Rasia Bandoeng

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM

RASIA BANDOENG
atawa 
Satu percinta-an yang melanggar peradatan “Bangsa Tiong Hoa” satu cerita yang benar terjadi di kota Bandung dan berakhir pada tahon 1917.

Diceritaken oleh Chabanneau *******

Diterbitkan pertama kali oleh Gouw Kim Liong, tahun 1918
Dicetak oleh Drukkerij Kho Tjeng Bie & Co., Batavia
Diterbitkan ulang dengan penambahan oleh Ultimus

Disalin dan diberi catatan oleh Komunitas Aleut!
Disunting oleh Ridwan Hutagalung
Rancangan sampul oleh Ridwan Hutagalung

Novel Rasia Bandoeng pertama kali terbit pada tahun 1918 secara bersambung dan seluruhnya terdiri dari tiga jilid.

Novel ini memang sempat heboh pada masanya karena isinya yang mengungkap sebuah kisah nyata hubungan cinta terlarang sesama marga Tionghoa di Bandung tempo dulu.

Sudah lama isi novel Rasia Bandoeng menjadi perhatian Komunitas Aleut, tidak melulu karena isi ceritanya tetapi juga karena banyaknya nama tempat yang disebutkan di situ. Di awal tahun 2016 ini Komunitas Aleut mengemas novel Rasia Bandoeng dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti Ngaleut Rasia Bandoeng, Tjerita Boekoe, dan terakhir, menerbitkan ulang novel lama itu dalam bentuk yang Anda terima sekarang ini.

Untuk penerbitan ulang novel Rasia Bandoeng ini, ketiga jilid yang semula terpisah sekarang digabung menjadi satu buku saja. Pada isi naskah dilakukan sedikit perubahan ejaan lama ke dalam ejaan baru, selebihnya disalin sesuai dengan aslinya. Selain itu ada tambahan catatan kaki untuk berbagai istilah yang sudah tidak umum sekarang, serta lampiran artikel investigatif oleh Lina Nursanty Rasia Bandoeng yang pernah dimuat secara serial di HU Pikiran Rakyat.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Jun 2016
Pengarang: Chabanneau *******
Halaman : 296
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-75-3

Harga umum 85,000

Pemesanan: 0859-7490-5769
Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu,
Bandung 40264

Harga di Kedai Preanger 75,000

Pernik KAA 2015

WhatsApp Image 2016-08-03 at 6.51.43 PM (1)

Pernik KAA 2015; Serba-serbi Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika 1955.
Catatan Liputan Komunitas Aleut!
Penyunting: Ridwan Hutagalung

Nugent dalam bukunya Creative History (1967) menjawab pertanyaan mengapa kita perlu mempelajari sejarah dari dua segi, yaitu bagaimana sejarah itu dapat menolong kita untuk hidup dan bagaimana sejarah itu dapat menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk menjawab pertanyaan tersebut Nugent mengatakan dengan tegas bahwa “Know other peoples, know yourself”.

Sejarah sebagai pengalaman manusia memberikan berbagai alternatif untuk memilih begitu banyak cara hidup (a multitude of ways). Setiap orang adalah produk masyarakat dan masyarakat adalah produk masa lampau, produk sejarah. Dengan mempelajari sejarah kita akan mampu menghindari berbagai kesalahan dan kekurangan masyarakat masa lampau untuk kemudian memperbaiki masa depan.

Sejarah juga selalu melahirkan panggung bagi orang-orang besar. Namun demikian, tak banyak yang mencatat peran orang-orang di balik layar panggung sejarah. Ada banyak peristiwa kecil di balik panggung sejarah. Peristiwa-peristiwa itu terangkai menuju pada peristiwa besar. Peristiwa kecil menentukan kesuksesan aktor di panggung sejarah.

Di balik hingar bingar Peringatan ke-60 Tahun KAA Tahun 2015 ada banyak peristiwa sejarah. Ribuan warga Kota Bandung, mulai dari usia dini, remaja, hingga lanjut usia bergemuruh mengumandangkan gema Dasasila Bandung. Setiap warga mempunyai caranya tersendiri untuk menghormati lahirnya Nilai-nilai Luhur Dasasia Bandung.

Buku ini telah merekam dengan baik semua peristiwa di balik layar itu. Tak hanya mengabadikan peristiwa sejarah, namun lebih dari itu Komunitas Aleut! telah melestarikan ruh gotong royong warga Kota Bandung yang masih terus menyala-nyala. Gotong royong adalah ruh kreatif Konferensi Asia Afrika.

Penerbit : Ultimus
Cetakan : 1, Mei 2016
Penulis: Ridwan Hutagalung (ed.)
Halaman : 222
Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
ISBN : 978-602-8331-73-9

Harga Rp.65.000

Pemesanan: 0859-7490-5769

Atau datang langsung ke
Kedai Preanger
Jl. Solontongan No.20-D, Buahbatu
Bandung 40264

Cara Komunitas Aleut Merespon Kegiatan Kota dan Membibit Gerakan Literasi

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

 

13094404_10209748331330994_328495009543671917_n

Sesekali atau bahkan berkali-kali, di smartphone muncul broadcast yang isinya informasi dan himbauan untuk menghindari beberapa ruas jalan. Hal itu disebar katanya demi menghindarkan warga kota dari macet jahanam yang menjengkelkan. Selintas hal tersebut—karena kerap muncul, seperti sebuah kebenaran yang tak terbantah. Warga kota yang tergesa dengan agendanya masing-masing tak sudi acaranya dirintangi oleh jalanan yang tersumbat. Keramaian dan keriuhan, apa pun acaranya dan siapa pun penyelenggaranya, semacam telah menjadi musuh alami yang mengejawantah di broadcast yang bertebaran menyusup di semesta smartphone.

Dalam konteks kota sebagai ruang hidup bersama—pada kasus ini adalah Kota Bandung, acara-acara yang melibatkan warga kota sebetulnya adalah sesuatu yang patut untuk dirayakan. Bagaimana tidak? Bukankah tebaran taman yang menghiasi hampir sekujur kota adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan warga atas ruang hidup dan interaksi bersama. Ya, interaksi. Bertemu dengan warga kota lain; bisa tetangga sebelah rumah, warga beda kelurahan dan kecamatan, dll. Atau jika dijelentrehkan dalam strata dan status sosial, di ruang publik itu kita bisa bertemu beragam manusia; pengangguran, pencopet, pasangan yang baru reda dari pertengkaran hebat, anak dan orangtua yang jarang ngobrol, tukang cuanki, PNS yang bosan dengan pekerjaannya, dll.

Pemberitahuan dan himbauan untuk menghindari beberapa ruas jalan yang diprediksi akan macet karena adanya acara yang melibatkan warga kota, sesungguhnya adalah sebuah laku ironi. Kita mengharapkan ruang publik untuk berinteraksi, sementara di lain waktu kita malah menghindari acara yang melibatkan banyak warga.
Dari perspektif inilah kemudian kami (Klab Aleut) merumuskan dan mengambil sikap, bagaimana caranya merespon setiap kegiatan kota yang melibatkan banyak warga. Sebagai komunitas yang pada mula dan seterusnya concern terhadap—tidak hanya sejarah, namun juga laku interaksi warga kota, kami kemudian memutuskan untuk ambil bagian dan bahkan lebur dengan setiap kegiatan kota.

Meski sikap dan kesadaran ini telah jauh-jauh hari kami rumuskan, namun moment pertama yang paling kentara adalah ketika Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun kemarin. Dengan semangat kolektif khas komunitas, kami menyambut Peringatan KAA ke-60 dengan jalan meleburkan diri. Kami berusaha larut dengan kerja-kerja liputan—yang meskipun amatiran, tapi kami melakukannya setiap hari hampir tanpa jeda. Kami bertemu dan mewawancarai pedagang kaki lima, warga yang hidup di gang-gang di sekitar Gedung Merdeka, aparat keamanan yang bertugas dan berjaga, tukang yang mengerjakan perbaikan trotoar, tukang membuat plat nomor, dll. Hasil liputan tersebut tidak selalu terlahir menjadi satu tulisan panjang dan utuh, namun bisa juga hanya menjadi informasi-informasi pendek yang kami hadirkan di beberapa saluran media sosial.

13062506_10209756405092833_6961240791952493199_n

Selain menghasilkan beberapa tulisan, liputan ini pun berhasil menjerat beberapa peristiwa dengan bantuan kamera. Foto-foto dengan kualitas sederhana kami simpan dan beberapa dipublikasikan. Bagi kami ini perayaan. Bukan karena gempita dan besarnya biaya yang keluar, namun bagaimana kami sebagai warga kota mencoba larut dalam kegiatan.

Setahun pasca peringatan, seiring dengan semangat literasi yang kembali tumbuh, kami menyunting ulang semua tulisan tersebut. Maka hari ini, di acara soft launching buku “Pernik KAA 2015”, semua tulisan yang terbuhul tersebut adalah hasil kerja kami setahun yang lalu. Begitu pula foto-foto yang kami pajang, semuanya hasil kurasi dari ratusan foto yang kami hasilkan sepanjang liputan.

Acara ini pun sekaligus sebagai penanda atau semacam batu tapal, tentang kami yang hendak berkabar, bahwa ada hari-hari di luar kegiatan NgAleut yang rutin kami lakukan setiap hari Minggu, yang kami isi dengan kerja-kerja literasi yang bahan bakarnya adalah semangat kolektif berkomunitas.

13083297_10209748331290993_431501054088103612_n

Komunitas Aleut yang sejak lahir dan tumbuh tidak bisa dipisahkan dengan buku, hari-hari ini mencoba tampil tidak hanya sebatas “mengkonsumsi” buku, namun juga mencoba untuk “berproduksi”. Teks-teks lama yang sudah langka, yang kiranya masih relevan dengan sejarah Bandung; kami himpun, ketik ulang, disunting dan diberi pengantar, sebelum akhirnya diterbitkan ulang agar bisa diakses oleh masyarakat luas. Beberapa teks lama yang telah, tengah, dan akan kami garap di antaranya:

Pertama, “Rasia Bandoeng: atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir pada Tahun 1917” karangan Chabanneau. Roman ini terbit sekira satu abad yang lalu. Peredarannya amat terbatas, dan ini disinyalir karena isinya terkait dengan aib keluarga dalam satu she atau marga di kalangan masyarakat Tionghoa di Bandung. Penerbitan ulang roman ini dimaksudkan bukan untuk mengorek kembali “luka lama”, namun semangatnya lebih ingin menghadirkan satu gambaran utuh tentang kehidupan warga Kota Bandung di masanya, lengkap dengan lanskap kota yang didadarkan sebagai latar cerita.

Dalam satu acara bedah buku dan bincang-bincang terkait dengan roman ini, kami telah bertemu dengan beberapa anggota keluarga para tokoh yang ada dalam roman. Pada dasarnya mereka menyambut baik penerbitan ulang kisah para leluhurnya, karena bagi mereka hal ini dianggap sebagai satu sisi sejarah kota yang pernah hidup.

Selain itu, kami pun pernah mengangkat roman ini sebagai tema dalam satu kesempatan NgAleut. Rutenya kami ambil dari tempat-tempat yang diceritakan dalam roman, dan kegiatannya dilakukan malam hari bertepatan dengan malam Imlek 2567. Sekarang roman ini sedang dalam proses di tangan penerbit Pustaka Jaya.

Kedua, “Bandung Baheula” karangan R. Moech. Affandi
Naskah ini mula-mula terbit di tahun 1969, dan seperti yang disebutkan di pengantar oleh penulisnya, kehadiran buku ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan orang Sunda yang masih sedikit. “Didasarkeun kana kabutuh masarakat tatar Sunda nu numutkeun kanjataan masih kirang kénéh ku buku2 dina basa Sunda anu mangrupi aosan…”

“Bandung Baheula” terdiri dari tiga jilid yang isinya bercerita tentang kondisi dan suasana Bandung tempo dulu, namun berbeda dengan buku-buku “sejarah” Bandung lainnya–meski benar-benar pernah terjadi, tapi cara penyajian cerita di buku ini mayoritas cenderung lebih mirip dengan kisah fiksi; nama tempat dan tokoh diganti dan disamarkan. Hal ini ditempuh oleh penulis dengan pertimbangan agar sesuai dengan etika dan estetika kepribadian orang Sunda.

“Nanging, sanadjan sugri nu ditjarioskeun dina ieu buku kapungkurna leres2 ogé kadjadian, kanggo marganing kautamian, boh tina perkawis wasta tempat, boh tina perkawis wasta djalma miwah kalungguhanana nu kaungel dina masing2 tjarios; di antawisna aja ogé anu ngahadja digentos dibentenkeun tina aslina.
Nja kitu deui djalanna tjarios ogé diolah sinareng diréka deui, disusurup malar pajus, dikekewes malar pantes, dilujukeun kana djiwa kapribadian sélér Sunda nu resep kana gumbira (humor).”

Hal ini tidak lepas dari profesi penulis yang seorang dalang, sehingga memudahkannya untuk—tidak hanya merubah nama tempat dan tokoh, namun juga mereka ulang sebagian kisah yang dianggap kurang pantas menjadi susunan yang lebih sesuai dengan norma kepribadian orang Sunda. Naskah ini telah selesai kami ketik ulang, dan sekarang tengah masuk ditahap penyuntingan.

Ketiga, “Keur Kuring di Bandung” dan “Saumur Jagong” karya Sjarif Amin. Dua karya mantan jurnalis senior ini juga bercerita tentang Bandung zaman baheula. Sjarif Amin atau nama aslinya adalah Moehammad Koerdi adalah salah seorang perintis pers di Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai wartawan surat kabar berbahasa Sunda “Sipatahoenan”, redaktur mingguan “Bidjaksana”, dan di zaman Jepang ikut dalam jajaran redaktur koran “Tjahaya”. Pasca kemerdekaan ia menerbitkan surat kabar “Soeara Merdeka” dan “Indonesia”. Sebagai seorang wartawan, Sjarif Amin tentu sudah sangat terbiasa dengan data dan fakta di lapangan, sehingga buku-bukunya yang terkait dnegan “sejarah” Bandung dirasa lebih otentik.
Saat ini kedua buku tersebut sudah sangat langka, sehingga kami berinisitif untuk menerbitkan ulang. Sampai hari ini pengerjaan kedua buku tersebut masih pada tahap pengetikan ulang.

Di luar kegiatan menerbitkan ulang teks-teks lama, kami pun mencoba menerjemahkan beberapa buku berbahasa Inggris dan Belanda yang tentu saja ada kaitannya dengan sejarah Bandung. Buku pertama berjudul “History of Our Family”. Buku ini berkisah tentang perjalanan keluarga Kerkhoven, salah satu keluarga Preangerplanters yang kiprahnya cukup sukses di lingkungan perkebunan wilayah Priangan. Buku kedua berjudul “Bandung and Beyond” yang isinya bercerita tentang perjalanan sebuah keluarga dalam berkeliling di dalam dan sekitar Kota bandung. Sedangkan buku berbahasa Belanda yang juga tengah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu “Bandung 1918”. Buku ini mendadarkan pembangunan awal Kota Bandung dalam rangka menyambut rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung.

Jika dua kerja literasi di atas (pengetikan ulang dan penerjemahan) terkait erat dengan naskah-naskah milik “orang lain” atau para penulis di luar Komunitas Aleut, maka selain buku “Pernik KAA 2015” kami pun sesungguhnya masih punya beberapa buku yang kami produksi sendiri, yaitu “Memento; Sehimpunan Kisah Masa Kecil” dan “Ensiklopedi Sejarah Bandung”.

“Memento” sesuai dengan subjudul yang mengikutinya adalah kumpulan kisah masa kecil dari para pegiat Komunitas Aleut, dalam rangka menyambut ulang tahun sewindu dan satu dasawarsa Komunitas Aleut. Ya, buku ini memang terbit dua kali; tahun 2014 dan 2016. Apa yang tersaji sekarang merupakan gabungan dari buku yang pertama yang ditulis oleh para pegiat lama, dan tulisan baru karya para pegiat yang hadir belakangan.

Zen Rs dalam sebuah esainya tentang persahabatan, menulis sebuah kontemplasi Milan Kundera dari novel yang berjudul “Identity”. Terkait penulisan kisah masa kecil ini, kiranya apa yang diutarakan Milan Kundera melalui tulisan kepala penyunting panditfootball.com ini layak menjadi salah satu bahan perenungan:

“Teman masa kecil, kata Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Teman masa kecil dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa kita tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Untuk itu, ingatan mesti disiram seperti bunga dalam pot. Karenanya kita memerlukan kontak dengan teman dan sabahat masa kecil, sebab merekalah saksi mata dari masa silam.”

Sementara Mircea Eliade—seorang antropolog, dalam buku “Ordeal by Labirinth” menulis, “Setiap tanah air terdiri dari bentangan geografis yang sakral. Bagi siapa pun yang meninggalkannya, kota masa kecil dan remaja akan selalu menjadi negeri dongeng.”

Dalam beberapa pertimbangan, kiranya buku “Memento” ini sengaja ditulis dan dihadirkan terkait dengan dua hal tersebut di atas, selain juga faktor penting lainnya—terutama dalam semangat dan koridor berkomunitas, yaitu cara untuk para pegiat Komunitas Aleut belajar bercerita secara tertulis.

Dan terakhir kerja literasi terberat yang tengah kami jalani adalah menyusun “Ensiklopedi Sejarah Bandung”. Sepenuh sadar kami akui bahwa ini adalah proyek nekad. Kami hanya berbekal buku sebagai sumber tertulis dan semangat berkarya yang terus menyala di kalangan para pegiat Komunitas Aleut. Kami yang semuanya tidak memiliki latar pendidikan sejarah, waktu yang terbatas, bekerja dengan sistem relawan, “tergoda” untuk membuat sebuah karya yang cukup besar. Karya yang sesungguhnya amat erat kaitannya dengan apa yang kami kerjakan secara rutin selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini.

Proyek besar ini telah berjalan kira-kira satu bulan, dan meskipun kami susun timeline kerja, namun entah kapan kiranya karya ini akan lahir secara atau mendekati utuh. Namun satu kepastian bahwa kami tetap mengerjakannya.

Di penghujung jejalin paragraf, kami hendak menekankan sekali lagi bahwa apa yang sidang pembaca hadapi dan hadiri hari ini–baik hamparan teks maupun rangkaian acara, adalah dua batu tapal kami untuk mempublikasikan secara serentak apa-apa yang telah, tengah, dan akan kami kerjakan. Bagaimana cara kami merespon kegiatan kota dan membibit kembali gerakan literasi di Kota Bandung, kiranya menjadi salah satu penanda bahwa kami ada dan tetap mengada bagi kota tercinta ini. Salam. [ ]

 

*Ditulis sebagai pengantar di acara soft launching buku “Pernik KAA 2015” di Braga Punya Cerita (Minggu, 24 April 2016)

Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus

Ditulis oleh Nia Janiar dan dipublikasikan di Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti

 

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap “aib” karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Baca lebih lanjut

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur

Oleh: Pustaka Preanger (@PustakaPreanger)

Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang tak mudah, saingannya beratus profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.

Dulu para penulis beradu tulisan demi merayu para editor sehingga bisa meloloskan tulisannya. Di buletin, koran, dan majalah, mereka berdaki-daki dengan segala jurus tulisan dan kantong-kantong kesabaran yang telah dipersiapkan. Namun proses merayu dan menunggu itu sesungguhnya relatif mudah, sebab di fase sebelumnya mereka telah melakukan kerja-kerja lain yang lebih berkeringat. Baca lebih lanjut

Obrolan di Pasar Cihaurgeulis

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Seorang anak kecil terlihat tidak tenang. Beberapa kali ia merengek kepada ibunya yang sedang asik berbelanja. Pertanyaan “Mah, kapan kita pulang?” terus menerus ia lemparkan sambil menutup hidung. Satu-dua kali ibu muda ini masih menjawab pertanyaan anaknya, lalu kemudian tak lagi menggubris rengekan yang terus datang tanpa henti.

“Berapa umurnya, Bu?”, tanya penjual daging sapi yang sedang melayani. “Baru empat tahun, Pak. Bulan depan masuk TK.”, jawab si ibu. Obrolan di antara keduanya terus berlanjut, mulai dari cerita tentang anak paling kecil si penjual daging sapi yang tahun depan akan masuk kuliah hingga membahas mahalnya biaya sekolah sekarang ini.

Rengekan anak kecil itu berhenti, berganti dengan air mata yang meleleh membasahi pipinya. Rupanya kaki si anak menginjak genangan air sisa hujan semalam. Isakan tangis mulai terdengar perlahan. Sadar akan situasi ini, sang ibu langsung menggendong anaknya dan menghentikan pembicaraan.

“Si kecil baru pertama kali ke pasar ya, Bu?”, tanya penjual daging sambil memberikan setengah kilo daging sapi kepada ibu muda itu. “Iya pak, tadi sebelum pergi mendadak ngerengek pengen ikut. Padahal biasanya mah ga pernah mau”, jawabnya sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan”.

Isakan tangis akhirnya berhenti setelah keduanya pergi meninggalkan pasar. Di atas becak, anak kecil itu berujar: “Kok ibu mau sih belanja di tempat kayak gitu? Kan bau, udah gitu becek lagi.”.

***

Masih segar di dalam ingatan saat saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar. Saat fisiknya masih bugar, alm. Eyang sering mengajak saya ke Pasar Cihaurgeulis untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Mulai dari beli ayam potong, buah-buahan, hingga keset ataupun lap pel. Sebagai hadiah karena mau menemani berbelanja, Eyang kerap kali membelikan saya mainan. Mainan ini terkadang jadi bahan perdebatan kecil antara Ibu dan Eyang karena mainan di kamar saya semakin menumpuk. Baca lebih lanjut

Berkenalan dengan Realisme Magis

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk,” sabda novelis Gustave Flaubert, “kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Maka Gabriel Garcia Marquez menemukan dunia lain itu dalam fiksi. Ya, kita bakal menikmati keasyikan akan penemuan sebuah dunia yang hilang, petualangan masa silam lewat pengembaraan sebuah semesta dari novel-novelnya penulis kelahiran Kolombia ini.

Begitu pula ketika menyelami Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan – yang notabene banyak terinspirasi dari Marquez dan penulis Amerika Latin lain yang hobi membenturkan pemaparan realisme dengan unsur fantasi. Nah, novel realisme magis inilah yang saya pilih untuk Kelas Resensi Buku Lisan Komunitas Aleut pekan ke-13. Dan dua minggu sebelumnya pun saya menunjuk novel dengan spesies sama dari Haruki Murakami, Kafka on The Shore.

Ah ternyata realisme magis sungguh lezat. Apalagi ketika mencicipi kedua novel tadi, saya sukses dibikin ngaceng berkat unsur stensilannya Eka dan hentai khas Murakami. Ajaib dan nyata! Baca lebih lanjut