Mengenal Wabah yang Pernah Terjadi di Hindia Belanda & Dunia

wabah pengulangan sejarah source designyoutrust.com

Wabah, pengulangan sejarah. Source designyoutrust.com

Indonesia dan dunia tengah menghadapi pandemi covid-19. Wabah yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya. Melihat ke belakang, umat manusia sudah melalui sejumlah wabah seperti Justinian Pleague, Flu Spanyol, Sampar.

Tentu menjadi pertanyaan, bagaimana satu generasi terdahulu menanggulangi wabah. Untuk menjawab hal tersebut, Komunitas Aleut bersama Indika Foundation menggelar Kelas Literasi bertajuk Berbagai Wabah yang pernah terjadi di Hindia Belanda dan Dunia, Sabtu 25 Juli 2020. Kegiatan yang diadakan secara daring ini dihadiri 51 peserta dari berbagai instansi dan daerah di Indonesia.

“Biasanya, wabah berasal dari arah timur. Studi terbaru mengatakan bahwa Afrika Utara bisa juga menjadi sumber epidemi,” tulis B. Joseph Hinnebusch Microbiologist dari Laboratorium Rocky Mountain di Hamilton, Montana dikutip dari nationalgeographic.co

Pada masa Mesir Kuno (541-549 M) pernah terjadi wabah Justinian Pleague, kutu pembawa wabah diduga berasal dari Lembah Nil sehingga dikenal juga sebagai Parasit Tikus Nil. Habitat tikus ini terganggu ketika sungai mengalami pasang, sehingga pindah ke dekat manusia. Tikus-tikus itu kemudian bersarang di tempat persediaan makanan manusia.

Tikus pembawa wabah itu nantinya terbawa ke dataran Eropa melalui Constantinople (Istanbul), Naples. Hingga nantinya menyebabkan wabah Black Death. Disebut Black Death karena menimbulkan bekas hitam di kulit dan luka yang diikuti oleh demam dan rasa sakit.

Hevi Fauzan selaku peminat sejarah dan pemateri Kelas Literasi mengatakan bahwa saat itu sebagian orang percaya bahwa penyakit adalah hukuman Tuhan, sehingga tidak sedikit yang sengaja menyakiti diri sendiri agar diampuni dan disembuhkan. Selain itu ilmu pengetahuan yang belum maju membuat mereka percaya pada pengobatan nonmedis seperti bubuk “diberkati” oleh orang-orang suci, jimat, dan cincin ajaib.

Satu wabah yang sangat mengerikan adalah flu spanyol (1918-1920). Dalam kurun satu tahun menewaskan 25-50 juta penduduk Eropa. Angka ini sangat tinggi dibanding korban perang dunia I yang mencapai 8,5 juta orang dan perang dunia II yang mencapai 19, 4 juta orang. Meski namanya flu Spanyol, nyatanya berasal dari Amerika yang terbawa ke Eropa. Ada juga yang menyebut flu ini sebagai flu perancis.

Dalam kelas yang berlangsung selama 90 menit ini, ada yang menarik perhatian para peserta, yakni gambar topeng burung. Hevi menjelaskan topeng burung itu digunakan masyarakat sebagai masker, ujung paruhnya diberi wewangian, dan biasanya membawa tongkat sebagai alat untuk menjaga jarak.

source National Geographic

source National Geographic

Wabah di Hindia Belanda

Wabah terjadi di mana-mana di dunia ini, begitu juga di Hindia Belanda yang sedikitnya pernah dihantam tiga wabah besar, yakni Kolera (1821-1919), Sampar (1911-1934) dan Flu (1919). Pembuatan kanal-kanal di Batavia tidak diikuti dengan perilaku bersih masyarakatnya, sehingga alirannya tertahan oleh sampah hingga menyebabkan penyakit. Tak heran bila orang Eropa menyebut Batavia sebagai kota tidak sehat.

Pada tahun 1909 pemerintah Hindia Belanda membentuk Jawatan Inteljen Kolera. Tugas dari jawatan ini blusukan ke kampung-kampung pedalaman di Batavia untuk mencari kasus-kasus kolera. Selain itu mereka pun mengedukasi masyarakat untuk hidup bersih.

Kolera belum mereda, Hindia Belanda, khususnya Malang, diserang wabah lain, Sampar. Kabarnya wabah ini akibat tikus pembawa wabah yang terbawa ketika impor beras dari Myanmar. Sama halnya dengan belahan dunia lainnya, masyarakat Malang percaya bahwa wabah sampar atau pes disebabkan oleh roh jahat, sehingga mereka melukis sosok Kala di dinding rumah sebagai pengusir roh jahat. Dari Malang sampar menyebar ke Jawa Barat, bahkan sempat menurunkan pariwisata di Garut.

Kala source nationalgeographic

Kala source nationalgeographic

Menurut Hevi akibat sampar memunculkan tiga nama dokter yang berjasa terkait wabah ini, yakni dokter Tjipto Mangoenkoesoemo, dr. Slamet Atmodipoero dan dr. Otten. Salah satu upaya untuk menaggulangi sampar, pemerintah Belanda melakukan program kampong verbetering, program perbaikan kampung agar menjadi kawasan yang bersih dan sehat. Dari bangunan tradisional menjadi lebih modern, seperti penggunaan tembok. Di Jawa Barat setidaknya ada sekitar 100 ribu rumah yang direnovasi, sementara di Jawa setidaknya ada satu juta rumah.

Namun program ini meninggalkan hal negatif bagi masyarakat terutama soal budaya. Dalam tatanan bermasyarakat munculnya iri hati, mereka berlomba-lomba untuk memamerkan rumahnya yang lebih modern serta mulai hilangnya sikap gotong royong.

Menutup kelas literasi Hevi Fauzan menyatakan pemerintah dan masyarakat harus kompak, tanggap, dan waspada dalam menghadapi wabah. “Sejarah menunjukan bahwa solusi paling tepat dalam menghadapi wabah adalah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan,” ucap Hevi.

“Ini hanya bisa dicapai bila manusianya berperilaku tertib dan disiplin dalam menjaga kebersihan dan kesehatan,” tukasnya sambil menutup sesi pemaparan.

Ditulis Oleh Rulfhi Alimudin – Komunitasaleut.com

Jejak Langkah Sanghyang Heleut

IMG-20180716-WA0028

Sanghyang Heleut / Foto Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Asap knalpot menyembur ke muka. Hitam pekat, bau, perih di mata. Sialnya waktu itu saya memakai helm tanpa kaca. Jadi bisa dibayangkan asap tersebut langsung menyerempet pori-pori kulit di muka. Ini lebih buruk dari bau kentut. Alasan inilah yang membuat saya tidak menyukai jalan Citatah, Padalarang. Baca lebih lanjut

Jejak Sukarno di Bandung

Jejak Sukarno di Bandung 6

Foto keluarga di Gedung Indonesia Menggugat | © Fan_fin

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Kata-katanya selalu dinanti. Suaranya selalu dirindukan. Sosoknya sangat dicintai. Semua seakan menahan nafas dan tak bergerak sedikit pun ketika ia berorasi. Bahkan seekor cicak pun enggan untuk bergeming. Orasinya mampu membakar semangat, bahkan janggut para pejabat Hindia Belanda terbakar dibuatnya. Tak ada yang mengalahkan pesonanya ketika naik podium. Ia Sukarno, Singa Podium. Baca lebih lanjut

Sepanjang Jalan Dewa(ta)

Sepanjang jalan dewata 1

Hutan Gunung Tilu | © Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Pedati kerbau berjalan di jalanan tengah hutan Gunung Tilu. Roda besi pedati menggilas tajamnya bebatuan. Benturan roda besi dengan bebatuan menghasikan dentuman suara. Suara yang memecah kesunyian hutan Gunung Tilu. Pedati itu membawa teh hijau hasil dari perkebunan teh Dewata menuju Rancabolang. 17 Km harus ditempuh menembus lebatnya hutan Gunung Tilu melalui jalan berbatu. Hamparan batu tersebut sengaja dihampar sebagai pelapis perkuatan jalan. Jalan tersebut dikenal sebagai jalan makadam.

Mendengar jalan makadam sontak melambungkan ingatan saya kepada mata pelajaran konstruksi jalan. Salah satu mata pelajaran yang saya ikuti ketika menempuh Baca lebih lanjut

Bonus Biotour Volume#2 : Museum Gedung Sate

Bonus Biotour Volume#2 : Tiket Museum Gedung Sate

Pintu Masuk Museum Gedung Sate | Photo Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Tentunya kamu sangat senang karena mendapatkan tiket Museum Gedung Sate yang diberikan oleh Indischemooi dan Mooi Bandoeng sebagai bonus kegiatan Biotour volume #2. Kamu bersama rombongan berjalan dari Cibeunying Park menuju Museum Gedung Sate. Rasa lelah yang tadi mendera kamu rasanya hilang seketika, kamu berada pada barisan paling depan, tak sabar ingin segera sampai di sana.

Setibanya di halaman belakang Gedung Sate, kamu merasa senang. Wajar saja ini kali pertama kamu menginjakan kaki di Gedung Sate. Pintu masuk Museum Gedung Sate tak terlampau jauh dari pintu gerbang belakang. Setibanya di pintu masuk Museum Gedung Sate, kamu pun berbaris bersama rombongan. Kaki mu gemetar, jantungmu berdebar, rasa penasaran hinggap dalam benakmu. Dilewatilah pintu masuk Museum Gedung Sate. Baca lebih lanjut

Kamu dan Biotour Volume #2

Biotour volume 2

Peserta sedang memperhatikan penjelasan ipin – Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Pagi itu kamu dan beberapa manusia lainnya sedang menunggu di Taman Lansia. Sebuah taman yang berada di Jalan Diponegoro dekat dengan Museum Pos dan tak terlalu jauh dari Museum Geologi. Taman ini kini kian populer setelah seekor T-Rex sengaja di daratkan untuk bertempat tinggal disini.

Tentu yang kamu maksud bukan seekor T-Rex sungguhan tetapi hanya replika dari binatang  pra sejarah ini. Replika T-Rex ini menjadi spot instagrameble yang berada di Taman ini. Tentu kamu kesini bukan hanya untuk melihat dan berfoto dengan replika T-Rex. Kamu akan mengikuti biotour volume #2 yang bertajuk “Poisonous December: Tumbuhan Berbahaya di Sekitar Kita” yang diselenggarakan oleh Indischemooi dan Mooi Bandoeng. Baca lebih lanjut

Bukan Hanya Hitam dan Putih di Kampung Warna Cibunut

Kampung Warna Cibunut

Ngaleut Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Kampung Warna Cibunut mungkin bukan yang pertama kalinya menjadi kampung warna di Indonesia. Sebelumnya sudah ada Jodipan di Malang dan Kampung Pelangi di Semarang. Tapi di Kota Bandung rasanya menjadi kampung warna pertama.

Kampung Warna Cibunut berada di Jalan Sunda yang terhimpit oleh tembok-tembok bangunan niaga. Mungkin kawan-kawan sudah sering melewati Jalan Sunda tetapi belum ngeh dengan keberadaan kampung ini, itu juga yang saya rasakan. Saya baru tahu Kampung Warna Cibunut setelah melihat unggahan instagram pak Ridwan Kamil yang meresmikan kampung warna ini. Baca lebih lanjut