#KelasResensi: Pekan Ke-3

Oleh: Pustaka Preanger (@PustakaPreanger)

  1. Burung-burung Manyar (YB Mangunwijaya)

Ini adalah kisah tentang sejarah yang tidak tampil dengan narasi hitam putih. Sejarah orang-orang kecil, yang kerap hadir hanya “di pinggiran” catatan resmi, justru membuat sudut pandang kita semakin kaya. Manusia yang hadir di tengah pusaran sejarah, ternyata tak sesederhana tampaknya. Mereka terlibat dalam kegagapan keberpihakan yang kompleks. Dengan demikian, kisah ini memerikan satu hal, bahwa dalam lingkup yang lebih luas, sejarah tak lagi relevan untuk dikutubkan menjadi dua bagian; antara lawan dan kawan, namun lebih layak untuk dihamparkan sebagai riwayat manusia yang bergelut di pusarannya, lengkap dengan keyakinan dan pilihan-pilihan hidup.

  1. Animal Farm (George Orwell)

Sebuah olok-olok terhadap pemerintahan Komunis Uni Soviet. Novel alegori ini—lengkap dengan penokohan para binatang, menghujam tepat di jantung. Sistem pemerintahan yang dianut selama lebih dari 70 tahun, akhirnya runtuh. Komunisme yang didadarkan Orwell di buku ini, tak lebih dari sebuah sistem yang hanya berhasil melahirkan para pemimpin yang diktator. Revolusi kaum Bolshevik yang mulanya menjanjikan perbaikan hidup, pada akhirnya hanya melahirkan kesengsaraan baru bagi rakyat. Novel ini berhasil melambungkan nama Orwell di kancah sastra dunia.

  1. Titik Nol (Agustinus Wibowo)

Setelah berkelana di buku “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, di buku ini pun Agustinus Wibowo masih mengarungi kerasnya kehidupan di berbagai belahan dunia. Ia menembus kerasnya Kashmir, Himalaya yang anggun dan misterius, serta gejolak sosial yang mengerikan. Namun buku ini juga menjadi semacam titik balik dari petualangannya yang telah ditempuh selama bertahun-tahun. Ia yang sudah menghabiskan waktunya dalam perjalanan sejauh ribuan kilometer, ternyata justru menemukan makna perjalanan dari seseorang yang tak pernah ke mana-mana sepanjang hayatnya. Si musafir bersujud di samping ibunya yang tengah terbaring sakit.

  1. Siau Ling (Yapi Tambayong)

Yapi Tambayong alias Dova Zila alias Alif Dahya Munsyi alias Juliana C. Panda alias Jubal Anak Perang Imanuel alias Remy Sylado, di buku ini seperti hendak memotret akulturasi antar bangsa, terutama antara Jawa dengan Tionghoa. Lewat kisah yang mengangkat tema cinta, Yapi juga menjelentrehkan bagaimana kekuasaan yang disalahgunakan kerap semena-mena menggasak kehidupan rakyat, termasuk kehidupan cinta. Sesuai sub-judulnya yang berbunyi “Drama Musik Kemempelaian Budaya”, buku ini pun bercerita bagaimana alat musik bisa lahir dari akulturasi budaya.

  1. Oeroeg (Hella S. Hasse)

Ditulis oleh sastrawan Belanda, buku ini berkisah tentang persahabatan dua anak manusia beda ras dan beda bangsa, yang kemudian terpisahkan oleh gejolak politik. Oeroeg, anak pribumi, bersahabat dengan tokoh “aku” yang keturunan Belanda. Mereka—di masa kolonial, sejak kecil sampai remaja bersahabat dengan baik. Sampai kemudian arah politik mulai berubah, dan hubungan keduanya perlahan merenggang. Ditulis oleh seorang yang lahir dan tumbuh di Indonesia, kisah ini begitu hidup menggambarkan lanskap alam dan kehidupan sehari-hari. Karya Hella ini pada akhirnya mencuatkan beberapa pertanyaan, tentang apa sesungguhnya sahabat sejati? Apakah ia layak untuk diceraikan oleh perbedaan-perbedaan yang telah melekat dalam diri manusia?

  1. Jurnalisme Sastrawi (Linda Chrystanty dkk)

Buku ini oleh beberapa pembaca diberi bintang lima dari skala lima, sebagai nilai tertinggi dari kepuasan pembaca. Isinya menuliskan hal yang—di Indonesia relatif baru, yaitu jurnalisme sastrawi. Perpaduan antara jurnalisme yang ketat dan sastra yang melambungkan keindahan, berhasil membuat tulisan-tulisan di buku ini begitu memikat. Dengan mewawancarai puluhan bahkan bisa sampai ratusan narasumber–yang mayoritas adalah rakyat kecil, laporan-laporan yang dihasilkannya sangat kaya dan menarik. Linda Chrystanty, Andreas Harsono, dan yang lainnya, berhasil menghadirkan satu gaya penulisan berita tanpa dihantui oleh resiko yang cepat basi, malah sebaliknya—gaya ini, karena memakai pendekatan sastra, selalu menarik untuk dibaca ulang.

  1. Guerrilla Warfare (Che Guevara)

Pria kelahiran Argentina yang meninggal di Bolivia ini menghabiskan sebagian hidupnya di ladang-ladang pertempuran Amerika Latin. Bersama Fidel Castro ia berhasil menggulingkan pemerintahan diktator Batista. Buku ini disebut-sebut sebagai rujukan perang gerilya di seluruh dunia dengan berbagai macam penerapannya. Perjalanan hidup Che Guevara berpindah-pindah dari satu negara ke negara berikutnya. Ia membantu mereka yang ditindas oleh para pemimpin yang diktator. Prinsip gerilya yang ia terapkan, oleh beberapa kalangan diprediksi karena ia banyak membaca buku Mao, meskipun ia sendiri membantahnya. Inilah salah satu warisan berharga tentang prinsip perang gerilya, dari seorang pejuang yang sosoknya sangat ikonik. [ ]

Riungan Buku Aleut

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

riungan buku aleut

“Aku agak introvert. Aku tidak terlalu nyaman dengan klub buku, kecuali klub bukunya kecil dan orang-orangnya sudah kukenal baik,” ungkap sang penulis Lelaki Harimau saat ditanya soal pentingnya klub buku dalam pos Eka Kurniawan: Aku Lebih Ingin Membesarkan Diriku Sebagai Pembaca Daripada Penulis di Revi.us. Seperti inilah saya, meski hidup di orde kebebasan berpendapat, saya lebih senang jadi pendengar.

Namun beruntunglah kita bisa hidup tanpa takut diawasi teleskrin dan diciduk polisi pikiran seperti pada novel ‘1984’. George Orwell dalam karyanya ini menggambarkan soal negara yang adem ayem, bukan karena penduduknya memang adem ayem, namun karena mulut mereka dibungkam dan jika mereka sedikit saja membuka mulut, mereka akan diuapkan, dilenyapkan. Diskusi diharamkan, buku dimusnahkan. Kita tahu, buku sebagai produk intelektual butuh pertukaran gagasan – bukan hanya antara penulis dan pembaca, tapi juga antara pembaca dan pembaca. Sebab lewat budaya literasi dan diskusi, bisa muncul yang namanya revolusi. Maka patut bersyukur Komunitas Aleut eksis di masa kondusif, ketika bisa bebas berpikir dan bebas bicara tanpa ada yang harus ‘diuapkan’ Bung Besar dan Partainya. Nggak perlu sembunyi-sembunyi melakukan sebuah riungan.

Di antara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyempatkan diri untuk membaca, dan mengembangkan otak dengan hikmah-hikmah. Jika teman duduk terbaik adalah buku, maka teman nongkrong terbaik adalah mereka yang bisa diajak berbagi hikmah. Warga Bandung sendiri adalah manusia yang hobi ‘ngariung’, senang kumpul bareng-bareng. Dari sekedar untuk berbagi omong kosong dan keluh kesah sampai untuk beradu pemikiran dan ide.

karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
karena setiap aksara membuka jendela dunia

Setiap Sabtu di Kedai Preanger yang berlokasi di Jl. Solontongan 20D, Buahbatu,  rutin diadakan acara resensi buku bersama kawan-kawan dari . Buku yang dibaca kemudian diresensi secara lisan cukup beragam; sejarah, sastra, filsafat, budaya, dan lainnya. Baik non-fiksi dan fiksi, dari karya klasik sampai kontemporer kita bahas sampai menjelang malam Minggu.

Kelas resensi buku secara lisan ini diharapkan menjadi pijakan untuk melatih keterampilan berbahasa; menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sebabnya keterampilan berbahasa ini erat kaitannya soal pola pikir seseorang. Nah, inilah hal paling penting, untuk merubah pola pikir lewat adanya pembudidayaan literasi dan diskusi. Pola pikir adalah kunci! Ini mengingatkan pada sabda Lao Tze, “Jika kau ingin mengubah takdirmu, ubahlah kebiasaanmu. Jika kau ingin mengubah kebiasaanmu, ubahlah tindakanmu. Jika kau ingin mengubah tindakanmu, ubahlah perkataanmu. Dan jika kau ingin ingin mengubah perkataanmu, ubahlah pola pikirmu.”

Jangan bermimpi bisa melakukan revolusi terhadap kedzaliman seorang Bung Besar, jika untuk merevolusi diri sendiri pun nggak becus. Ini semata-mata kecaman buat diri sendiri sih. Revolusi diri! Ya, sebuah revolusi yang akan tercipta lewat jalan literasi, teman diskusi, dan mungkin sempurnakan dengan secangkir kopi. Ah ya, sesungguhnya nggak ada yang bisa mengalahkan kepuasan masturbasi jenis ini. Selamat berevolusi!

Lego ergo scio!

+

Post-scriptum:

“Riungan Buku Aleut” sendiri adalah istilah yang dilemparkan kamerad Irfan TP (@irfanteguh) di pos Kelas Resensi Buku Komunitas Aleut.

Buku yang saya baca dan resensi

  1. Baruang Kanu Ngarora – D. K. Ardiwinata (4 Juli 2015)
  2. Sabda Zarathustra – Friedrich Wilhelm Nietzsche (25 Juli 2015)
  3. The Professor and The Madman – Simon Winchester (8 Agustus 2015)
  4. Haji Murad – Leo Tolstoy

 

Tautan asli: http://yeaharip.com/2015/08/10/riungan-buku-aleut/