#KelasResensi: Pekan ke-2

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Memasuki pekan ke-2, peserta bertambah satu orang. Seperti pada pertemuan sebelumnya, kali pun buku-buku yang dibaca masih didominasi oleh teks-teks sastra; tiga kumpulan cerita pendek, dan dua novel. Sisanya tentang sejarah Kota Bandung dan kumpulan esai tentang budaya sehari-hari di Jepang.

Beberapa peserta, selain meresensinya secara lisan, juga mulai ada yang menuangkannya dalam bentuk tulisan. Belum banyak memang, tapi setidaknya menegaskan satu hal, bahwa membaca dan menulis adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Menulis kerap, atau bahkan selalu lahir dari proses membaca terlebih dahulu.

Berikut daftar buku yang diresensi pada pekan ke-2 itu :

  1. Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta (Puthut EA)

Ini adalah buku kumpulan cerita pendek. Diterbitkan–salah satunya, dalam rangka memperingati 15 tahun kepengarangan penulisnya. Dari 15 cerita yang disajikan, pasangan hidup—setidaknya menurut Puthut, adalah pangkal dan muara luka. Dalam jenak hidup manusia, terutama yang sadar betul akan identitasnya sebagai makhluk sosial, mempunyai pasangan tentu bukan perkara aneh. Lumrah bahkan. Namun serupa barang pecah belah, hubungan antar manusia yang kerap didominasi oleh perasaan ini, pada perjalanannya acapkali rumit.

  1. Hidup Hanya Sekali (Remi Sylado)

Kisah dengan latar kota Bandung ini menceritakan tentang dua insan yang saling jatuh cinta, namun ternyata—setelah perjalanan panjang cerita, mereka adalah bersaudara. Mereka, dua orang yang saling jatuh cinta itu adalah Satria Sofiandi dan Madalena. Sepanjang cerita, penulis banyak membangun kebetulan-kebetulan antar peristiwa. Sulur ini terus mengalir sampai di penghujung. Selain itu, barangkali salah satu kebiasaan Remi, ia mengomentari banyak hal; mulai dari kebiasaan menganggukkan kepala, sampai kecenderungan anak muda yang menyukai filsafat eksistensialisme.

  1. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Haryoto Kunto)

Dalam salah satu karya “Kuncen Bandung” ini termuat ihwal; latar belakang kelahiran kota, cerita-cerita nostalgia tempo dulu, pernik kejayaan kota, pudarnya wajah dan citra Bandung tempo dulu seiring berjalannya waktu, kisah dan nasib bangunan-bangunan bersejarah, serta Bandung dalam kerangka harapan dan kenyataan yang mesti dihadapi oleh warga kota. Cara penulis yang lancar dalam bertutur meski tak selalu kronologis, juga dilengkapi dengan kutipan-kutipan lagu dan puisi, serta ilustrasi yang menarik, membuat buku ini seolah naskah dongeng tentang perjalanan panjang sebuah kota.

 

  1. Semua Untuk Hindia (Iksana Banu)

Penulis kisah fiksi yang latar ceritanya seputar masa kolonial dan penjajahan, tak banyak yang bertutur dari sudut pandang “orang lain”. Di Indonesia, ketika sejarah ditulis dengan gelegak semangat nasionalisme, akhirnya hanya memposisikan dua kubu yang berlawanan secara abadi, yaitu kita (pribumi, si terjajah) dan mereka (orang asing, si penjajah, orang lain). Buku ini adalah sedikit dari pengecualian. Di tangan Iksana Banu, dengan menggunakan sudut pandang orang Belanda dan Indo, sejarah tak melulu sehimpun narasi hitam-putih, namun ada juga wilayah abu-abu yang kadang ditumbuhi oleh benih kemesraan kemanusiaan.

  1. Orang dan Bambu Jepang (Ajip Rosidi)

Ini adalah pengalaman dan pandangan Ajip Rosidi selama bertahun-tahun merantau di Jepang. Sebagai seorang gaijin atau orang asing, Ajip melihat dengan dekat kebudayaan sehari-hari masyarakat di sana. Buku berisi 28 esai ini, di satu sisi, bisa dijadikan semacam panduan bagi warga asing, khususnya Indonesia, yang hendak tinggal di Jepang. Namun di sisi lain, karena ada—sedikit banyak, laku membandingkan-bandingkan dengan budaya di Indonesia, maka buku ini jadi terkesan terlampau banyak menyindir.

  1. Cinta Tak Pernah Tua (Benny Arnas)

Antologi cerita pendek ini, dari satu kisah ke kisah berikutnya, tidak seperti antologi cerpen lain yang relatif mandiri antar cerita, di buku ini justru memiliki keterkaitan. 12 cerita yang dihimpun, semuanya menceritakan Tanjung Samin dan keluarganya. Poligami, cemburu, kehilangan anak, hingga kesetiaan; semuanya muncul dalam rangkaian cerita pendek ini. Diksi dan kiasan yang cenderung berlarat-larat, membuat antologi ini—bagi sebagian pembaca, agak sulit dipahami dan dinikmati.

  1. A Farewell to Arms (Ernest Hemingway)

Entah disengaja atau tidak, novel yang menurut beberapa pembacanya terasa membosankan, juga ternyata menceritakan prajurit yang sudah bosan dengan perang. Ia lalu melarikan diri dari pertempuran bersama kekasihnya. Semua peristiwa dari mula pertempuran, terluka di medan laga, melarikan diri dalam situasi peperangan, dan sampai kekasihnya meninggal—semua adegan yang mestinya subur dengan aroma ketegangan, luapan emosi, dan letupan kecemasan, justru dihamparkan dengan datar begitu saja. Seorang kawan pernah menulis, “gaya Hemingway terbaik di eranya, tapi pembaca dia di generasi setelahnya punya pandangan lain.” Sekali ini, ungkapan itu barangkali benar. [ ]

Iklan

Palang Merah, Romansa Zaman Perang, dan Perjuangan di Zaman Merdeka

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Aryvc5bPZ8iDx38H5qzqN98Xtn9QwN4MDry3kXR5vCad

Setelah dua puluh empat tahun tinggal di Bandung, baru hari Minggu kemarin (16 Agustus 2015) saya masuk ke Taman Makam Pahlawan Cikutra. Kesempatan ini saya dapatkan bersama-sama dengan Komunitas Aleut saat Ngaleut Taman Makam Pahlawan. Kami berkunjung dalam rangka nyekar menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia dan juga mencari tahu siapa saja tokoh yang dimakamkan di sini. Berdasarkan hasil membaca artikel di dunia maya, ada banyak tokoh nasional yang dimakamkan di sini seperti Abdul Muis dan Eugene F.E. Douwes Dekker.

Dalam penelusurannya, kami memang menemukan kedua nama tersebut. Dua orang kawan bahkan menyempatkan diri untuk menaruh karangan bunga di makam E.F.E. Douwes Dekker, yang belakangan dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi. Nama Setiabudi diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung.

AriISz8kRpkZt-maNhhb-9jvN3KaLp9i65B1eEVBr4c6

Di blok yang berada tak jauh dari makam Setiabudi, saya menemukan satu makam yang entah mengapa bisa menggetarkarkan hati saya cukup kuat. Di permukaan nisan tertulis “Ny. Emi, P.M.I., Gugur 11-9-1945”.

IMG_5285

Saat melihat kata “P.M.I” dan “gugur”, saya teringat kembaliakan cerita guru SD saya tentang Palang Merah dan perang. Saat sedang memberikan pertolongan, Palang Merah akan mengibarkan benderanya dan selama bendera berkibar, titik itu tidak boleh diserang. Hal ini tercantum di dalam Hukum Perikemanusiaan Internasional. Mungkin saat bertugas, Ny. Emi terkena peluru nyasar yang merenggut nyawanya. Semoga Tuhan YME memuliakan beliau di sisi-Nya.

***

Peperangan, seburuk apapun keadaanya, selalu meninggalkan sebuah cerita menarik antara dua insan. Di antara desingan suara peluru dan ledakan bom, tumbuh roman antara pejuang dan perawat. Mungkin roman ini awalnya hanya sekedar cinta lokasi. Para pejuang yang berada di pos pertahanan atau rumah sakit selalu disambut para perawat yang siap merawat atau membantu logistik para pejuang. Setelah bisa mengenal satu sama lain karena frekuensi bertemu yang tinggi, muncullah benih cinta itu.

Dalam buku A Farewell To Arms karya Ernest Hemingway. Frederic Henry, seorang tentara Amerika yang menjadi tokoh utama di novel ini, jatuh cinta kepada seorang perawat bernama Catherine Barkley. Romansa ini berawal dari rumah sakit, saat Henry terluka terkena pecahan mortir. Selama masa perawatan, Henry dirawat oleh Barkley hingga akhirnya Henry sembuh. Luka sembuh, cinta tumbuh. Keduanya jatuh cinta hingga dikaruniai keturunan.

Romansa Henry-Barkley sendiri diambil dari pengalaman Hemingway sendiri saat ia jatuh cinta kepada Agnes von Kurowsky, seorang perawat yang ia temui di Italia saat Perang Dunia I. Bahkan tulang rusuk Christine Barkley diambil dari sosok von Kurowsky. Sayangnya, saat Hemingway ingin meminang von Kurowsky, ia harus segera kembali ke Amerika. Keadaan tak berpihak pada Hemmingway.

Hemingway bukanlah satu-satunya penulis yang mengabadikan memori kisah cintanya dalam sebiah buku. Di Indonesia, kisah cinta perawat-pejuang juga diabadikan Jus Rusady dalam memoarnya yang berjudul Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Dalam memoarnya, Jus Rusady beberapa kali menyinggung tentang para pejuang yang seringkali menggoda para perawat di pos pertahanan. Tak sedikit para pejuang yang akhirnya berpacaran dengan perawat, bahkan hingga naik ke pelaminan. Jus Rusady sendiri adalah contohnya. Ia menikahi Marry Z. Abdullah, seorang perawat yang ia temui di saat sedang mengungsi dari Bandung. Salah satu buah hati Jus Rusady dan Marry Abdullah yang paling familiar di mata kita adalah Paramitha Rusady, anak bungsu dari pernikahan mereka.

Teteh Mitha bersama ayahnya, Jus Rusady, dalam acara bedah buku Tiada Berita dari Bandung Timur pada bulan Maret 2015

Teteh Mitha bersama ayahnya, Jus Rusady, dalam acara bedah buku Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947 pada bulan Maret 2015 (dokumentasi pribadi)

***

Di era kemerdekaan ini, sebetulnya perjuangan para pahlawan masih bisa kita teruskan melalui Palang Merah Indonesia dengan cara yang cukup mudah: mendonorkan darah. Sering kita temui kabar di media sosial tentang kekurangan stok darah golongan tertentu. Kekurangan ini sebetulnya masih bisa diatasi dengan cara rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali.

Keinginan untuk mendonorkan darah seringkali terbentur dengan ketakutan para calon pendonor akan jarum, apalagi jarum yang digunakan untuk melakukan donor ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari jarum suntik biasa. Merasa ngeri? Tak perlu sebetulnya. Rasa takutakan jarum bisa diatasi dengan cukup mudah. Ingat saja baik-baik dalam hati bahwa dengan melawan rasa takut ini, kita bisa menolong nyawa lain.

Ah, siapa tahu juga dengan rajin donor darah kita bisa mengalami romansa yang diceritakan Hemingway dan Jus Rusady.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/08/28/palang-merah-romansa-zaman-perang-dan-perjuangan-di-zaman-merdeka/