Ngaleut Pacet, Sekali Peristiwa di Bandung Selatan

Ngaleut Pacet

Ngaleut Pacet/Foto: Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Jika Pram menulis sebuah Novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan, saya di sini akan menulis sebuah catatan perjalanan yang berjudul Ngaleut Pacet, Sekali Peristiwa di Bandung Selatan. Mengubah Banten menjadi Bandung dan ceritanya yang jelas berbeda. Baca lebih lanjut

Iklan

Hanya Ada Satu Jalan Menuju Dewata

IMG-20180304-WA0159

Jalan menuju Perkebunan Teh Dewata | © Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Alarm berdering tepat dua jam setelah berkumandangnya adzan subuh. Ampuh juga ternyata alarm ini. Ia mampu membangunkan saya. Saya sebenarnya sempat khawatir jika tak bisa bangun pagi, sebab orang rumah sedang pergi keluar kota. Itu artinya saya harus berusaha bangun pagi sendiri.

Saya bangun pagi dan tak terlambat menuju Kedai Preanger. Momotoran ke Dewata kali ini saya berboncengan dengan Mbak Mey. Wanita yang kerap kali dibonceng oleh Mas Irfan. Namun tak ada lagi Mas Irfan, sebab ia sudah hijrah ke Ibu Kota. Mengais rezeki di sebuah media daring terkemuka. Seperti biasa kami berkumpul terlebih dahulu di Kedai Preanger. Total 12 kuda besi siap menggilas jalanan dengan jumlah serdadu Baca lebih lanjut

Kepingan Perjalanan Susur Pantai Geopark Ciletuh

Susur pantai Geopark Ciletuh

Susur Pantai Geopark Ciletuh | Foto Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Stop crying your heart out

stop crying your heart out

stop crying your heart out

Begitulah akhir lagu dari band Oasis yang berjudul “Stop Crying Your Heart Out.” Bukan saya sedang patah hati, kebetulan saja lagu tersebut berada pada playlist saya ketika itu. Saya mendengarkan lagu ini sembari menunggu hujan berhenti. Dalam hati saya berkata “berhentilah menangis” tentu saja yang saya tuju adalah langit. Langit sore itu terus menjatuhkan tetesan air yang membasahi bumi, padahal pada saat itu juga saya harus segera berangkat ke Kedai Preanger yang menjadi titik kumpul untuk susur pantai Geopark Ciletuh pukul 7.00 malam.

Waktu sudah  menunjukan pukul 6.30 sore tapi tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Haruskah saya menembus derasnya hujan dengan balutan jas hujan, dan menarik tuas gas lebih kencang dari biasanya sebab Riung Bandung-Buahbatu lumayan memakan waktu, belum lagi dengan kemungkinan macet dan lamanya lampu merah perempatan Carrefour Kircon. Jika saya menunggu sampai hujan reda, saya tak tahu hujan akan berhenti sampai pukul berapa, mungkin saja hujan bisa berlangsung hingga malam dan  mungkin saja saya akan sangat terlambat atau tertinggal rombongan. Baca lebih lanjut