Lost In Manteos Dina Hiji Waktos

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

_mg_8721

“Kalau Jerman dulu ngeruntuhin Tembok Berlin, kita malah bangun Tembok Berlin sendiri di kampung”, begitu cerita Kang Edi dari Manteos. Manteos ini bukanlah sebuah daerah di dataran latin sana, nama ini merupakan sebuah kampung yang letaknya hanya sekitar 5 menit berkendara dari Jl. Dago Bandung. Memang di kawasan tersebut terdapat sebuah tembok besar dan memanjang membentengi salah satu bagian kampung. Bedanya, bila Tembok Berlin di Jerman berfungsi untuk memisahkan, Tembok Berlin di Manteos justru berfungsi untuk mempersatukan. Tempat ini merupakan ruang publik yang sering digunakan warga dan anak-anak untuk beraktivitas. Tembok Berlin yang ikonik ini menjadi satu dari sekian banyak hal menarik yang saya temukan saat berkunjung ke Kampung Manteos. Sedikit meminjam branding campaign yang sering disuarakan National Geographic yaitu “let’s get lost”, menjelajahi dan menyesatkan diri pada setiap lekuk dari Kampung Manteos yang bagaikan labirin memberikan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Perkampungan kota di Bandung tentunya bukan hanya Manteos saja, sebelumnya saya bersama dengan Komunitas Aleut pernah juga mengunjungi Cikapundung Kolot yang hilang, Blok Tempe yang revolusional, serta Cibuntu yang ternama. Namun tentu setiap kampung yang kami kunjungi memiliki keunikan yang membawa cerita baru dalam setiap episodenya. Keunikan Kampung Manteos ini terletak dari struktur perkampunganya yang didirikan di Lembah Sungai Cikapundung, sehingga dari kejauhan kampung ini akan terlihat seperti rumah yang bertumpuk. Tampilannya sering digambarkan sebagai Rio De Janeiro-nya Kota Bandung, atau mungkin boleh saja kalau kita sebut Rio De Janeiro Van Bandoeng. Baca lebih lanjut

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur

Oleh: Pustaka Preanger (@PustakaPreanger)

Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang tak mudah, saingannya beratus profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.

Dulu para penulis beradu tulisan demi merayu para editor sehingga bisa meloloskan tulisannya. Di buletin, koran, dan majalah, mereka berdaki-daki dengan segala jurus tulisan dan kantong-kantong kesabaran yang telah dipersiapkan. Namun proses merayu dan menunggu itu sesungguhnya relatif mudah, sebab di fase sebelumnya mereka telah melakukan kerja-kerja lain yang lebih berkeringat. Baca lebih lanjut

Ngaleut Sebagai Piknik Sokratik

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Di tengah siang yang terik dan kuno, terlihat Socrates dengan pakaian gembelnya sedang keluyuran, gudag-gidig di seputaran pasar Athena. Edan, sang filsuf ini ujug-ujug berdiskusi soal Tuhan dengan seorang penjual ikan: menjelaskan kalau dewa-dewi nggak ada. Ini bukan satu dua kali, tapi gurunya Plato ini sudah kelewat sering. Karena dianggap subversif, maka hukum minum racun menghadapinya. Ya, hukuman memang selalu menimpa kepada mereka yang serba ingin tahu dan banyak tahu.

Berabad-abad kemudian, tindakan sokratik ini, khususnya di kegiataan jalan-jalan nggak jelas di pusat perkotaan, diamalkan oleh para kaum borjuis Prancis. Dari cendekia, filsuf, penulis, pelukis, atau seniman yang ingin mencari inspirasi ya keluyuran sendirian di jalanan Paris. Sebuah aktivitas filosofis dengan berjalan kaki ini selanjutnya beken dengan istilah flâneur, yang kemudian diperagakan nggak hanya di kota mode ini saja. Mungkin pada kenal Chairil Anwar kan? Nah, sastrawan ini adalah contoh flâneur dari Indonesia.

All great thoughts are conceived by walking,” sebut Nietzsche. Memang, pada mulanya belajar filosofi kehidupan adalah soal pekerjaan kaki. Suatu kegiatan membaca juga, tapi lebih ke arah membaca ‘ayat kauniah’, beragam teks dalam wujud benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. “Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan dari permulaannya…,” kata-Nya.

Lain di Athena sebelum Masehi, lain juga di Paris saat memasuki abad modern, maka di Bandung kekinian – di abad pertama milenia ketiga – muncul gerakan subkultur berbasis platform sejarah yang gelisah akan kondisi kotanya: Komunitas Aleut! 

Aleut, with intermission, one by one said of people walking, like all natives do, in a row, one by one after each other.

Rigg, Jonathan. 1862. A Dictionary of The Sunda Languange of Java. Batavia: Lange & Co.

Sisa dari suatu kebudayaan masyarakat agraris. Sebagaimana para petani beramai-ramai melintasi jalan setapak, ‘Aleut’ dalam bahasa Sunda memiliki arti berjalan berbanjar atau beriringan yang dilakukan sekelompok orang. Inilah yang kerap dilakukan Komunitas Aleut! Beriringan keliling kota, untuk lebih mengenal kotanya, mengenal sesamanya, dan mungkin mengenal dirinya. Dalam upaya membaca ayat kauniyah tadi.

The Exodus – Horace William Petheric

Secara historis, kegiatan ngaleut tentunya bukan hanya milik masyarakat Sunda. Sejak manusia hidup di muka bumi, sebagai zoon politikon, pastinya dalam bepergian seringnya dalam kawanan. Kisah hijrahnya Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa menuju tanah harapan dengan melewati Laut Merah tentunya bisa disebut sebagai “ngaleut paling akbar di dunia”. Maka, tindakan ngaleut bisa diartikan sebagai sifat alamiah manusia; bergerak bersama kelompok, bepergian beriringan untuk memetik kebaikan.

Seperti Socrates, membantu orang-orang melahirkan pengetahuan dari dalam dirinya sendiri melalui dialog-dialog. Rupanya para jamaah Aleut pun banyak menemukan data menarik dari warga sekitar yang justru nggak ada di dalam buku sejarah. Karena memang, metode sokratik sendiri menitikberatkan kekuatannya bukan pada jawaban, melainkan pada pertanyaan. Sehingga bikin kita terus merasa haus untuk bertanya dan mempertanyakan. Untuk apa sebenarnya? Pastinya agar semakin arif.

Dalam perjalan selama setahun berkecimpung di Komunitas Aleut!, maka saya ingin mencoba meredefinisi istilah ‘ngaleut’ secara filosofis dan spiritual, kalau boleh dibilang mungkin rada sufistik lah.

 

Tautan asli: http://yeaharip.com/2015/08/04/ngaleut-sebagai-piknik-sokratik/

Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Oleh: Indra Pratama (@omindrapratama)

Jakarta adalah pusat geliat ekonomi Indonesia. Daerah bisa saja memiliki komoditas, tenaga kerja, bahkan pabrik dan lahan usaha, namun jika bicara perputaran modal, manajemen, dan hulu bisnis, maka pusatnya adalah Jakarta. Persentase GDP Jakarta dari GDP Indonesia mencerminkan bagaimana hebatnya geliat ekonomi di ibukota.

Siapa sangka, sejarah panjang ekonomi Jakarta (dulu Batavia), dulu sempat ditopang hanya dengan satu ruas jalan sebagai infrastruktur. Jalan yang menghubungkan dua pasar tertua di “Batavia baru”, sejak pusat pemerintahan dipindahkan dari Kota Tua ke Weltevreden.

Adalah seorang Justinus Vinck, pengusaha kaya asal Belanda, yang berperan penting menggerakkan ekonomi Weltevreden. Pada 1735 dia membeli dua lahan besar untuk dijadikan pasar, satu di Tanah Abang dan satu di daerah timur Weltevreden.

Lahan di Tanah Abang ia beli dari keluarga pengusaha dan Kapten Cina Phoa Bingham. Bingham sendiri terkenal karena inisiasinya membuat kanal di Tanah Abang untuk sarana transportasi komoditas dari selatan ke Kota Tua pada 1648. Saat dibeli Vinck, lahan Tanah Abang dipergunakan keluarga Bingham sebagai perkebunan tebu, pertanian, dan peternakan. Lahan ini kemudian sejak 1735 disulap Vinck menjadi Pasar Saptu. Sesuai namanya, pasar hanya buka setiap hari Sabtu, dan jualan utamanya adalah tekstil serta barang kelontong.

Satu lahan lagi terletak sekitar 2 kilometer arah timur dari Weltevreden. Di lahan ini Vinck membuka sebuah pasar yang hanya buka di hari Senin, yang dinamai Vinck Passer. Kemudian hari dikenal dengan nama Pasar Snees, lalu Pasar Senen.

Pasar Saptu dan Vinck Passer dibuka pada 30 Agustus 1735, atas izin Gubernur Jenderal Abraham Patras. Perizinan atas kedua pasar ini ditengarai sebagai salah satu upaya pemerintah Hindia Belanda untuk membatasi dominasi pedagang Cina pada bidang perdagangan di Batavia.

Sebagai infrastruktur penopang, Vinck membangun sebuah ruas jalan yang menghubungkan Pasar Saptu dan Vinck Passer. Ruas ini kini dikenal sebagai JL. Kebon Sirih dan JL. Prapatan. Pola toponimi umum mengisyaratkan bahwa dahulu wilayah Kebon Sirih banyak terdapat tanaman Sirih. Tanaman ini menjadi bagian dari budaya “nyirih” di Nusantara yang bertahan hingga kini.

Dinamika sejarah pun turut membawa kedua pasar ini. Huru-hara Cina 1740 turut melibatkan Pasar Saptu. Pasar Saptu menjadi basis perlawanan para buruh tebu dalam upaya merebut Batavia, sehingga pasar ini terpaksa dibakar habis. Tahun 1766 Pasar Senen mulai dibuka tiap hari.

Kebon Sirih sendiri mulai dikembangkan sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Van den Bosch menjadikan kawasan ini sebagai bagian dari garis pertahanan Van den Bosch (Defensielijn Van Den Bosch), sebuah garis pertahanan Batavia yang berpusat di Prince Frederik Citadel, yang mana di lahannya kini berdiri Masjid Istiqlal.

Menurut Adolf Heuken, daerah  Weltevreden (termasuk Kebon Sirih), dikembangkan dengan gaya pemukiman Jawa, dimana setiap bangunan memiliki halaman yang luas. Berbeda dengan gaya Kota Tua yang dibangun dengan bergaya gesloten bouwwijse (gaya susunan bangunan tertutup) dengan struktur bangunan pemukiman yang rapat.

Gaya ini masih dapat kita lihat pada foto sisa bangunan-bangunan masa itu di Kebon Sirih dan Medan Merdeka Selatan dibawah ini.

Contoh rumah di pemukiman Kebon Sirih tahun 1922

Contoh bangunan abad 19 di Kebon Sirih

image

Lima bangunan abad 19 yang masih tersisa di JL. Medan Merdeka Selatan. Dari kiri atas : Perpustakaan Nasional, Gedung Lemhanas, Balaikota Jakarta, dan dua bangunan Istana Wakil Presiden

image

Rumah tua yang terletak di JL. Kebon Sirih, dekat Gedung Multimedia, Telkom.

image

Rumah tua yang terletak di JL. Kebon Sirih, dibelakang Kantor Garuda Indonesia.

Hampir tiga abad berselang, Kebon Sirih, yang kini terkenal dengan nasi goreng kambing, tetap menjadi infrastruktur penting perekonomian kota. Sebagai salah satu ruas utama di Jakarta Pusat, menghubungkan kawasan Monas dengan Cikini, Menteng, Senen, hingga Sudirman.

Sumber:

Shahab, Alwi. 2007. Kramat-Pasar Senen. Jakarta : Republika.
Blackburn, Susan. 2013. Jakarta : Sejarah 400 Tahun. Jakarta : Masup Jakarta.
Heuken, Adolf. 2000. Historical Sites of Jakarta. Jakarta : Cipta Loka Caraka.
Heuken, Adolf. 2009. Gereja-Gereja Bersejarah di Jakarta. Jakarta : Cipta Loka Caraka.
Ruchiat, Rachmat. 2011. Asal-usul Nama Tempat di Jakarta. Jakarta : Masup Jakarta

Tautan Asli: http://oomindra.wordpress.com/2014/08/13/kebon-sirih-jalan-tol-ekonomi-batavia/

Ngabuburit: Tempo Dulu

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

ngabuburit : ngadagoan burit dina bulan puasa bari jalan – jalan

Terjemahan dari ngabuburit akan membuka  tulisan saya kali ini. Ngabuburit berasal dari kata burit yang berarti waktu sebelum bedug magrib. ngabuburit itu sendiri berarti menunggu burit saat bulan puasa dengan jalan – jalan.

Jika bertanya pada pelaku sejarah Bandung mengenai ngabuburit di Bandung tempo dulu, ingatan mereka akan melayang menuju beberapa lokasi yang telah berubah fungsi di tempo kini. Misal sungai Cikapundung yang tidak sejernih tempo dulu.

Dulu, ketika Bandung belum memiliki saluran air ledeng, sebagian warga masih melakukan kegiatan sehari–hari di sungai Ci Kapundung. Hal itu wajar dikarenakan Ci Kapundung tempo dulu memiliki air yang jernih, sejuk dan langsung berasal dari kaki Gunung Tangkubanparahu.

Pemandian Cihampelas tempo dulu

Dikarenakan Bandung masih memiliki sungai yang masih bersih, ngabuburit yang menyenangkan adalah dengan bermain air di pinggiran sungai. Warga kota bisa memilih banyak tempat bermain air seperti Empang Cipaganti milik Haji Sobandi, Pemandian Cihampelas, atau Situ Aksan yang memiliki fasilitas berperahu.

Insulinde Park

Selain bermain air di beberapa lokasi tersebut, warga Bandung bisa ngabuburit dengan menikmati taman. Warga Bandung tempo dulu akan merasa kebingungan dalam memilih taman untuk ngabuburit. Bisa dibayangkan bahwa Bandung memiliki banyak taman indah seperti Jubileum Park (Taman Sari), Insulinde Park (Taman Lalu Lintas), Molukken Park (Taman Maluku) dan taman lainnya.

Jika warga memilih berjalan–jalan dalam menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa, jalur yang menarik adalah Gang Pelesiran. Gang Pelesiran merupakan sebuah gang yang mengantar pengunjung menuju “Taman Cihampelas”, untuk menikmati bunga bermekaran diiringi gemercik air sungai Ci Kapundung. Sayang, “Taman Cihampelas” telah menghilang dan berubah total menjadi perkampungan padat dan tak teratur.

Untuk anak–anak yang senang bermain bola atau olah raga lainnya, Lapang mungkin lokasi tepat untuk dipakai berolahraga. Lapang untuk berolahraga antara lain Lapang UNI, Sidolig, Tegalega, NIAU (Gelora Saparua), Habom (Jalan Industri), Lapang ATPC (tepi Kali Ci Tepus dekat Pasar Andir), dan Lapang JCMS (dekat Sekolah Andir). Untuk beberapa lapang, sering diselenggarakan pertandingan sepak bola. Pertandingan ini sering ditonton oleh warga kota selagi ngabuburit.

Arus Ci Kapayang tempo dulu tergolong deras. Untuk warga Bandung tempo dulu, arus Ci Kapayang yang deras dipakai untuk membalapkan kapal kaleng dengan lilin di tengah–tengahnya. Adu balap kapal ini sering dilakukan oleh warga Bandung saat ngabuburit. 

Bioskop–bioskop yang Berada di Kawasan Alun–alun

Untuk warga Bandung yang sedang mencari jodoh, lokasi ngabuburit yang tepat berada di kawasan Alun–alun. Selama masa liburan sekolah di bulan puasa, beberapa bioskop di Alun – alun seperti Varia, Oriental, Radio City, dan Elita memutarkan film khusus anak–anak. Para pengantar anak–anak sering menggunakan momen tersebut untuk perkenalan yang kemudian dilanjutkan dengan kencan. Anak–anak yang nonton sibuk dengan film sedangkan para om–tante serta teteh dan aa juga tak kurang sibuk pacaran.

Sisa Pemandian Cihampelas Sebelum Digusur

Sayang seribu sayang, sama halnya dengan beberapa bangunan tua di Bandung, beberapa lokasi yang telah dijabarkan di atas telah hilang atau berubah fungsi. Hilangnya beberapa lokasi seperti Permandian Cihampelas yang diganti dengan apartemen tidak jelas atau Taman Sari yang berubah menjadi perkampungan padat dan tidak teratur sungguh mengganggu para peminat Bandung tempo dulu. Mungkin kita saat ini hanya bisa menikmati perasaan ngabuburittempo dulu dengan mendengar cerita kakek atau dengan mengunjungi beberapa lokasi yang masih tersisa.

 

Sumber bacaan:

Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto

Basa Bandung Halimunan karya Us Tiarsa R

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Wajah Bandoeng Tempo doeloe karya Haryoto Kunto

Sumber Foto:

http://media-kitlv.nl/

Jejak Masa Lalu “Yang Terlupakan”

Oleh: Wisnu Setialengkana (@naminawisnu)

Ironis. Satu kata yang terucap bila melihat tempat ini.
Tempat yang merupakan situs sejarah. Salah satu jejak masa lalu ‘yang terlupakan”

Mungkin masih banyak yang tidak tahu mengenai bangunan di foto yang ada diatas itu. Yakin tidak mengetahuinya ?

Ironis. Kembali harus saya ucapkan bila tidak mengetahuinya. Terlebih bila orang Bandung.

Baiklah, kita tambah lagi ya fotonya.

Sudah lebih terbayangkan kan ?

Bangunan tersebut adalah bagian sisa dari Penjara Banceuy.
Penjara Banceuy adalah nama sebuah penjara di kota Bandung[1], yang identik dengan Presiden Pertama Indonesia Soekarno, Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929 dan dipenjara di Penjara Banceuy ini, sehingga Penjara ini identik dengan nama nya.

Penjara Banceuy dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1877, awalnya penjara ini diperuntukkan bagi tahanan politik tingkat rendah dan kriminal. Di penjara ini ada 2 macam sel yaitu sel untuk tahanan politik di lantai atas dan sel untuk tahanan rakyat jelata di lantai bawah. Sel penjaranya sendiri berukuran 1,5 x 2,5 meter. Inilah yang menjadi titik tolak kenapa bangunan ini bersejarah.
Pada tanggal 29 Desember 1929, Soekarno serta tiga rekan dari PNI, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja ditangkap di Yogyakarta dan kemudian dijebloskan ke penjara Banceuy selama kurang lebih 8 bulan. Di sinilah Soekarno menyusun pledoi yang sangat terkenal yang kemudian diberi nama Indonesia Menggugat. Yang dibacakan di sidang pengadilan di Gedung Landraad (kini bernama Gedung Indonesia Menggugat yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan). Pada tahun 1983 penjara Banceuy dipindahkan ke Jalan Soekarno-Hatta. Yang kemudian penjara Banceuy ini sendiri dibongkar untuk dijadikan kompleks pertokoan dan disisakan hanyalah sel penjara Bung Karno dan menara pos penjaga.

Penjara Banceuy menjadi bagian dari saksi bisu sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Di penjara ini, presiden pertama RI Ir. Soekarno pernah mendekam selama delapan bulan atas tuduhan pemberontakan dan dijerat pasal-pasal karet haatzai artikelen. Saat itu, pada akhir Desember 1929, Soekarno yang menjabat Ketua PNI dijebloskan ke Penjara Banceuy bersama rekan satu pergerakannya, yaitu R. Gatot Mangkoepradja (Sekretaris II PNI Pusat PNI), Maskoen Soemadiredja (Sekretaris II Cabang Bandung), dan Soepriadinata (Anggota PNI Cabang Bandung).

Di penjara itu, Soekarno menempati sel nomor 5 yang hanya berukuran 2,5 x 1,5 meter dan berisi kasur lipat juga toilet nonpermanen. Pada ruangan pengap ini pula, Soekarno menyusun pidato pembelaan (pledoi),[3] yang dibacakan pada sidang Pengadilan Hindia Belanda di Gedung Landraad (kini Gedung Indonesia Menggugat) di Jalan Perintis Kemerdekaan (dahulu Jalan Gereja). Pledoi dengan judul Indonesie Klaagt Aan (Indonesia Menggugat) pun menjadi terkenal.

Sudah cukup informasinya kan ?

Sekarang saya ingin berbagi informasi saja mengenai bangunan tersebut yang saya sebut sebagai Jejak Masa Lalu “Yang Terlupakan”.

Mengapa “yang terlupakan” ?

Karena memang tidak banyak yang peduli terhadap bangunan tersebut.

Saya yakin Pemerintah Pusat, Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung mengetahui keberadaan situs sejarah tersebut. Saya sangat yakin.

Saya pun percaya bahwa keluarga Bung Karno yang saat ini menjadi bagian ‘kelompok penting” di negara Indonesia mengetahui keberadaan dan nilai sejarah bangunan tersebut. Meski hanya sepetak sel penjara.

Namun apa yang diceritakan oleh Pak Achmad, sang penjaga situs bersejarah itu ?

Kembali, kata Ironis yang harus saya ucapkan.

Makin Ironis, bila kita membaca spanduk berikut ini :

 

Situs bersejarah ini dilindungi oleh Undang-Undang RI dan Peraturan Daerah Kota Bandung loh. Dan seharusnya kondisinya tidak seperti yang saya lihat hari minggu ini (6-4-2014)

Ah, tapi ternyata saya memang belum bisa menghentikan untuk mengucapkan kata Ironis.
Bung Karno terkenal dengan pidatonya yang berjudul ‘JASMERAH’ – Jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Namun kenyataannya saat ini, keluarga besar Bung Karno, pengagum Bung Karno, pencinta dan fans berat Bung Karno seakan-akan melupakan salah satu jejak langkah sejarah dari seorang Bung Karno. Ironis.

Bahkan, beberapa teman saya, mengira bahwa sel Bung Karno di Penjara Banceu adalah foto ini :

Sekali lagi, Ironis !!

Ini beberapa foto sel no 5 yang ditempati oleh Bung Karno

Agar kata-kata ironis tidak keluar terus, sepertinya informasi mengenai keberadaan situs sejarah ini harus lebih disebarluaskan.
Kemudian setelah itu ? Seharusnya kita bersama-sama memberikan perhatian terhadap situs bersejarah ini.
Bagaimana caranya ? Mungkin hal terkecil adalah memberikan bantuan berupa peralatan untuk pemeliharaan.
Bila memang ada niat, kita bisa berkomunikasi dengan Pak Achmad. Informasi mengenai keberadaan Pak Achmad sebenarnya terpampang juga didepan situs bersejarah ini. Ada sebuah spanduk.

Yuk, mulai sekarang kita makin lebih peduli dengan jejak sejarah bangsa ini.
Menarik kok untuk mengetahuinya, belajar dan turut serta dalam menjaga keberadaan jejak-jejak sejarah bangsa ini.

Sebagai tambahan, ada foto teman-teman Komunitas Aleut di situs bersejarah ini.


Oh iya, di sekitar situs ini juga ada beberapa tulisan yang bisa jadi bahan perenungan kita semua

 

Sumber :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Penjara_Banceuy
2. Foto-foto pribadi @naminawisnu

Menggali Sejarah Perkembangan Kota dari Permakaman di Kota Bandung

Oleh: Ariyono Wahyu

Permakaman merupakan salah satu fasilitas/perlengkapan sebuah kota yang penting. Bila mereka yang hidup membutuhkan kompleks permukiman sebagai tempat tinggal untuk bernaung, maka mereka yang telah “berpulang ke keabadian” juga membutuhkan tempat untuk move on menuju kehidupan selanjutnya.

Ternyata, melalui permakaman, kita juga dapat menggali sejarah perkembangan sebuah kota. Berikut ini adalah cerita mengenai permakaman yang saya baca di buku-buku yang membahas kota  Bandung. Dalam buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” karya Haryoto Kunto, ada disebutkan istilah kerkhof yang artinya kuburan. Kerkhof adalah kata kuno dalam bahasa Belanda untuk permakaman. Kerkhof Belanda tertua di kota Bandung terdapat di ruas Jl. Banceuy sekarang, dulu lokasinya disebut Sentiong. Ternyata kata Sentiong yang berasal dari bahasa Cina juga bermakna kuburan. Cukup lama bekas Sentiong di Jl. Banceuy ini ditempati oleh sebuah Pasar Besi, tapi sekarang lokasi itu sudah tidak ada dan di atasnya didirikan bangunan pertokoan baru. Sampai paruh pertama abad ke 19, batas utara kota Bandung baru sampai di daerah  Jl.  Suniaraja sekarang ini, jadi tidak mengherankan bila di pinggiran kota ini dulu terdapat permakaman.

Kerkhof di Jl. Banceuy sering disebut bergantian dengan Sentiong karena di dalamnya tidak hanya terdapat permakaman orang Belanda, melainkan juga orang keturunan Cina. Salah satu warga kota terkemuka yang dimakamkan di Sentiong adalah Asisten Residen Carl Wilhelm August Nagel. Ia tewas dalam huru-hara Munada pada akhir tahun 1845. Akibat kerusuhan ini pasar kota (pasar lama di Ciguriang) terbakar dan akibatnya kota Bandung tidak memiliki pasar hingga dibangunnya Pasar Baru di awal abad ke 20.

Kerkhof Sentiong di Jl. Banceuy eksis hingga akhir abad 19. Saat itu suasana sekitar permakaman sungguh sunyi, apalagi bila hari sudah malam. Warga yang bermukim di daerah utara kota, sepulang dari menikmati hiburan atau keramaian malam di sekitar Alun-alun akan menghindari daerah Jl. Banceuy tempat kerkhof berada. Suasana yang sepi dan gelap membuat tidak nyaman, mereka akan memilih melewati jalan yang agak memutar melalui daerah Pecinan di belakang Pasar Baru yang selalu ramai hingga pagi hari.

Dalam perkembangan berikutnya, batas utara kota Bandung bergeser ke daerah Jl. Pajajaran sekarang. Permakaman Sentiong harus dipindahkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan kota. Kuburan-kuburan warga etnis Cina dipindahkan ke daerah Babakan Ciamis. Lalu ruas jalan lama bekas Sentiong dinamai Oudekerkhofweg atau Jalan Kuburan Lama.

Tampaknya hingga tahun 1950-an permakaman Cina di daerah Babakan Ciamis masih ada, seperti yang ditulis oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan”. Menurut Us, makam-makam Cina yang disebut dengan Bong terletak di lembah antara daerah Cicendo dengan Kebon Kawung. Di sana terdapat pintu air sungai Ci Kapundung yang sering dijadikan lokasi bermain dan berenang anak-anak dari daerah Cicendo dan Babakan Ciamis. Walaupun daerah Bong tersebut terkenal angker karena banyaknya anak-anak terbawa hanyut saat Sungai Ci Kapundung meluap, namun tetap saja menjadi tempat berenang favorit bagi anak-anak pada masa itu.

AstanaanyarSebuah makam keluarga di tengah kompleks permakaman Astanaanyar. Foto: mooibandoeng.

Sementara itu, kuburan-kuburan orang Eropa juga dipindahkan dari Sentiong ke kerkhof di Kebon Jahe, di lokasi yang sekarang ditempati oleh GOR Pajajaran. Periode ini berlangsung saat jabatan Asisten Residen Priangan dijabat oleh Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898 ia mendirikan wadah untuk menyalurkan partisipasi serta aspirasi warga kota yaitu Vereeniging tot nut van Bandung en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan sekitarnya. Upaya organisasi ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan fasilitas kota, di antaranya adalah pembukaan jalur-jalur jalan, perumahan, pembangunan sarana pendidikan, dan pembangunan Pasar Baru. Di Bidang sosial, organisasi ini mendirikan perkumpulan yang bertugas untuk mengurusi masalah kematian, organisasi ini pula yang memindahkan Kerkhof Sentiong. Untuk permasalahan yang berhubungan degan kematian, perkumpulan ini menyediakan kereta jenazah. Kereta jenazah ini adalah kereta kuda beroda empat yang ditarik oleh empat ekor kuda putih. Model kereta jenazah ini seperti ranjang kuno dengan kelambu berwarna hitam.

Pada awal abad ke-20 kota Bandung sempat dikenal dengan julukan yang menyeramkan yaitu Kinderkerkhof (kuburan anak-anak), ini terutama akibat wabah kolera pada tahun 1910. Tingkat kematian anak terhitung tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Suasana kota Bandung sebelum tahun 1917 pun tak kalah menyeramkan, kuburan atau makam dapat dengan mudah ditemukan di pekarangan, di samping, di belakang rumah atau di kebun-kebun warga. Praktis tak ada aturan mengenai makam-makam ini. Keadaan ini ditertibkan pada tahun 1917 dengan dikeluarkannya Bouwverrordening van Bandung (Undang-Undang Pembangunan Kota Bandung). Sejak dikeluarkannya aturan ini pemakaman jenazah harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yaitu di komplek permakaman, seperti untuk warga muslim yang ditempatkan di permakaman Astana Anyar (Kuburan Baru).

101_0062Sebuah makam di tengah gang umum di kawasan Cihampelas. Foto: Hani Septia Rahmi.

Sebenarnya urusan permakaman telah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah kota setelah Bandung memperoleh status Gemeente (Kotapraja) yang berarti menjadi daerah otonomi, kota yang dapat mengurus, mengatur, dan mengelola beberapa macam wewenang sebagaimana rumah tangga sendiri. Pengesahan tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1906, melalui perundang-undangan tanggal 21 Februari 1906 dan 1 Maret 1906. Pengesahan dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutz. Saat itu Residen Priangan dijabat oleh G.A.F.J. Oosthout, Asisten Residen oleh E.A. Maurenbrechter, dan bupati dijabat oleh R.A.A. Martanagara. Semuanya berkedudukan di Bandung.

Dalam perundang-undangan itu diatur mengenai tugas dan kewajiban Gemeente, di antaranya adalah: pembuatan dan pemeliharaan perkuburan umum Islam maupun Kristen di dalam wilayah Gemeente Bandung. Juga menyelenggarakan kuburan Cina di luar kota (Gemeente). Setelah status kota Bandung diubah menjadi Stadsgemeente dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 27 Agustus 1926 No.3 (Staatsblad 1926 No. 369), kota Bandung tidak lagi dikepalai oleh Asisten Residen, ini terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1926. Sejak saat itu yang menjadi pemimpin dalam mengurus kota adalah seorang walikota/Burgemeester.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya walikota membaginya kepada 3 orang Pembantu Walikota/Wethouders, yang terdiri dari seorang berkebangsaan Belanda, Bumiputra dan Cina. Salah satu tugas Wethouder adalah mengurus kuburan bagi bangsa mereka, maksudnya untuk Wethouder berkebangasaan Belanda kebagian tugas mengurus kuburan Kristen/Eropa (Europeesche begraafplaatsen), bagi Wethouder Bumiputera mengurus kuburan Islam (Mohammedaansche begraafplaatsen), demikian pula dengan pembantu walikota beretnis Cina memiliki tugas mengurus kuburan Cina (Chineesche begraafplaatsen).

IMG-20140312-WA0017Makam keluarga Ursone di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Kerkhof Kebon Jahe didirikan dalam masa yang sama degan Pabrik Kina yang terletak di sebelah timurnya. Kira-kira tahun 1896. Ada banyak tokoh kota dimakamkan di sini, salah satunya adalah  Dr. C.H. Westhoff (pendiri Rumah Buta yang lokasinya berada di seberang kerkhof), familie Ursone dengan mausoleumnya yang bergaya barok berlapis batu marmer Carrara. Tak mengherankan, salah satu anggota keluarga pemilik peternakan sapi Ajax di Lembang ini juga memiliki perusahaan Carrara Marmerhandel en–bewerking. Pengelola perusahaan yang terletak di Bantjeuj itu adalah  A. Ursone.

Setidaknya ada 16 orang lainnya yang memiliki hubungan dengan perkembangan kota Bandung dimakamkan di Kerkhof Kebon Jahe. Siapa saja ya?

Cerita mengenai kerkhof Kebon Jahe, juga ditulis dalam buku “Basa Bandung Halimunan” karya Us Tiarsa. Buku ini berkisah mengenai pengalamannya hidup di Bandung pada tahun 1950-60an. Dalam buku yang berbahasa Sunda ini Pak Us bercerita tentang pembagian kelas-kelas makam. Kelas 1 makamnya besar-besar dan terletak paling utara, dekat dengan ke jalan raya (Jl. Pajajaran). Makam-makam dihiasi porselen serba mengilap. Makam lain dilapisi marmer yang tebal berbagai warna, ada yang putih, kehijauan, atau kekuningan. Makam-makam di kelas 1 dilengkapi hisan berupa patung malaikat, bidadari, atau patung Yesus. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar orang dewasa hingga ke ukuran terkecil seukuran tangan anak kecil. Pot dan vas kembangnya bagus terbuat  dari bahan porselen, gelas, marmer, atau kuningan. Tak ada yang berbahan gerabah.

Makam kelas 2 terletak agak ke sebelah selatan, kebanyakan hanya menggunakan batu granit dan tanpa penutup. Kadang ada yang ditutupi memakai beton namun tak sekokoh penutup beton yang menaungi makam-makam di kelas 1. Sedangkan makam kelas 3 terletak paling selatan. Makam-makam di area ini kebanyakan bahkan tanpa nisan.

Di tahun 1950an-60an Pak Us Tiarsa tinggal di Kebon Kawung, tak jauh dari kerkhof tersebut. Katanya, setelah masa kemerdekaan pun kerkhof Kebon Jahe adalah permakaman yang tetap terpelihara dan bersih, rumputnya tertata rapi dan dipotong secara teratur. Di dalam area permakaman terdapat jalan berbatu, malah ada juga yang menggunakan marmer. Tanamannya mulai dari kacapiring, cempaka gondok dan cempaka cina, serta pohon kamboja. Tak heran bila warga yang bermukim di derah Kebon Kawung, Nangkasuni, Torpedo, Merdeka Lio, Cicendo, atau Rumah Buta, kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bermain dan bersantai. Tak hanya anak-anak kecil, bahkan hingga orang dewasa meluangkan waktu senggangnya dengan bercengkrama di dalam area permakaman ini.

Salah satu kegiatan anak-anak adalah mengumpulkan potongan marmer dari makam. Potongan marmer yang besarnya seukuran jempol kaki dibuat kelereng dengan membentuknya menggunakan golok yang tumpul. Walaupun pada akhirnya kelereng tersebut tidak sepenuhnya bundar, namun sudah cukup bagi anak-anak untuk menggunakannya dalam permainan poces. Kegiatan lainnya yang dilakukan anak-anak kecil dalam area permakaman ini adalah mengumpulkan bubuk marmer yang kemudian dihaluskan menggunakan palu. Bubuk ini digunakan untuk mengilapkan kerajinan tangan dari buah kenari atau tempurung buah kelapa.

Aturan di permakaman ini sebenarnya melarang warga umum masuk ke dalam area kerkhof. Sekeliling area kerkhof dipagari dengan kawat berduri dan pagar hidup dari tanaman seperti kembang sepatu, pringgandani, kacapiring, dan enteh-entehan. Kerkhof Kebon Jahe dijaga oleh banyak penjaga dan dikepalai oleh seorang mandor yang terkenal galak, namanya Mandor Atma. Ia tinggal dekat gapura pintu masuk permakaman di sisi sebelah utara kerkhof (Jl. Pajajaran).

Kerkhof Kebon Jahe akhirnya digusur pada akhir tahun 1973. Sayang pembongkarannya tidak sistemastis, asal bongkar dan kadang dengan membuldoser makam-makam yang ada, akibatnya banyak artefak bersejarah yang hilang. Padahal sebetulnya banyak yang bisa dipelajari dari peninggalan-peninggalan di permakaman. Sebagai contohnya adalah bukti otentik kedatangan orang Belanda di daerah sekitar Bandung pada pertengahan tahun 1700-an dapat dilihat dari batu nisan Anna Maria de Groote, putri Sersan de Groote. Anna meninggal saat masih berusia 1 tahun, yaitu pada tangal 28 Desember 1756. Nisan makamnya pernah ditemukan di Dayeuh Kolot. Tapi sayangnya, makam ini pun entah bagaimana nasibnya sekarang.

Tahun 1932, kota Bandung memiliki kompleks permakaman baru bagi orang Eropa (Nieuwe Europeesche Begraafplaats) yaitu kompleks permakaman yang kini lebih kita kenal dengan sebutan Permakaman Pandu. Bila kita cermati, permakaman Pandu masih menyimpan banyak cerita, di antaranya makam laci. Makam ini berbentuk layaknya laci-laci dikamar jenazah/koroner. Lalu ada makam penerbang yang meninggal karena pesawatnya jatuh, ini juga menandakan masih begitu berbahayanya transportasi udara kala itu.

IMG-20140312-WA0014Makam penerbang di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Copy of SAM_5620BMakam Raymond Kennedy di Pandu. Foto: A13Xtriple.

Banyak makam tokoh yang memilliki hubungan dengan sejarah perkembangan kota Bandung seperti Ir. C.P. Wolf Schoemaker, mausoleum keluarga Ursone yang merupakan pindahan dari kherkhof Kebon Jahe, atau makam Profesor Raymond Kennedy, sorang guru besar dari Universitas Yale yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Raymond Kennedy dibunuh oleh kelompok tak dikenal di daerah Tomo, Sumedang, dalam perjalanan penelitiannya ke Jawa Tengah bersama Robert Doyle, sorang koresponden bagi  majalah Times dan Life. Pembunuhan kedua warga negara Amerika ini menarik perhatian hingga ke pucuk pimpinan Indonesia, salah satunya adalah Bung Hatta yang berjanji akan menemukan kedua pembunuh warga negara Amerika ini. Di kompleks permakaman Pandu terdapat pula kompleks permakaman terpisah khusus bagi tentara KNIL, Ereveld Pandu. Wilayah permakaman ini merupakan wilayah dari Negeri Belanda.

Copy of SAM_5357BMakam Elisabeth Adriana Hinse Rieman di Ciguriang. Foto: A13Xtriple.

Pembongkaran Oude Europeesche Begraafplaats atau Kerkhof Kebon Jahe pada tahun 1970an berlangsung tidak sistematis, banyak kuburan didalam kompleks permakaman Kerkhof Kebon Jahe yang asal saja dibongkar. Sebagian memang dipindahkan ke Permakaman Pandu, tapi sebagian lain rusak begitu saja. Mungkin bukti tidak tertibnya proses pembokaran makam ini dapat kita lihat pada sebuah nisan batu granit atas nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman. Nisan berusia 110 tahun ini dipakai penduduk sekitar mata air Ciguriang sebagai batu alas mencuci pakaian.

Copy of SAM_5321BMulut jalan H. Mesrie. Foto: A13Xtriple.

Tak jauh dari mata air Ciguriang terdapat pula makam keluarga saudagar Pasar Baru dan tuan tanah di daerah Kebon Kawung, keluarga H. Moh. Mesrie. Nama Mesrie diabadikan menjadi nama jalan menggantikan Rozenlaan. Kekayaan yang didapat dari usahanya dibelikan tanah-tanah persil di daerah Kebon Kawung. Makam-makam keluarga saudagar Pasar Baru lainnya tersebar di daerah Cipaganti, Sukajadi, Jl. Siti Munigar, Jl. Karanganyar, dan Jl. Kresna.

Kota Bandung tidak memiliki Taman Prasasti seperti yang terdapat di Jakarta, di bekas permakaman lama yang juga bernama Kebon Jahe. Kedua tempat dengan nama sama ini ternyata memiliki nasib yang berbeda. Setelah tidak berfungsi lagi, kerkhof Kebon Jahe Jakarta naik derajatnya menjadi museum bagi nisan-nisan dari masa lalu kota Jakarta. Dari tempat yang sebelumnya ditakuti menjadi tempat bergengsi untuk berfoto, sedangkan nisan-nisan makam di kherkhof Kebon Jahe Bandung hilang ditelan bumi.

Sumber :
Haryoto Kunto “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) Pernerbit PT Granesia Bandung
Haryoto Kunto “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (1986) Pernerbit PT Granesia Bandung
Us Tiarsa R “Basa Bandung Halimunan” (2011), Penerbit Kiblat
Sudarsono Katam “Bandung; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis”(2006),  Penerbit Kiblat