Menjatuhkan Cinta di Saung Udjo

Oleh: Hevi Abu Fauzan (@hevifauzan)

saung-angklung-udjo-main-angklung-bersama

“Sorot mata penari cilik itu membuat cinta penulis harus terjatuh kesekian kali”

Untuk kedua kalinya, penulis berkunjung ke Saung Udjo. Pertama, penulis bersama teman sekantor menonton pertunjukan stand up comedy yang diselenggarakan di sana, beberapa tahun yang lalu. Dan ini merupakan kunjungan penulis yang kedua, bersama Komunitas Aleut, dalam rangka Angklung Pride 5. Sebagai orang Bandung asli, penulis merasa berdosa karena baru kali ini bisa menjejakkan kaki untuk menonton pertunjukan seni di Saung Udjo.

Pada awalnya, penulis merasa biasa saja dengan pagelaran seni yang dibuka dengan pagelaran wayang golek yang menonjolkan si Cepot itu. Suasana hati berganti kala pertunjukan tari dimulai. Beberapa anak perempuan kecil dengan gemulai menarikan sebuah tari, dan secara tidak sengaja penulis mendapatkan sorot mata cantik sang penari.

Penulis adalah penggemar seni, dan itu sudah cukup bagi penulis yang merasa tidak berbakat dalam bidang tersebut. Tapi, nilai-nilai seni penulis di sekolah tidak bisa membohongi hal tersebut. Di SD misalnya, penulis pernah menjadi juara menggambar. Di SMP dan SMA, penulis mampu membaca not balok dengan belajar secara otodidak dan mendapatkan nilai yang memuaskan atas kemampuan itu. Kemampuan berkesenian itu berlanjut saat penulis masuk kuliah dengan jurusan sastra. Namun penulis, akhirnya penulis hanya menjadi penikmat seni saja, tidak lebih. Baca lebih lanjut

Memaknai Hari Angklung Sedunia dengan Angklung Pride

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Indonesia sempat digemparkan oleh klaim Malaysia atas beberapa budaya Indonesia pada tahun 2007, salah satunya adalah angklung. Klaim ini sontak menimbulkan amarah sekaligus kecemasan dari warga Indonesia. Marah karena budaya yang sudah mendarah daging di Indonesia ini mendadak diklaim negara lain, namun juga cemas karena takut budaya ini akan diakui oleh dunia sebagai budaya asli Malaysia. Kecemasan ini beralasan, karena lima tahun sebelumnya Indonesia sudah kehilangan Pulau Sipdan dan Ligitan melalui persidangan internasional ke tangan Malaysia.

Enggan kecolongan kembali, Pemerintah Indonesia langsung melakukan respon serius. Angklung langsung didafrtarkan sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO pada bulan Agustus 2009, setelah setahun sebelumnya Indonesia juga mendaftarkan batik. Batik yang didaftarkan terlebih dahulu akhirnya diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda pada bulan Oktober 2009.

Setelah proses selama setahun lebih, akhirnya UNESCO menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Tak Benda asli Indonesia pada 16 November 2010 di Nairobi (Kenya). Hari penetapan ini kemudian diperingati sebagai hari Angklung Sedunia.

Kecemasan akan klaim mungkin berakhir, namun UNESCO memberikan satu syarat: angklung harus tetap terpelihara, terlindungi, terpromosikan, dan tergenerasikan dalam bentuk nyata. Jika tidak demikian, penetapan UNESCO atas angklung bisa dicabut kapan saja.

*** Baca lebih lanjut

“Engklak-Engklakan” di Saung Angklung Udjo

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Tampak keraguan, namun timbul senyum tipis darinya, kemudian dengan mantap meraih tangan saya. Memilih memang bukan pekerjaan yang mudah, dan sayalah yang dia pilih. Atas kehormatan ini, saya pun tanpa pikir panjang menyambut tangan gadis kecil itu. Berkebalikan dengan kotak Pandora, seakan ada sebuah kotak berisi segala macam kebaikan yang ada di dunia tak sengaja terbuka ketika tangan kami berdua bertemu. Beragam fragmen kenangan indah ketika masa kecil saya tiba-tiba membuncah keluar.

Seakan-akan suasana Saung Angklung Udjo yang didominasi bambu ini ikut bersekutu, karena saya serasa diajak kembali ke masa kecil saat bermain di ‘kebon awi’; kebun bambu. Ya, sebelum ada Play Store, tanah lapang di kampung yang seringnya dikelilingi pohon bambu menjadi tempat paling representatif untuk ‘mengunduh’ beragam permainan asyik. Dengan konstur tanah yang relatif gembur, ini membuat kita makin berani untuk bermain, berlari dan berjingkrak sepuasnya, karena kalau jatuh pun tak akan terasa sakit. Tak seperti jatuh cinta yang selalu datang sepaket dengan sakit hati.

#PojokKAA2015: Kabar Dari Stadion Siliwangi

Oleh: Deris Reinaldi

Ada pemandangan yang berbeda di Stadion Siliwangi pada hari Kamis, 23 April 2015. Suasana di Stadion Siliwangi sangat ramai sekali, banyak orang berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Banyak orang yang berdatangan baik menggunakan bis, angkot dan berjalan kaki, seakan-akan jalanan membludak dengan kadatangan orang-orang. Di Jl. Lombok yang mana sudah ditutup dari dini hari sudah banyak orang yang sedang mengantri. Antrian begitu panjang dan padat dengan penjagaan yang ketat pula oleh pihak keamanan Stadion Siliwangi. Jl. Aceh dan Jl. Belitung mulai terkena getahnya, yakni menjadi macet karena banyak kendaraan dan orang. Jadi ada apakah ini?

deris1

Penyebab dari semua yang telah diceritakan diatas ialah pemecahan rekor MURI 20.000 angklung. Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Konperensi Asia-Afrika 2015 yang diselenggarakan oleh Saung Angklung Udjo. Pihak yang memainkan angklung ini terdiri dari pelajar SD, SMP, SMA dan sederajat, perguruan tinggi, karyawan, dan masih banyak lagi. Mereka sangat antusias untuk memainkan angklung, mungkin penyebabnya adalah bisa memecahkan rekor MURI dan angklung yang dimainkannya bisa dibawa pulang. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Satu Angklung, Satu Indonesia, Satu Harmoni

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Pagi itu, ada hal yang tidak lazim di sekitaran Stadion Siliwangi. Jalan sekitaran Stadion Siliwangi ditutup oleh polisi dan tentara. Selain itu, banyak orang yang mengantre masuk ke dalam Stadion Siliwangi. Setelah bertanya ke beberapa orang, saya baru tahu bahwa akan ada pemecahan rekor angklung di Stadion Siliwangi.

Riuh anak sekolah di Stadion Siliwangi

Rombongan Siswa SMAN 1

Rombongan Siswa SMAN 1

Stadion Siliwangi diisi oleh lautan anak sekolah dengan seragam yang berbeda – beda. Ada yang memakai baju batik khas sekolah. Ada yang memakai baju seragam. Ada juga yang memakai baju bebas. Semuanya berkumpul di depan Stadion Siliwangi. Baca lebih lanjut