Ke Timur: Kereta Api, Ubi, Radio, sampai Candi

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Saya senang karena selalu ada cerita berbeda di setiap Momotoran. Diawali dengan keberangkatan yang agak siang dan perjalanan yang mengarah ke timur, terasa asing karena biasanya jalur selatan yang selalu menjadi jalur utama setiap kali momotoran.

Tema momotoran kali ini adalah Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari. Sabtu, 30 Januari 2021, saya bersama teman-teman ADP 2020 menyambangi beberapa tempat yang berkaitan dengan jejak jalur Kereta Api Bandung-Tanjungsari yang sudah lama tidak aktif. Kami berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut melalui jalur yang sering saya sebut sebagai jalur neraka, karena kemacetannya yang selalu menguji kesabaran, Jalan Soekarno Hatta lalu Cibiru-Cileunyi-Jatinangor.  

Atas: Plang Makam
Bawah: Jembatan Cincin diambil dari pemakaman
Foto: Inas Qori Aina

Tempat pertama yang kami tuju adalah Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor. Jembatan ini biasanya hanya saya pandangi dari kampus tempat saya berkuliah. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di atas jembatan ini. Bukan Cuma berjalan di atasnya, tapi kami pun menyempatkan untuk turun ke bawahnya dan mengamatinya dari area persawahan. Di bawah sini ada sebuah permakaman kecil yang katanya ada makam keramatnya, tapi entah makam yang mana. Dari pemakaman kecil ini kami dapat melihat secara utuh konstruksi jembatan itu.

Cukup lama kami eksplorasi di sekitar Jembatan Cincin Cikuda, sesekali kami juga menyimak berbagai informasi dan cerita yang disampaikan. Berikutnya, kami berangkat lagi menuju titik selanjutnya, yaitu Jembatan Cincin Kuta Mandiri. Untuk menuju jembatan ini kami melalui jalan perdesaan dengan pemandangan sawah yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Jembatan ini terletak di tengah Desa Kuta Mandiri, Tanjungsari, sehingga tak heran masih menjadi jalur utama mobilitas warga desa. Ketika kami tiba di sana kami pun harus berhati-hati karena banyaknya kendaraan yang melintas di jembatan ini.

 Jembatan Cincin Kuta Mandiri Foto: Inas Qori Aina

Bentuk jembatan ini mirip dengan Jembatan Cincin Cikuda. Bedanya, di jembatan ini masih dapat dijumpai semacam tempat yang dulu digunakan untuk minggir (safety area) di saat kereta api melintas.

Setelah mendapatkan cerita tentang sejarah jembatan ini, kami bergegas menuju bekas Stasiun Tanjungsari. Bangunan bekas stasiun tersebut kini terletak di tengah permukiman warga yang cukup padat. Hanya sedikit peninggalan yang dapat saya lihat, yaitu papan nama stasiun serta bangunan bekas peron stasiun yang kini digunakan entah sebagai rumah atau taman kanak-kanak. Menurut Pa Hepi, bagian depan dari Stasiun Tanjungsari kini sudah tidak tersisa lagi.

Yang tersisa dari bekas Stasiun Tanjungsari foto: Inas Qori Aina

Tidak jauh dari Stasiun Tanjungsari, terdapat viaduct Tanjungsari yang dibangun melintasi Jalan Raya Pos. Bentuknya mirip dengan viaduct yang berada di Bandung. Hanya saja, Viaduct Tanjungsari tampak lebih sederhana dan lebih pendek.

Dari Tanjungsari kami melanjutkan perjalanan ke Citali. Saya dan teman-teman berhenti di pinggir jalan untuk memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki, ngaleut, menuju area persawahan milik warga sana. Siapa sangka, di tengah area sawah milik warga terdapat dua buah struktur bekas fondasi jembatan yang tidak selesai dibangun. Kami hanya memandangi struktur tersebut dari kejauhan, karena tidak berani melintasi jembatan kayu kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang terlihat tenang tapi mungkin cukup dalam.

Jembatan kayu menuju bekas jembatan kereta api di Citali Foto:Inas Qori Aina

Perjalanan ini tidak cukup sampai di Citali, dan bukan hanya tentang kereta api. Satu yang tak kami lewatkan yaitu untuk mampir ke sentra ubi Cilembu yang berada di Desa Cilembu. Ketika memasuki gapura desa tampak kebun ubi yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Kami pun menyempatkan untuk mampir ke sebuah warung ubi Cilembu milik seorang warga lokal. Di sini kami berbincang mengenai asal mula berkembangnya ubi Cilembu hingga menjadi oleh-oleh yang terkenal saat ini.

Kebun ubi Cilembu Foto: Inas Qori Aina

Oleh-oleh ubi Cilembu telah kami kantongi, saatnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Perjalan pulang kami melewati jalur yang berbeda dengan saat kami berangkat. Perjalanan kami melewati Parakan Muncang dan melewati jalur Cicalengka-Rancaekek. Di tengah jalan raya Rancaekek tampak plang yang tidak telalu besar bertuliskan “Situs Candi Bojong Menje”. Untuk menuju situs candi tersebut kami harus memasuki sebuah gang yang cukup kecil. Saya tak habis pikir ketika tiba di sini. Konstruksi batuan candi hanya dilindungi oleh sekeliling pagar yang sudah karatan serta atap yang rusak.

Berbincang dengan Pak Ahmad, kuncen Candi Bojong Menje Foto: Komunitas Aleut

Di sini kami berbincang dengan penjaga candi yaitu Pak Ahmad. Ia menceritakan bagaimana awal mula penemuan situs ini serta kemungkinan masih adanya struktur candi lain yang kini berada di tengah bangunan pabrik.

Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah bangunan bekas Stasiun Penerima Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Kata Pa Hepi, bangunan tersebut kini digunakan sebagai bengkel entah oleh siapa dan masih dimiliki oleh PT Telkom.

Waktu semakin petang, kami mengejar waktu agar sempat untuk melihat satu lagi candi yang masih terletak di Kabupaten Bandung. Beruntungnya, matahari masih mau menemani kami sehingga saat kami tiba keadaan belum terlalu gelap. Candi terakhir yang kami singgahi adalah Candi Bojongemas. Keadaan di sini justru lebih parah daripada Candi Bojong Menje. Papan informasi sudah berkarat dengan tulisan yang tidak cukup jelas. Batuan candi pun hanya dikelilingi oleh pagar kayu yang sangat rentan untuk rusak.

Keadaan di sekitar Candi Bojongemas Foto: Inas Qori Aina

Hanya sebentar kami melakukan pengamatan, keadaan pun semakin gelap. Tandanya perjalanan kami hari itu selesai, dan harus segera pulang. Di perjalanan pulang, pikiran saya tak karuan merenungkan pengalaman dari perjalanan Momotoran ke kawasan timur yang baru saja saya lalui, seperti yang tidak asing karena sering dilalui, tapi ternyata punya banyak peninggalan masa lalu yang rasanya tidak terlalu populer dan jarang dibicarakan orang…

***

Momotoran Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke,

Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang.

Saya tak mengira bahwa Bandung Timur menyimpan kepingan sejarah masa lalu, dari mulai perkebunan, kereta api, hingga candi. Ternyata banyak juga bahan pembelajaran di sini dan saya mendapatkan sebagiannya ketika hari Sabtu lalu, 30 Januari 2021, saya mengikuti kegiatan momotoran bersama Aleut Development Program 2020.

Tema utama momotoran ini sebenarnya menyusuri jejak jalur kereta api mati antara Bandung-Tanjungsari. Tapi di bagian akhir, ada beberapa bonus yang mengejutkan.

Jembatan Cincin Cikuda

Lokasi pertama yang kami datangi yaitu Jembatan Cincin yang terletak dekat Jalan Raya Pos dan kampus Unpad. Setelah melewati satu jalur jalan sempit, kami tiba di atas bekas jembatan kereta api yang masih berdiri kokoh, seperti tak tergerus oleh waktu. Arah timur dari jembatan ini terlihat Gunung Geulis, namun sayang pemandangan tersebut terhalang gedung tinggi. Di sekitar jembatan pun terlihat tidak terawat, banyak tumpukan sampah di sana-sini.

Kereta api sedang melintasi Jembatan Cincin Cikuda, di belakangnya terlihat Gunung Geulis. Foto: nationaalarchief.nl

Lalu kami berjalan menuju bagian bawah jembatan, di sana terdapat komplek permakaman warga lokal. Dari bawah sini terlihat jelas bentuk jembatan, lingkaran bawah jembatan memang terlihat seperti cincin, mungkin itu sebabnya jembatan ini dinamai Jembatan Cincin. Eksplorasi di sekitar jembatan ini tidak terlalu lama karena kami akan bergerak menuju lokasi berikutnya.

Baca lebih lanjut

Membangun Sistem Sosial yang Mumpuni dalam Menghadapi Wabah

Ditulis oleh: Lenny Martini

Sistem sosial yang baik adalah satu di antara banyak hal penting yang perlu kita usahakan dalam menghadapi wabah saat ini. Sebagai anggota masyarakat, kita dapat ikut membangun sistem sosial yang baik dengan saling bantu menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menghadapi dan melewati wabah ini.

Mari kita mulai dengan memahami apa itu sistem sosial. Dalam bidang sosiologi, sebenarnya banyak sekali sosiolog yang mengemukakan definisi mengenai sistem sosial, berdasarkan kepakaran, fokus penelitian, dan konteks situasi sosial yang diamati di sekeliling mereka. Namun, secara sederhana kita bisa memahami sistem sosial sebagai jaringan interaksi antara aktor. Aktor yang dimaksud bisa individu dengan individu, bisa individu dengan keluarga, bisa antar keluarga, keluarga dengan masyarakat kota, antar masyarakat kota, masyarakat kota dengan negara, antar negara, dan seterusnya, seperti terlihat pada gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1. Sistem sosial

Konsep penting dari sistem sosial adalah bagaimana interaksi ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih daripada potensi masing-masing dari aktor ini. Dalam bahasa Inggris istilahnya,  the whole is more than the sum of its part, atau 1+1 > 2. Peribahasa Indonesia yang sesuai untuk sistem sosial ini adalah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pengertian wabah menurut Undang-undang nomor 4 tahun 1984 adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan bahaya atau bencana. Wabah dapat dibedakan menjadi epidemi, endemik, dan pandemik sesuai panduan dari kbbi sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

Kisah Legenda dan Mitos Terkait Wabah

Legenda dan mitos merupakan bentuk cerita rakyat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Sedangkan mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa, dan mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Terkadang pengertian antara legenda dan mitos kerap dicampuradukkan. Namun, sebenarnya ada beberapa perbedaan antara legenda dengan mitos. Perbedaan yang cukup mendasar adalah pada tokoh utama pelaku, waktu kejadian, dan kedudukannya sebagai cerita rakyat. Jika tokoh dalam mitos adalah dewa atau manusia setengah dewa, dan peristiwanya terjadi dalam masa ketika alam dunia belum terbentuk, atau dalam proses terbentuknya alam semesta, maka tokoh dalam legenda adalah manusia biasa dan terjadi setelah dunia tercipta. Perbedaan lainnya antara legenda dan mitos adalah kedudukan cerita mitos dianggap memiliki nilai sakral/kisah suci dan dipercaya kebenarannya oleh satu suku bangsa.

Kedudukan mitos sebagai kisah yang sakral dan suci biasanya didukung oleh penguasa dan pemuka agama atau orang yang dianggap suci dalam masyarakat itu. Dalam beberapa mitos yang memiliki keterkaitan dengan wabah dapat dilihat peran dan keterlibatan para pemuka agama atau orang yang dianggap memiliki kelebihan tertentu.

Tulisan mengenai mitos wabah di sini dibatasi hanya mengenai kisah mitos di lingkungan daerah Sunda, dan khususnya dari masa penyebaran Islam hingga mitos-mitos yang tetap hidup di masa modern.  

Dalam cerita rakyat atau folklore dapat ditemukan nilai-nilai kebajikan, keberanian, kejujuran, kekuatan tekad, kesabaran, keikhlasan, dan pelajaran bahwa kesabaran akan membuahkan hasil, dan bahwa kebajikan akan mampu mengatasi kejahatan. Tujuan lain yang bisa diperoleh dari cerita legenda dan mitos adalah mempelajari dan mengerti bagaimana reaksi masyarakat dalam menghadapi wabah penyakit di masa lalu.

Baca lebih lanjut

Perjalananku adalah Pengalamanku

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020.

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Waktu menunjukkan persis pukul sebelas malam. Sebagian dari kami, termasuk aku. telah sampai di Sekretariat Komunitas Aleut di Pasirluyu Hilir No. 30. Tidak ada yang aku inginkan selain turun dari motor dan segera merebahkan diri di dalam rumah.

Aakhhhh!!! Teriakku sambil melepas penat dan lelah bekas perjalanan panjang.

Tidak lama aku merebahkan badan yang terkoyak-koyak oleh medan perjalanan yang tidak biasa aku lalui. Aku segera bangkit membuat segelas kopi panas agar energiku sedikit kembali pulih.

Akhirnya aku berhasil melewati perjalanan yang mengerikan tersebut, melalui perjalanan panjang yang baru kali ini aku tempuh, membelah pegunungan dengan medan yang cukup menantang, berjalan bersama pantai dengan ketinggian suhu yang tidak biasa kulitku rasakan, dan masih banyak hal yang sebetulnya ingin aku ceritakan andai ruang ini tidak dibatasi.

Meskipun rasa lelah menguasai diri, namun tidak lantas menjadi penghalang bagi kami untuk saling bertukar cerita tentang perjalanan yang baru kami lalui. Kami pun larut dalam persilangan kisah.

Masih terasa hangat dalam benak tentang perjuangan tim ADP-2020 dalam proses pembelajaran kali ini, lewat salah satu programnya yaitu momotoran. Tujuan momotoran kali ini berbeda dari sebelumnya, pada kesempatan ini kami harus menempuh jarak lebih dari tigaratus kilometer antara Bandung-Rancabuaya dan kembali ke Bandung melewati rute yang bebeda, Rancabuaya-Gunung Gelap-Garut-Nagrek- Pasirluyu Hilir.

Berselfie sambil mobile. Foto: Rani.

Banyak hal yang dapat kuambil dari perjalanan momotoran susur Pantai Selatan kali ini. Tapi ingatanku masih terpaku di Gunung Gelap yang beberapa jam ke belakang baru kami lewati. Suasana mencekam sebagaimana yang tersebut dalam dongeng Gunung Gelap sepertinya sudah hilang, mungkin karena sudah banyak kendaraan bermotor yang lalu-lalang, sehingga mengurangi nilai keangkeran Gunung Gelap. Berbeda suasananya ketika kami melewati Gunung Tilu dua minggu lalu. Walaupun jaraknya lebih pendek, namun suasana di sana masih terasa mencekam, sambil waswas bahaya begal pula. 

Baca lebih lanjut

Kampung Kahuripan di Perkebunan Cukul

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020.

Ditulis oleh : Deuis Raniarti

Selalu ada yang pertama kali dalam hidup, seperti pertama kali menangis, pertama kali bisa mengayuh sepeda, atau pertama kali mencicipi buah lemon. Minggu, 8 November 2020 adalah pertama kalinya saya ke Rancabuaya. Saya ke sana dalam rangka Momotorannya Aleut Development Program angkatan 2020. Ada sepuluh orang peserta yang ikut. Hari cukup cerah saat kami melewati Banjaran, Cimaung, Pangalengan, sampai ke Perkebunan Cukul.

Dalam Momotoran kali ini motor yang saya tumpangi tidak menjadi leader, melainkan berada di urutan kedua. Leader dalam perjalanan ini adalah Adit yang ditemani Inas. Adit memacu motor dengan cukup cepat tanpa ragu. Pemberhentian pertama kami adalah Tugu Perintis Cimaung untuk mengetahui peristiwa apa yang diperingati oleh pendirian tugu itu.

Tugu Perintis Cimaung. Foto: Rani.

Dalam perjalanan ini saya baru menyadari betapa luasnya Perkebunan Teh Pasirmalang. Pada Momotoran lalu, kami juga ke Pasirmalang, tapi di bagian dalamnya, itu pun dalam keadaan hujan besar serta kabut yang tebal. Jalanan mulus di perkebunan ini terasa menyenangkan sekali. Ada banyak kelompok pengendara lain juga di jalur ini, mungkin menuju berbagai tempat wisata yang semakin banyak tersebar di kawasan ini.

Baca lebih lanjut

Menuju Pakidulan, Mengunjungi Selatan Jawa

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Aditya Wijaya.

Minggu, 8 November 2020 ini, Komunitas Aleut mengadakan kegiatan momotoran lagi. Kali ini tujuannya adalah pantai selatan. Oya, seperti momotoran dua minggu lalu, momotoran ini pun diadakan sebagai bagian kegiatan pembelajaran Aleut Development Program.

Memulai perjalanan momotoran kali ini terasa berbeda, karena saya harus menjadi leader dalam perjalanan ini. Leader adalah pemimpin posisi motor saat momotoran. Ternyata sulit menjadi leader itu. Selain sebagai penunjuk jalan, leader juga harus selalu fokus dan memeriksa keadaan rombongan di belakang, agar semuanya terkendali dan aman.

Tempat pertama yang kami singgahi adalah Tugu Perintis Soekarno di Cimaung. “Ternyata Soekarno pernah datang ke sini,” ucap saya dalam hati. Tugu ini didirikan untuk memperingati peristiwa Soekarno ketika memberikan kursus politik di Cimaung. Lokasi tugu ini sangat strategis, berada di pertigaan Jalan Cimaung-Puntang.

Ilustrasi Soekarno sedang memberikan kursus politik di Cimaung. Foto: Reza Khoerul Iman.

Kami melanjutkan perjalanan menuju selatan. Sempat menemui macet di sekitar PLTU Cikalong, namun sejauh ini perjalanan cukup lancar. Kami melewati situ Cileunca dan melihat sekelompok wisatawan yang sedang melakukan arum jeram.

Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan Pantai Selatan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Melelahkan dan mengasyikkan, Itulah kesan Momotoran kedua yang kurasakan bersama ADP-20 Komunitas Aleut. Melelahkan karena panjangnya rute yang harus dilalui, mengasyikkan karena banyak sekali pengalaman dan hal-hal baru yang kulihat dan kualami. Sesuai dengan rencana, Momotoran kali ini (Minggu, 8/11/2020) akan menyusuri Pantai Selatan. Rute keberangkatan kami dimulai dari Pasirluyu Hilir (PH) – Dayeuhkolot – Banjaran – Cimaung – Pangalengan – Talegong – Cisewu – Rancabuaya. Sedangkan untuk jalur pulangnya: Rancabuaya – Santolo – Cisompet – Gunung Gelap – Batu Tumpang – Cikajang – Kota Garut – Leles – Nagreg – Cileunyi – Cibiru – PH.

Kami berangkat sekitar pukul tujuh tigapuluh pagi. Kemacetan dan kerumunan adalah pemandangan yang banyak kulihat di perjalanan pergi dan juga pulang. Pada saat berangkat, dari mulai Dayeuhkolot hingga Banjaran tampak rutinitas masyarakat yang umumnya dilakukan setiap hari Minggu pagi, seperti bersepeda, berbelanja, ataupun sekadar bersantai di kawasan Alun-alun. Di Cimaung, kami berhenti di salah satu tempat bersejarah, yaitu Tugu Perintis Kemerdekaan atau disebut juga Tugu Cimaung. Tugu ini didirikan dan diresmikan pada tahun 1932 dan dipelopori oleh Sukarno yang pada saat itu pernah singgah di Desa Cimaung untuk  memberikan pelajaran politik bagi warga desa Cimaung. Terdapat imbauan untuk tidak memasang spanduk ataupun baligo di area Tugu Cimaung. Imbauan hanya sekedar imbauan. Dapat dilihat beberapa spanduk dan baligo terpampang di sekitar area tugu. Mengapa bisa demikian? Entahlah.

Spanduk dan baligo yang terpampang di area Tugu Cimaung. Foto: Inas. Qori Aina

Di Pangalengan, aku menemukan hal menarik yaitu pada angkutan kota atau angkot yang model pintunya berbeda dengan angkot yang selama ini kulihat di sekitar kota Bandung. Angkot berwarna kuning dengan trayek Banjaran-Pangalengan ini pintunya terletak di bagian belakang mobil dan selalu dalam keadaan terbuka. Model pintu seperti itu membuatku berpikir apakah tidak bahaya untuk para penumpangnya? Apalagi dengan jalur Pangalengan yang relatif menanjak dan cukup curam. Entahlah.

Baca lebih lanjut

300 km Away, Bandung-Rancabuaya

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

Minggu, 08/11/2020

Momotoran kali ini kami tempuh dalam waktu sekitar limabelas jam perjalanan, dan rasanya ramai, seperti Nano-nano.

Here we go

Seperti biasa, kami mengawali perjalanan dari sekretariat Komunitas Aleut di Pasirluyu Hilir No. 30. Jalur yang kami ambil ke arah selatan, yaitu melalui Batununggal, Moch. Toha, Dayeuhkolot, Banjaran, Pangalengan, dan seterusnya. Perjalanan kali ini dipimpin oleh Adit sebagai penunjuk jalan yang sepertinya sudah sangat hafal dengan jalur yang akan kami lewati.

Tidak banyak tempat yang kami singgahi mengingat waktu yang terbatas karena perjalanan ini harus kami selesaikan dalam waktu satu hari. Dan kami berhasil, yeay!! Berangkat pada pukul 07.45 dan kembali pada pukul 23.05. Jika kau bertanya apakah kami lelah? Oh tentu saja, setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Ketika aku melihat diriku sendiri di cermin, terlihat kerudung yang sudah berantakan, muka kusam dengan lingkaran di bawah mata yang sangat hitam, oh tidak. Tapi meskipun begitu, banyak momen yang lucu dan menyenangkan ketika kami ceritakan kembali.

Pemberhentian pertama kami yaitu di Tugu Perintis Kemerdekaan yang berlokasi di Kecamatan Cimaung. Tugu ini terletak di pertigaan antara Jl. Raya Pangalengan dan Jl. Gunung Puntang. Di lokasi inilah Ir. Soekarno pernah memberikan kuliah politiknya kepada masyarakat mengenai kemerdekaan. Menurut plakat yang terdapat di dekat tugu, ada sekitar seratus orang yang menjadi peserta kuliah tersebut. Bisa dibilang tempat ini adalah tempat yang membantu terwujudnya kemerdekaan Indonesia karena masyarakat menjadi tersadarkan akan pentingnya kemerdekaan setelah mengikuti kuliah tersebut. Namun sekarang tugu ini hanya terasa seperti patok penanda jalan biasa, bahkan imbauan untuk tidak memasang spanduk dan baliho di sekitaran tugu tidak digubris sama sekali. Baca lebih lanjut

Pengenalan Kawasan Perkebunan di Pangalengan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman.

Momotoran merupakan salah satu kegiatan regular Komnuitas Aleut untuk mengobservasi sejarah suatu tempat. Pada tanggal 24 Oktober 2020, tim peserta pelatihan Aleut Program Development (APD) angkatan 2020 mendapat kesempatan pertama kalinya untuk momotoran ke kawasan Pangalengan. Tujuannya adalah untuk mengobservasi jejak-jejak perkebunan tempo dulu dan beberapa tokohnya.

Untuk Tim APD 2020, ini adalah pengalaman baru momotoran dengan total memakan waktu sekitar 13 jam. Namun, bagi sebagian angkatan lama, ini mungkin kegiatan momotoran yang sudah kesekian puluh kalinya mengunjungi kawasan Pangalengan. Meskipun telah sering kali momotoran, tetapi mereka selalu mendapat hal yang baru lagi dari setiap perjalanannya, karena itu tidak ada kata bosan dalam melakukannya.

Banyak hal yang didapat oleh Tim APD 2020 dari hasil momotoran ini. Bukan hanya sebatas kisah tentang K.A.R Bosscha serta perkebunannya, namun juga pelatihan untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Skill berkomunikasi dan kemampuan berinisiatif setiap individu juga dilatih secara tidak langsung. Melalui program momotoran ini juga dilatih kemampuan secara kelompok, seperti kemampuan berkoordinasi dan mengorganisir suatu kelompok.  Terasa program momotoran di Komunitas Aleut ini sangat banyak sekali manfaatnya, baik untuk diri sendiri maupun untuk khalayak umum. Tapi ya, semua akan kembali kepada tujuan masing-masing, apakah orang tersebut ikut hanya untuk sekadar liburan mengisi kekosongan waktu, ataukah malah hanya sekadar untuk menemukan sang pujaan hati?

Di rumah Bosscha. Foto: Reza Khoerul Iman.

Pada pertemuan hari Kamis sebelumnya, terlihat semua kebutuhan dan keinginan masing-masing peserta telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Pembagian tugas dalam momotoranpun sudah dipersiapkan, sampai setiap orang sudah ditentukan partnerperjalanannya untuk memenuhi kelancaran komunikasi dan keaktifan semua individu. Awalnya Pak Alex berpasangan dengan Madiha, begitu juga Pak Hepi berpasangan dengan Agnia, namun ketika bergabung dengan saya dan Annisa yang menunggu di Alun-alun Banjaran, terjadi perubahan komposisi. Ternyata ini bertujuan untuk melatih komunikasi sesama anggota baru.

Baca lebih lanjut