Bandrek, Bajigur, Bioskop Tug Nepi ka Saur di Bandung Baheula

Dayeuh Bandung taun 1920-an, atawa keur mangsa rust in orde, mimitian menyat jadi kota gede tapi aya sababaraha kabiasaan nu bisa dijadikeun tanggara wanci dina mangsa bulan Syiam.

Bandrek, Bajigur Kalapa Cina

Baheula mah cenah nu dagang bajigur jeung bandrek teh masing-masing dagangna teh. Teu cara ayeuna, bandrek jeung bajigur rerendengan ngajadi hiji dina hiji tukang dagang.  Sok aya geningan paribasa pajarkeun teh, “bandrek bajigur, budak pendek gede bujur,” atawa “bajigur bandrek, kalapa Cina, budak pendek teu dicalana.”

Ieu mah cenah di taun lilikuran, nu dagang bandrek jeung bajigur teh dagang sewang-sewangan. Ampir sarua we ari nu dijualna mah cara ayeuna meh kabeh kukuluban kumplit tea kayaning kulub boled, cau, sampeu, suuk, jagong. Tapi aya nu ngabedakeun dagangan tukang bandrek jeung bajigur. Cenah baheula mah kajaba dagangan kukuluban nu tadi geus disebutkeun di tukang bajigur, urang bakalan nimu katimus, ari nu khas di tukang bandrek mah rarawuan. Jadi baheula mah moal manggih nu dagang bandrek ngajual katimus atawa kitu sabalikna. Baca lebih lanjut

Wyata Guna dalam Tanya

Denyut di jantungmu kota
Pusat gelisah dan tawa
Dalam selimut debu dan kabut
Yang hitam kelam warnanya
Sejuta janjimu kota
Menggoda wajah-wajah resah
Ada di sini dan ada di sana
Menunggu di dalam tanya

(Balada Sejuta Wajah-God Bless)

Saya masih mengingat dengan jelas, saat duduk di kelas dua SMP, pernah meminta kepada seorang kawan untuk dibuatkan gambar logo band God Bless. Kawan tersebut memang pandai menggambar, matanya awas dan mampu menangkap bentuk dengan baik, untuk kemudian digambarkan di atas kertas. Saya tak mampu membuat karya seperti itu. Setiap dia menggambar, saya selalu memperhatikan dengan takjub.

Dia sering menggambar segala hal tentang band rock Inggris, Queen. Mulai dari logo hingga gambar personilnya. Lewat dia, saya kemudian lebih mengenal Queen. Setiap bertandang ke tempat tinggalnya, saya mendengar lagu-lagu Queen dari tape-nya. Baca lebih lanjut

Minggu Berfaedah: Pagi dan Trotoar Jl. Homan

Barangkali, siang hanyalah cara langit menghangatkan sepi. Selepas pagi, berlari dari gelap yang sunyi. Meski nanti akhirnya kembali lagi; pada sepi. –Rohmatikal Maskur

Oleh: Qiny Shonia (@inshonia)

Sempat bingung dengan apa yang harus diabadikan saat #ngaleutmerekamkota kemarin, perhatian saya tertuju pada Jl. Homan. Jalanan kecil yang sedikit terlihat berbeda dibanding jalan-jalan di sekitar kawasan Asia Afrika yang cukup padat dan ramai. Meski matahari pagi cukup hangat, Homan terlihat teduh dari seberang. Baca lebih lanjut

Event #MAPMYDAY, cara beda memperingati Hari Disabilitas Internasional

Event #MAPMYDAY, cara beda memperingati Hari Disabilitas Internasional

Sambutan dari perwakilan penyandang disabilitas netra pada acara pembukaan

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Ada yang sedikit berbeda pada kegiatan ngaleut yang saya ikuti bulan Desember 2017 lalu. Mungkin, ini kali pertama saya mengikuti ngaleut sejarah bersama penyandang disabilitas netra dalam rangka memperingati hari disabilitas internasional yang jatuh pada tanggal 03 Desember lalu. Acara yang diadakan Komunitas Aleut kali ini bekerja sama dengan Komunitas Tune map, salah satu komunitas yang peduli terhadap hak mobilitas tuna netra di Indonesia. Aktivitas utama mereka adalah kampanye dan advokasi terkait trotoar yang aksesibel.

Gedung Wyata Guna yang berada di jalan Padjadjaran jadi titik kumpul ngaleut kali ini. Setelah selesai registrasi ulang, para peserta diarahkan untuk berkumpul di satu titik untuk mendapat briefing awal sebelum acara ngaleut dimulai. Kami dibagi beberapa kelompok bersama 2-3 orang penyandang disabilitas netra tiap kelompoknya. Baca lebih lanjut

S.H. Autobus Dienst, Perusahaan “travel” Milik Tuan Sato Shigeru

S. H. Autobus Dienst, Tuan Sato Shigeru.jpg

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada tahun 1924, koran Jepang berjudul Jawa Nippo menerbitkan sebuah iklan perusahaan “travel” baru bernama S.H. Autobus Dienst yang didirikan di Garut. Pendiri sekaligus pemilik “travel” baru ini ialah Tuan Sato Shigeru yang sebelumnya telah menjadi pemilik Perkebunan Sato Noen. Rute pertama yang dibuka ialah Bandoeng-Garoet.

Lambat laun perusahaan ini memperluas jaringannya di Jawa Barat. Jaringan pertama yang ditambah ialah Bandoeng-Soekaboemi, Garoet-Tjikadjang, Garoet-Pameungpeuk. Selanjutnya dibuka rute Batavia-Soekaboemi dan Bandoeng-Cheribon untuk menyambungkan jalur-jalur sebelumnya. Hingga pada akhir tahun 1927, total jaringan “travel” Tuan Sato sepanjang 557 km! Baca lebih lanjut

Perusahaan Rokok di Hindia Belanda: N.V. Faroka

N.V Faroka Malang (1930-an).jpg

Oleh: Vecco Suryahadi (@VSS)

Pada tahun 1932, Bataviaasch Nieuwsblaad mengeluarkan satu laporan penuh tentang aktivitas N.V. Faroka di Hindia Belanda. Dalam laporan itu diketahui pula bahwa Faroka memenangkan medali emas saat mengikuti acara tahunan di Bandung. Dan perlu diketahui bahwa penghargaan itu didapatkan Faroka hanya setahun setelah N.V. Faroka berdiri.

Tapi siapa sih N.V. Faroka?

Pabrik yang bernama lengkap Naamloose Vennotschap tot Exploitate van Ciggarettenfabrieken Faroka didirikan pada 13 Juni 1931 oleh perusahaan Belgia NV Tobacofina di Malang. Berdirinya pabrik Faroka adalah bentuk pengembangan jaringan internasional NV Tobacofina yang sudah mendirikan pabrik di Belanda, Zaire, dan Swiss. Baca lebih lanjut

Us Tiarsa dan Memoar tentang Bandung

Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda
Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda

 

Oleh: Irfan Teguh (@Irfanteguh)

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) tengah berkecamuk di Jawa Barat, banyak penduduk yang mengungsi ke tempat yang lebih aman, salah satunya ke Kota Bandung. Mereka yang mengungsi ke Kota Bandung itu mayoritas datang dari Tasikmalaya terutama dari Ciawi dan Garut. Bahkan ada juga yang datang dari daerah-daerah dekat seperti Ciparay, Manggahang, dan Dayeuhkolot.

Tahun 1952 seorang bocah melihat banyak tamu datang ke rumah orang tuanya. Ia bertanya kepada bapaknya ihwal siapa tamu-tamu tersebut. Bapaknya menjelaskan bahwa mereka adalah para pengungsi yang menghindari gerombolan DI/TII. Us Tiarsa nama anak tersebut. Ia baru kelas tiga sekolah rakyat waktu itu, tapi sudah senang membaca koran Pikiran Rakyat dan Sipatahoenan.

Kebiasaan Us membaca dua koran itu mendorongnya untuk menulis saat satu peristiwa kedatangan para rombongan ke rumahnya. Ia lalu mengirimkan tulisannya ke redaksi Pikiran Rakyat tanpa memberitahu orang tuanya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: