Ramadhan Kecil Dari Halteu Utara

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Suasana Jalan Halteu Utara

Suasana Jalan Halteu Utara

Pikiran saya agak kacau sore itu. Dengan mengemban banyak beban, saya mengambil satu obat bernama jalan di sore hari. Rute yang diambil berada di sepanjang Jalan Halteu Utara.

Pas sekali, sore itu adalah waktu pemuda dan pemudi, tuan dan nyonya keluar menikmati angin dan suasana sore hari. Sore itu semakin pas karena hari itu adalah hari ke empat di bulan Ramadhan. Dikarenakan di minggu pertama di bulan Ramadhan, suasana khas bulan Ramadhan terasa kental di Jalan Halteu Utara.

Ramadhan tidak pas kalau tidak membeli bekal untuk berbuka puasa. Nah, karena alasan itu, saya membeli satu bungkus tahu bulat ke pedagang yang berjualan di dekat rel kereta api. Sambil menunggu tahu bulat matang, saya mengobrol basa – basi dengan pedagang tersebut.

“Cep, tinggal di mana?”

“Saya mah tinggal di Logam tapi sering main ke sini. Akang sendiri dari mana?”

“Dayeuh Kolot. Ke sini hanya jualan tahu bulat doang”

“Tidak cape kang?”

“Mau apa lagi, cep. Tiket kereta api dan bis mahal. Anak – anak mau ketemu nenek dan kakeknya, cep”

“O,”

Setelah membeli satu bungkus tahu bulat untuk berbuka puasa, saya mengelilingi dan mengamati keadaan sekitar Halteu Utara. Mulai dari pedagang kain hingga pedagang sosis bakar menghias pemandangan Halteu Utara sore itu. Tidak sedikit, ada anak kecil menangis karena tidak dibelikan keinginannya di sela – sela pedagang. Sungguh suasana Ramadhan yang khas!

Selesai mengobrol, saya jalan ke arah Pasar Ciroyom. Setelah jalan sekitar 150 meter, bau tak sedap tercium kuat oleh saya. Bau tersebut berasal dari tumpukan sampah dan tempat pemotongan ayam. Tapi dibalik bau tersebut, saya bertemu dengan kumpulan anak kecil yang sedang asik bermain di daerah tersebut. Dengan ragu – ragu, saya bertanya mereka sedang apa.

“Lagi apa, cep?”

“Lagi ngabuburit, kang.”

“Loh, kok ngabuburit di sini? Engga risih sama bau?”

“Geus biasa, kang. Di dieu mah lumayan lega keur main bola”

“O,”

Setelah bercakap dengan mereka, saya kembali ke rumah. Ada satu pikiran baru yang tercantol di antara pikiran lain. Di antara ingar bingar Ramadhan, masih banyak cerita kecil yang jarang diketahui orang atau mungkin hanya dilihat sekilas oleh orang. Mulai dari pengorbanan yang dilakukan kepala keluarga untuk pulang kampung hingga cerita ngabuburit anak kecil di sekitar tumpukan sampah. Sungguh Ramadhan yang baru untuk saya!

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/06/26/ramadhan-kecil-dari-halteu-utara/

#PernikRamadhan: Berburu Tanda Tangan di Bulan Ramadhan

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Para jamaah bangkit dari sujudnya, memasuki rakaat terakhir dari shalat witir. Hanya satu rakaat lagi dari berakhirnya rangkaian shalat Tarawih malam hari itu. Beberapa anak kecil yang mengikuti jalannya shalat Tarawih sudah terihat tak tenang, seolah ingin segera mengakhiri saja shalat ini. Di rakaat terakhir, imam yang merangkap sebagai penceramah malam ini membaca surat pendek yang panjangnya lebih dari 10 ayat. Terdengar oxymoron, memang.

Setelah penantian yang dirasa panjang, imam akhirnya menoleh ke kanan sambil mengucap salam. Berakhir juga shalat Tarawih malam ini. Namun sebelum imam selesai membaca doa, sudah terlihat antrian anak kecil yang mengular di belakang sang imam. Mereka semua memegang sebuah buku tipis yang berbahan kertas koran. Salah satu anak mengangkat bukunya ke atas kepalanya, entah apa maksudnya. Dari kejauhan terlihat tulisan “Buku Kegiatan Ramadhan” di sampul buku anak itu.

Imam selesai membaca doa, lalu beranjak dari duduknya untuk membalikan badan. Sejenak terlihat gestur kaget dari tubuhnya setelah melihat panjangnya antrian yang di luar dugaannya. “Sok biar cepet, langsung buka halaman nu rek diparaf ku Bapak”, ujar sang imam dengan logat Sunda kentalnya sambil mengeluarkan bolpoin dari saku baju kokonya. Bak jendral yang mengkomandoi anak buahnya, semua anak langsung membuka halaman yang dimaksud sang imam. Satu per satu anak-anak yang mengantri mendapat tanda tangan dan terpancar senyum di wajah mereka Baca lebih lanjut

#PernikRamadhan: Kenakalan Remaja Di Bulan Puasa

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Judulnya memang mirip dengan lagu dari Efek Rumah Kaca, namun jangan bayangkan tulisan saya ini isinya sama dengan apa yang Cholil nyanyikan. Saya memilih judul ini karena kebetulan saja berima. Suatu penelitian yang saya lihat di acara ‘How To Win’ di History Channel menyebutkan bahwa sebuah kalimat yang berima jauh lebih menarik dibanding kalimat tak berima. Unik memang, tapi untuk diri saya sendiri penelitian itu ada benarnya juga.

Mari tinggalkan masalah pemilihan judul dan rima. Bulan Puasa Ramadhan seperti ini bagi saya identik dengan kenakalan remaja (dan juga anak-anak). Menurut Haryoto Kunto dalam Ramadhan di Priangan, bulan puasa di masa itu biasanya diisi beberapa remaja dengan gapleh (judi), membuat keributan (dengan petasan), dan kebut-kebutan. Belakangan ini sudah jarang sekali saya temukan ketiganya di Kota Bandung.

Seiring dengan dilarangnya peredaran petasan di Indonesia, jarang sekali saya dengar ledakan ‘mesiu kecil’ ini di daerah dekat komplek. Selain iklan sirup Marjan, dulu petasan juga jadi pertanda bahwa bulan Ramadhan sudah dekat. Saya tak tahu pasti mengapa petasan ini bisa sampai diidentikan dengan bulan puasa. Meskipun sebetulnya dijual juga di luar bulan puasa, tapi puncak penjualan petasan justru terjadi di bulan penuh berkah ini. Baca lebih lanjut

#PernikRamadhan: Asal-usul Kata “Puasa” dan “Lebaran”

Oleh : M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

1950

Selama ini mungkin kita bertanya-tanya, dari manakah asal-usul kata “Puasa” dan “Lebaran” karena kedua kata ini ternyata tidak dikenal di bahasa Arab. Nah, menurut M.A. Salmun dalam artikelnya yang dimuat dalam majalah “Sunda” tahun 1954, kedua istilah tersebut ternyata berasal dari tradisi Hindu.

Menurut M.A. Salmun, “Puasa” berasal dari kata “Upawasa” yang berarti “menutup”, dengan kata lain menutup/menahan hawa nafsu. Oleh sebab itulah, padanan dari kata “Puasa” adalah “Buka”.

Begitu pula kata “Lebaran” berasal dari tradisi Hindu yang berarti “Selesai, Usai, atau Habis”. Menandakan habisnya masa “Puasa”.

Istilah-istilah ini mungkin diperkenalkan para Wali agar umat Hindu yang baru masuk Islam saat itu tidak merasa asing dengan agama yang baru dianutnya. Selain itu, tradisi munggahan dan nyekar yang berasal dari Hindu juga masih dipraktikan hingga sekarang.

So, kalo saya sih mulai sekarang lebih suka pakai kata “Shaum” dan “Idul Fitri” saja supaya makna ibadahnya lebih kena…

#PernikRamadhan: Munggahan dan Puasa Hari Pertama yang Tak Lagi Sama

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Waktu menunjukan pukul 14.00 WIB. Matahari siang itu cukup terik, lebih terik dari sehari sebelumnya. Saya baru saja kembali dari warnet langganan di depan komplek untuk mengunduh materi kuliah yang dikirim oleh dosen. Maklum, saat itu saya belum berlangganan internet karena koneksi melalui HP saja sudah dirasa cukup.

Segera saya ambil gelas di dapur dan mengisinya dengan air dingin yang ada di kulkas setibanya di rumah. “Besok mah ga akan bisa lagi minum kayak gini di siang hari”, gumam saya dalam hati sambil meneguk air di dalam gelas. Ya, esok hari adalah hari pertama puasa di tahun 1431 Hijriah. Pemerintah melalui sidang isbat menetapkan bahwa 1 Ramadhan jatuh di tanggal 11 Juli 2010.

Air di gelas pun habis. Saya berjalan menaiki tangga menuju kamar. Telepon berdering tak lama setelah tombol power layar dan komputer ditekan. Terdengar suara tante dari balik speaker gagang telefon.

“Mas Arya, Ibu ada? Dari tadi ditelepon kok ga diangkat yah?”

“Ga ada, tadi sih lagi ngantor di Rancaekek. Ada apa gitu?”

“(terdiam beberapa detik) Eyang udah ga ada…”

Saya membatu setelah mendengarnya, seperti ketika manusia melihat rambut Medusa. Dari luar rumah terdengar tangisan adik setelah pembantu meneruskan kabar itu. Baca lebih lanjut