Rasia Bandoeng

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM

RASIA BANDOENG
atawa 
Satu percinta-an yang melanggar peradatan “Bangsa Tiong Hoa” satu cerita yang benar terjadi di kota Bandung dan berakhir pada tahon 1917.

Diceritaken oleh Chabanneau *******

Diterbitkan pertama kali oleh Gouw Kim Liong, tahun 1918
Dicetak oleh Drukkerij Kho Tjeng Bie & Co., Batavia
Diterbitkan ulang dengan penambahan oleh Ultimus

Disalin dan diberi catatan oleh Komunitas Aleut!
Disunting oleh Ridwan Hutagalung
Rancangan sampul oleh Ridwan Hutagalung

Novel Rasia Bandoeng pertama kali terbit pada tahun 1918 secara bersambung dan seluruhnya terdiri dari tiga jilid.

Novel ini memang sempat heboh pada masanya karena isinya yang mengungkap sebuah kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa di Bandung tempo dulu.

Sudah lama isi novel Rasia Bandoeng menjadi perhatian Komunitas Aleut, tidak melulu karena isi ceritanya tetapi juga karena banyaknya nama tempat yang disebutkan di situ. Di awal tahun 2016 ini Komunitas Aleut mengemas novel Rasia Bandoeng dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti Ngaleut Rasia Bandoeng, Tjerita Boekoe, dan terakhir, menerbitkan ulang novel lama itu dalam bentuk yang Anda terima sekarang ini.

Untuk penerbitan ulang novel Rasia Bandoeng ini, ketiga jilid yang semula terpisah sekarang digabung menjadi satu buku saja. Pada isi naskah dilakukan sedikit perubahan ejaan lama ke dalam ejaan baru, selebihnya disalin sesuai dengan aslinya. Selain itu ada tambahan catatan kaki untuk berbagai istilah yang sudah tidak umum sekarang, serta lampiran artikel investigatif oleh Lina Nursanty Rasia Bandoeng yang pernah dimuat secara serial di HU Pikiran Rakyat.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Jun 2016
Pengarang: Chabanneau *******
Halaman : 296
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-75-3

Harga umum 85,000

Pemesanan: 0859-7490-5769
Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu,
Bandung 40264

Harga di Kedai Preanger 75,000

Persib dan Literasi Bal-balan

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Saat rehat babak pertama laga tandang Persib yang melawat Persiba, saya menulisi akun @simamaungdengan pertanyaan retoris sok puitis: Kenapa sepi dan rindu diciptakan? Hanya tinggal mengklik tombol tweet, beruntungnya saya bukan makhluk yang kelewat iseng. Sebenarnya, enggak masalah sih sedikit jahil dengan salah satu media daring paling akrab di telinga bobotoh ini, hitung-hitung meredakan ketegangan skor kacamata di malam itu–malam Minggu yang niscaya akan jadi jahanam jika tanpa puisi dan Persib.

Sepakbola bukan cuma sebuah permainan, bukan hanya olahraga, ini adalah satu agama, sabda seorang Diego Maradona. Meski enggak tertulis di data KTP, tapi mayoritas warga Bandung sudah bisa dipastikan beragama Persib. Menonton Persib, baik berjamaah ke stadion atau di tempat nobar, atau sendiri-sendiri di rumah masing-masing, adalah ibadah fardlu bagi bobotoh. Maka dalam kegiatan rutin Kelas Literasi Komunitas Aleut! yang rutin diadakan hari Sabtu itu mengundang kawan-kawan pesohor dari @mengbal,@stdsiliwangi, @panditfootball, kang @riphanpradipta, dan kang @dumbq_ berbagi pengalaman, ide, dan informasi seputar sepakbola Bandung dan pengelolaan situs daring yang mereka jalankan.

“Saya lahir di Kediri, dan pernah tinggal di Malang, lalu sekarang tinggal di Bandung. Jadi saya sudah juara tiga kali,” ujar seorang penulis sepakbola yang hadir sore itu, yang kemudian disambut tawa oleh kawan-kawan lainnya. “Dari pengalaman saya itu, budaya sepakbola Bandung masih yang terdepan. Di sini sangat terbuka, kritik adalah hal yang bisa terjadi setiap hari. Di Bandung warga berderet di pinggir jalan menyambut bobotoh, sesuatu yang bahkan di Malang pun tidak terjadi.” Baca lebih lanjut

Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus

Ditulis oleh Nia Janiar dan dipublikasikan di Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti

 

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap “aib” karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Baca lebih lanjut

Sudut Literasi di Kedai Preanger

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

kedai preanger good book and coffee

Sungguh kenikmatan surgawi di dunia. Tak seperti wanita, buku adalah teman duduk terbaik, mustahil mengkhianatimu. Dan makin sempurna ketika hadir secangkir kopi; Espresso, Cappuccino, Macchiato, Mochachino, Americano, Caffe Latte, atau apapun variannya silahkan pilih sesuai selera. Bacaan manis menarik hati dibalut kehangatan kopi, ah nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Membaca telah terbukti sebagai aktivitas yang menakjubkan, salah satunya secara ilmiah didaulat sebagai obat paling mujarab mereduksi kadar stress. Dan makin ampuh ketika ditambah seduhan kopi atau teh. Oh ya, alunan musik pun termasuk obat pereda beban hidup. Nah jika kamu ada di semesta bernama Bandung, maka coba mampir ke Kedai Preanger. Ada koleksi sekitar 2000 buku, ada beragam spesies teh dan kopi, juga ada lagu-lagu yang berkumandang. Baca lebih lanjut