti yang terabadikan di foto di atas.

Dari Taman Anggrek, kami bergerak menuju Taman Salam. Taman yang terletak di Jalan Salam ini tidak terlalu banyak diketahui warga Kota Bandung. Hal tersebut tercermin dari mayoritas pegiat yang baru kali itu berkunjung ke Taman Salam.

Taman Salam

Kondisi Taman Salam sangat terawat dan sangat rindang. Kondisi taman yang terawat ini menurut saya karena taman ini terletak di wilayah perumahan, sehingga ada anggaran dari setiap penghuni rumah untuk merawat taman. Taman ini juga representatif untuk digunakan sebagai ruang beraktivitas selama tidak membuat kegaduhan. Saran saya jika berkunjung ke taman ini, gunakanlah lotion anti-nyamuk karena serangan nyamuk di taman ini cukup ganas.

Masih di sekitar Jalan Salam, kami menemukan bekas menara listrik di jaman kolonial.

Para Pegiat di Depan Bekas Menara Listrik

Hal yang membuat saya cukup yakin bahwa bangunan ini adalah bekas menara listrik adalah karena saya dan Ayan (@SadnessSystem) menemukan plakat kecil yang bertuliskan GEBEO. GEBEO adalah perusahan listrik di jaman kolonial.

Plakat GEBEO di Dekat Menara Listrik Jalan Salam

Setelah dari menara listrik Jalan Salam, kami bergerak menuju titik terakhir perjalanan, yaitu Taman Cempaka.

Taman Cempaka

Sama seperti Taman Anggrek, taman ini juga diperbaiki menggunakan dana CSR dari Bank Danamon dan merupakan taman dengan tema fotografi. Taman ini sudah ada sejak jaman kolonial, dengan nama Nassauplein.

Kondisi taman dalam keadaan baik, karena baru satu bulan diperbaiki. Namun disayangkan, taman ini tidak bersih karena sampah berserakan dimana-mana, belum lagi jumlah tempat sampah kurang dan tempat sampah yang adapun penuh.

Kondisi Taman Cempaka

Sampah Berserakan di Taman Cempaka

Meskipun demikian, Taman Cempaka sangat representatif untuk digunakan sebahai tempat berkegiatan. Taman ini cukup luas, rindang, dan juga dilengkapi arena bermain anak, sehingga cocok juga untuk dijadikan tempat berekreasi keluarga.

Seperti biasa kami mengakhiri kegiatan dengan berfoto bersama.

Pegiat Komunitas Aleut Berfoto di Taman Cempaka

Ditulis juga di http://aryawasho.wordpress.com/2013/10/20/menelusuri-taman-di-kota-bandung-bagian-1/ dan http://aryawasho.wordpress.com/2013/11/06/menelusuri-taman-di-kota-bandung-bagian-2/

Ngaleut di Taman Kota Bandung Peninggalan Kolonial Belanda

Oleh : Ismail Agung (http://agungsmail.wordpress.com)

February 16, 2010

Ada yang tau dengan yang namanya aleut? Atau ada yang tau dengan komunitas aleut. Baiklah tulisan dibawah ini adalah secuil jalan-jalan ku bersama teman- teman dari komunitas aleut.

Sebelum memulai membaca sebaiknya teman-teman mengambil nafas panjang karena tulisannya sungguh panjang sekali.

Pertama-tama apa itu aleut?

Sesuai dengan namanya, aleut yang berasal dari bahasa Sunda mempunyai makna yang berarti berjalan kaki bersama-sama alias ga sendirian. Jadi klo kamu lagi jalan kaki bersama beberapa tukang dagang pasar kaget gasibu itu artinya kamu sedang ikutan dagang. Hahaha, nggak nyambung ah. Intinya aleut itu jalan beriringan bersama-sama. Nantilah ditambahin lagi klo udah baca kitab besar bahasa sunda karangan pak Kunto.

Di minggu pagi yang cerah ini, teman-teman dari komunitas aleut ngasih undangan untuk ikut kegiatannya di chandra februari merayakan suasana imlek, dan valentine sambil ngaleut ke taman-taman kota peninggalan kolonial belanda dan juga beberapa bangunan bersejarah di sekitar taman.

Petualangan yang dimulai pukul 7 pagi bermula dari Taman Ganesha yang tepat berada di seberang kampus para pencetak insinyur bandung yaitu ITB. Seperti pelajaran sejarah memang. Karena selalu dikait-kaitkan dengan tahun didirikan dan siapa pembuatnya (untuk cerita lebih lengkap mengenai sejarah taman-taman sepertinya akan saya posting terpisah) tapi penyampaian yang dilakukan oleh teman-teman aleut yang kebanyakan dari jurusan Sejarah Unpad ini ga se-boring pelajaran sejarah yang biasa kita temui di sekolah. Soalnya banyak hal-hal unik yang disampaikan oleh teman-teman aleut baik ciri khas objek sekitar taman maupun dibalik cerita pembuatannya.

Taman Ganesha atau dulunya dikenal dengan nama Ijermanpark punya ikon patung yang gonta-ganti. Yang pertama adalah patung dada Ijerman, lalu diganti patung Ganesha, dan akhirnya patung Kubus. Nah klo taman ini dilihat dari angkasa, jalur taman ini akan berbentuk huruf “Y”.

Dari Taman Ganesha kami berlanjut ke kampus ITB, walaupun ga termasuk ke dalam taman kota, tapi kampus ITB termasuk salah satu ruang terbuka hijau yang terdapat di lingkungan civitas. Di sini Rizki dan kawan-kawannya menerangkan mengenai sejarah berdirinya ITB hingga konsep desain bangunannya yang mengambil filosofi kedaerahan.  Oh gitu toh, tapi ternyata filosofi yang diambil bukan filosofinya Sunda doang, tapi mencakup seluruh Sunda Besar (sumatra juga termasuk). Saya juga baru tahu bahwa ternyata bapak Boscha punya andil besar dalam pembangunan kampus ITB yang dulu punya ngaran THS (Technische Hoogeschool).

Setelah meninggalkan kampus ITB kami beranjak menuju Jalan Badak Singa. Komplek PDAM ini dulunya ternyata punya sejarah sebagai tempat latihan sepakbola yang kita kenal dengan sebutan GASIBU. Merasa familiar dengan nama tersebut? Yup, ternyata nama ini memang berkaitan dengan lapangan lari di depan gedung sate yang namanya juga GASIBU. Faktanya, selama ini saya salah mengartikan tentang pengertian dari GASIBU sendiri. Saya kira asal kata GASIBU berasal dari bahasa belanda gazeebo yang berarti semacam saung. Ow ow ow ternyata pengertian dari gazeebo itu sendiri adalah Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara.

What the… Jauh banget ya…

Sayangnya lapangan bola di PDAM sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan kolam-kolam penampung air dan instalasi PDAM.

Perjalanan dilanjutkan menuju Balubur dan Plesiran. Balubur yang katanya adalah kampung tertua saat kota Bandung resmi dipindahkan dari Dayeuh Kolot merupakan rumah huni lainnya bapak bupati bandung saat itu yang merasa tidak betah tinggal di rumahnya di daerah Cipaganti. Sedangkan Plesiran dulunya ada sebuah situ atau danau yang sering digunakan oleh nyonya dan tuan meneer untuk sekedar bersantai alias “pelesir”. Namun sekarang danaunya?

Entahlah saya belum pernah lihat.

Masih di daerah situ juga, ada bangunan yang digunakan untuk rektor ITB, dan disebelahnya digunakan sebagai kebun pembibitan. Tempatnya memang sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanya namanya saja Kebon Bibit.

Memasuki jembatan Cikapayang kami ditunjukkankepada salah satu bagian dari trotoar yaitu kanal. Saluran yang berfungsi untuk mengalirkan air ini bertujuan untuk menyuplai air ke taman-taman kota yang ada di Bandung bersumber dari sungai Cikapundung. Lebar kanal memang tidak seberapa luas, tapi pada perkembangannya kanal-kanal tersebut tidak berfungsi lagi saat ini. Hanya ada beberapa kanal yang masih berfungsi dengan baik di kota Bandung, salah satunya ada di Balaikota.

Bentuk kanal itu seperti beton setengah lingkaran. Bentuk seperti itu katanya bertujuan untuk mengurangi gaya gesek air dengan si beton. Hm, kok jadi fisika yah.

Dari Cikapayang kami lalu turun ke Taman Sari dan ditunjukkan rumah sang maestro arsitektur, rumahnya pak Schumaker. Katanya dia yang bikin-bikin desain arsitektur ITB.

Taman Surga, keren kan namanya. Taman yang berlokasi di Jalan Rangga Gading dan Ranggamalela ini disebut Taman Surga karena banyak junkie yang doyan teler di taman ini. Sekarang sih ganti nama jadi Taman Flexi. Maklum, si sponsor namanya terpampang jelas di tiang-tiang sudut taman. Yang jelas taman ini punya trackrecord yang lumayan buruk lah.

Lanjut jalan lagi ke perempatan Sultan Agung Tirtayasa. Tepatnya perempatan yang ada toko buah Total Segar. Di perempatan ini kita bakal ngelihat rumah-rumah yang saling berseberangan ternyata punya Arsitektur yang sama dan simetris. Jadi ceritanya tuh waktu jaman penjajahan dulu, perumahan di daerah itu proyek bikin rumahnya borongan. Dan ada kebijakan dari goverment waktu itu klo bikin rumah harus seperti yang diperintahkan. Hasilnya ya lumayan lah bisa dilihat saat ini. Namun sayang, dari empat rumah kembar kini tinggal dua yang tersisa dan bertahan.

Habis dari sana kami kemudian jalan lagi menuju suatu jalan yang namanya Gempol. Nama Gempol dikenal karena kupat tahunya yang masuk list kuliner kecap Bango. Sumpah, ini pertamakalinya saya menginjakkan kaki di jalan Gempol. Di sini teman-teman aleut mencoba menikmati sajian nikmat dari kupat tahu Gempol dengan harga 10 ribu. Wah kemahalan nih. Karena ga mau ikut-ikutan saya mencoba untuk icip roti yang juga ciri khas lain dari Jalan Gempol. Rotinya masih fresh dari oven dan hangat. Ditambah pula dengan desain interior yang bikin cozy untuk berlama-lama sambil menikmati segala macam hidangan roti yang tersedia. It’s fresh!

Dari Gempol kami tiba-tiba keluar di jalan Banda. Ternyata ada jalan tikus dengan satu gerbang sebagai akses jalan keluar-masuk dan dikenal dengan sebutan “brandgang”. Tujuan dibuatnya brandgang adalah sebagai jalan evakuasi jika terjadi kebakaran. Antisipasi yang sungguh luar biasa.

Oke masih lanjut..

Sekarang kami jalan kaki lagi menuju GOR Saparua. GOR yang selalu digunakan sebagai tempat konser death festival alias konser lagu-lagu cadas yang sulit dimengerti liriknya ini ternyata dulunya digunakan sebagai tempat latihan militer. Nah di seberang lapangan ada sebuah gereja Albanus yang katanya ada hubungan dengan Freemason. Jangan-jangan ada harta karun nasional yang terkubur di bawah gereja. Sekarang sih jadi tempat kursus bahasa belanda. Bapak pendeta yang tinggal disebelahnya menghampiri kami dan sedikit berbagi cerita tentang sejarah gereja Albanus yang punya tag Geredja Katholik Bebas.

Masih di sekitaran saparua tepatnya di jalan Aceh. Kami dipertunjukkan dengan sebuah seni pornografi yang luput dari pandangan mata bila hanya melihat pemandangan sekilas saja. Kami duduk sejenak di seberang bangunan yang punya nama Jaarbeurs yang punya arti pasar tahunan alias bursa dagang tahunan. Didepannya memang ada patung Ganesha dengan belalainya yang panjang. Ternyata patung tersebut sukses mengalihkan perhatian kami semua karena ternyata di bagian atas gedung ada tiga buah belalai lengkap dengan bijinya dipertontonkan sambil tertunduk.

Di gedung Jaarbeurs ini jika kita perhatikan dengan seksama, di atas gedungnya terdapat tiga patung Torso yang dengan gagahnya mempertontonkan barang kepunyaan mereka yang lebih pendek dibanding punya si Gajah. Nice shows Guys!!

Sambil melanjutkan perjalan menuju Taman Bali SMAN 5 kami melewati Taman Maluku yang kini forbiden to entry. Meskipun penampilannya tampak semakin bagus, namun sayang tidak bisa dinikmati sebagai fasilitas publik.

Taman Bali, lokasi terakhir perjalanan kami. Di seberang taman ini terdapat kolam renang yang dulunya cukup rasis. Katanya sebelum tahun 1925 kolam renang ini hanya boleh dimasuki oleh orang kulit putih saja, serta di pasang peraturan “verboden voor honden en inlander”, yang artinya kurang lebih berarti “anjing dan pribumi dilarang masuk”.

Ho ho, emangnya anjing bisa baca meneer?

Perjalanan yang melelahkan bukan? Pasti bacanya cape ya…

Rangkaian perjalanan kami akhirnya ditutup dengan diskusi dan kesan-pesan selama nga-aleut. Banyak kesan yang bisa kami peroleh, dan banyak pula pengetahuan sejarah serta hal-hal baru yang kami ketahui. Teman-teman aleut telah memberikan sebuah pelajaran Sejarah yang tidak membosankan. Cara unik untuk belajar sejarah.

Thanks teman-teman aleut.

Menyusuri Taman-Taman dan Perumahan Tempo Doeloe di Kota Bandung

By : Asri ‘Cici’ Mustikaati

BANDUNG THE GARDEN CITY. Lagi-lagi julukan yang diberikan buat kota Bandung. Bandung punya taman? Ya! Bandung punya banyak sekali taman yang tersebar baik di jantung maupun penjuru kotanya. Taman apa aja sih yang dipunyai kota Bandung? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, saya dan teman-teman Klab Aleut pada hari minggu (07/06/09) berwisata taman yang diberi judul ‘Menyusuri Taman-Taman dan Perumahan Tempo Doeloe di Kota Bandung’.

Menurut jadwal, jam 07.07 pagi kami sudah harus berkumpul di sekretariat Klab Aleut , jalan Sumur Bandung no.4. Niatnya sih dateng tepat waktu. Tapi karena saya salah naik angkot, saya jadi telat kumpul deh (padahal emang sering telat dateng. Hehe malu .. ). Jam 08.00 pagi kami mulai perjalanan diawali dengan sedikit cerita dari Bang Ridwan tentang Bandung yang diberi julukan ‘Bandung Kota Bunga di Hindia Belanda’. Wuiiiih ….

Titik henti pertama kami yaitu taman kecil tanpa nama, berbentuk segitiga, agak panas karena pohonnya sedikit, letaknya di dekat kampus ITB sebelah utara. Di taman ini Bang Ridwan bercerita Jubileumpark. Dalam bahasa Belanda, Jubileum berarti lima puluh tahun. Taman ini memang dibangun dalam rangka memperingati 50 tahun ratu Wilhelmina, pada tahun 1923. Wilayah Jubileumpark ini dimulai dari kolam renang Sabuga sampai dengan jalan taman hewan. Tahun 1950-an Jubileumpark menjadi kebun binatang.

Perjalanan dilanjutkan dengan memasuki area kampus ITB. Dulu namanya Technische Hoogeschool (THS). Cuaca yang cerah ditambah lingkungan yang asri (ehm!) bikin jalan-jalan pagi kali ini terasa nyamaaan banget. Tampak beberapa orang sedang berolahraga pagi : jogging, badminton, bersepeda. Juga beberapa kelompok yang sedang berdiskusi. Hmmm udara bersih, lingkungan sehat. Jadi betah … Berjalan-jalan di kampus ITB yang sedang sepi, tidak kami sia-sikan kesempatan ini. Mengamati arsitektur bangunan ITB yang unik, melihat plakat-plakat yang tersebar di tiap fakultas, melihat laboratorium Bosscha. Sayang kami tidak bisa masuk ruangan ini karena dikunci. Katanya sih ruang kelasnya masih bergaya khas eropa .. (penasaran banget!). Yang pasti dan patut dibanggakan, THS ini adalah perguruan tinggi pertama bukan saja di Bandung tapi di Hindia Belanda!! Wow … !!

Taman kedua yang kami singgahi yaitu Ijzermanpark atau sekarang namanya Taman Ganesha. Ijzerman adalah seorang yang telah berjasa dalam pendirian THS. Taman ini dibangun sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Di bagian depan taman, terdapat patung yang mengalami beberapa kali pergantian. Patung pertama yaitu sebuah patung dada Ijzerman, lalu diganti dengan patung Ganesha dan sekarang patung (kayaknya bukan patung deh) berbentuk tiga buah susunan kubus. Yang paling buat saya takjub, ternyata di tembok setengah lingkaran (bagian depan taman) terdapat plat-plat penunjuk gunung-gunung yang mengelilingi kota Bandung!! Quel unique! Très magnifique! (kemana aja saya selama ini?)
Info kurang penting mengenai taman Ganesha : salah satu tempat favorit saya mengisi waktu, bertukar fikiran, dan berbagi cerita sambil minum susu murni rasa strawberry atau mocca dengan seseorang .. hihi .. ^^

Yup! Lanjut susuri taman! Sampailah kami di taman Badak Singa. Letaknya tepat di belakang SMAK Dago. Sebelum dipindahkan ke Gasibu, warga Bandung (bangsa eropa) bermain sepak bola di taman ini. Kayaknya dulu tamannya gak seperti sekarang ini ya (pastinya lahh).. Tamannya gak begitu besar dan di sekelilingnya dibatasi pagar.

Dari Taman Badak Singa, tadinya kami hendak bertolak ke Taman Cikapayang. Tapi karena tidak memungkinkan untuk bercerita langsung disana, kami memilih tempat yang tidak jauh dari Taman Badak Singa untuk bercerita, di ujung jalan mundinglaya. Lokasi yang sekarang menjadi Taman Cikapayang, sebelumnya ditempati pom bensin, yang memang sebelumnya juga merupakan sebuah taman. Huff beruntung sekali difungsikan menjadi taman kembali. Taman yang dibangun dengan perencanaan yang sangat matang jalur pengairannya oleh Martanagara, bupati Bandung saat itu. Sekarang Taman Cikapayang sering dijadikan tempat bermain skateboard dan tempat berkumpul komunitas-komunitas sepeda.

Dari jalan mundinglaya, kami menyebrang ke gedung rektorat ITB. Dapet pengetahuan baru mengenai Balubur yang merupakan kampung tertua di Bandung, asal muasal adanya nama jalan kebon bibit yang ternyata dulunya adalah kompleks khusus tempat pembibitan tanaman. Bibit-bibitnya mungkin untuk ditanam di seluruh taman di kota Bandung, agar terus terjaga keindahan dan keasriannya. Hebat banget ya pemerintah Hindia Belanda merancang kota kita ini. Sangat terencana.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan ke ranggamalela. Melihat rumah Wolff Schoemaker yang sekarang ditempati OCBC NISP. Sempat dibongkar pada bagian belakang, tapi sudah dibangun kembali seperti bentuk aslinya. Huff hampir aja kita kehilangan satu cagar sejarah … Tepat di depan sekolah Pribadi, ada satu taman yang sekarang namanya Taman flexi. Sebelum ada flexi, namanya Taman Rangga Gading. Dulu waktu saya les bahasa inggris di daerah ini, banyak anak muda yang nongkrong-nongkrong. Sekarang masih banyak juga ya? Jarang lewat .. ^^

Mulailah kami menelusuri perumahan tempo doeloe, daerah jalan sultan tirtayasa. Melewati ruas jalan ini rasanya adem bener (n_n). Banyak pepohonan yang tumbuh di kiri-kanan jalannya. Rumah – rumahnya masih bergaya tempo doeloe. Perumahan di jalan sultan tirtayasa ini merupakan kompleks perumahan yang sangat terencana. Mulai dari jalan, penanaman pohon, pengairan, dll. Hal unik yang baru saya ketahui, di persimpangan jalan (daerah tertentu) biasanya terdapat rumah kembar. Termasuk di persimpangan jalan ini (jalan Sultan Tirtayasa, jalan Trunojoyo, jalan Maulana Yusuf). Rumah di persimpangan ini kembar empat lho!!

Tembus ke Gempol, istirahat dulu sejenak sambil makan kupat tahu Gempol. Selain kupat tahu, masakan-masakan yang dijual disini enak-enak lho! Sate maranggi-nya juga boleh dicoba! Tapi berhubung hari minggu, yang masak pada libur. Coba lain waktu aja yaa! Di daerah ini juga ada toko roti. Namanya Toko Roti Gempol. Kurang dikenal memang, tapi kata Bang Ridwan, turis Belanda suka beli roti di toko ini. Pengetahuan yang saya dapat mengenai Gempol, merupakan salah satu kampung verbetering (nulisnya bener gak bang?). Kampung yang mengalami banyak perbaikan lingkungan seperti pengerasan jalan, pemugaran rumah, saluran pembuangan limbah, saluran got, sumur, sampai listrik. Hanya ada satu gerbang sebagai akses jalan keluar-masuk dan dua brandgang sebagai jalan evakuasi jika terjadi kebakaran.

Lewati brandgang, keluarlah kami di jalan Banda. Menelusuri sedikit ruas jalan Riau yang merupakan kompleks perumahan mewah di tahun 1910. Masih dapat kita temukan rumah-rumah tempo doeloe seperti Heritage Factory Outlet, Dakken Coffee, Gudeg Bengawan Solo, Goethe Institue, de Coral Factory Outlet dan masih banyak lagi.

Berjalanlah kami ke jalan Saparua. Cerita sekilas tentang S. Albanus, gereja katholik bebas yang dibangun tahun 1908. Bangunannya masih asli tapi kurang terawat. Sudah tidak dipakai sebagai gereja, namun di dalamnya terdapat perpustakaan dan tempat kursus bahasa belanda yang masih digunakan. Di seberang gereja Albanus adalah GOR Saparua, lapangan tertua di Bandung. Selain digunakan untuk berolahraga, dulu juga dijadikan tempat latihan militer.
Di seberang GOR Saparua ruas jalan aceh adalah Jaarbeurs. Gedung tempat diadakannya bursa dagang tahunan di Bandung. Dibagun tahun 1920-an, terkenal sekali dengan tiga patung Torso-nya. Kenapa ada patung Torso ya? Kata Pa Goer, patung Torso itu simbol perdagangan di Romawi. Hmm bener ga ya?

Taman Maluku dulu namanya Molukkenpark. Dari taman-taman yang telah saya lewati tadi, inilah taman yang menurut saya paling rimbun, indah dan asri (ehm lagi!). Terdapat patung pastor Verbraak yang terbuat dari perunggu. Verbraak adalah seorang yang berpengaruh bagi militer di Bandung. Sepertinya menyenangkan sekali bila dapat menikmati suasana Molukkenpark dari dalam. Pohon-pohonnya yang rimbun, segarnya udara dan kanal-kanal indah yang hanya bisa kita temukan di taman ini. Sayang sekali kami terhalang pagar tinggi yang mengelilinginya dan gerbang taman yang terkunci (nampaknya memang selalu terkunci).

Voilà! Akhirnya sampai juga kami di titik akhir perjalanan yaitu Taman Bali atau Taman PLN sebelah gedung SMAN 5. Seperti biasa, di akhir perjalanan, pegiat Aleut saling berbagi pengalaman apa saja yang didapat sepanjang perjalanan yang sudah ditempuh. Banyak sekali kekecewaan yang dirasakan teman-teman melihat kondisi taman-taman kota di Bandung. Kecewa terhadap kurangnya perhatian dan pemeliharaan oleh pemerintah terhadap taman-taman kota. Sampai burung-burung pun tidak ada yang betah bermain di taman-taman ini (burung juga ikutan sharing. Hehe).

Sebenarnya masih banyak taman-taman yang belum sempat kami telusuri. Ada Taman Pramuka, Taman Balai Kota, Taman Cibeunying, Taman Cilaki (Taman Lansia), Taman Ciujung, Taman Karang Setra, Taman Viaduct, Taman jalan Palasari, Taman Hutan Raya, Taman Irene dan Taman Citarum yang sekarang sudah hilang, juga Insulindepark atau Taman Lalu Lintas (TLL) dimana di taman ini terdapat satu jenis pohon langka. Namanya pohon Samolo. Adanya cuma di taman ini lho! Jumlahnya hanya dua pohon ! Di pojok kanan dan kiri gerbang masuk TLL. Sudah dua tahun tidak berbuah karena kemungkinan pohon ini amat sensitif terhadap polusi. Padahal seharusnya pohon Samolo berbuah setahun sekali di sekitar bulan Juli-Agustus. Yah .. semoga tahun ini berbuah ..

Rupanya julukan Bandung The Garden City hanya berlaku di tahun 1930-an. Karena sekarang taman-taman di Bandung sudah tidak seindah dulu. Taman yang masih bertahan sampai saat ini semoga tidak bernasib malang seperti taman-taman lainnya yang hilang dan berubah fungsi menjadi mall atau pom bensin ( hiks! Sedih!). Ayo bantu saya menjaga dan mempertahankan taman-taman di Bandung ! Dengan tidak merusak dan mencemarinya, agar taman tidak lagi berpagar dan kita dapat dengan bebas menikmati taman-taman indah di kota Bandung !

————————–

——-

Mau ngucapin bon travaille! buat dua sejoli kita, Chandra and the Beybone yang udah bikin jalur ini. Ditunggu jalur-jalur bagus lainnya yaa! Madadayo .. ! ^^

Catatan seorang pelajar ITH tahun 30’an…

By : Muhammad Ryzki Wiryawan
Perkenalkan, nama saya Moehammad Hassan Windoedipoero. Hari ini, tanggal 07-06-09 saya akan mengulangi masa-masa muda semasa masih menjadi pelajar di Indische Technische Hoogeschool melalui perjalanan yang diadakan Klab Aleut…

Perjalanan ini cukup berat bagi orang seusia saya, tetapi gairah yang terpancar dari mata para pemuda-pemudi Klab Aleut untuk mengapresiasi sejarah dapat memulihkan kekuatan masa muda saya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila ada data yang salah, karena ingatan saya yang sudah cukup memudar seiring waktu.

Saya (tengah) bersama Mas Kusumo (Kiri) dan Karman (Kanan)
Saya dan Saidi, membelakangi kampus ITH
Baiklah, pertama-tama Klab Aleut mengajak saya mengunjungi tempat saya kuliah dahulu. Indische Technische Hoogeschool pertama kali dibuka tahun 1921 oleh prakarsa dari para pengusaha-pengusaha Belanda yang sukses serta perkembangan Kota Bandung yang menuntut ahli-ahli tehnik dan arsitektur. Sebelumnya, arsitek-arsitek kolonial hanya dihasilkan dari Sekolah Tinggi Tekhnik di Delft Belanda. Hingga kemudian kritik2 bermunculan bahwa lulusan dari sekolah tinggi tersebut memiliki pengetahuan yang sangat sedikit tentang kondisi lingkungan dan budaya tropis di hindia belanda, oleh karena itulah perlu dibangun sekolah khusus teknik dan cabang2 ilmunya di hindia Belanda ini. Bandung patut bangga karena Kota ini dianggap cukup layak untuk ditempati komplek sekolah bergengsi ini.

Kampus ITH 1930’an
Rancangan Komplek ITH oleh Maclaine Pont

Kalau membicarakan ITH, mau tidak mau kita akan membicarakan peran Henry Manclaine Pont (1879-1955) yang merancang bangunan-bangunan di ITH ini. Detail2 yang mencolok dalam proses pembangunan ITH menyangkut peran dua guru Maclaine Pont , yaitu Klopper dan Klinkhamer. Prof.Ir. J. Klopper adalah direktur utama ITH saat itu, saya ingat sekali pernah berpapasan dengannya sesekali kala berangkat kuliah. Kemudian saya baru tahu kalau tuan Klinkhammer adalah keponakan dari K.A.R. Boscha, seorang humanis dan pengusaha perkebunan teh terkenal di Priangan.

Beberapa Anak Aleut memperhatikan sebuah plakat yang berisi nama-nama donatur pembangunan ITH. Ya, benar sekali, sekolah ini dibangun atas dana swasta, karena permintaan masyarakat luas akan insinyur-insinyur handal di hindia belanda. Baru 4 tahun kemudian ITH beralih ke tangan pemerintah Hindia Belanda. Sampai saat didirikannya Sekolah Tinggi Teknik ini, jarang ada perhatian terhadap perancangan arsitektural. Baru kemudian muncullah diskusi-diskusi dan perdebatan mengenai bentuk arsitektur yang cocok untuk kawasan tropis hindia Belanda.

Suasana perdebatan ini sangat santer terasa apabila anda sempat merasakan masa muda yang saya alami sebagai mahasiswa di sekolah teknik ini. Jurnal-jurnal yang diterbitkan saat itu banyak membahas perseteruan antara dua guru besar kampus ini, yang tidak lain adalah Tuan Schoemaker dan tuan Maclaine Pont. Keduanya sama-sama lahir di nusantara, Schoemaker lahir di Banyu Biru, sedangkan Pont di jatinegara, boleh dibilang keduanya memiliki latar belakang budaya yang hampir sama, tetapi pandangan arsitekturnya cukup berlawanan.

Menurut tuan Schoemaker, langgam arsitektur Indo-eropa harus tetap berhaluan pada arsitektur Eropa modern dan tidak banyak mengadopsi arsitektur lokal. Itulah sebabnya rancangan-rancangan beliau tampak kagok dalam menempatkan unsur-unsur lokal dalam karyanya. Lihatlah toko buku Van Dorp dan Societet Concordia. Unsur lokal hanya dijadikan ornamen tanpa arti. Saya lebih menyukai pandangan Maclaine Pont yang berani mengadopsi gaya arsitektur lokal, tetapi dipadukan dengan teknik arsitektur modern. Contohnya adalah bangunan kampus ITH ini, walau dikenal sebagai bangunan bergaya Indo-eropa pertama di hindia Belanda, muncul banyak kritik bahwa Maclaine Pont tidak tepat dalam menempatkan bangunan bergaya Minangkabau dalam lingkungan sunda. Di luar itu, perhatian besar maclane Pont terhadap arsitektur dan budaa lokal patut diapresiasi. Dalam satu jurnal, Wolff Schoemaker pernah mengomentari gedung2 sekolah tinggi teknik bandung sebagai berikut ,”Sekolah Tinggi Teknik dirancang dengan pemakaian contoh dari beberapa ciri khas bangunan Minangkabau, yang di Jawa berada di tanah asing”.

Rancangan Aula Barat ITB oleh Maclaine Pont

Ada satu hal yang menarik, Tuan Wolff Schoemaker sehari-harinya mau tidak mau harus berada dalam gedung rancangan Maclaine Pont saingannya. Dalam beberapa kuliahnya yang saya alami, beliau menjuluki rancangan Maclaine Pont ini sebagai,“Peniruan bentuk yang dibuat-buat” serta meragukan kegunaan “suatu peniruan bentuk atap Sumatera, yang mengakibatkan kobocoran serius?.

Baiklah, kita lupakan dulu segala perdebatan ini dan beralih kepada taman Indah yang berada di poros selatan Kampus ITH. Dahulu saya kerap bersepeda bersama teman-teman mengelilingi taman ini. Saya ingat sekali, jalan yang sekarang bernama jalan ganesha, dulunya bernama Hoogeschoolweg, sedangkan di sebelah selatan taman ini, yang sekarang bernama jalan Gelapnyawang dulunya bernama MaclainePont Weg. saya dan teman kadang berkelakar bahwa tuan Schoemaker tidak akan pernah bersedia untuk melewati jalan bernama saingannya ini.

Taman indah ini didedikasikan untuk Tuan Yzerman, karyawan pegawai staats spoorwegen-SS (Jawatan Kereta Api Negara) dan merupakan salah seorang penggagas pendirian ITH. Dahulu di ujung taman ini terdapat patung dada beliau. Sayangnya patung ini ditebas di masa kemerdekaan Indonesia. Sungguh disesalkan…

Saya, Kusumo dan Kardi bergaya di depan patung Yzerman

Muda-mudi ITH kerap beristirahat dan bercengkrama di taman yang asri ini (kalau tidak salah ada juga salah satu pegiat aleut yang bernama Asri) Ya, Kalau dilihat dari angkasa, jalur di taman ini akan membentuk huruf “Y”, dari inisial Yzerman. Di taman ini pula terdapat dua kolam berbentuk lingkaran, salah satunya memancarkan air. Ada juga peneduh-peneduh berbalur daun yang diatur dengan sangat apik. Kemudian kalau anda perhatikan di belakang patung ini, terdapat plakat-plakat yang menunjukan lokasi gunung-gunung yang memunggungi Bandung dari arah selatan beserta ketinggiannya. Dahulu saya masih bisa melihat jelas lekuk-lekuk gunung ini dari taman ini, sayangnya sekarang sudah tidak bisa.

Landscape taman Yzerman

Taman ini dibangun agar bisa merekam kondisi taman-taman di Eropa, sebagaimana kawasan Bandung utara memang diatur berdasarkan konsep tuinstaad atau Kota taman. Anda tidak perlu jauh-jauh ke negeri Belanda untuk merasakan nuansa Eropa, dahulu anda cukup untuk mengunjungi taman Yzerman ini. Jangan lupa membawa sebuah buku menarik serta sekeranjang roti dan sebotol susu.

Klab Aleut ini memang keterlaluan, tanpa melihat usia saya yang renta, mereka terus mengajak saya untuk mengunjungi lokasi lainnya,, baiklah akan saya turuti kemauan pemuda-pemudi gagah ini… Semoga pengalaman yang pernah saya alami dapat menjadi pelajaran bagi anak-anak muda ini…
(bersambung)

Brievenkart berlatar taman Yzerman

TAMAN = TAk nyaMAN

By : Candra Asmara

jangan terlebih dahulu mengambil kesimpulan bahwa semua taman itu tak nyaman, saya hanya mengambil beberapa taman di bandung yang sempat saya dan teman-teman lalui beberapa hari lalu…dan yang langsung terlintas adalah sebuah akronim dari kata TAMAN itu sendiri..ya, itu…. seperti judul coretan ini…

bandung kota taman, itu yang dahulu opa-opa belanda canangkan demi pembangunan kota ini, kota yang banyak mendapat pujian, kota yang tak pernah surut menjadi buah bibir orang-orang karena keindahannya, kota yang disamakan dengan paris, kota yang memiliki tata kota yang nyaris sempurna, kota dengan udara yang bersahabat, kota yang…kota yang…kota yang….tentu saja saya berbicara tentang masa lalu dalam paragraf ini, karena yang saya utarakan di atas,,,hmmm,jauh dari rupa bandung saat ini…

taman, menurut “kamus sakarep urang sorangan”, berarti sebuah tempat replika dari imajinasi manusia tentang surga, disana terdapat pohon, kolam, rumput, bidadari(beberapa tahun lalu masih beredar di sekitar molukken park,,”bidadari bertongkat ” namanya…),tempat duduk yang nyaman, anak-anak kecil yang tertawa lepas,sebagian orang menjadikan taman sebagai tempat pelarian untuk melepas penat,sebagian lagi memilih taman untuk hanya sekedar membunuh rasa kesendirian, sebagian lagi untuk membunuh rasa rindu dengan bertemu sang kekasih, sebagian lagi…sebagian lagi…sebagian lagi…tentu saja saya kembali mengutarakan tentang masa lalu di paragraf ini, karena yang saya paparkan di atas adalah saat dimana taman-taman di kota ini “menawarkan kehidupan” bagi orang-orang…bukan “kematian”.

cukup tentang masa lalu, karena yang saya hadapi saat beberapa hari lalu adalah cerminan saat ini, kenyataan yang harus saya lihat dari sahabat-sahabat penduduk kota ini sejak dulu, sahabat-sahabat yang tersingkirkan zaman dan degradasi moral manusia, sahabat-sahabat yang letih, ingin berteriak, namun yang keluar hanya teriakan kering, sama seperti nadi-nadi mereka yang dibiarkan mengering, sampah menyumbat mulut mereka dengan paksa, mereka diisolasi, bahkan ada seorang sahabat yang dipenjara,,mari saya kenalkan dengan sahabat-sahabat kita yang terlupakan itu…

1. sahabatku ijzerman(maaf man, kalo saya salah nulis nama kamu, kita udah lama ga ketemu..sejak tahun 60an)
sahabat yang satu ini, dialah yang mendirikan sebuah sekolah yang dahulu bernama Technische Hogeshool, atau yang sekarang kita kenal dengan nama ITB…nah, maman (panggilan akrab,) inilah salah seorang yang sangat berjasa dalam memajukan kota bandung sebagai kota pendidikan saat itu, oleh karena jasa-jasa dan sumbangsihnya kepada kota ini, dibangunlah sebuah taman yang dinamakan ijzerman park, dan di depan pintu masuk taman, didirikanlah sebuah patung dada(bukan dada rosada) ijzerman yang gagah dan tampan itu. namun patung dada maman tak lagi tampak, sempat berganti menjadi patung ganesha, gajah kecil berbelalai pendek,,lalu sekarang berganti menjadi patung berbentuk kubus yang tak jelas nilai historisnya. sekarang entah dimana patung dada ijzerman berada…kamu dimana, man? dan satu lagi yang menarik tak jauh dari patung dada ijzerman berada (dulu), terdapat beberapa penunjuk arah berbentuk plakat yang menunjukkan arah gunung beserta ketinggiannya yang langsung berhadapan dengan ijzerman park dari arah selatan…mengejutkan, kagum, dan menyadari bahwa saya belum mengenal ijzerman dari hati ke hati…

2. sahabatku molukken
sahabat yang kini terpasung, sendirian di masa tuanya, tampaknya sedang merenungi pengalaman2 hidupnya di kala muda,,saat saya melihat molmol(panggilan akrab) beberapa hari yang lalu, keadaannya cukup bersih, cukup tertata, air mancurnya terlihat meliuk-liuk menari di tengah, kanal2nya pun mengalir, meskipun tetap saja ada sampah disana-sini,,saat saya dan teman-teman yang lain ingin menyapanya, berpelukan, saling bercerita tentang masa lalu, jeruji penjara menghalangi saya, jeruji yang memasung molmol untuk dipaksa tak bersentuhan dengan dunia luar…saya hanya bisa melihat patung pastor versbraak diluar jeruji, patung yang tampak tak terawat, yang berdiri di tempat pastor versbraak menghadap titik akhir usianya. versbraak diantar pesawat yang jatuh di molukken park untuk sampai titik terakhir nafasnya.

begitulah, dua orang sahabat diantara banyak sahabat yang lain yang bisa saya ceritakan. marilah kita kunjungi sahabat2 yang lainnya, sapa, berikan bantuan jika ia perlu bantuan. jika kita mendengarkan keluhan dan mengulurkan bantuan bagi sahabat2 kita itu, niscaya judul coretan saya di atas akan salah. mari bersahabat!

Ngaleut Taman Episode 1

By : Adri teguh Bey Haqqi
Bandung, Minggu 07 Juni 2009.

INFO ALEUT : ayo kita jelajahi taman kota dan rumah kolonial.kumpul di jalan sumur bandung no.4 hari minggu 070609 jam 07.07 pagi.
Seperti itu pesan yang saya terima dari seorang pegiat aleut pada hari sabtu tanggal 060609.*isi singkatnya.

berhubung suka telat jadi aku saya adri teguh bey haqqi berencana akan menginap di rumah pa koordinator jalan sumur bandung no.4 supaya dibesok hari tidak akan telat berkumpul dan bisa mengikuti brieving bersama.
saya mengajak pegiat aleut yang lainnya tetapi yang mau diajak saya cuma ica ama caca.tak apalah daripada ga ada teman.

ica ma caca lg tidur.

ternyata tidur di rumah orang lain juga sama saja, bangun telat. baru bangun pukul 07.00 wib lebih dikit lah. itu juga bangun gara gara denger suara yang parau serak serak basah ciri khas om bang br ridwan.
langsung ajah melakukan ritual trus mandi dulu. eh beres mandi ada bala bala satu keresek penuh ternyata teh widi yang bawa. alhamdulillah rezeki mah dateng darimana wae. terima kasih teh widi.
beres mandi dll tuh jam 07.30 am dan masih banyak pegiat yang belum tiba di sumur bandung no.4 ini.

pukul 08.00 wib semua pegiat yang akan ikut ngaleut telah datang semua. ada bang ridwan,om adhi,a ayan,ibu budi,kang asep,teh cici,teh dila,teh widi,teh uti,teh dinda,teh uni,a ajay,a candra,a indra,teh adinda,a yanto,a elgy.
setelah melakukan briping mengenai jalur yang akan dilewati dan berdoa bersama demi keselamatan semua akhirnya kita pun melangkahkan kaki menuju taman pertama yang akan di lewati.

brivingan..
serius..

tidak jauh dari sumur bandung no.4 kita telah tiba di sebuah taman segitiga di belakang itb simpang tiga gitu.
padahal baru jam 8an tapi si cahaya matahari terik sangat panas sekali menyengat kulit kita.
di simpang tiga ini bang ridwan menerangkan mengenai suasana sekitar siliwangi pada zaman dulu dan kemudian menjelaskan sebuah park yang dulunya itu jubileum park dan sekarang sudah menjadi kebun binatang bandung.
ternyata dulu itu sebagian besar taman sari dari taman sari sampai lebak siliwangi adalah jubileum park. pada tahun 1923 taman ini diresmikan untuk memperingati jubileum ratu wilhelmina dari Belanda.
dulu di bagian selatan jubileum park ada prasasti jubileumpark. sampai tahun 50-an masih bisa dilihat, tetapi setelahnya tidak tahu ada dimana.

di simpang tiga.br menjelaskan jubileum park

kemudian kita melanjutkan kembali perjalanan memasuki kawasan kampus itb.
itb merupakan kampus pertama yang ada di hindia-belanda. dulunya Technische Hoogeschool (THS) yang diresmikan pada tahun 1920.
para pegiat berjalan-jalan di dalam kampus itb yang udaranya sejuk, damai, aman, tenang, tentram, sedikit kendaraan yang melintas, dan sesekali terlihat para mahasiswa yang sedang melakukan joging atau berlatih taekwondo dan karate juga mahasiswa yang sedang berdiskusi.*beda banget lah ama unpad nangor mah komo deui upi jauh!!hehe..
kita dikejutkan oleh sebuah cerita dari BR kalau di THS ada gedung yang kayak gedung kuliah di harvard gitu. kita berharap bisa masuk ke gedung Fisika itu, namun sayang di gembok. kita hanya bisa mengintip dari sebuah lubang kecil.*bari jeung teu kaciri.
di dalam itb saya menemukan beberapa plakat yang masih menempel di dinding-dinding gedung.banyak plakat yang ada nama boscha nya. opa boscha ini adalah salah seorang donatur pendiri ths.
dari yang saya lihat gedung gedung itb bentuknya unik. gedungnya beratap gaya minangkabau tapi pondasi bergaya eropa.keren!!
oh ternyata gedung nya itu karya Ir. Hendri Maclaine Pont.

para sesepuh..

keluar dari THS kita sudah disuguhi oleh sebuah taman lagi.nama tamanya itu ijzerman park.sebagai tanda terima kasih buat bapak Dr.Ir.J.W.Ijzerman yang sangat berjasa besar dalam pendirian THS, maka pada tahun 1919 dibangun sebuah taman yang sangat indah,rapih,artistik sehingga apabila kita lihat dari udara akan terlihat seperti huruf Y.
kata BR tahun 80an si taman ini masih asri (bukan cici) terus ada air mancur kursi taman terowongan dari pohon merambat gitu, terusterus ada di belakang patung kubus ga jelas yang tembok setengah lingkaran ada nama-nama gunung yang mengelilingi Bandung.HEBAT!!
selain itu juga di pintu masuk taman bagian utara didirikan sebuah patung dada Dr.Ir.J.W.Izjerman. tahun 60-an patungnya diganti jadi patung ganesha. patung ganesha diganti dengan patung yang katanya artistik terbuat dari logam anti karat sampai sekarang.
katanya patung dada Dr.Ir.J.W.Izjerman tersimpan di dalam gedung rektor itb di simpang tiga sulanjana taman sari. tapi tidak tahu juga, karena saya sendiri belum melihat.
sekarang tuh nama tamannya berubah jadi taman ganesha.

Referensi :

http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/izjermanpark.html

http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/jubileumpark.html

http://bandungtempodulu.com/gedung_arsitektur_belanda/gedung_sekolah/technische_hoogeschool.html