#PernikRamadhan: Berburu Tanda Tangan di Bulan Ramadhan

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Para jamaah bangkit dari sujudnya, memasuki rakaat terakhir dari shalat witir. Hanya satu rakaat lagi dari berakhirnya rangkaian shalat Tarawih malam hari itu. Beberapa anak kecil yang mengikuti jalannya shalat Tarawih sudah terihat tak tenang, seolah ingin segera mengakhiri saja shalat ini. Di rakaat terakhir, imam yang merangkap sebagai penceramah malam ini membaca surat pendek yang panjangnya lebih dari 10 ayat. Terdengar oxymoron, memang.

Setelah penantian yang dirasa panjang, imam akhirnya menoleh ke kanan sambil mengucap salam. Berakhir juga shalat Tarawih malam ini. Namun sebelum imam selesai membaca doa, sudah terlihat antrian anak kecil yang mengular di belakang sang imam. Mereka semua memegang sebuah buku tipis yang berbahan kertas koran. Salah satu anak mengangkat bukunya ke atas kepalanya, entah apa maksudnya. Dari kejauhan terlihat tulisan “Buku Kegiatan Ramadhan” di sampul buku anak itu.

Imam selesai membaca doa, lalu beranjak dari duduknya untuk membalikan badan. Sejenak terlihat gestur kaget dari tubuhnya setelah melihat panjangnya antrian yang di luar dugaannya. “Sok biar cepet, langsung buka halaman nu rek diparaf ku Bapak”, ujar sang imam dengan logat Sunda kentalnya sambil mengeluarkan bolpoin dari saku baju kokonya. Bak jendral yang mengkomandoi anak buahnya, semua anak langsung membuka halaman yang dimaksud sang imam. Satu per satu anak-anak yang mengantri mendapat tanda tangan dan terpancar senyum di wajah mereka Baca lebih lanjut

#PernikRamadhan: Munggahan dan Puasa Hari Pertama yang Tak Lagi Sama

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Waktu menunjukan pukul 14.00 WIB. Matahari siang itu cukup terik, lebih terik dari sehari sebelumnya. Saya baru saja kembali dari warnet langganan di depan komplek untuk mengunduh materi kuliah yang dikirim oleh dosen. Maklum, saat itu saya belum berlangganan internet karena koneksi melalui HP saja sudah dirasa cukup.

Segera saya ambil gelas di dapur dan mengisinya dengan air dingin yang ada di kulkas setibanya di rumah. “Besok mah ga akan bisa lagi minum kayak gini di siang hari”, gumam saya dalam hati sambil meneguk air di dalam gelas. Ya, esok hari adalah hari pertama puasa di tahun 1431 Hijriah. Pemerintah melalui sidang isbat menetapkan bahwa 1 Ramadhan jatuh di tanggal 11 Juli 2010.

Air di gelas pun habis. Saya berjalan menaiki tangga menuju kamar. Telepon berdering tak lama setelah tombol power layar dan komputer ditekan. Terdengar suara tante dari balik speaker gagang telefon.

“Mas Arya, Ibu ada? Dari tadi ditelepon kok ga diangkat yah?”

“Ga ada, tadi sih lagi ngantor di Rancaekek. Ada apa gitu?”

“(terdiam beberapa detik) Eyang udah ga ada…”

Saya membatu setelah mendengarnya, seperti ketika manusia melihat rambut Medusa. Dari luar rumah terdengar tangisan adik setelah pembantu meneruskan kabar itu. Baca lebih lanjut