S.H. Autobus Dienst, Perusahaan “travel” Milik Tuan Sato Shigeru

S. H. Autobus Dienst, Tuan Sato Shigeru.jpg

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada tahun 1924, koran Jepang berjudul Jawa Nippo menerbitkan sebuah iklan perusahaan “travel” baru bernama S.H. Autobus Dienst yang didirikan di Garut. Pendiri sekaligus pemilik “travel” baru ini ialah Tuan Sato Shigeru yang sebelumnya telah menjadi pemilik Perkebunan Sato Noen. Rute pertama yang dibuka ialah Bandoeng-Garoet.

Lambat laun perusahaan ini memperluas jaringannya di Jawa Barat. Jaringan pertama yang ditambah ialah Bandoeng-Soekaboemi, Garoet-Tjikadjang, Garoet-Pameungpeuk. Selanjutnya dibuka rute Batavia-Soekaboemi dan Bandoeng-Cheribon untuk menyambungkan jalur-jalur sebelumnya. Hingga pada akhir tahun 1927, total jaringan “travel” Tuan Sato sepanjang 557 km! Baca lebih lanjut

Iklan

Perusahaan Rokok di Hindia Belanda: N.V. Faroka

N.V Faroka Malang (1930-an).jpg

Oleh: Vecco Suryahadi (@VSS)

Pada tahun 1932, Bataviaasch Nieuwsblaad mengeluarkan satu laporan penuh tentang aktivitas N.V. Faroka di Hindia Belanda. Dalam laporan itu diketahui pula bahwa Faroka memenangkan medali emas saat mengikuti acara tahunan di Bandung. Dan perlu diketahui bahwa penghargaan itu didapatkan Faroka hanya setahun setelah N.V. Faroka berdiri.

Tapi siapa sih N.V. Faroka?

Pabrik yang bernama lengkap Naamloose Vennotschap tot Exploitate van Ciggarettenfabrieken Faroka didirikan pada 13 Juni 1931 oleh perusahaan Belgia NV Tobacofina di Malang. Berdirinya pabrik Faroka adalah bentuk pengembangan jaringan internasional NV Tobacofina yang sudah mendirikan pabrik di Belanda, Zaire, dan Swiss. Baca lebih lanjut

Us Tiarsa dan Memoar tentang Bandung

Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda
Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda

 

Oleh: Irfan Teguh (@Irfanteguh)

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) tengah berkecamuk di Jawa Barat, banyak penduduk yang mengungsi ke tempat yang lebih aman, salah satunya ke Kota Bandung. Mereka yang mengungsi ke Kota Bandung itu mayoritas datang dari Tasikmalaya terutama dari Ciawi dan Garut. Bahkan ada juga yang datang dari daerah-daerah dekat seperti Ciparay, Manggahang, dan Dayeuhkolot.

Tahun 1952 seorang bocah melihat banyak tamu datang ke rumah orang tuanya. Ia bertanya kepada bapaknya ihwal siapa tamu-tamu tersebut. Bapaknya menjelaskan bahwa mereka adalah para pengungsi yang menghindari gerombolan DI/TII. Us Tiarsa nama anak tersebut. Ia baru kelas tiga sekolah rakyat waktu itu, tapi sudah senang membaca koran Pikiran Rakyat dan Sipatahoenan.

Kebiasaan Us membaca dua koran itu mendorongnya untuk menulis saat satu peristiwa kedatangan para rombongan ke rumahnya. Ia lalu mengirimkan tulisannya ke redaksi Pikiran Rakyat tanpa memberitahu orang tuanya. Baca lebih lanjut

Lost In Manteos Dina Hiji Waktos

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

_mg_8721

“Kalau Jerman dulu ngeruntuhin Tembok Berlin, kita malah bangun Tembok Berlin sendiri di kampung”, begitu cerita Kang Edi dari Manteos. Manteos ini bukanlah sebuah daerah di dataran latin sana, nama ini merupakan sebuah kampung yang letaknya hanya sekitar 5 menit berkendara dari Jl. Dago Bandung. Memang di kawasan tersebut terdapat sebuah tembok besar dan memanjang membentengi salah satu bagian kampung. Bedanya, bila Tembok Berlin di Jerman berfungsi untuk memisahkan, Tembok Berlin di Manteos justru berfungsi untuk mempersatukan. Tempat ini merupakan ruang publik yang sering digunakan warga dan anak-anak untuk beraktivitas. Tembok Berlin yang ikonik ini menjadi satu dari sekian banyak hal menarik yang saya temukan saat berkunjung ke Kampung Manteos. Sedikit meminjam branding campaign yang sering disuarakan National Geographic yaitu “let’s get lost”, menjelajahi dan menyesatkan diri pada setiap lekuk dari Kampung Manteos yang bagaikan labirin memberikan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Perkampungan kota di Bandung tentunya bukan hanya Manteos saja, sebelumnya saya bersama dengan Komunitas Aleut pernah juga mengunjungi Cikapundung Kolot yang hilang, Blok Tempe yang revolusional, serta Cibuntu yang ternama. Namun tentu setiap kampung yang kami kunjungi memiliki keunikan yang membawa cerita baru dalam setiap episodenya. Keunikan Kampung Manteos ini terletak dari struktur perkampunganya yang didirikan di Lembah Sungai Cikapundung, sehingga dari kejauhan kampung ini akan terlihat seperti rumah yang bertumpuk. Tampilannya sering digambarkan sebagai Rio De Janeiro-nya Kota Bandung, atau mungkin boleh saja kalau kita sebut Rio De Janeiro Van Bandoeng. Baca lebih lanjut

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur

Oleh: Pustaka Preanger (@PustakaPreanger)

Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang tak mudah, saingannya beratus profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.

Dulu para penulis beradu tulisan demi merayu para editor sehingga bisa meloloskan tulisannya. Di buletin, koran, dan majalah, mereka berdaki-daki dengan segala jurus tulisan dan kantong-kantong kesabaran yang telah dipersiapkan. Namun proses merayu dan menunggu itu sesungguhnya relatif mudah, sebab di fase sebelumnya mereka telah melakukan kerja-kerja lain yang lebih berkeringat. Baca lebih lanjut

Ngaleut Sebagai Piknik Sokratik

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Di tengah siang yang terik dan kuno, terlihat Socrates dengan pakaian gembelnya sedang keluyuran, gudag-gidig di seputaran pasar Athena. Edan, sang filsuf ini ujug-ujug berdiskusi soal Tuhan dengan seorang penjual ikan: menjelaskan kalau dewa-dewi nggak ada. Ini bukan satu dua kali, tapi gurunya Plato ini sudah kelewat sering. Karena dianggap subversif, maka hukum minum racun menghadapinya. Ya, hukuman memang selalu menimpa kepada mereka yang serba ingin tahu dan banyak tahu.

Berabad-abad kemudian, tindakan sokratik ini, khususnya di kegiataan jalan-jalan nggak jelas di pusat perkotaan, diamalkan oleh para kaum borjuis Prancis. Dari cendekia, filsuf, penulis, pelukis, atau seniman yang ingin mencari inspirasi ya keluyuran sendirian di jalanan Paris. Sebuah aktivitas filosofis dengan berjalan kaki ini selanjutnya beken dengan istilah flâneur, yang kemudian diperagakan nggak hanya di kota mode ini saja. Mungkin pada kenal Chairil Anwar kan? Nah, sastrawan ini adalah contoh flâneur dari Indonesia.

All great thoughts are conceived by walking,” sebut Nietzsche. Memang, pada mulanya belajar filosofi kehidupan adalah soal pekerjaan kaki. Suatu kegiatan membaca juga, tapi lebih ke arah membaca ‘ayat kauniah’, beragam teks dalam wujud benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. “Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan dari permulaannya…,” kata-Nya.

Lain di Athena sebelum Masehi, lain juga di Paris saat memasuki abad modern, maka di Bandung kekinian – di abad pertama milenia ketiga – muncul gerakan subkultur berbasis platform sejarah yang gelisah akan kondisi kotanya: Komunitas Aleut! 

Aleut, with intermission, one by one said of people walking, like all natives do, in a row, one by one after each other.

Rigg, Jonathan. 1862. A Dictionary of The Sunda Languange of Java. Batavia: Lange & Co.

Sisa dari suatu kebudayaan masyarakat agraris. Sebagaimana para petani beramai-ramai melintasi jalan setapak, ‘Aleut’ dalam bahasa Sunda memiliki arti berjalan berbanjar atau beriringan yang dilakukan sekelompok orang. Inilah yang kerap dilakukan Komunitas Aleut! Beriringan keliling kota, untuk lebih mengenal kotanya, mengenal sesamanya, dan mungkin mengenal dirinya. Dalam upaya membaca ayat kauniyah tadi.

The Exodus – Horace William Petheric

Secara historis, kegiatan ngaleut tentunya bukan hanya milik masyarakat Sunda. Sejak manusia hidup di muka bumi, sebagai zoon politikon, pastinya dalam bepergian seringnya dalam kawanan. Kisah hijrahnya Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa menuju tanah harapan dengan melewati Laut Merah tentunya bisa disebut sebagai “ngaleut paling akbar di dunia”. Maka, tindakan ngaleut bisa diartikan sebagai sifat alamiah manusia; bergerak bersama kelompok, bepergian beriringan untuk memetik kebaikan.

Seperti Socrates, membantu orang-orang melahirkan pengetahuan dari dalam dirinya sendiri melalui dialog-dialog. Rupanya para jamaah Aleut pun banyak menemukan data menarik dari warga sekitar yang justru nggak ada di dalam buku sejarah. Karena memang, metode sokratik sendiri menitikberatkan kekuatannya bukan pada jawaban, melainkan pada pertanyaan. Sehingga bikin kita terus merasa haus untuk bertanya dan mempertanyakan. Untuk apa sebenarnya? Pastinya agar semakin arif.

Dalam perjalan selama setahun berkecimpung di Komunitas Aleut!, maka saya ingin mencoba meredefinisi istilah ‘ngaleut’ secara filosofis dan spiritual, kalau boleh dibilang mungkin rada sufistik lah.

 

Tautan asli: http://yeaharip.com/2015/08/04/ngaleut-sebagai-piknik-sokratik/

Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Oleh: Indra Pratama (@omindrapratama)

Jakarta adalah pusat geliat ekonomi Indonesia. Daerah bisa saja memiliki komoditas, tenaga kerja, bahkan pabrik dan lahan usaha, namun jika bicara perputaran modal, manajemen, dan hulu bisnis, maka pusatnya adalah Jakarta. Persentase GDP Jakarta dari GDP Indonesia mencerminkan bagaimana hebatnya geliat ekonomi di ibukota.

Siapa sangka, sejarah panjang ekonomi Jakarta (dulu Batavia), dulu sempat ditopang hanya dengan satu ruas jalan sebagai infrastruktur. Jalan yang menghubungkan dua pasar tertua di “Batavia baru”, sejak pusat pemerintahan dipindahkan dari Kota Tua ke Weltevreden.

Adalah seorang Justinus Vinck, pengusaha kaya asal Belanda, yang berperan penting menggerakkan ekonomi Weltevreden. Pada 1735 dia membeli dua lahan besar untuk dijadikan pasar, satu di Tanah Abang dan satu di daerah timur Weltevreden.

Lahan di Tanah Abang ia beli dari keluarga pengusaha dan Kapten Cina Phoa Bingham. Bingham sendiri terkenal karena inisiasinya membuat kanal di Tanah Abang untuk sarana transportasi komoditas dari selatan ke Kota Tua pada 1648. Saat dibeli Vinck, lahan Tanah Abang dipergunakan keluarga Bingham sebagai perkebunan tebu, pertanian, dan peternakan. Lahan ini kemudian sejak 1735 disulap Vinck menjadi Pasar Saptu. Sesuai namanya, pasar hanya buka setiap hari Sabtu, dan jualan utamanya adalah tekstil serta barang kelontong.

Satu lahan lagi terletak sekitar 2 kilometer arah timur dari Weltevreden. Di lahan ini Vinck membuka sebuah pasar yang hanya buka di hari Senin, yang dinamai Vinck Passer. Kemudian hari dikenal dengan nama Pasar Snees, lalu Pasar Senen.

Pasar Saptu dan Vinck Passer dibuka pada 30 Agustus 1735, atas izin Gubernur Jenderal Abraham Patras. Perizinan atas kedua pasar ini ditengarai sebagai salah satu upaya pemerintah Hindia Belanda untuk membatasi dominasi pedagang Cina pada bidang perdagangan di Batavia.

Sebagai infrastruktur penopang, Vinck membangun sebuah ruas jalan yang menghubungkan Pasar Saptu dan Vinck Passer. Ruas ini kini dikenal sebagai JL. Kebon Sirih dan JL. Prapatan. Pola toponimi umum mengisyaratkan bahwa dahulu wilayah Kebon Sirih banyak terdapat tanaman Sirih. Tanaman ini menjadi bagian dari budaya “nyirih” di Nusantara yang bertahan hingga kini.

Dinamika sejarah pun turut membawa kedua pasar ini. Huru-hara Cina 1740 turut melibatkan Pasar Saptu. Pasar Saptu menjadi basis perlawanan para buruh tebu dalam upaya merebut Batavia, sehingga pasar ini terpaksa dibakar habis. Tahun 1766 Pasar Senen mulai dibuka tiap hari.

Kebon Sirih sendiri mulai dikembangkan sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Van den Bosch menjadikan kawasan ini sebagai bagian dari garis pertahanan Van den Bosch (Defensielijn Van Den Bosch), sebuah garis pertahanan Batavia yang berpusat di Prince Frederik Citadel, yang mana di lahannya kini berdiri Masjid Istiqlal.

Menurut Adolf Heuken, daerah  Weltevreden (termasuk Kebon Sirih), dikembangkan dengan gaya pemukiman Jawa, dimana setiap bangunan memiliki halaman yang luas. Berbeda dengan gaya Kota Tua yang dibangun dengan bergaya gesloten bouwwijse (gaya susunan bangunan tertutup) dengan struktur bangunan pemukiman yang rapat.

Gaya ini masih dapat kita lihat pada foto sisa bangunan-bangunan masa itu di Kebon Sirih dan Medan Merdeka Selatan dibawah ini.

Contoh rumah di pemukiman Kebon Sirih tahun 1922

Contoh bangunan abad 19 di Kebon Sirih

image

Lima bangunan abad 19 yang masih tersisa di JL. Medan Merdeka Selatan. Dari kiri atas : Perpustakaan Nasional, Gedung Lemhanas, Balaikota Jakarta, dan dua bangunan Istana Wakil Presiden

image

Rumah tua yang terletak di JL. Kebon Sirih, dekat Gedung Multimedia, Telkom.

image

Rumah tua yang terletak di JL. Kebon Sirih, dibelakang Kantor Garuda Indonesia.

Hampir tiga abad berselang, Kebon Sirih, yang kini terkenal dengan nasi goreng kambing, tetap menjadi infrastruktur penting perekonomian kota. Sebagai salah satu ruas utama di Jakarta Pusat, menghubungkan kawasan Monas dengan Cikini, Menteng, Senen, hingga Sudirman.

Sumber:

Shahab, Alwi. 2007. Kramat-Pasar Senen. Jakarta : Republika.
Blackburn, Susan. 2013. Jakarta : Sejarah 400 Tahun. Jakarta : Masup Jakarta.
Heuken, Adolf. 2000. Historical Sites of Jakarta. Jakarta : Cipta Loka Caraka.
Heuken, Adolf. 2009. Gereja-Gereja Bersejarah di Jakarta. Jakarta : Cipta Loka Caraka.
Ruchiat, Rachmat. 2011. Asal-usul Nama Tempat di Jakarta. Jakarta : Masup Jakarta

Tautan Asli: http://oomindra.wordpress.com/2014/08/13/kebon-sirih-jalan-tol-ekonomi-batavia/

%d blogger menyukai ini: