Coretan dari Ciletuh

Oleh: Audya Amalia

Di atas lapisan bumi itu

Dua jenis lempeng bertemu

Atas keniscayaan waktu

Mereka bergusur tak teratur

Mereka bertekstur

***

Awalnya yang saya kira, dengan menyaksikan langsung hasil pergerakan lempeng bumi, saya akan lebih menggali teori tektonika lempeng dan serangkaian pengetahuan geologi lainnya. Alih-alih demikian, ketika melihat langsung bebatuan di Ciletuh, pikiran saya malah melayang jauh pada salah satu konsep estetika Timur yang disebut dengan “Wabi-Sabi”. Konsep tersebut merupakan cara pandang dalam memaknai ketidaksempurnaan. Wabi-sabi mengajarkan bahwa hal-hal dalam hidup ini tidak ada yang bertahan kekal, semuanya berproses dan berkembang bersama waktu. Itulah yang saya temukan dalam perjalan Ciletuh pada 8-10 November 2019 bersama Komunitas Aleut Mania Mantap.

Apa hubungannya wabi-sabi dengan Ciletuh?

Jawabannya ada di catatan perjalanan suka-suka* ini.

*) Catatan ini sudah melewati beberapa kali revisi dan berisi banyak coretan yang sebetulnya akan lebih tampak rapi jika dihilangkan. Namun atas nama wabi-sabi, lebih baik coretannya dibiarkan terlihat. Dan sejalan dengan prinsip estetika kontemporer: Anything goes~

Baca lebih lanjut

17:30 WIB: Waktu Indonesia bagian Blekok

1. Kampung Blekok

Oleh: Audya Amalia

“….the glory of the past, had gone to underground and people just forgot

some people try hard, to wake up in this age to take back their life….”

Hari Minggu tanggal 24 Juni 2018, sepanjang Jalan Soekarno-Hatta Bandung menuju tujuan, earphones di telinga saya terus mengulang-ngulang lagu Unperfect Sky-nya Elemental Gaze. Sambil berdoa supaya hujan sore itu di-pending dulu dan membayangkan seperti apa tempat tujuan ngaleut episode kali ini. Baca lebih lanjut