Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus

Ditulis oleh Nia Janiar dan dipublikasikan di Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti

 

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap “aib” karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Baca lebih lanjut

Menggali Sejarah Perkembangan Kota dari Permakaman di Kota Bandung

Oleh: Ariyono Wahyu

Permakaman merupakan salah satu fasilitas/perlengkapan sebuah kota yang penting. Bila mereka yang hidup membutuhkan kompleks permukiman sebagai tempat tinggal untuk bernaung, maka mereka yang telah “berpulang ke keabadian” juga membutuhkan tempat untuk move on menuju kehidupan selanjutnya.

Ternyata, melalui permakaman, kita juga dapat menggali sejarah perkembangan sebuah kota. Berikut ini adalah cerita mengenai permakaman yang saya baca di buku-buku yang membahas kota  Bandung. Dalam buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” karya Haryoto Kunto, ada disebutkan istilah kerkhof yang artinya kuburan. Kerkhof adalah kata kuno dalam bahasa Belanda untuk permakaman. Kerkhof Belanda tertua di kota Bandung terdapat di ruas Jl. Banceuy sekarang, dulu lokasinya disebut Sentiong. Ternyata kata Sentiong yang berasal dari bahasa Cina juga bermakna kuburan. Cukup lama bekas Sentiong di Jl. Banceuy ini ditempati oleh sebuah Pasar Besi, tapi sekarang lokasi itu sudah tidak ada dan di atasnya didirikan bangunan pertokoan baru. Sampai paruh pertama abad ke 19, batas utara kota Bandung baru sampai di daerah  Jl.  Suniaraja sekarang ini, jadi tidak mengherankan bila di pinggiran kota ini dulu terdapat permakaman.

Kerkhof di Jl. Banceuy sering disebut bergantian dengan Sentiong karena di dalamnya tidak hanya terdapat permakaman orang Belanda, melainkan juga orang keturunan Cina. Salah satu warga kota terkemuka yang dimakamkan di Sentiong adalah Asisten Residen Carl Wilhelm August Nagel. Ia tewas dalam huru-hara Munada pada akhir tahun 1845. Akibat kerusuhan ini pasar kota (pasar lama di Ciguriang) terbakar dan akibatnya kota Bandung tidak memiliki pasar hingga dibangunnya Pasar Baru di awal abad ke 20.

Kerkhof Sentiong di Jl. Banceuy eksis hingga akhir abad 19. Saat itu suasana sekitar permakaman sungguh sunyi, apalagi bila hari sudah malam. Warga yang bermukim di daerah utara kota, sepulang dari menikmati hiburan atau keramaian malam di sekitar Alun-alun akan menghindari daerah Jl. Banceuy tempat kerkhof berada. Suasana yang sepi dan gelap membuat tidak nyaman, mereka akan memilih melewati jalan yang agak memutar melalui daerah Pecinan di belakang Pasar Baru yang selalu ramai hingga pagi hari.

Dalam perkembangan berikutnya, batas utara kota Bandung bergeser ke daerah Jl. Pajajaran sekarang. Permakaman Sentiong harus dipindahkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan kota. Kuburan-kuburan warga etnis Cina dipindahkan ke daerah Babakan Ciamis. Lalu ruas jalan lama bekas Sentiong dinamai Oudekerkhofweg atau Jalan Kuburan Lama.

Tampaknya hingga tahun 1950-an permakaman Cina di daerah Babakan Ciamis masih ada, seperti yang ditulis oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan”. Menurut Us, makam-makam Cina yang disebut dengan Bong terletak di lembah antara daerah Cicendo dengan Kebon Kawung. Di sana terdapat pintu air sungai Ci Kapundung yang sering dijadikan lokasi bermain dan berenang anak-anak dari daerah Cicendo dan Babakan Ciamis. Walaupun daerah Bong tersebut terkenal angker karena banyaknya anak-anak terbawa hanyut saat Sungai Ci Kapundung meluap, namun tetap saja menjadi tempat berenang favorit bagi anak-anak pada masa itu.

AstanaanyarSebuah makam keluarga di tengah kompleks permakaman Astanaanyar. Foto: mooibandoeng.

Sementara itu, kuburan-kuburan orang Eropa juga dipindahkan dari Sentiong ke kerkhof di Kebon Jahe, di lokasi yang sekarang ditempati oleh GOR Pajajaran. Periode ini berlangsung saat jabatan Asisten Residen Priangan dijabat oleh Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898 ia mendirikan wadah untuk menyalurkan partisipasi serta aspirasi warga kota yaitu Vereeniging tot nut van Bandung en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan sekitarnya. Upaya organisasi ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan fasilitas kota, di antaranya adalah pembukaan jalur-jalur jalan, perumahan, pembangunan sarana pendidikan, dan pembangunan Pasar Baru. Di Bidang sosial, organisasi ini mendirikan perkumpulan yang bertugas untuk mengurusi masalah kematian, organisasi ini pula yang memindahkan Kerkhof Sentiong. Untuk permasalahan yang berhubungan degan kematian, perkumpulan ini menyediakan kereta jenazah. Kereta jenazah ini adalah kereta kuda beroda empat yang ditarik oleh empat ekor kuda putih. Model kereta jenazah ini seperti ranjang kuno dengan kelambu berwarna hitam.

Pada awal abad ke-20 kota Bandung sempat dikenal dengan julukan yang menyeramkan yaitu Kinderkerkhof (kuburan anak-anak), ini terutama akibat wabah kolera pada tahun 1910. Tingkat kematian anak terhitung tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Suasana kota Bandung sebelum tahun 1917 pun tak kalah menyeramkan, kuburan atau makam dapat dengan mudah ditemukan di pekarangan, di samping, di belakang rumah atau di kebun-kebun warga. Praktis tak ada aturan mengenai makam-makam ini. Keadaan ini ditertibkan pada tahun 1917 dengan dikeluarkannya Bouwverrordening van Bandung (Undang-Undang Pembangunan Kota Bandung). Sejak dikeluarkannya aturan ini pemakaman jenazah harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yaitu di komplek permakaman, seperti untuk warga muslim yang ditempatkan di permakaman Astana Anyar (Kuburan Baru).

101_0062Sebuah makam di tengah gang umum di kawasan Cihampelas. Foto: Hani Septia Rahmi.

Sebenarnya urusan permakaman telah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah kota setelah Bandung memperoleh status Gemeente (Kotapraja) yang berarti menjadi daerah otonomi, kota yang dapat mengurus, mengatur, dan mengelola beberapa macam wewenang sebagaimana rumah tangga sendiri. Pengesahan tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1906, melalui perundang-undangan tanggal 21 Februari 1906 dan 1 Maret 1906. Pengesahan dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutz. Saat itu Residen Priangan dijabat oleh G.A.F.J. Oosthout, Asisten Residen oleh E.A. Maurenbrechter, dan bupati dijabat oleh R.A.A. Martanagara. Semuanya berkedudukan di Bandung.

Dalam perundang-undangan itu diatur mengenai tugas dan kewajiban Gemeente, di antaranya adalah: pembuatan dan pemeliharaan perkuburan umum Islam maupun Kristen di dalam wilayah Gemeente Bandung. Juga menyelenggarakan kuburan Cina di luar kota (Gemeente). Setelah status kota Bandung diubah menjadi Stadsgemeente dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 27 Agustus 1926 No.3 (Staatsblad 1926 No. 369), kota Bandung tidak lagi dikepalai oleh Asisten Residen, ini terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1926. Sejak saat itu yang menjadi pemimpin dalam mengurus kota adalah seorang walikota/Burgemeester.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya walikota membaginya kepada 3 orang Pembantu Walikota/Wethouders, yang terdiri dari seorang berkebangsaan Belanda, Bumiputra dan Cina. Salah satu tugas Wethouder adalah mengurus kuburan bagi bangsa mereka, maksudnya untuk Wethouder berkebangasaan Belanda kebagian tugas mengurus kuburan Kristen/Eropa (Europeesche begraafplaatsen), bagi Wethouder Bumiputera mengurus kuburan Islam (Mohammedaansche begraafplaatsen), demikian pula dengan pembantu walikota beretnis Cina memiliki tugas mengurus kuburan Cina (Chineesche begraafplaatsen).

IMG-20140312-WA0017Makam keluarga Ursone di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Kerkhof Kebon Jahe didirikan dalam masa yang sama degan Pabrik Kina yang terletak di sebelah timurnya. Kira-kira tahun 1896. Ada banyak tokoh kota dimakamkan di sini, salah satunya adalah  Dr. C.H. Westhoff (pendiri Rumah Buta yang lokasinya berada di seberang kerkhof), familie Ursone dengan mausoleumnya yang bergaya barok berlapis batu marmer Carrara. Tak mengherankan, salah satu anggota keluarga pemilik peternakan sapi Ajax di Lembang ini juga memiliki perusahaan Carrara Marmerhandel en–bewerking. Pengelola perusahaan yang terletak di Bantjeuj itu adalah  A. Ursone.

Setidaknya ada 16 orang lainnya yang memiliki hubungan dengan perkembangan kota Bandung dimakamkan di Kerkhof Kebon Jahe. Siapa saja ya?

Cerita mengenai kerkhof Kebon Jahe, juga ditulis dalam buku “Basa Bandung Halimunan” karya Us Tiarsa. Buku ini berkisah mengenai pengalamannya hidup di Bandung pada tahun 1950-60an. Dalam buku yang berbahasa Sunda ini Pak Us bercerita tentang pembagian kelas-kelas makam. Kelas 1 makamnya besar-besar dan terletak paling utara, dekat dengan ke jalan raya (Jl. Pajajaran). Makam-makam dihiasi porselen serba mengilap. Makam lain dilapisi marmer yang tebal berbagai warna, ada yang putih, kehijauan, atau kekuningan. Makam-makam di kelas 1 dilengkapi hisan berupa patung malaikat, bidadari, atau patung Yesus. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar orang dewasa hingga ke ukuran terkecil seukuran tangan anak kecil. Pot dan vas kembangnya bagus terbuat  dari bahan porselen, gelas, marmer, atau kuningan. Tak ada yang berbahan gerabah.

Makam kelas 2 terletak agak ke sebelah selatan, kebanyakan hanya menggunakan batu granit dan tanpa penutup. Kadang ada yang ditutupi memakai beton namun tak sekokoh penutup beton yang menaungi makam-makam di kelas 1. Sedangkan makam kelas 3 terletak paling selatan. Makam-makam di area ini kebanyakan bahkan tanpa nisan.

Di tahun 1950an-60an Pak Us Tiarsa tinggal di Kebon Kawung, tak jauh dari kerkhof tersebut. Katanya, setelah masa kemerdekaan pun kerkhof Kebon Jahe adalah permakaman yang tetap terpelihara dan bersih, rumputnya tertata rapi dan dipotong secara teratur. Di dalam area permakaman terdapat jalan berbatu, malah ada juga yang menggunakan marmer. Tanamannya mulai dari kacapiring, cempaka gondok dan cempaka cina, serta pohon kamboja. Tak heran bila warga yang bermukim di derah Kebon Kawung, Nangkasuni, Torpedo, Merdeka Lio, Cicendo, atau Rumah Buta, kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bermain dan bersantai. Tak hanya anak-anak kecil, bahkan hingga orang dewasa meluangkan waktu senggangnya dengan bercengkrama di dalam area permakaman ini.

Salah satu kegiatan anak-anak adalah mengumpulkan potongan marmer dari makam. Potongan marmer yang besarnya seukuran jempol kaki dibuat kelereng dengan membentuknya menggunakan golok yang tumpul. Walaupun pada akhirnya kelereng tersebut tidak sepenuhnya bundar, namun sudah cukup bagi anak-anak untuk menggunakannya dalam permainan poces. Kegiatan lainnya yang dilakukan anak-anak kecil dalam area permakaman ini adalah mengumpulkan bubuk marmer yang kemudian dihaluskan menggunakan palu. Bubuk ini digunakan untuk mengilapkan kerajinan tangan dari buah kenari atau tempurung buah kelapa.

Aturan di permakaman ini sebenarnya melarang warga umum masuk ke dalam area kerkhof. Sekeliling area kerkhof dipagari dengan kawat berduri dan pagar hidup dari tanaman seperti kembang sepatu, pringgandani, kacapiring, dan enteh-entehan. Kerkhof Kebon Jahe dijaga oleh banyak penjaga dan dikepalai oleh seorang mandor yang terkenal galak, namanya Mandor Atma. Ia tinggal dekat gapura pintu masuk permakaman di sisi sebelah utara kerkhof (Jl. Pajajaran).

Kerkhof Kebon Jahe akhirnya digusur pada akhir tahun 1973. Sayang pembongkarannya tidak sistemastis, asal bongkar dan kadang dengan membuldoser makam-makam yang ada, akibatnya banyak artefak bersejarah yang hilang. Padahal sebetulnya banyak yang bisa dipelajari dari peninggalan-peninggalan di permakaman. Sebagai contohnya adalah bukti otentik kedatangan orang Belanda di daerah sekitar Bandung pada pertengahan tahun 1700-an dapat dilihat dari batu nisan Anna Maria de Groote, putri Sersan de Groote. Anna meninggal saat masih berusia 1 tahun, yaitu pada tangal 28 Desember 1756. Nisan makamnya pernah ditemukan di Dayeuh Kolot. Tapi sayangnya, makam ini pun entah bagaimana nasibnya sekarang.

Tahun 1932, kota Bandung memiliki kompleks permakaman baru bagi orang Eropa (Nieuwe Europeesche Begraafplaats) yaitu kompleks permakaman yang kini lebih kita kenal dengan sebutan Permakaman Pandu. Bila kita cermati, permakaman Pandu masih menyimpan banyak cerita, di antaranya makam laci. Makam ini berbentuk layaknya laci-laci dikamar jenazah/koroner. Lalu ada makam penerbang yang meninggal karena pesawatnya jatuh, ini juga menandakan masih begitu berbahayanya transportasi udara kala itu.

IMG-20140312-WA0014Makam penerbang di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Copy of SAM_5620BMakam Raymond Kennedy di Pandu. Foto: A13Xtriple.

Banyak makam tokoh yang memilliki hubungan dengan sejarah perkembangan kota Bandung seperti Ir. C.P. Wolf Schoemaker, mausoleum keluarga Ursone yang merupakan pindahan dari kherkhof Kebon Jahe, atau makam Profesor Raymond Kennedy, sorang guru besar dari Universitas Yale yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Raymond Kennedy dibunuh oleh kelompok tak dikenal di daerah Tomo, Sumedang, dalam perjalanan penelitiannya ke Jawa Tengah bersama Robert Doyle, sorang koresponden bagi  majalah Times dan Life. Pembunuhan kedua warga negara Amerika ini menarik perhatian hingga ke pucuk pimpinan Indonesia, salah satunya adalah Bung Hatta yang berjanji akan menemukan kedua pembunuh warga negara Amerika ini. Di kompleks permakaman Pandu terdapat pula kompleks permakaman terpisah khusus bagi tentara KNIL, Ereveld Pandu. Wilayah permakaman ini merupakan wilayah dari Negeri Belanda.

Copy of SAM_5357BMakam Elisabeth Adriana Hinse Rieman di Ciguriang. Foto: A13Xtriple.

Pembongkaran Oude Europeesche Begraafplaats atau Kerkhof Kebon Jahe pada tahun 1970an berlangsung tidak sistematis, banyak kuburan didalam kompleks permakaman Kerkhof Kebon Jahe yang asal saja dibongkar. Sebagian memang dipindahkan ke Permakaman Pandu, tapi sebagian lain rusak begitu saja. Mungkin bukti tidak tertibnya proses pembokaran makam ini dapat kita lihat pada sebuah nisan batu granit atas nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman. Nisan berusia 110 tahun ini dipakai penduduk sekitar mata air Ciguriang sebagai batu alas mencuci pakaian.

Copy of SAM_5321BMulut jalan H. Mesrie. Foto: A13Xtriple.

Tak jauh dari mata air Ciguriang terdapat pula makam keluarga saudagar Pasar Baru dan tuan tanah di daerah Kebon Kawung, keluarga H. Moh. Mesrie. Nama Mesrie diabadikan menjadi nama jalan menggantikan Rozenlaan. Kekayaan yang didapat dari usahanya dibelikan tanah-tanah persil di daerah Kebon Kawung. Makam-makam keluarga saudagar Pasar Baru lainnya tersebar di daerah Cipaganti, Sukajadi, Jl. Siti Munigar, Jl. Karanganyar, dan Jl. Kresna.

Kota Bandung tidak memiliki Taman Prasasti seperti yang terdapat di Jakarta, di bekas permakaman lama yang juga bernama Kebon Jahe. Kedua tempat dengan nama sama ini ternyata memiliki nasib yang berbeda. Setelah tidak berfungsi lagi, kerkhof Kebon Jahe Jakarta naik derajatnya menjadi museum bagi nisan-nisan dari masa lalu kota Jakarta. Dari tempat yang sebelumnya ditakuti menjadi tempat bergengsi untuk berfoto, sedangkan nisan-nisan makam di kherkhof Kebon Jahe Bandung hilang ditelan bumi.

Sumber :
Haryoto Kunto “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) Pernerbit PT Granesia Bandung
Haryoto Kunto “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (1986) Pernerbit PT Granesia Bandung
Us Tiarsa R “Basa Bandung Halimunan” (2011), Penerbit Kiblat
Sudarsono Katam “Bandung; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis”(2006),  Penerbit Kiblat

Pasar Baru, Ada Apa Dengan Pasar yang Lama?

Oleh:Arya Vidya Utama

Hampir semua orang tahu Pasar Baru Bandung saat ini, bahkan gaungnya sudah sampai ke negeri tetangga, Malaysia. Pasar ini terkenal dengan barang yang murah namun berkualitas tinggi. Pada hari biasa pun kita bisa melihat bagaimana sibuknya pasar ini, dan bisa dua kali lipat keramaiannya di akhir pekan dan hari libur nasional.

Mungkin saat mendengar nama Pasar Baru akan muncul pertanyaan: Kenapa Pasar Baru? Ada apa dengan pasar yang lama?

Pada tahun 1812, dibangunlah sebuah pasar yang merupakan satu-satunya pasar di Bandung saat itu, dan tak heran pada saat itu pasar ini menjadi pusat perdagangan. Pasar itu dikenal sebagai Pasar Ciguriang. Lokasinya berada di dekat Pendopo, yang kurang lebih sekarang dikenal sebagai kawasan Jalan Kepatihan.

Tak ada yang menyangka bahwa sekitar 33 tahun kemudian pasar terbesar di Bandung ini akan rata dengan tanah, dan tak disangka pula bahwa ratanya pasar ini berawal dari rasa sakit hati seorang pria keturunan Cina-Jepang yang bernama Munada.

Munada diketahui sebagai pedagang kain, namun ditunjuk oleh asisten residen saat itu yang bernama Nagel sebagai orang kepercayaannya. Sayang kepercayaan Nagel itu disalahgunakan. Munada pernah diberikan modal 30 guilders sebagai modal untuk membeli alat-alat transportasi, sayang uang tersebut malah ia pakai untuk berfoya-foya dan mabuk-mabukan hingga habis. Beruntung Nagel masih berbaik hati memberikan kesempatan kedua bagi Munada. Kali ini Munada diberikan kepercayaan untuk menjual enam pasang kerbau milik Nagel. Tidak belajar dari kesalahan sebelumnya, Munada kembali menyalahgunakan kepercayaan tersebut. Alih-alih memberikan uang hasil penjualan kerbau tersebut, Munada malah menghabiskannya. Kesabaran Nagel pun habis, akhirnya Munada ditangkap, ditahan, dan disiksanya.

Tak pelak Munada pun sakit hati. Setelah bebas, ia bersekongkol dengan Rd. Naranata, mantan jaksa Kabupaten Bandung saat itu yang dipecat oleh Wiranatakusumah III dan Nagel, sang asisten residen, akibat dianggap terlalu angkuh dan kasar. Mereka menyusun strategi untuk membunuh Nagel, dan Pasar Ciguriang dipilih sebagai lokasi aksi mereka.

Sekitar tanggal 24-25 November 19451, Pasar Ciguriang dibakar guna memancing kedatangan Nagel. Benar saja, tak lama setelah kebakaran terjadi, Nagel datang bersama bupati. Ditengah suasana panik dan hiruk pikuk akibat kebakaran, Munada yang membaur di dalam keramaian tersebut dan menghunuskan pisau ke dada Nagel. Tak lama kemudian, Nagel tersungkur dan Munada pun berhasil kabur dari tengah keramaian.

Dampak dari aksi Munada dan Rd. Naranata sudah bisa ditebak, Pasar Ciguriang kemudian rata dengan tanah. Dalam jangka waktu yang cukup lama Bandung tidak memiliki pasar induk, dan kemudian kegiatan perdagangan dialihkan ke pasar semi permanen yang terletak di PangeranSumedangweg, yang kelak berubah nama menjadi Jalan Otto Iskandardinata.

(disadur dari tulisan milik M. Ryzki Wiryawan)

Catatan kaki

1 A.J. van der Aa, Nederlands Oost-Indië: of, Beschrijving der Nederlandsche Oost Indie, (Amsterdam: 1851) halaman 189

Referensi:

Data pribadi M. Ryzki Wiryawan

Sudasono Katam, Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis, (Bandung: 2006) halaman 479

http://bandungupdate.files.wordpress.com/2011/10/pasar-baru-bandung.jpg

http://bisnis-jabar.com/wp-content/uploads/2011/05/pasar-baru.jpg

http://multiply.com/mu/djawatempodoeloe/image/69/photos/190/500×500/44/bdg-abc.JPG?et=8zrAdYUjoOvI76%2C3kcodpQ&nmid=73377392

http://multiply.com/mu/djawatempodoeloe/image/49/photos/190/500×500/72/bdg-lintasan-pasar-baru.JPG?et=eTOJXW1HQJM53ek%2BDhPL5w&nmid=114691947

Once Upon A Time in Pecinan Bandung.

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

“Oh ini Pecinan Bandung teh?,,,”

Entah mimpi apa, pada hari minggu tanggal 4 april kemaren, saya bersama komunitas aleut! Berkesempatan lagi mengunjungi kawasan pecinan Bandung. Perjalanan kali ini berbeda karena saya ditemani oleh banyak kawan baru dari berbagai lapisan usia yang turut menambah warna dalam Ngaleut! kali ini.

Kedatangan saya ke starting point gedung merdeka ternyata sudah disambut oleh rombongan Aleut! Ternyata selama ini mereka memang menunggu saya dan tidak akan berangkat sebelum saya datang (hahaha).

Di titik pertama ini Bang Ridwan menjelaskan mengenai latar belakang kedatangan bangsa Cina ke Bandung. Ada dua versi menurut Beer, pertama orang2 Cina ini sengaja didatangkan untuk membantu pembangunan jalan raya pos di masa pemerintahan Daendels, orang2 cina ini memang terkenal akan kemampuan pertukangannya. Versi kedua, orang2 Cina ini mungkin juga merupakan pelarian dari “Java Oorlog” atau Perang Jawa (Dipanegara) di masa yang sama. Saya, cenderung memiliki versi lain, bahwa orang2 Cina ini sengaja didatangkan ke Bandung untuk menghidupkan perekonomian kota baru ini, sebagaimana yang dilakukan Belanda saat mendatangkan Imigran Cina ke Batavia di abad ke-17 untuk menghidupkan ekonomi di sana. Menurut Gubernur Jenderal J.P. Coen saat itu, ia lebih menyukai imigran Cina karena bukan cuma rajin, mereka juga tidak suka berperang. Saat itu Warga Cina berperan cukup baik sebagai pedagang eceran dari barang yang diimpor Belanda.

Kawasan pecinan lama

Namun demikian, pada awalnya konsep kawasan pecinan dengan pembatasan yang ketat belum terjadi sebelum tahun 1740, saat dikeluarkannya kebijakan Wijkenstelse . Beginilah ceritanya.

Alkisah, setelah perkembangan kemakmuran Hindia Belanda mencapai momentumnya, bukan hanya si majikan Belanda yang menikmatinya keuntungannya, si budak yang kebanyakan pribumi juga mulai merasakan hidup di atas angin. Di Batavia, budak-budak ini mulai bertindak arogan dengan menyerang pedagang-pedagang Cina. Warga Cina akhirnya merasa tertekan dan melapor kepada otoritas Hindia Belanda, namun respon yang didapat tidak memuaskan sehingga mereka melakukan aksi protes di daerah Gandaria, jumlahnya mencapai ribuan orang. Aksi tersebut dibasmi, ratusan dari mereka diangkut dengan kapal untuk diasingkan, namun berasarkan pengakuan beberapa saksi, para tawanan ini tidak pernah sampai dimanapun karena kebanyakan dari mereka dibuang ke laut.

Kejadian ini menyulut aksi yang lebih luas, warga Cina kemudian menyiapkan perlawanan bersenjata terhadap otoritas Belanda. Perlawanan tersebut dipimpin oleh seseorang bernama Sipan Jang . Pemberontakan dengan kekuatan 10 ribu orang pun semakin mengancam, Belanda segera menutup gerbang Batavia, dan penyerangan pun kemudian berlangsung. Namun, benteng tak dapat ditembus, selain itu pemberontak pun berhasil dipukul mundur Belanda ke daerah Gending Melati.

Esok harinya, otoritas Belanda memerintahkan penduduk pribumi untuk membantai warga Cina tanpa pandang usia dan jenis kelamin. Sekitar ribu orang Cina menjadi korban peristiwa ini, dan ratusan lainnya di lokasi yang berbeda. Kejadian ini menyulut pemberontakan di daerah-daerah lain di Jawa seperti Semarang, Surakarta, Malang, Grobogan Dll. Kejadian ini segera dibasmi oleh otoritas setempat dibantu oleh Belanda. Kejadian ini mungkin menjadi awal bagi kecurigaan penduduk Jawa terhadap etnis Tionghoa. Terlebih menurut Gubernur Jenderal Adriaan Valkenier, bibit kecurigaan terhadap etnis Cina, adalah karena mereka berbakat pedagang dan telah tumbuh menjadi penduduk kaya raya, sedangkan orang pribumi yang pada dasarnya pemalas tetap berada pada keadaan kemiskinan.

Saya pribadi kurang setuju dengan pandangan tersebut, karena sebenarnya hubungan antara pribumi dengan warga Cina dapat dilacak hingga berabad-abad lamanya tanpa insiden permusuhan. Konflik antara Pribumi dan Cina mungkin hanya merupakan salah satu taktik devide et impera Belanda untuk mencegah kekuatan dua pihak tersebut.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, berbagai bentuk pemberontakan warga Cina tersebut mendorong Belanda untuk menyusun kebijakan wijkenstelsel yang menempatkan orang-orang Cina pada suatu perkampungan khusus dengan batas tertentu, termasuk yang ada di Bandung ini. Kebijakan ini disertai dengan Passenstelsel yang mewajibkan orang Cina untuk membawa surat ijin khusus apabila ingin keluar dari kawasannya. Kebijakan yang terakhir ini hanya berlangsung hingga tahun 1830. Tidak cukup, kemudian Belanda juga mengeluarkan peraturan yang melarang orang Cina untuk berpakaian seperti orang Eropa atau Pribumi. Lucunya, Peraturan ini dikeluarkan untuk mencegah orang Cina menyamar sebagai pribumi saat hendak ditagih pajak oleh Belanda.

Setelan khas Orang Cina

Lingkungan pecinan mempunyai pemimpin sendiri yang diangkat atas persetujuan Belanda, mereka diberi pangkat Mayor, kapten, letnan dan sebagainya. Mereka ini biasanya orang yang sangat kaya dan berpengaruh pada masyarakatnya. Selain itu, kekayaan mereka akan meningkat karena mereka mendapat hak monopoli atas penjualan opium, yang semua ini baru dihapuskan di tahun 1900-an.

Kawasan-kawasan pecinan memiliki karakter dan latar belakang sejarah yang berbeda-beda. Contohnya, saat Aleut! Mengunjungi Bogor beberapa waktu lalu, kami menemukan karakter pecinan yang sangat kental dan ramai, hal ini berbeda dengan di Bandung. Nah di Bandung sendiri, karakter pecinan terbagi dua, pertama di Cibadak di mana orang Cina di kawasan ini kebanyakan berprofesi sebagai tukang, sedangkan di pecinan lama kebanyakan profesinya adalah sebagai pedagang dan pemilik toko.

Namun, pada dasarnya letak Pecinan tersebut hampir sama di seluruh daratan Jawa. H.F. Tillema seorang apoteker di Semarang mengatakan bahwa pada masa kolonial, tata ruang kotanya bisa digambarkan sebagai berikut :

“Disekeliling alun-alun itu terdapat bangunan sekolah, rumah sakit dan tempat tinggal orangorang penting pejabat Belanda. Pada jalan utama disekitar alun-alun itu terdapat aktifitas komersial, dimana tedapat “kampung Cina” yang cukup padat dan disekitar pasar yang kebanyakan terdiri dari toko-toko kecil serta pengerajin seperti tukang kunci, tukang lemari, tukang kayu dan sebagainya “

Nah, karakter lain dari pemukiman Cina tentunya adalah arsitektur khasnya. Namun hal ini juga cukup sulit karena pemukiman Cina peranakan sudah tidak lagi menggunakan arsitektur Cina asli, melainkan menyesuaikan dengan perkembangan dan adat istiadat setempat. Kaum Cina peranakan ini, selain sudah berjarak dengan budaya asli bangsanya, juga tidak lagi menggunakan bahasa Tionghoa dalam pergaulan sehari-hari. Pengarang Kwee Tik Hoay menggambarkannya sebagai berikut :

”Masyarakat Tionghoa di Jawa sebelum akhir abad ke 19 pada dasarnya adalah masyarakat peranakan. Para anggota masayarkat ini telah kehilangan kemampuannya berbahasa Tionghoa, dan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pegantar komunikasinya.”

Orang CIna penjaga toko

Di Indonesia, hanya ada tiga jenis arsitektur Cina, yaitu : Kuil (Klenteng), aula belajar (sekolah) dan rumah petak. Semua contoh bangunan ini dapat kita temukan sepanjang perjalanan Aleut! kemarin. Ada satu hal lagi yang khas, bahwa kebanyakan perumahan orang Cina harus menyesuaikan dengan keterbatasan lahan di kawasan Pecinan, oleh karena itu jarang sekali ada rumah yang sangat besar walau pemiliknya sangat kaya sekalipun.

Johannes Widodo juga mengemukakan ciri lainnya, yaitu bahwa di zona khusus Pecinan di kota Kolonial adalah tipologi toko yang panjang dan sempit terbangun di blok kota yang padat dengan gang (brandgang) di belakang dan gang buntu di dua sisi blok untuk mencapai kampung yang lebih organik di belakangnya. Satu blok bangunan biasanya terdiri dari dua tingkat, yang di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang dapat digunakan sebagai hunian keluarga, toko maupun disewakan.

Sampai paruh kedua abad sembilan belas, selain warga Cina tidak diperbolehkan menggunakan pakaian model Eropa atau Pribumi, mereka juga dilarang untuk menggunakan gaya dan ornamen Eropa pada bangunannya. Apabila melanggar, mereka harus merombak kembali bangunannya ke bentuk khas budaya Cina. Dari masa ini, kita dapat menemukan antara lain ornamen2 khas seperti sepasang sarang walet di ujung atap rumah atau sepasang kucing merangkak di atas atap rumah toko. Keduanya sama-sama menunjukan simbol kemakmuran yang diharapkan penghuninya.

Gerbang Kawasan Pecinan, saat menyambut Ratu Juliana dan P. Bernhard

Tetapi sesuai dengan perkembangan berikutnya, setelah aturan2 yang membatasi warga Cina dihapuskan, warga Cina yang sudah mapan mulai melirik arsitektur Eropa sebagai simbol kemakmuran dan status sosial di masyarakat. Akhirnya mereka mulai meninggalkan arsitektur khas Cina, selain dari faktor kekurangan tukang kayu dan batu yang mampu membuat arsitektur Cina tradisonal. Akhirnya mereka beralih pada gaya arsitektur mutakhir saat itu, seperti gaya Indische Empire yang banyak ditemukan di sepanjang pecinan, hingga art deco yang banyak digunakan warga Cina di daerah Bandung Utara. Jadi salah apabila ada orang mengatakan bahwa kawasan Bandung Utara hanya digunakan orang Eropa. Orang2 Cina kaya raya diketahui cukup banyak mendirikan bangunan mewah di kawasan ini. Bangunan Drie Driekleur, SMAK Dago, hingga Villa Mei Ling adalah sedikit dari Villa megah yang dimiliki orang Cina saat itu. Semua itu adalah simbol kemajuan dan kemakmuran warga Cina di Bandung.

Namun masa kejayaan warga Cina di Bandung mulai meredup seiring dengan terjadinya peristiwa Bandung lautan api. Pada masa itu, setelah Jepang menyerah, ternyata mereka masih melakukan provokasi khususnya kepada warga Tionghoa dengan mengadakan penculikan, perampokan, dll.. Warga Cina yang sudah tidak tahan lagi, kemudian bergabung dengan polisi dan pasukan keamanan, bukan karena pro-NICA melainkan karena mereka sangat kekurangan senjata untuk mempertahankan diri.

Saat Bandung dibagi dua oleh NICA, warga Cina memilih untuk tinggal di kawasan utara yang lebih aman serta kondusif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun tetap saja kebutuhan itu sulit didapat karena pasukan republik memblokade pengiriman dari Bandung selatan. Pada tahun 1946 NICA mengeluarkan mata uang baru, dan warga Cina memilih untuk menggunakan mata uang tersebut, alhasil mereka semakin dibenci kaum republik dan dipanggil sebagai “Anjing NICA”.

Properti warga Cina di kawasan Pecinan yang ditinggalkan sangat rawan, dan dalam kondisi tersebut bahkan sebuah mobil palang merah Cina sempat diserang pejuang republik. Lim Shui Chuan, yang gagal menyelamatkan mobil tersebut namun nyawanya selamat mengatakan bahwa , ”Apa yang Bung Karno telah lakukan selama ini dalam membangun hubungan orang Indonesia dan Cina telah dihancurkan secara singkat oleh tindakan sekelompok pengacau”

Saat hendak menyerang selatan, Inggris melakukan kesalahan dengan membiarkan kaum republik mengetahui rencana tersebut, alhasil tindakan tersebut sama saja dengan memberi waktu kepada kaum republik untuk merampok dan membakar properti-properti warga Cina di Bandung selatan. Akhirnya hingga saat ini kita tidak dapat menemukan banyak peninggalan bangunan khas Cina di Bandung.

Hancur sudah,,,

Hoaahmm,,, Demikianlah sedikit catatan pada ngaleut! Pecinan kemaren. Semoga dapat memberikan pencerahan batin bagi kita semua,,, hahaha,,, Amien!

Sumber :

Peter J.M. Nas, Masa Lalu dalam Masa Kini
Onghokham, Chinese Capitalism in Dutch Java
Handinoto, Sekilas tentang arsitektur cina pada akhir abad ke 19 di pasuruan
Augusta de Wit, Fact and Fancies of Java
Pratiwo, Arsitektur Cina di Indonesia masa kini
Johannes Widodo, Morfologi dan Arsitektur Kota Komunitas Diaspora Cina di Indonesia

Jika gw punya 30 hari liburan di Bandung

Oleh : R.Indra Pratama

Hell yeah.. dibalik kesulitan dalam menulis skripshit.. tiba2 tercembul ide buat nyusun tulisan ini dari inspirasi yang diberikan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3615483 .. cekidot..

Bandung si Parijs van Java menawarkan banyak banget kesempatan untuk melakukan hal-hal seru, kalo TS dikasih sebulan tinggal liburan di Bandung, TS bakal ngelakuin hal-hal dibawah!

1. Berburu DVD/Mp3/CD Audio di Kota Kembang
Buat para pemburu, all Discs under 10rb, kecuali bokep2 yang lagi happening.. kalo yang modalnya berlebih tapi tetep pengen mendukung piracy, bisa belanja di Vertex deket SMP 7.

2. Mencoba peruntungan naek ke gedung Sate
Coba berdiplomasi sama petugas keamanannya (kalo bisa bawa rombongan yang sangar2 hehe), dan jika Tuhan memberkati anda bisa naek ke menara (atau balkon?) paling atas untuk ngelihat view ke sekeliling kota Bandung.

3. Makan Perkedel Bondon
Sayangnya bondon nya nggak ada, tp perkedel ini enak kok buat dima’em, tapi kesananya jam 11 malem keatas ya..

4. Dateng ke acaranya Klab Jazz
Acara ini kadang suka nggak puguh sih jadwalnya, tp yg jelas sebulan sekali, dengan tempat seringnya di Café Halaman di Tamansari.

5. Liat konvoinya Paguyuban Sapedah Ontel
Ingin lihat konvoi ontel plus kostumnya yang mejik2? Dateng aja ke depan museum Geologi minggu pagi jam 8-9 an.. kalo lagi gak konvoi? Ya tungguin aja sampe konvoi

6. Ngelihat prasasti nya Raja Thailand di Curug Dago
Sekalian jalan pagi dari Tahura, jalan aja terus ngikutin trek sampe denger ada suara curug alias air terjun. Tapi jangan ikut terjun karena ada tangga curam yang menuntunmu kearah prasasti tersebut

7. Berburu barang bekas di CIhapit
Mantep dah jalan ini, mulai dari audio mobil, elektronik, antiques, kaset/cd lama, buku, hingga kuliner mantap (tapi saying sekali kulinernya bukan bekas). Siapkan skill nawarmu!

8. Nyimol Gedebage (belanja di Cimol Gedebage)
Yah udah lah, nggak usah nunggu deskripsi, brangkat sana..

9. Mengunjungi ambulan Bahureksa
Silahkan dikunjungi, malem2 lebih asik, ngomong aja sama yang jaganya.. oke..

10. Berburu buku di Palasari, Cikapundung, atau Dewi Sartika
Lebih lengkap dari Cihapits, harga bersaing, tapi koleksi Playboy bekas jangan diambil ya, itu punya saya..

11. Makan Colenak
Makanan dari tape ini ajib banget agan2, sekali hap!.. beuuhh…. Kalo mau nyari ada di Jl.A.Yani 733 udah kearah Caheum gitu

12. Ziarah ke makam para Bupati Bandung zaman dulu..
Hehe, kalo yang belon tahu, makam para pembesar Bandung jama dulu ini ada di daerah Dalem Kaum In the middle of crowd.. kesana aja oke..

13. Maen ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi
Museum yang seru tapi sepi ini buka jam 8 sampe jam1 siang (senen ampe kemis) kalo jumat jam 10 udah tutup.

14. Jalan sehat ke Punclut
Naek aja terus dari Ciumbuleuit, nah pas ada rame2 (sabtu minggu biasanya) jalan aja terus ngelewatin crowd, kalo udah sepi suasananya asoy ban-jed. Apalagi kalo pas diatas kita makan nasi merah – sambel terasi..

15. Nongkrong di Taman Dewi Sartika (balkot)
Asik gila lah buat macar, bawa bekalmu guys!

16. Ikut ngaleut nya KOMUNITAS ALEUT!
Komunitas interpreter sejarah, sering jalan2 keliling kota atau kadang mrepet2 ke pinggir kota untuk menemukan perspektif baru dalam memandang sejarah, hubungi TS aja kalo mau ikutan. ato klik https://aleut.wordpress.com

17. Hangout ke Dago Plaza
Gak hangout, gak gaol! (kayak yang suka aja hahah)

18. Nonton show angklung di Saung Angklung Udjo
Terletak di Padasuka deket Caheum, saung angklung ini menyelenggarakan daily show yang seru,angklung, wayang golek, dsb.. tiket 50rb doang..

19. Sowan ke Gua Pawon
Sebuah gua yang kaya peninggalan masa prasejarah di kawasan karst Padalarang, perhatikan kondisinya teman2!

20. Bertandang ke Kampung Adat Cikondang
Terletak di deket PLTA Cikalong, (kalo dari Bandung ambil kearah Moh.Toha – Pangalengan). Be there untuk ngeliat upacara Wuku Taun setiap 15 Muharram!

21. Berkelana di Pasar Baru
Bangunan 12 lantai ini sudah go international lebih popular dari Agnes Monica. Ada pula penjual aneka kletikan (keripik dll), barang2 rumah tangga, selain tentunya penjual2 garmen yang sudah melegenda. Daerah sekitar pasar juga sik dijelajahin lho..

22. Trekking ke Curug Cilengkrang
Air terjun yang terletak di Ds.Cilengkrang (6km dari Jalan raya Cibiru Ujungberung) ini eksotis sekali kabarnya (TS belum pernah ehhe). Bisa pilih jalan, bisa juga cheating dgn naek ojek.

23. Belajar lalu lintas di Taman Lalu Lintas
Taman yang udah eksis sejak 50-an ini bisa jadi alternative buat kamu2 yang mau belajar memahami rambu2 yang sadar-nggak sadar sering kita langgar, ato kalo yang mau belajar sepeda ato naik kereta2an juga bisa.. bawa adekmu kesini biar ntar nyetirnya nggak ugal2an!

24. Sok2 belajar kalkulus di Taman Ganesha
Taman asik ini terletak di depan ITB, seru buat belajar (kalo kamu anak ITB) ato ngeceng2 (kalo lo bukan anak ITB) ato ngadem (kalo lo kepanasan). Tapi ati2 musim ujan suka banjir.

25. Nongkrong di CK
Ini mah bukan hanya di Bdg aja sih, tapi seru lho, asal bedoa aja nggak dapet serangan dari geng motor.

26. Dinner di Ceu Mar
Meskipun TS masih nggak ngerti enaknya dimana, tapi karena rame terus, jadi asik lah!

27. Foto pre wed di Braga
Sudah tentu kawasan kota tua Bandung ini mantep bwt background foto.. datangi!

28. Bergaul di Jatinangor!
Rasakan kehidupan khas kampus, dengan gigs music yang macem2 dan eksklusif, tempat makan dan perpustakaan yang yummy.

29. Nrebus telor di Kawah Domas Gn.Tangkuban Parahu
Asik lah, selain kawah ratu yang amazing, kawah ini juga seru. Ati2 kalo ujan licin bro..

30. Stroberi-an di Ciwidey
Turut berduka cita atas musibah longsor kemarin, semoga Ciwidey tetep rame, karena asik banget. Kebon Stroberi petik sndiri bisa ditemukan banyak bgt di arah ke kawah putih.

Yang TS kasih Cuma gambaran singkatnya aja, kalo mau info lebih detail bisa tanya disini ato browsing sendiri oke… eh tapi inget ya, kalo datang ke Bandung gak boleh buang sampah sembarangan, dan kalo bisa jangan bikin macet ya… ahahha

yang mau nambahin silahkan!

post ini boleh direpost, tp cantumin link ini yaa

ayo dateng ke Bandung yaaa

sumber : Bandung, Where to Go (oleh Intisari dan Komunitas Aleut!)

Saudagar Tempo Dulu Di Pasar Baru Bandung (pasar Baru-episod dua)


Oleh : Ridwan Hutagalung

Ada banyak kisah menarik di balik Pasar Baru yang masih bisa kita gali. Di antaranya adalah kisah para saudagar Bandung tempo dulu yang tinggal dan menjalankan usaha dagangnya di kawasan ini. Mereka adalah para saudagar yang berasal dari Sunda, Jawa, Palembang, bahkan India dan Arab. Pada umumnya masyarakat menyebut para saudagar Pasar Baru ini dengan sebutan “Orang Pasar”. Salah satu kelompok keluarga besar para saudagar ini mengaku merupakan turunan dari istri ke-4 Pangeran Diponegoro yang dibuktikan dengan pohon silsilah yang masih disimpan oleh salah satu keluarga.

Peristiwa Perang Dipenegoro (1825-1830) juga menyisakan sebuah cerita lain. Konon akibat dari peperangan itu banyak orang Tionghoa yang berpindah ke berbagai tempat, di antaranya ke Bandung. Konon pula Daendelslah yang memaksa mereka datang ke Bandung melalui Cirebon sebagai tukang perkayuan (ingat kisah Babah Tan Long yang memunculkan nama jalan Tamblong) dan dalam upaya menghidupkan perekonomian di pusat kota dekat Grotepostweg. Daerah hunian para pendatang baru ini berada di Kampung Suniaraja (sekitar Jalan Pecinan Lama sekarang) yang berada di depan Pasar Baru. Dengan begitu kampung ini menjadi lokasi pemukiman Tionghoa pertama di Bandung. Hingga tahun 1840, tercatat hanya 13 orang Tinghoa saja yang bermukim di Bandung. Pada tahun yang sama terdapat 15 orang Tionghoa yang bermukim di Ujungberung. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan kawasan pemukiman kaum Tionghoa yang lebih banyak diarahkan ke sebelah barat pemukiman lama, yaitu di belakang Pasar Baru. Karena itu lokasi pemukiman Tiongoa pertama ini kemudian mendapatkan sebutan Pecinan Lama (Chinesen Voorstraat).

Di sekitar Pasar Baru juga masih tersebar banyak sisa bangunan lama yang menjadi saksi perkembangan Pasar Baru. Kebanyakan bangunan berada dalam kondisi kurang terawat walaupun masih dipakai oleh pemiliknya sebagai rumah tinggal atau toko. Sebagian lainnya malah tampak sangat kumuh seperti menunggu waktu untuk rubuh. Sedikit saja bangunan yang masih terpelihara dengan baik. Bila jeli memperhatikan keadaan sekitar, kita masih bisa menemukan banyak keunikan di kawasan ini seperti, tanda tahun pendirian rumah, plakat nama pemilik rumah ataupun bentuk bangunan yang menyiratkan keadaan masa lalunya. Beberapa tinggalan bangunan bahkan memiliki gaya campuran antara kolonial, Tonghoa dan Islam.

Dari sedikit saja bangunan lama yang masih terpelihara baik, terdapat satu bangunan yang cukup khas karena semua pintunya berwarna hijau sehingga cukup menyolok pandangan. Bangunan bercorak unik ini ternyata juga menyimpan cerita mengenai para perintis perdagangan di Pasar Baru. Perempuan pedagang dari keluarga Achsan yang menghuni rumah ini dulu merupakan perempuan Bandung pertama yang  menumpang pesawat (Fokker KLM) dengan trayek Bandung-Batavia.

Beberapa toko lainnya juga menyimpan sejarah panjang perkembangan Pasar Baru. Seperti Toko Jamu Babah Kuya. Toko Jamu ini didirikan oleh Tan Sioe How di Jl. Pasar Barat, tahun 1910 (ada kemungkinan juga lebih awal, tahun 1800-an). Belakangan, salah satu keturunan Tan Sioe How membuka toko lainnya dengan nama sama di dekatnya (Jl. Pasar Selatan). Bersama-sama dengan dengan keluarga Achsan, Tan merupakan perintis usaha perdagangan di kawasan yang kemudian hari menjadi Pasar Baru. Julukan Babah Kuya didapatkan Tan dari piaraannya yaitu sejumlah kura-kura yang sekarang ini terpajang di tembok ruang tokonya.


Sebagai tujuan wisata kuliner, Pasar Baru tak kurang menariknya. Salah satu usaha yang sudah berlangsung cukup lama adalah Toko Cakue dan Bapia Lie Tjay Tat (sekarang Toko Osin) yang kini berlokasi di Jalan Belakang Pasar. Cakue Pasar Baru ini terkenal karena menggunakan resep tradisional yang masih terus dipertahankan hingga sekarang. Ukuran cakuenya besar-besar dengan rasa yang gurih dan renyah. Selain itu juga tersedia Bubur Kacang Tanah yang unik. Jenis makanan istimewa yang terakhir ini memang tidak terlalu mudah didapatkan di Kota Bandung. Ada juga warung es goyobod dengan nama Goyobod Kuno 1949 di Jalan Pasar Barat. Pengusaha goyobod ini merupakan salah satu keluarga perintis usaha es goyobod di Bandung. Sebagian warga Bandung tentunya juga masih mengingat gado-gado Bi Acim, sate gule Abah Odjie, atau Mie Kocok Subur.

Selain para pedagang Sunda, Jawa dan Sumatera, beberapa kelompok masyarakat lain juga berkumpul di sini seperti orang-orang India di kawasan kecil yang bernama Gang Bombay. Sejumlah warga Arab yang sebelumnya menempati area ini sekarang sudah tersebar ke berbagai kawasan lain di Bandung.

Mungkin sebagian warga Bandung masih dapat mengingat masa kecilnya dulu saat orang tua berjanji untuk membelikan baju atau sepatu baru bila naik kelas. Di mana belanjanya? Tentu saja, di Pasar Baru…

Foto dan tulisan oleh Ridwan Hutagalung

pernah dimuat di : mahanagari.multiply.com

Cerita dari Pasar Tertua di Bandung (Bagian pertama)

Oleh :  Ridwan Hutagalung

Siapa tak kenal Pasar Baru Bandung? Gedung pasar dengan bangunan modern ini terletak di Jalan Oto Iskandar Dinata (dulu Pasar Baroeweg). Bangunan yang sekarang berdiri ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai serta diresmikan oleh Walikota Bandung pada tahun 2003. Sebelum berdirinya bangunan modern bertingkat dengan kompleks pertokoan ini, Pasar Baru masih dikenal sebagai pusat perbelanjaan dengan konsep pasar tradisional. Sayang konsep ini sekarang sudah hilang dari Pasar Baru dan hanya tersisa di kawasan sekitarnya saja karena berganti dengan model Trade Centre yang belakangan populer. Pembangunan gedung modern berlantai 11 ini (termasuk basement dan lahan parkir) menelan dana lebih dari 150 milyar. Pada masa perencanaan dan pembangunan awalnya cukup sering terjadi demonstrasi yang menentangnya.

Pasar Baru merupakan pasar tertua di Kota Bandung yang masih berdiri. Sebelumnya, pasar ini sebetulnya merupakan lokasi pengganti pasar lama di daerah Ciguriang (sekitar pertokoan Kings, Jalan Kepatihan sekarang) yang terbakar akibat kerusuhan Munada pada tahun 1842. Di sekitar kawasan Kepatihan memang masih dapat ditemukan ruas jalan kecil bernama Ciguriang.

Munada adalah seorang Cina-Islam dari Kudus yang tinggal di Cianjur. Setelah pindah ke Bandung Munada mendapatkan kepercayaan dari Asisten Residen saat itu, Nagel, untuk pengadaan alat transportasi kereta angkutan. Namun ternyata Munada berperangai buruk dan menyelewengkan uang kepercayaan dari Nagel untuk berfoya-foya, mabuk, dan main perempuan hingga akhirnya dia dipenjarakan dan disiksa oleh Nagel. Akibatnya Munada mendendam dan dengan bantuan beberapa orang lainnya membakar Pasar Ciguriang. Saat kerusuhan terjadi Munada menyerang Asisten Residen Nagel dengan golok hingga terluka parah dan meninggal keesokan harinya.

Untuk menampung para pedagang yang tercerai-berai serta aktivitas pasar yang tidak teratur, maka pada tahun 1884 lokasi penampungan baru mulai dibuka di sisi barat kawasan Pecinan. Kawasan inilah yang kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru.

Pada masa ini sebetulnya sudah ada beberapa usaha perdagangan yang tersebar di sekitar Pasar Baru. Sebagian dari generasi penerus pertokoan ini masih melanjutkan usaha dagang kakek-buyutnya sampai sekarang. Beberapa nama pengusaha terkenal dari masa lalu itu sekarang terabadikan menjadi nama-nama jalan di sekitaran Pasar Baru (H. Basar, Ence Ajis, H. Durasid, H. Pahruroji, Soeniaradja, dll).

Pada tahun 1906 barulah didirikan bangunan baru yang semi permanen. Pada bangunan baru ini, jajaran pertokoan berada di bagian paling depan dan di belakangnya diisi oleh los-los pedagang. Bangunan ini kemudian dikembangkan pada tahun 1926 dengan dibangunnya kompleks pasar permanen yang lebih luas dan teratur. Pada bangunan baru ini terdapat dua buah pos yang mengapit jalan masuk menuju kompleks Pasar Baru. Selain sebagai gerbang masuk, kedua pos ini dipergunakan juga sebagai Kantor Pengelola Pasar dan Pos Jaga Polisi. Atap limas pada kedua pos ini sangat unik karena memakai bahan lembaran karet semacam ebonit yang dipasang secara diagonal dan hanya digunakan untuk menara pasar. Sayangnya ciri khas menara dan bahan atap itu sudah tidak bisa lagi ditemukan di Bandung akibat dari program peremajaan pasar kota Bandung pada tahun 1970an.

Pasar Baru Bandung sempat menjadi kebanggaan warga kota karena meraih predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda pada tahun 1935. Perombakan yang dilakukan pada tahun 1970an membuat bangunan pasar menjadi gedung modern bertingkat yang tidak menyisakan lagi bentuk bangunan lamanya, walaupun konsep pasar tradisional masih dapat dipertahankan. Setelah ini perombakan berikutnya dilakukan pada tahun 2001 hingga menjadi bentuknya yang dapat kita lihat sekarang.

Bila kita berdiri di atas jembatan penyebrangan di atas Jalan Oto Iskandar Dinata, kita dapat melayangkan pandangan lepas ke arah utara, kawasan perbukitan Bandung Utara yang nampak padat oleh pemukiman dan gedung-gedung. Di bawah kita adalah keramaian Jalan Oto Iskandar Dinata, persis di depan Pasar.  Ke arah timur, tampak deretan gedung dan toko di Jalan ABC yang semrawut oleh plang-plang nama toko atau iklan-iklan yang sangat tidak teratur. Di selatan adalah ruas Jalan Oto Iskandar Dinata yang padat memanjang hingga Tegallega (nama lamanya adalah Pangeran Soemedangweg). Sedang di barat, Jalan Pasar Selatan, tampak beberapa bangunan tua berarsitektur campuran antara kolonial dan Cina. Pemandangan Kota Bandung yang lebih luas dapat terlihat dari atas puncak gedung Pasar Baru.
bersambung…

(Tulisan ini pernah dimuat di mahanagari.multiply.com)