Catatan Perjalanan: Museum Biofarma

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berikan satu kata yang tepat dan jujur tentang museum? Tentu saja, kata tersebut adalah membosankan. Kata membosankan menjadi pas saat kita memasuki ruangan museum dengan penerangan yang kurang. Lalu, kita sebagai pengunjung hanya bisa melihat barang – barang jadul dan foto-foto hitam putih saja, tanpa papan informasi. Sungguh membosankan bukan?

Tapi saya rasa kata membosankan tidak pas saat mengunjungi Museum Biofarma yang berlokasi di Jl. Pasteur, Bandung. “Loh, kok penulis tidak konsisten dengan pernyataannya?” tanya pembaca. Tenang, saya memiliki beberapa alasan untuk memberi pernyataan itu.

Memang pada awalnya, bayangan pertama saya tentang Museum Biofarma adalah suasana kuno dengan bayangan satu ruangan berdebu dan berisi foto-foto hitam putih yang tidak terawat. Seluruh bayangan itu berada di pikiran hingga saya berada di depan gerbang museum. Lalu, saya masuk museum dengan perasaan yang datar karena bayangan itu. Baca lebih lanjut

Bandung as a Gimmick City

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@SadnessSystem)

Gimmick : A trick or device intended to attract attention, publicity, or trade (oxforddictionaries.com)

Beberapa waktu yang lalu, Walikota Bandung sempat dikritik karena dianggap hanya menjalankan gimmick untuk menunjukan kesuksesannya. Gimmick yang dimaksud adalah kebijakan-kebijakan yang bersifat penampakan luar, bukan bersifat esensial. Hal ini menarik untuk dicermati, karena di era demokrasi ini pemimpin merupakan cerminan dari rakyatnya. Apabila walikota Bandung adalah jago gimmick, begitu pula dengan rakyat Bandung itu sendiri.

Bandung, berbeda dengan daerah lain seperti Yogyakarta atau Bali, tidak memiliki akar budaya yang kuat karena relatif masih berusia sangat muda. Kota Bandung baru berdiri sekitar 200 tahun yang lalu (tahun 1810). Itupun kurang tepat karena resminya Bandung masih berstatus kabupaten hingga diresmikan menjadi gemeente (kotamadya) pada tahun 1906. Sejak berstatus gemeente itulah Bandung mulai membangun identitasnya sebagai “Kota Eropa”. Tujuannya adalah untuk menarik para pensiunan pegawai Eropa dari berbagai kota di Nusantara untuk menghabiskan masa tuanya di Bandung alih-alih pulang ke kampung halamannya di Eropa. Agar para pensiunan itu merasa “tinggal di rumah sendiri”, Bandung dipermak sedemikian rupa agar lingkungannya menyerupai lingkungan Eropa. Usaha ini cukup berhasil karena nantinya selain mendapat julukan “Parijs van Java”, Bandung juga mendapat julukan “de Stad der Gepensioneerden” (Kota Pensiunan). Baca lebih lanjut