Kosambi Pernah Jadi Pusat Hiburan di Bandung

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Manusia adalah makkhluk hidup yang spesial. Berbeda dengan makhluk hidup lainnya, manusia membutuhkan hal-hal lain untuk tetap bertahan hidup dalam menjalani kehidupannya. Salah satu kebutuhan tersebut adalah hiburan.

Sejak dahulu, manusia menghibur diri mereka dengan berbagai macam hal, seperti musik, drama, dan olahraga. Dengan hiburan, manusia bisa kembali berpikiran jernih dan kembali segar dalam menjalani semua aktifitasnya.

Berbicara soal hiburan, saat ini Bandung menjadi salah satu pusat hiburan alternatif warga ibukota. Jaraknya yang kurang dari 160 km saja bisa ditempuh dalam waktu dua jam saja (dengan kondisi lalu-lintas normal). Bandung menawarkan banyak hal yang tidak dimiliki ibu kota, seperti wisata alam, wisata belanja, dan wisata kuliner. Tangkuban Parahu, Ciwidey, Jalan Dago, dan Jalan Riau akan dipenuhi para pencari hiburan asal ibukota di akhir pekan

Saking seringnya warga ibukota mencari hiburan di Bandung, wawasan mereka tentang dunia hiburan terkadang lebih luas dibanding warga Bandung sendiri. Beberapa bulan terakhir ini saya gelagapan saat ditanya kawan yang berdomisili di Jakarta tentang lokasi-lokasi wisata kuliner kekinian. Bahkan tren kue cubit green tea baru saya ketahui dari sepupu saya yang hampir setiap minggu rajin main ke Bandung.

*** Baca lebih lanjut

Obrolan di Pasar Cihaurgeulis

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Seorang anak kecil terlihat tidak tenang. Beberapa kali ia merengek kepada ibunya yang sedang asik berbelanja. Pertanyaan “Mah, kapan kita pulang?” terus menerus ia lemparkan sambil menutup hidung. Satu-dua kali ibu muda ini masih menjawab pertanyaan anaknya, lalu kemudian tak lagi menggubris rengekan yang terus datang tanpa henti.

“Berapa umurnya, Bu?”, tanya penjual daging sapi yang sedang melayani. “Baru empat tahun, Pak. Bulan depan masuk TK.”, jawab si ibu. Obrolan di antara keduanya terus berlanjut, mulai dari cerita tentang anak paling kecil si penjual daging sapi yang tahun depan akan masuk kuliah hingga membahas mahalnya biaya sekolah sekarang ini.

Rengekan anak kecil itu berhenti, berganti dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya. Rupanya kaki si anak menginjak genangan air sisa hujan semalam. Isakan tangis mulai terdengar perlahan. Sadar akan situasi ini, sang ibu langsung menggendong anaknya dan menghentikan pembicaraan.

“Si kecil baru pertama kali ke pasar ya, Bu?”, tanya penjual daging sambil memberikan setengah kilo daging sapi kepada ibu muda itu. “Iya pak, tadi sebelum pergi mendadak ngerengek pengen ikut. Padahal biasanya mah ga pernah mau”, jawabnya sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan”.

Isakan tangis akhirnya berhenti setelah keduanya pergi meninggalkan pasar. Di atas becak, anak kecil itu berujar: “Kok ibu mau sih belanja di tempat kayak gitu? Kan bau, udah gitu becek lagi.”.

***

Masih segar di dalam ingatan saat saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar. Saat fisiknya masih bugar, alm. Eyang sering mengajak saya ke Pasar Cihaurgeulis untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari beli ayam potong, buah-buahan, hingga keset ataupun lap pel. Sebagai hadiah karena mau menemani berbelanja, Eyang kerap kali membelikan saya mainan. Mainan ini terkadang jadi bahan perdebatan kecil antara Ibu dan Eyang karena mainan di kamar saya semakin menumpuk. Baca lebih lanjut

Pertempuran Cihaurgeulis

Pada tanggal 3 Desember 1945, seorang pemuda bekas Heiho bernama Slamet memimpin penyerangan ke sekitar Cihaurgeulis sampai ke depan Gedung Sate. Musuh menangkis penyerangan itu hingga terjadi pertempuran yang seru. Pertempuran itu berlangsung hingga tentara sekutu didesak mundur. Rumah – rumah yang mereka tempati dibakar habis oleh para pejuang. Akhirnya, pertempuran berhenti karena persediaan peluru para pejuang habis.

Tidak lama dari berhentinya pertempuran itu, seorang Jepang dengan mobil tangki air datang ke jalan yang diduduki pasukan Slamet. Lalu, orang Jepang itu memberikan bantuan peluru ke pasukan Slamet. Selesai proses penyerahan itu, mobil tangki dengan supirnya pergi dari medan pertempuran.

Setelah mendapat bantuan peluru, pertempuran di Cihaurgeulis kembali dilanjutkan. Serangan dari pasukan Slamet menusuk jantung posisi tentara sekutu. Karena serangan itu, pertempuran berakhir dengan korban yang banyak dari pihak musuh. Sedangkan pihak kita tidak mengalami korban jiwa. [ ]

Garut dan Pangkas Rambut

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Selain terkenal dengan domba, dodol dan belakakangan juga terkenal dengan batu akik, Garut juga kesohor dengan satu hal lagi: pangkas rambut. Bagi para pria yang sering mengunjung barbershop, cobalah bertanya dari mana si pemangkas rambut berasal. 90% akan menjawab “Asgar”, alias Asli Garut.

Siapa sangka jika kiprah pemangkas rambut Asgar ini sebetulnya berawal dari kondisi perang. Pada sekitar tahun 1950, saat Kartosuwiryo dengan Negara Islam Indonesia-nya berusaha melakukan makar di Garut. Warga Garut yang saat itu merasa ketakutan akan aksi Kartosuwiryo ini akhirnya memilih untuk mengungsi ke luar Garut.

Untuk menyambung hidup, beberapa pengungsi ini memilih untuk menyambung hidup dengan menjadi pemangkas rambut. Pekerjaan ini dipilih karena modal yang dikeluarkan tak terlalu besar. Cukup dengan sedikit keterampilan, gunting, dan pisau cukur, jasa pangkas rambut bisa dijajakan di bawah pohon rindang.

Pekerjaan sebagai pemangkas rambut ternyata mampu mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan. Tak ayal kabar gembira ini langsung menyebar luas di kampung halaman, membuat beberapa warga Garut yang tergiur kesuksesan kawan mereka di perantauan ikut merantau. Sejak saat itulah para pemangkas rambut asal Garut tersebar luas di beberapa kota di Indonesia.

Pangkas rambut Asgar melayani segala kalangan masyarakat. Mulai dari kaum proletar hingga borjuis, dari yang tua dan yang muda, dan dari rakyat biasa hingga sekelas presiden. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari harga Rp 10.000,00 untuk sekali cukur hingga yang mencapai enam digit.

***

Salah satu yang menawarkan harga Rp 10.000,00 untuk sekali cukur adalah Pak Ujang, tukang pangkas rambut yang menjajakan jasanya di pinggir jalan Jl. Teri, dekat Pasar Andir. Peralatan yang ia punya cukup lengkap, namun semuanya dioperasikan dengan tenaga tangan.

DSC_1791 Baca lebih lanjut

Sisi Lain di Sekitar Pasar Andir

Oleh: M. Taufik Nugraha (@abuacho)

 

Ruko yang Sepi

“Diorder sis cardigan-nya”
“Cek IG kita kakak buat liat koleksi baju terbaru”

Udah sering banget kan lihat kalimat tersebut atau kalimat-kalimat jualan lainnya yang berseliweran di timeline FB, BBM, ataupun Twitter kita. Di zaman yang serba online ini, para pedagang pun berekspansi ke dunia maya, tidak terkecuali juga para pedagang pakaian. Nah, biasanya para penjual online yang berdomisili di Bandung dengan dagangannya berupa pakaian dengan harga murah meriah, kebanyakan toko fisiknya berada di kawasan Pasar Andir dan sekitarnya.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Pasar Andir

Kawasan di sekitaran Pasar Andir memang sekarang ini tidak hanya dikenal sebagai pasar sayuran, namun juga sebagai sentra pakaian murah yang pemasarannya kebanyakan dilakukan secara online. Dengan harganya yang murah, jangan terlalu banyak berharap ataupun protes mengenai kualitas barangnya, karena seperti banyak orang bilang: “harga tidak pernah bohong” atau “ada rupa ada harga”.

Di balik menggeliatnya perekonomian di Pasar Andir, ada sisi lain yang menarik, yang baru saya ketahui setelah ngaleut hari minggu kemarin (06 Sep’ 2015).  Jika toko-toko pakaian yang berada di sekitaran Pasar Andir saat ini sedang menikmati perputaran uang yang cukup besar, hal yang bertolak belakang terjadi di bagian belakang (selatan) Pasar Andir. Jejeran ruko dengan gaya arsitektur Tiongkok lama yang berada di bagian belakang Pasar Andir justru tidak menampakkan aktivitas perdagangan sama sekali. Kabarnya ruko-ruko tersebut sudah mulai tidak dipergunakan lagi untuk aktivitas jual-beli karena sudah tidak menguntungkan, dan telah banyak beralih fungsi menjadi gudang penyimpanan barang.  Ruko-ruko tersebut dulunya dibuat dan dipunyai oleh Yap Lun – seorang etnis Tionghoa yang merupakan importir kain dan pengusaha properti sukses, sehingga tidak mengherankan jika ruko-ruko tersebut dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Ruko dengan Gaya Arsitektur Tiongkok Lama yang Sudah Tidak Beroperasi

Hal menarik lainnya yang saya temui yaitu keberadaan sebagian ruko-ruko tersebut berada di jalan yang namanya berdasarkan nama ikan asin seperti Jalan Teri, Jalan Jambal, ataupun Jalan Peda, karena ternyata kawasan tersebut merupakan sentra penjualan ikan asin.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Jalan Teri

Gang Siti Marijam

Menyebrang dari kawasan Pasar Andir, terdapat Gg. Siti Marijam. Nama gang ini sering banget saya dengar dan cukup membuat penasaran – siapa sebenarnya Siti Marijam itu. Pas ngaleut kemarin pun tidak ada informasi pasti mengenai siapa Siti Marijam, namun disinyalir bahwa Siti Marijam ini adalah salah satu pedagang sukses di Pasar Andir dan ada hubungannya dengan pedagang yang ada di Pasar Baru.

Andir, Pasar Andir, Siti Marijam, Gang Siti Marijam, Kuburan Siti Marijam, Ngaleut Andir

Gang Siti Marijam

Kuburan Siti Marijam sendiri berada di dalam gang tersebut. Kondisi kuburannya masih cukup baik walaupun yang menyedihkannya, kuburan tersebut sudah bercampur baur dengan kandang ayam dan juga digunakan sebagai tempat jemur pakaian oleh warga sekitar.

***
Ternyata tidak hanya ada pasar di Andir, namun juga banyak hal menarik yang dapat kita temui dan eksplorasi di kawasan yang dulunya merupakan kawasan tempat tinggal para buruh yang bekerja untuk pembangunan Jalan Raya Pos tersebut.

Sumber Foto :

Foto Pribadi

Sumber Tulisan :

 

Tautan asli: https://mtnugraha.wordpress.com/2015/09/10/sisi-lain-di-sekitar-pasar-andir/

Pasar Ikan Andir

Oleh: Fajar Asaduddin (@FajarRaven)

Belakangan ini Pasar Andir cukup dikenal sebagai  salah satu pusat perbelanjaan pakaian murah meriah di Bandung. Lama sebelumnya, warga Bandung lebih mengenal Pasar Andir sebagai pasar tradisional yang selalu ramai sepanjang waktu. Aktivitas perdagangan kebutuhan pangan rumah tangga sudah sangat ramai sejak malam hari.

20150910071503

Salah satu kegiatan pasar yang sangat menarik adalah pusat penjualan ikan asin. Kios-kios ikan asin bardampingan di blok-blok rumah besar. Sebagian besar pedagangnya merupakan keturunan Tionghoa. Kios-kios ini memiliki jendela pamer yang unik. Umumnya kios-kios biasa dibuka dengan ke arah samping, nah kios-kios di pasar ikan asin ini malah dibuka ke arah atas.

20150910071446

Jendela kios ini terbagi tiga bagian, ditautkan oleh engsel-engsel yang bisa dilipat ke arah atas tergantung keperluan pemilik kios. Penjual dapat hanya membuka bagian bawah saja untuk memamerkan jualannya atau melipat seluruh jendelanya hingga berbentuk seperti warung umumnya.

Banyak sekali macam ikan  asin yang dijual di pasar ini, mulai dari ikan teri sampai potongan-potongan ikan jambal. Ikan-ikan kering ini dipajang baik di meja pamer atau digantung di kawat warung, atau ditumpuk di semacam “para” di atas warung. Menambah keunikan suasana pasar ikan asin adalah nama-nama jalan di sekitarnya, ada Jl. Teri, Jl. Peda, Jl.Gabus, dan seterusnya.

Ayo sekali-kali melihat langsung suasana pasar ikan di Andir ini, siapa tahu dapat pengalaman unik yang jarang terjadi dalam keseharian. Oya, jangan berkunjung pada hari Minggu karena jadwal perdagangannya hanya hari Senin-Sabtu.

Suatu Subuh di Pasar Andir

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

pasar andir street photography 3

Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil…

Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.

Nietzsche menulis Also Sprach Zarathustra ini di tahun 1883, dan kita tak tahu persis apa pasar baginya. Bukankah pasar adalah tempatnya kebersamaan yang semu, hubungan antar-manipulatif, perjumpaan yang sementara dan hanya permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing cuma memikirkan kebutuhannya sendiri agar terpenuhi? Bukankah pasar adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir? Baca lebih lanjut