Catatan Perjalanan: Ngaleut Situ Aul

Oleh: Aozora Dee (@aozora_dee)

“Ngaleut Situ Aul. Kumpul jam 6.36 di Kedai Preanger,” begitulah yang tertera pada poster yang di-post di Instagram Komunitas Aleut. Aku bersemangat sekaligus sedikit khawatir  karena  ini adalah ngaleut pertamaku di bulan Ramadan, khawatir medannya terlalu berat dan bisa berakibat batal puasa. Tapi daripada disawang mending langsung buktikan sendiri. Jadilah hari itu aku ikut mendaftar rombongan Ngaleut Situ Aul.

Pukul 7 pagi aku sudah sampai di Kedai. Saat itu baru ada dua teman aleut yang sampai, ternyata ada yang lebih terlambat dari aku. Mungkin efek sahur membuat ngantuk lebih lama sehingga mereka bangun terlambat. Dimaklum.

Sambil menunggu teman-teman yang lain, aku membuka beberapa referensi bacaan yang ada di internet tentang Situ Aul. Aku tertarik dengan penamaan situ itu. Setahuku aul adalah sebuah nama mahluk, bisa disebut siluman atau sejenisnya berbadan manusia dan berkepala anjing yang posisi kepalanya menghadap ke belakang. Mungkin situ itu ada hubungannya dengan mahluk “campuran” itu. Belakangan Bang Ridwan memberitahu bahwa aul adalah salah satu jurig legenda di tanah Sunda.

Pukul 07.30 kami berangkat menuju Situ Aul. Cuaca tidak terlalu panas dan tidak mendung juga selain itu jalanan tidak terlalu macet. Tapi cuaca sekarang tidak bisa diprediksi. Mudah berubah-ubah bak perasaan manusia saja.

Dari Kedai kami belok kiri ke arah Buah Batu – Baleendah – Bojongsoang – Banjaran – Dayeuh Kolot kemudian belok ke kiri ke arah Jl. Raya Pangalengan sampai ke Cimaung. Itu rute kota, aku sempat mengantuk ketika melewati jalan-jalan itu. Baru ketika sampai di PLTA Cikalong kantukku hilang akibat semrawutnya jalan yang mengakibat kemacetan. Jadi ingat cerita Abang tentang kemacetan dan orang –orang yang menggerutu karenanya.

Aku perhatikan memang selalu ada orang seperti itu padahal ia menjadi bagian dari kemacetan itu sendiri. Ada satu yang membuatku tertawa. Saat macet itu, aku lihat ada seorang pengendara, ia tampak tidak sabar dengan macetnya jalanan. Setiap celah ia coba masuki berharap semoga itu bisa membawanya lepas dari kemacetan. Bukannya bisa lolos ia malah terjebak di sumber kemacetan itu sediri. Aku yang ada di belakangannya bisa mendahului dia. Sabar saja. Semua akan indah pada waktunya. Skip! Baca lebih lanjut

Bertandang Ke Kampung Adat Cikondang

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Pami dipasihan widi, insya Allah bakal kengeng, pami teu aya widi ku gusti, moal ayaan eta potona” (Kalau dikasih ijin, insya Allah bakal dapat, kalau tidak direstui sama Tuhan, nggak akan itu fotonya), begitu ucap Ki Anom Juhana sang Juru Kunci Kampung Cikondang saat ditanya mengenai aturan memotret di Hutan Larangan. “Tapi ayeuna mah dinten kemis, pasti ayaan geura potona”(Tapi karena sekarang hari Kamis, pasti muncul hasil fotonya), lanjut beliau sambil mempersilahkan untuk memotret. Hutan Larangan atau forbidden forest ini seringkali saya baca dan tonton pada sebuah film fiksi seperti Harry Potter, namun tak pernah saya sangka Hutan Larangan benar-benar ada dalam dunia nyata.

Kamis (11/5) lalu, saya bersama-sama dengan Komunitas Aleut berkesempatan menginjakkan kaki ke dalam Hutan Larangan Kampung Adat Cikondang yang terletak di kawasan Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kami diperbolehkan masuk ke dalam karena kebetulan hari tersebut bukan hari larangan kunjungan. Pada hari Selasa, Jumat dan Sabtu biasanya tak seorang pun dapat berkunjung ke Hutan Larangan, termasuk warga sekalipun. Selain itu, bagi yang beragama di luar muslim serta bagi wanita yang sedang datang bulan sama sekali tak diperbolehkan masuk ke dalam, walaupun pada hari diperbolehkannya kunjungan. Baca lebih lanjut

Mendaki Dengan Flat Shoes dan Jaket Tipis: (Gagal) Hunting Milky Way di Gunung Putri, Lembang

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Sampai sekarang masih terbayang di dalam benak, betapa menyenangkannya tidur di atas rerumputan sambil memandang langit bertaburan bintang. Untuk orang sepertiku yang notabene orang kota asli, hal tersebut merupakan sesuatu yang langka. Sampai umur segini pun, kegiatan tersebut masih menjadi impian kecilku. Terlihat sederhana, namun sulit sekali dilakukan.

Setelah gagal menikmati langit malam bertabur bintang di kemping pertamaku, tentunya kesempatan kedua tidak akan aku sia-siakan. Ya, di tanggal 6 Agustus kemarin, bertepatan dengan Hari Keantariksaan Nasional, aku dan beberapa teman pegiat Aleut yang lain merencanakan untuk pergi melihat fenomena summer triangle dan milky way. Tadinya sih mau ke Gunung Batu, tapi setelah berdiskusi dengan teman-teman yang lain terkait polusi cahaya, kami memutuskan pergi ke Gunung Putri, Lembang. Selain menjadi pengalaman pertama mengamati bintang, ini juga akan jadi kali pertama aku mengunjungi Gunung Putri yang akhir-akhir ini lagi hitz di Instagram itu.

Ternyata, letak Gunung Putri ini tidak begitu jauh dari Hotel Grand Paradise Lembang. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di parkiran motor. Jalan menuju area parkir pun tergolong mulus. Tidak ada kesulitan sama sekali.

Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 7.500/orang, kami ternyata harus menaiki sebuah anak tangga untuk mencapai pos pertama Gunung Putri. Dengan penuh amarah dan emosi karena sempat berdebat dengan salah seorang kawan di bawah, aku dan satu orang temanku sampai duluan ke atas. Jalanan yang cukup menanjak dan tinggi membuat teman-teman lain tertinggal di belakang. Aku pun ngas-nges-ngos sambil istirahat sebentar dan meminta air minum pada teman yang lain. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Kendan, Nagreg, dan Candi Bojong Menje (Part 1)

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Kendan berasal dari kata ‘kenan’, yaitu sejenis batuan cadas, berongga, dan di dalamnya mengandung kaca (batu beling) berwarna hitam, yang biasa kita sebut dengan nama batu Obsidian. Hanya di bukit Kendan ini kita dapat menemukan bebatuan yang sangat indah ini.”

Membaca kutipan mengenai Kendan di atas membuat aku teringat akan pengalamanku saat pertama kali melihat wujud asli batu obsidian di situs penggalian bukit Kendan (31/01/2016). Indah, bercahaya, berwarna hitam legam, membuat ‘pecinta’ batu ingin membawanya sebanyak mungkin ke rumah dan memolesnya bersih. Aku dan beberapa teman dari Komunitas Aleut sampai terpana melihat betapa cantiknya batu hitam legam ini; kami bawa batunya pulang, tidak banyak. Ya, tidak banyak.

Batunya berbentuk hati. Cantik tenan…

Di bukit itu pula aku melihat saksi sejarah kejayaan kerajaan lama di Tatar Sunda dengan Nagreg sebagai puseur dayeuh (ibu kota)-nya. Siapa sangka di Nagreg ada sebuah kerajaan? Di daerah Kabupaten Bandung ini, yang ternyata dulunya merupakan sebuah kerajaan besar dengan Resiguru Manikmaya (sudah Resi, Guru pula!) sebagai rajanya. Ya, mungkin hanya aku saja yang ketinggalan info, baru belajar mengapresiasi sejarah di umur-umur yang telat ini. Baca lebih lanjut

HOS Tjokroaminoto

Oleh @bagusreza

Haji Oemar Said Tjokroaminoto, sang Raja Tanpa Mahkota. Ia dilahirkan di Madiun pada 16 Agustus 1882. Menanggalkan gelar kebangsawanan Raden Mas dan menggantinya dengan Haji Oemar Said. Mengundurkan diri sebagai pegawai juru tulis di Madiun yang sangat pro-kolonial dan kemudian melarikan diri ke Semarang menjadi buruh angkut pelabuhan, tempat Ia dapat merasakan penderitaan kaum bawah. Sepak terjang dan nama besarnya kemudian tidak bisa dilepaskan dari organisasi Sarekat Islam.

Sarekat Islam didirikan di Solo oleh H. Samanhoedi pada 11 November 1911 dengan tujuan menjadi benteng pelindung para saudagar batik dari tekanan Pedagang Cina dan Kalangan Ningrat. Di bawah kepemimpinan H. Samanhoedi, Sarekat Islam berjalan lepas. Meski memiliki tujuan tinggi, kepemimpinannya tidak dapat menjangkau anggota, Sarekat Islam tidak dapat memperluas kegiatannya yang terbatas pada persaingan bisnis dengan Pedagang Cina dan Ningrat Solo saja.

Merasa organisasinya tidak berkembang, H. Samanhoedi sebagai Ketua dan R.M. Tirto Adhi Soerjo sebagai penyusun anggaran dasar pertama, mengajak Tjokro bergabung pada Mei 1912. Pada masa itu Tjokro telah dikenal dengan sikapnya yang radikal dalam menentang perilaku feodal. Tugas pertamanya di Sarekat Islam yaitu menyusun struktur organisasi yang jelas dan membuat ulang Anggaran Dasar Organisasi. Dengan masuknya Tjokro, Sarekat Islam melaju menjadi organisasi politik ideologis berdasarkan Islam. Sarekat Islam menjadi kendaraan politik gaya baru pada masa itu dalam mengekspresikan kesadaran berbangsa melalui penerbitan surat kabar, unjuk rasa, pemogokan buruh dan partai politik. Ia memimpikan anak Bumiputera bisa berdiri sejajar dengan Belanda.

Tidak lama setelah bergabung, Tjokro berinisiatif mengadakan Kongres Sarekat Islam Pertama di Surabaya pada tahun 1912 dengan hasil Kongres membagi Sarekat Islam ke dalam 3 yaitu Wilayah Barat meliputi Jawa Barat dan Sumatera, Wilayah Tengah meliputi Jawa Tengah dan Kalimantan, Wilayah Timur meliputi Jawa Timur dan daerah Indonesia Timur dengan Kantor Pusat yang berkedudukan di Surakarta. Tjokro tidak butuh waktu lama untuk menjadi orang yang berpengaruh di Sarekat Islam, melalui Kongres Sarekat Islam di Jogjakarta tahun 1914 Ia berhasil menggulingkan Samanhoedi dari jabatan Ketua.

Sebagai ketua, Tjokro langsung bergerilya ke semua cabang Sarekat Islam, berpidato atau hanya sekadar memberikan pemahaman mengenai visi kebangsaannya. Salah satu hasil manuvernya sebagai ketua, yaitu diakuinya Sarekat Islam secara hukum sebagai organisasi Organisasi Nasional oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1916. Setelah itu, pada tahun yang sama Sarekat Islam mengadakan Kongres Nasional pertamanya di Bandung. Program Kerja Sarekat Islam meluas, pro kepentingan rakyat dan umat Islam pada khususnya. Dukungan semakin banyak, anggota di daerah semakin bertambah. Rakyat jelata memiliki identitas baru, mereka sangat antusias mengikuti kongres-kongres. Sejak awal Anggaran Dasar Organisasi yang disusun Tjokro tidak hanya berupaya melindungi kepentingan perdagangan saja, ada kepentingan lain untuk memajukan kesejahteraan dan pendidikan kaum bumiputera.

Sarekat Islam semakin berkembang ketika pengaruhnya semakin kuat di cabang-cabang mulai terjadi beberapa pergerakan yang dinilai sebagai tindakan pembangkangan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Khususnya di wilayah Jawa Barat pada tahun 1919, di Afdeling B Garut para petani menolak menjual berasnya kepada Pemerintah Hindia Belanda, terjadi kerusuhan kecil di kota tersebut. H. Gojali sebagai pemimpin pergerakan itu ditangkap. Pemerintah meggunakan kekuatan senjata untuk menghentikan kerusuhan tersebut. H. Gojali yang mempunyai hubungan dengan Sarekat Islam kemudian dijadikan dasar untuk menangkap Tjokro oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ia ditahan pada bulan Agustus 1921 sampai April 1922 tanpa ditunjukkan Ia bersalah atau tidak.

Ngarumat Pusaka di Bumi Alit

Oleh: Anggi Aldila (@anggicau)

Rabu malam (23/12) setelah selesai shalat Maghrib, saya memberanikan diri untuk masuk ke lingkungan situs Bumi Alit di Lebakwangi – Batukarut, Banjaran. Menurut informasi yang saya terima, malam itu ada acara yang akan digelar semalam suntuk sebelum acara inti digelar keesokan harinya, Kamis (24/12). Akan tetapi, hanya ada anak – anak yang sedang latihan menabuh gamelan pada malam itu.

Saya cukup beruntung, karena di sana ada beberapa orang panitia acara. Salah satunya Bapak. H. Itang Wismaya yang terkadang menjadi penabuh gamelan “Goong Renteng”. Beliau cukup membantu memberikan informasi terkait rangkaian acara inti Kamis esok hari, yang meliputi acara memandikan pusaka yang disimpan di dalam Bumi Alit sepanjang tahun dan juga acara memandikan Gamelan yang menjadi acara utama.

Setelah melaksanakan aktivitas rutin di rumah di keesokan harinya, sekitar pukul 06.00 saya mulai berangkat ke Bumi Alit. Waktu yang diperlukan untuk sampai di sana cukup setengah jam saja. Setibanya di sana, terlihat masih belum banyak orang yang masuk area Bumi Alit. Namun, para pupuhu, panitia, dan juga kuncen sudah hadir.

Para Pupuhu Berkumpul Sebelum Memandikan Senjata Pusaka

Kami para peliput dipersilahkan masuk ke dalam Bumi Alit untuk mengikuti proses memandikan pusaka yang hanya dikeluarkan setiap tanggal 12 Rabiul Awal atau setiap memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekitar pukul 07.15, acara di Bumi Alit dimulai. Suasana heningpun menyelimuti semua yang ada di dalam Bumi Alit. Kami sempat dikagetkan oleh seseorang yang menangis sebelum pusaka dikeluarkan.

Saat kami sedang menunggu acara memandikan pusaka, tiba–tiba melintas arak–arakan gamelan yang dibawa dari rumah kuncen. Gamelan tersebut akan dimandikan setelah acara memandikan pusaka selesai. Kami para peliput dengan sopan langsung keluar, sedikit berlari, untuk mendapatkan momen arak–arakan gamelan. Setelah mengambil sedikit gambar, kami masuk kembali ke dalam Bumi Alit, dan acara pun dimulai.

Satu persatu benda pusaka yang dibalut oleh kain kafan mulai dikeluarkan. Setelah seluruh barang dikeluarkan, kuncen menerangkan bahwa semua barang pusaka akan dimandikan secara berurutan. Dari pusaka yang yang dimandikan pertama, kedua, ketiga, begitu seterusnya sampai terakhir.

Gobang, Salah Satu Pusaka yang Dikeluarkan untuk Dimandikan

Jika proses memandikan pusaka di dalam Bumi Alit berlangsung dalam keadaan hening, lain halnya dengan proses memandikan gamelan yang sudah ditunggu oleh banyak orang.Maklum, proses memandikan gamelan ini dilakukan di lingkungan luar Bumi Alit dan bisa disaksikan oleh khalayak ramai. Beberapa orang mulai merapat ke tempat pemandian gamelan yang disediakan di samping bale. Sebelum gamelan mulai dimandikan, para petugas yang bertugas memandikan gamelan berdoa terlebih dahulu. Sesaji pun disiapkan, dan wangi harum kemenyan mulai merebak di sekitar pemandian.

Berdoa Sebelum Memandikan Goong Renteng

Banyak orang membawa botol air mineral sampai ember untuk menampung air bekas memandikan gamelan secara berebut. Anak–anak dan sejumlah ibu–ibu bahkan dengan sengaja berdiam di bawah gamelan yang sedang dimandikan.

Anak–anak Mandi di Bawah Goong Renteng

Gamelan “Goong Renteng” adalah seperangkat gamelan yang masih utuh dan lengkap peninggalan dari leluhur Lebakwangi. Ada yang mengatakan kalau usia Goong Renteng dan juga pusaka yang ada di Bumi Alit itu sudah mencapai ribuan tahun. Kalimat ini sering diutarakan oleh para keturunan Lebakwangi. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan usia sebenarnya dari gamelan tersebut.

Selesai dimandikan, pusaka di Bumi Alit kembali ditutup oleh kain kafan dan disimpan di dalam Bumi Alit. Lain halnya dengan perangkat gamelan. Setelah dibersihkan dan diberikan wewangian, gamelan kemudian akan ditabuh oleh para nayaga yang sudah bersiap di bale Situs Bumi Alit. Kebanyakan dari nayaga tersebut sudah berusia sepuh, hanya ada satu orang yang masih terlihat muda.

Pagi itu, banyak dari keturunan Lebakwangi yang biasa dipanggil Siwi Suwu berdatangan ke Situs Bumi Alit sambil membawa tikar dan makanan (banyak pula yang membawa nasi tumpeng). Nasi dan lauk pauk yang mereka bawa tersebut tidak dimakan langsung melainkan disantap setelah ada perintah dari pembawa acara.

Pukul 08.45 semua pusaka sudah selesai dimandikan. Pembawa acara kemudian naik ke podium untuk memberikan pengumuman. Beliau meminta kepada para nayaga untuk memainkan satu buah lagu sebagai hiburan bagi para Siwi Suwu dan masyarakat yang sudah hadir di acara yang rutin dilakukan setiap tahun ini.

Nayaga Memainkan Goong Renteng (Gamelan Embah Bandong)

Acara pun dibuka. Dimulai dengan memanjatkan doa terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan sambutan – sambutan yang selalu ada di setiap acara. Para nayaga kemudian memainkan lagu – lagu yang rutin dimainkan setiap helatan ngarumat pusaka. Lagu – lagu ini kebanyakan berisi cerita maupun petuah. Menurut informasi yang penulis dapatkan, dari total 14 lagu ini masih ada beberapa lagu yang nadanya belum diketahui.

Demikian serangkaian kegiatan acara “Ngarumat Pusaka” di Situs Bumi Alit Kabuyutan Lebakwangi-Batu Karut, Arjasari yang rutin digelar setiap tahun. Sebenarnya, setelah acara inti masih ada acara yang dilaksanakan tanggal 26 Desember 2015, yaitu Ngabungbang di mana para peserta Ngabungbang akan melepaskan apa yang ada didalam hati sambil diiringi gamelan. Sayang, penulis berhalangan hadir di acara ini karena berbenturan dengan acara keluarga yang tak bisa ditinggalkan.

Seuweu Siwi Berkumpul di Halaman Situs Bumi Alit

 

Tautan asli: https://tulisansikasep.wordpress.com/2015/12/28/ngarumat-barang-pusaka-kabuyutan-bumi-alit/

Kampung Mahmud dan Sisa Kearifan Lokalnya

Oleh: Z. Puteri Syahadah (@PuteriZS)

Put01

Mendengar kata kampung adat, terutama kampung adat Sunda, yang ada di benak saya adalah rumah panggung dan suasana lingkungan asri yang jauh dari jangkauan teknologi. Adapun definisi dari kampung adat menurut saya sendiri adalah suatu lingkungan yang memiliki dan juga masih mempertahankan adat istiadat, hukum, dan aturan yang telah ditetapkan oleh leluhur dari tempat tersebut. Walaupun begitu, sekarang ini ada beberapa kampung adat yang sudah mulai menerima masuknya teknologi, seperti kampung adat yang baru saja saya kunjungi bersama teman-teman dari Komunitas Aleut yaitu Kampung Mahmud yang berada di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Dengan menaiki angkot, saya dan teman-teman bergegas menuju Kampung Mahmud. Alangkah kagetnya saya ketika sampai di Kampung Mahmud. Saya melewati sebuah jembatan yang menebarkan aroma tidak sedap. Aroma tidak sedap itu berasal dari Sungai Ci Tarum yang kini sudah dipenuhi sampah dengan air yang berwarna hitam disebabkan oleh limbah pabrik industri yang dibuang ke Sungai Ci Tarum.

Put02

Tak jauh dari jembatan Ci Tarum Baru, terdapat gerbang Kampung Adat Mahmud. Saya dan teman-teman segera masuk ke Kampung Mahmud sambil sesekali memperhatikan dan memotret lingkungan sekitar. Menurut cerita Haji Syafei, salah satu sesepuh Kampung Mahmud, Eyang Abdul Manaf yang merupakan penyebar agama Islam pertama di Bandung, ketika itu beliau sedang bertafakur kepada Allah di Kampung Mahmud di Mekkah. Kemudian beliau mendapatkan “wangsit” yang menyuruhnya untuk mengambil segenggam tanah dari Kampung Mahmud untuk dibawa ke tanah air dan ditebar di sekitar rawa-rawa Sungai Ci Tarum. Karena itu nama kampung ini pun Kampung Mahmud. Eyang Abdul Manaf menjadikan kampung ini sebagai pusat penyebaran ajaran Islam pertama di wilayah Bandung. Eyang Abdul Manaf adalah keturunan ke-7 dari Syarif Hidayatullah. Dalam menyebarkan ajaran islam sehingga dapat meluas di luar wilayah Bandung, beliau tidak sendirian, melainkan beliau berjuang bersama kedua muridnya yaitu Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug.
Put03
Tak hanya itu, Kampung Mahmud dijadikan sebagi kawasan “haram”, artinya Kampung Mahmud tidak boleh dikunjungi atau diinjak oleh seseorang yang tidak beragama Islam. Sekitar 150 m dari makam Eyang Abdul Manaf ke arah timur terdapat sebuah tugu. Tugu ini dibangun oleh Eyang Abdul Manaf untuk menandai bahwa kawasan Kampung Mahmud merupakan daerah “suci” seperti halnya Mekkah dan Madinah.

Pada saat awal pendirian Kampung Mahmud, banyak aturan yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat Kampung Mahmud seperti tidak boleh membuat sumur, tidak boleh membuat rumah permanen dan menggunakan kaca pada jendela, tidak boleh memelihara kambing dan angsa, serta menggunakan alat-alat musik termasuk bedug. Masyarakat dilarang membuat sumur karena untuk memenuhi kebutuhan air yang dipakai masyarakat Kampung Mahmud berasal dari Sungai Ci Tarum yang bersih dan jernih, sedangkan larangan membangun rumah permanen dikarenakan rumah panggung merupakan simbol dari kesederhanaan dan pemasangan kaca di jendela rumah ditakutkan akan membuat masyarakatnya menjadi sombong. Selain itu, larangan memelihara kambing dan angsa ditakutkan akan membuat kebisingan di Kampung Mahmud yang tentram dan damai itu.

Meskipun tidak ada aturan tertulis, masyarakat begitu mempercayai aturan dari para leluhur tersebut. Karena apabila aturan itu dilanggar, maka orang yang melanggar tersebut akan mengalami musibah berupa kehidupan rumah tangga yang hancur, kesulitan ekonomi, atau berupa sakit yang tak kunjung sembuh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran Eyang Abdul Manaf sebagai tokoh penyebar ajaran islam pada saat itu sangat dihormati. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang mengunjungi Kampung Mahmud untuk berziarah ke makam beliau. Hampir setiap harinya ada saja masyarakat Kampung Mahmud atau masyarakat luar Kampung Mahmud dari berbagai golongan mendatangi makam Eyang Abdul Manaf. Mereka datang untuk mendoakan leluhur yang dikeramatkan, namun tidak sedikit pula dari mereka yang datang dengan tujuan tertentu. Banyaknya orang yang mengunjungi Kampung Mahmud, kampung ini dimanfaatkan sebagai tempat wisata dan kegiatan ekonomi lainnya. Ini terlihat dari banyaknya pedagang di sepanjang jalan Kampung Mahmud yang menjajakan berbagai kebutuhan ibadah dan kebutuhan perut.

Seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya pergeseran nilai di tengah masyarakat Kampung Mahmud, larangan itu kini sudah mulai ditinggalkan. Arus modernisasi yang terjadi sekarang membawa dampak bagi Kampung Mahmud. Berbagai adat dan aturan yang dulu sangat dipegang oleh masyarakat Kampung Mahmud dengan teguh perlahan mulai melonggar. Adapun perubahan lingkungan yang tidak bisa dihindari seperti berubahnya Sungai Ci Tarum yang menjadi tidak bersih dan jernih, mendorong warganya untuk membuat sumur masing-masing.

Selain itu, masuknya teknologi modern merusak suasana Kampung Mahmud yang sarat akan adat dan tradisi. Kini hampir setiap rumah memiliki televisi. Masyarakat Kampung Mahmud sekarang terbiasa dengan tontonan yang menayangkan kehidupan para selebritis yang mewah sehingga mengakibatkan berubahnya pola pikir dan gaya hidup kampung Mahmud. Nilai-nilai kesederajatan dan kesederhanaan kini mulai sedikit berkurang seiring banyaknya aturan yang dilanggar seperti mulai berdirinya rumah-rumah yang bertembok lengkap dengan kaca.

Meskipun Kampung Mahmud sudah mengalami banyak perubahan dan menerima pengaruh dari luar setidaknya ada kebiasaan yang tidak berubah seperti kebiasaan berziarah. Tidak hanya itu, masyarakat Kampung Mahmud berusaha keras untuk tetap mempertahankan keaslian dan keasrian Kampung Mahmud. Hal itu terlihat dari masih adanya bangunan-bangunan seperti rumah, mesjid, atau komplek makam yang dibuat dengan menggunakan bahan kayu serta berdinding bilik. Itulah Kampung Mahmud, kampung adat yang tetap berusaha memelihara adat-istiadatnya dan penghormatan kepada leluhur.