#PernikRamadhan: Masjid Sepi, Ke Mana Anak-anak?

Oleh: Anggi Aldilla (@anggicau)

Siang tadi entah kenapa pengen banget Jum’atan di mesjid Al -Manar yang berada di sekitaran Jalan Puter. Jaman SD dulu, saya sering sholat Jum’at di sini bersama teman-teman sehabis atau saat akan ke sekolah. Bangunannya tidak banyak berubah dibandingkan saat saya TK dan SD (kebetulan TK saya berada satu komplek dengan masjid, kemudian di lanjut ke SD Tikukur yang tidak jauh dari sana). Di sinilah kesenangan pergi ke masjid dimulai.

Kesenangan ini bukan untuk ibadah, tapi untuk heureuy. Bukan berarti saya tidak beribadah, tapi ada kesenangan tersendiri ketika Jum’atan. Ketika khotib sedang khotbah, kita malah rame dan sibuk sendiri main “Gagarudaan” atau main “stum, tombak, cakar, banteng” (agak susah juga sih jelasin gimana permainan nya). Pada saat sholat pun tak lepas dari heureuy, minimal ngobrol lah.

Berhubung sekarang lagi bulan Ramadhan, saya jadi teringat tulisan Zen RS tentang “ibadah adalah piknik”. Ya bagaimana tidak, tiap malam kita bisa bertemu teman seumuran yang kadang sulit untuk ketemu di siang hari. Baca lebih lanjut

Iklan

#PernikRamadhan: Jika Aku Menjadi Anak Kecil

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Ilustrasi kenakalan anak kecil

Ilustrasi kenakalan anak kecil

 Setelah dewasa, fase anak kecil begitu menyenangkan

Adalah sebuah kebahagiaan menjadi anak kecil saat bulan Ramadhan tiba. Loh, tapi kalau dipikir – pikir kembali, kebahagiaan dari mana? Saya tidak puasa satu hari penuh karena tidak kuat. Uang jajan saya akan dibatasi oleh orang tua. Lalu, kebahagiaan apa yang akan saya rasakan saat menjadi anak kecil?

Tapi, setelah bermeditasi di Makam Buniwangi, saya akhirnya menemukan kebahagiaan yang dimaksud. Adalah kebahagiaan menjadi setan kecil yang iseng dan nakal. Dengan menjadi anak kecil, saya bisa iseng dan nakal tanpa harus takut dimarahi oleh orang tua atau orang lain. Baca lebih lanjut

#PernikRamadhan: Kenakalan Remaja Di Bulan Puasa

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Judulnya memang mirip dengan lagu dari Efek Rumah Kaca, namun jangan bayangkan tulisan saya ini isinya sama dengan apa yang Cholil nyanyikan. Saya memilih judul ini karena kebetulan saja berima. Suatu penelitian yang saya lihat di acara ‘How To Win’ di History Channel menyebutkan bahwa sebuah kalimat yang berima jauh lebih menarik dibanding kalimat tak berima. Unik memang, tapi untuk diri saya sendiri penelitian itu ada benarnya juga.

Mari tinggalkan masalah pemilihan judul dan rima. Bulan Puasa Ramadhan seperti ini bagi saya identik dengan kenakalan remaja (dan juga anak-anak). Menurut Haryoto Kunto dalam Ramadhan di Priangan, bulan puasa di masa itu biasanya diisi beberapa remaja dengan gapleh (judi), membuat keributan (dengan petasan), dan kebut-kebutan. Belakangan ini sudah jarang sekali saya temukan ketiganya di Kota Bandung.

Seiring dengan dilarangnya peredaran petasan di Indonesia, jarang sekali saya dengar ledakan ‘mesiu kecil’ ini di daerah dekat komplek. Selain iklan sirup Marjan, dulu petasan juga jadi pertanda bahwa bulan Ramadhan sudah dekat. Saya tak tahu pasti mengapa petasan ini bisa sampai diidentikan dengan bulan puasa. Meskipun sebetulnya dijual juga di luar bulan puasa, tapi puncak penjualan petasan justru terjadi di bulan penuh berkah ini. Baca lebih lanjut