Jalan Panjang Lahirnya Kamus Bahasa Sunda

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Pada satu pagi di akhir 1973, Ajip Rosidi seorang dosen bahasa dan sastra Sunda pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, didatangi seorang sepuh yang menyampaikan kabar bahwa dirinya baru saja menyelesaikan sebuah kamus bahasa Sunda yang digarap dari 1930.

Orang tua itu memperkenalkan dirinya sebagai R.A. Danadibrata. Ajip tentu saja kaget dan tidak percaya, sebab nama R.A. Danadibrata mulanya tidak dikenal sebagai ahli bahasa Sunda.

Saat itu, penyusun kamus bahasa Sunda identik dengan R. Satjadibrata yang telah melahirkan beberapa karya, di antaranya: Kamus Sunda-Indonesia (1944, 1950), Kamus Basa Sunda (1948, 1954), Kamus Leutik Indonesia-Sunda jeung Sunda-Indonesia (1949, 1950, 1956), dan Kamus Indonesia-Sunda (1952). Selain R. Satjadibrata, ada juga orang asing yang menjadi pelopor penyusunan kamus bahasa Sunda, yaitu Jonathan Rigg (A Dictionary of the Sunda Language of Java) pada 1862.

Ketika sang sepuh itu menyambangi rumahnya, Ajip mendapati kamus bahasa Sunda setebal 2.000 halaman. Setelah itu ia baru yakin bahwa R.A. Danadibrata telah melakukan kerja besar. Penyusun kamus tersebut menyampaikan bahwa ia mengerjakannya tidak menggunakan sistem kartu seperti umumnya para leksikografer bekerja.

Tapi dicatet anu tuluy diketik tapi sering kudu dibalikan deui ngetikna lamun aya kecap anu anyar kapanggih anu kudu diselapkeun. Kitu deui anjeunna mah ngempelkeun kekecapan keur kamus téh lain tina téks anu dimuat dina naskah, majalah atau buku, tapi ngasruk ka pilemburan jeung gang-gang leutik kota Bandung, ngajak ngobrol ka jalma-jalma anu tepung sarta nyatetkeun kumaha ngagunakeunana. Ngan hanjakal, cara anu katingal tina naskahna, henteu dibarengan atawa dilengkepan ku panalungtikan kecap-kenap tina téks.”

“Tapi dicatat yang kemudian diketik, tapi mengetiknya sering harus diulangi lagi kalau ada kata yang baru ditemukan yang harus disisipkan. Beliau juga mengumpulkan kata-kata untuk kamus bukan dari teks yang dimuat dalam naskah, majalah atau buku, tapi berkeliling mendatangi perkampungan dan gang-gang kecil di Kota Bandung, mengajak berbicara kepada orang-orang yang ditemuinya serta mencatat bagaimana menggunakannya. Tapi sayang, seperti yang terlihat dalam naskahnya, tidak dibarengi atau dilengkapi oleh penelitian kata-kata dalam teks,” tulis Ajip Rosidi menjelaskan proses kreatif R. A. Danadibrata dalam pengantar untuk cetakan pertama kamus tersebut pada 2006.

Keterangan Ajip Rosidi ihwal proses kreatif R.A. Danadibrata dalam mengumpulkan kata untuk kamusnya disampaikan juga oleh penyusun kamus tersebut kepada Majalah Manglé No. 993, 16-22 Mei 1985:

Lantaran mindeng ditugaskeun kudu ngasruk ka pilemburan, jorojoy aya niat hayang ngumpulkeun kecap-kecap basa Sunda keur pikamuseun, nya dina taun 1930 éta niat téh dimimitian ku jalan nyatet-nyatetkeun kecap basa Sunda nu kapanggih,” ceuk R.A. Danadibrata.

“Karena sering ditugaskan harus mengunjungi perkampungan, kemudian ada niat ingin mengumpulkan kata-kata bahasa Sunda untuk kamus, maka dalam tahun 1930 niat tersebut dimulai dengan cara mencatat kata bahasa Sunda yang ditemukan,” ungkap R.A. Danadibrata.

Sosok R.A. Danadibrata

R.A. Danadibrata adalah seorang pensiunan wedana yang waktu itu tinggal di lingkungan pendopo Kabupaten Bandung, di selatan alun-alun Kota Bandung sekarang. Tempat tinggalnya tersebut tidak terlalu jauh dari Ajip Rosidi yang pernah menyewa rumah di Gang Asmi, Jalan Moch. Toha, Kota Bandung.

Seperti pengakuannya yang dituturkan kepada Majalah Manglé, R.A. Danadibrata  sudah tertarik pada bahasa Sunda dari sejak masih sekolah di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), pendidikan bagi calon pegawai bumiputera pada zaman Hindia Belanda. Tapi karena kesibukannya di pemerintahan, ketertarikannya itu tidak bisa dikembangkan.

Sementara Ajip Rosidi menambahkan dalam harian Kompas, edisi Selasa, 5 Pebruari 1974, bahwa niat R.A. Danadibrata untuk menyusun kamus bahasa Sunda diperoleh dari guru yang juga pamannya di Sekolah Raja (penyebutan lokal untuk OSVIA), yaitu R. Djajadireja yang terkenal karena buku bacaan yang disusunnya, yaitu Rusdi jeung Misnem.

“Ketika itu mereka berdua menetapkan pula urutan abjad yang akan dipergunakan kamus yang hendak disusun itu,” tutur Ajip kepada Kompas.

Ketika Jepang tiba di Indonesia dan merebut kekuasaan dari Belanda, kamus yang ia susun telah selesai. Namun sayang, kecamuk revolusi fisik membuat R.A. Danadibrata harus mengungsi ke Ciamis, dan kamus yang disusunnya tidak mungkin dibawa serta. Waktu ia kembali ke Bandung, kamus tersebut tak bersisa, hangus terbakar.

Ngan lapur, waktu mulang deui ka Bandung éta naskah téh kapanggih sacewir-cewir acan lantaran béak kaduruk,” ceuk R.A. Danadibrata. Atuh pagawéan nyusun kamus téh dibalikan ti enol deui.

“Tapi luput, waktu kembali lagi ke Bandung naskah tersebut tidak ketemu selembar pun karena habis terbakar,” kata R.A. Danadibrata kepada Manglé. Maka pekerjaan menyusun kamus dimulai lagi dari nol.

Jalan Berliku 

Maksud R.A. Danadibrata menemui Ajip Rosidi 44 tahun silam, tujuannya hanya satu yaitu untuk meminta solusi bagaimana caranya menerbitkan kamus tersebut. Meski waktu itu menjabat sebagai Direktur penerbit Pustaka Jaya, Ajip merasa kesulitan karena garapan utama Pustaka Jaya bukan menerbitkan buku berbahasa Sunda.

Sebagai ikhtiar, akhirnya Ajip mengundang para wartawan untuk mengabarkan ihwal kamus tersebut, dengan harapan ada orang Sunda yang jugala dan mempunyai katineung membantu menerbitkan kamus yang dalam hitungan saat itu memerlukan biaya sebesar Rp15 juta..

Karena dana yang diharapkan tidak kunjung ada, maka Ajip memutuskan untuk menerbitkannya lewat Pustaka Jaya, dengan terlebih dahulu menyusun tim redaksi untuk menyuntingnya. Sampai  1981 ketika Ajip meninggalkan Pustaka Jaya dan pindah ke Jepang, pekerjaan tim redaksi belum juga selesai. Setahun berselang, saat Ajip berlibur ke Indonesia, kamus tersebut belum juga diterbitkan.

Ajip melihat bahwa direktur Pustaka Jaya yang baru tidak berniat menerbitkannya. Ketika bertemu lagi dengan Ajip, R.A. Danadibrata bercerita bahwa dirinya berniat melaksanakan ibadah haji dari honorarium kamus tersebut. Maka Ajip bersama H.I. Martalogawa yang bekerjasama mendirikan penerbit Girimukti Pasaka berunding untuk membeli hak cipta kamus tersebut.

Akhirnya hak cipta kamus dibeli seharga Rp2 juta  dengan dana talangan dari H.I. Martalogawa. Uang sebesar itu cukup untuk biaya ibadah haji R.A. Danadibrata beserta istrinya. Rencana penerbitan kamus bahasa Sunda susunan R.A. Danadibrata kemudian dialihkan ke proyek Sundanologi pimpinan Dr. Edi S. Ekadjati tanpa menunggu hasil penyuntingan dari tim redaksi yang telah dibentuk tapi tak kunjung selesai.

Sebelum rencana itu terlaksana, Dr. Edi S. Ekadjati diberhentikan dari Kepala Proyek Sundanologi, dan tak lama kemudian Proyek Sundanologi dibubarkan. Kamus bahasa Sunda R.A. Danadibrata lagi-lagi gagal terbit. Setelah menemui jalan buntu.

R.A. Danadibrata kemudian membeli kembali hak ciptanya. Hingga pada 13 Oktober 1987, ia meninggal dunia sebelum karyanya terbit. Dua tahun sebelum wafat, kepada Manglé ia berkata: “Sim kuring téh umur geus dalapan puluh taun. Kahayang téh méméh ninggalkeun pawenangan, hayang nempo heula kamus sim kuring geus ngajanggélék jadi buku. Upama sim kuring mulang tur éta kamus masih mangrupa naskah kénéh mah, hartina pagawéan sim kuring téh gaplah,” ceuk R.A. Danadibrata.

“Saya sudah berumur delapan puluh tahun. Keinginan saya sebelum meninggalkan dunia ini adalah ingin melihat kamus saya sudah menjadi buku. Apabila saya wafat dan kamus masih berupa naskah, artinya pekerjaan saya sia-sia,” ujarnya.

Pada 2003 Ajip Rosidi dari Jepang kembali ke tanah air. Ia kemudian mendirikan penerbit Kiblat Buku Utama dan teringat kamus karya R.A. Danadibrata. Rachmat Taufiq Hidayat selaku direktur Kiblat Buku Utama bersama Dr. Edi S. Ekadjati kemudian menghubungi ahli waris R.A. Danadibrata untuk menerbitkan kamus tersebut.

Bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran, pada 2006 Kiblat Buku Utama menerbitkan kamus bahasa Sunda karya R.A. Danadibrata yang telah lama terbengkalai. Selama 33 tahun sejak rampung untuk kedua kalinya, dan 76 tahun sejak R.A. Danadibrata memulai pekerjaannya yang mula-mula, kamus bahasa Sunda dengan lebih dari 40.000 kata tersebut akhirnya hadir memperkaya khazanah bahasa Sunda. Meski tak bisa menyaksikan karyanya,  R.A. Danadibrata menjadi pelajaran bahwa segala usaha keras pada ujungnya akan membuahkan hasil. (tirto.id – irf/dra)

***

Pertama kali dimuat di Tirto.id pada 16 April 2017

Iklan

Legenda Lagu Anak Sunda Mengkritik Kekuasaan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Lagu yang memuat kritik sosial yang, salah satunya, menyindir kekuasaan bukan baru di Indonesia. Jauh sebelum lagu-lagu kritik Iwan Fals menjadi populer, di tatar Sunda telah hadir lagu “Ayang-ayang Gung”. Lagu ini, meski menjadi pengiring permainan anak-anak dengan cara didendangkan bersama-sama dan dibawakan secara ceria, namun sejatinya adalah sindiran keras terhadap pejabat yang haus kuasa sehingga menjilat kaum kolonial.

Menurut catatan Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, yang mula-mula memperkenalkan lagu ini adalah  R. Poeradiredja (ketua editor untuk bahasa Sunda pada kantor Volkslectuur atau Balai Pustaka) dan M. Soerijadiradja (guru bahasa Sunda dan Melayu di Opleidingsschool atau Sekolah Pelatihan di Serang) dalam makalah yang berjudul “Bijdrage tot de kennis der Soendasche taal” yang dipresentasikan pada Kongres Pertama Bahasa, Geografi, dan Etnografi Jawa pada 1919. Berikut lirik lengkapnya: Baca lebih lanjut

Sejarah Bahasa Sunda dalam Kebudayaan Cetak

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Perkembangan bahasa Sunda sampai bentuknya yang sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari peran orang-orang Belanda. Atau, menurut Mikihiro Moriyama dalam buku Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, bahasa Sunda dalam sejarahnya “ditemukan”, “dimurnikan”, dan “didayagunakan” oleh orang kolonial.

“Kaum cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu baru menemukan bahasa Sunda sebagai bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri pada abad ke-19,” tulis Edi S. Ekadjati dalam pengantar buku tersebut.

Seorang Belanda yang perannya cukup besar dan tidak bisa dilepaskan dari hadirnya budaya cetak dalam bahasa Sunda adalah Karel Frederik Holle atau K.F. Holle. Her Suganda dalam buku Kisah Para Preangerplanters menuturkan bahwa sebelum berkenalan dan mendalami bahasa Sunda, K.F. Holle hanya salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran warga Belanda pimpinan Guillaume Louis Jacques van der Hucth. Pada 1843, rombongan yang berlayar dari Belanda itu hendak menuju tanah harapan di timur jauh, yaitu sebuah negeri koloni yang bernama Hindia Belanda.

Setelah bekerja selama sepuluh tahun di Kantor Residen Cianjur sebagai klerk dan di Kantor Directie van Middelen en Domeinen di Batavia, K.F. Holle merasa tidak puas. Ia akhirnya memilih menjadi administratur sebuah perkebunan teh di Cikajang, Garut. Setelah itu ia lalu membuka perkebunan teh dan kina waspada (Bellevue) di kaki Gunung Cikuray.

Di tempat kerja barunya, K.F. Holle tertarik dengan literasi dan kebudayaan Sunda. Sambil belajar bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-hari dengan masyarakat dan penguasa setempat, ia pun kerap mengenakan pakaian seperti halnya pribumi, seperti sarung dan kerepus.

Baca lebih lanjut

Peran Karel Frederik Holle dalam Perkembangan Literasi Sunda

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Karel Frederik Holle adalah salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran warga Belanda yang dipimpin oleh Guillaume Louis Jacques van der Hucth pada tanggal 25 September 1843. Rombongan yang berlayar dari Belanda itu hendak menuju tanah harapan di timur jauh, yaitu sebuah negeri koloni yang bernama Hindia Belanda. Ia yang waktu pelayaran masih berusia 14 tahun, pada perjalanannya menjadi salah seorang pengusaha perkebunan di Priangan atau Preangerplanters yang sukses.

Mula-mula ia menekuni pekerjaan sebagai seorang klerk di Kantor Residen Cianjur, kemudian di Kantor Directie van Middelen en Domeinen di Batavia. Setelah bekerja selama sepuluh tahun, ia rupanya tidak merasa puas. Maka kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan meninggalkannya pekerjaannya. K.F. Holle lalu diangkat menjadi Administratur Perkebunan Teh di Cikajang, Garut. Setelah itu lalu membuka Perkebunan Teh dan Kina Waspada (Bellevue) di kaki Gunung Cikuray.

Dalam menjalankan pekerjaan barunya di bidang perkebunan, K.F. Holle ternyata tertarik dengan literasi dan kebudayaan Sunda. Dalam keseharian, seperti yang tertulis dalam buku Kisah Para Preangerplanters karya Her Suganda, K.F. Holle selalu berbicara dengan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakat dan penguasa setempat. Tak hanya itu, ia pun kerap berpakaian menyerupai kaum pribumi, seperti memakai sarung dan kerepus.

Di tempat barunya ia berteman dengan Moehamad Moesa (Hoofd Penghulu Limbangan), juga dengan R.A. Lasminingrat, salah seorang putri Moehamad Moesa yang kemudian menjadi tokoh pendidikan dan sastrawan wanita Sunda. Berkat dorongan K.F. Holle, Lasminingrat berhasil mengarang dan menerjemahkan beberapa buku. Selain itu, salah seorang murid K.F. Holle, yakni Hasan Mustapa (Hoofd Penghulu yang pernah bertugas di Aceh dan Bandung), kemudian menjadi sastrawan Sunda yang berhasil melahirkan banyak karya.

Salah satu langkah penting yang pernah dilakukan K.F. Holle yaitu mendorong kawan-kawan pribuminya untuk berkarya. Moehamad Moesa, berkat persahabatan dengannya berhasil membuat beberapa karya yang dituangkan dalam buku, di antaranya : “Wawatjan Woelangkrama” (1862), “Wawatjan Dongeng-dongeng Toeladan” (1862), “Woelang Tani” (1862), “Wawatjan Satja Nala” (1863), “Wawatjan Tjarios Ali Moehtar” (1864), “Elmoe Nyawah” (1864), “Wawatjan Woelang Moerid” (1865), “Wawatjan Woelang Goeroe” (1865), “Wawatjan Pandji Woeloeng” (1871), dan “Dongeng-dongeng Pieunteungeun” (1887).

Di bawah pengawasannya, selain karya Moehamad Moesa, ada juga penulis pribumi lain yang berhasil melahirkan karya, di antaranya; Adi Widjaja, patih daerah Limbangan di Priangan, dan Bratawidjaja, mantan patih daerah Galuh di Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya). Produksi buku-buku berbahasa Sunda yang berada dalam pengawasan K.F. Holle kira-kira berlangsung sampai 1880-an. Buku terakhir yang terbit di bawah pengawasannya adalah “Pagoeneman Soenda djeung Walanda” (Buku Percakapan Sunda Belanda), terbit pada tahun 1883. Dan yang terakhir dieditnya adalah “Mitra noe Tani” (Sahabat Petani) terbit tahun 1896.

Di bidang sejarah, K.F. Holle pernah menulis karangan tentang Dipati Ukur. Dari beberapa versi cerita tentang Dipati Ukur yang beredar di masyarakat, ia menulis tentang bupati Imbanagara dan Bagus Sutapura yang diceritakan memegang peranan penting dalam penumpasan pemberontakan Dipati Ukur terhadap Kerajaan Mataram dan reorganisasi pemerintahan di wilayah Priangan.

Tahun 1877, ia mentranskripsikan Prasasti Geger Hanjuang di Tasikmalaya yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Beschreven Steen uit de Afdeeling Tasikmalaja Residentie Preanger”. Tulisan-tulisan lainnya banyak dijumpai dalam majalah Tijchrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Indische Gids, dan Tijdschrift van Landbouw en Nijverheid, yakni majalah pertanian dan kerajinan.

Dengan kemampuannya membaca bahasa Sunda Kuna, Holle juga sempat berusaha membaca prasati Batutulis yang ada di Buitenzorg (Bogor). Tahun 1869, hasil penelitiannya ditulis dengan judul “De Batoe Toelis te Buitenzorg”. Dalam tulisannya ia menyimpulkan bahwa Pakuan didirikan oleh Sri Baduga.

Salah satu bukunya yang paling populer, yang ia tulis bersama A.W. Holle (adiknya) adalah “Tjarita koera-koera djeung monyet”. Cerita fabel ini kemudian menyebar secara luas di kalangan masyarakat Sunda dengan judul “Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet”. Cerita ini kerap didongengkan kepada anak-anak menjelang tidur. Buku tersebut dianggap sebagai pelopor buku pegangan siswa di Jawa Barat yang diterbitkan pada tahun 1851 oleh Lange & Co, sebuah penerbit swasta di Batavia.

Apa yang dilakukan K.F. Holle di bidang literasi, menurut Mikihiro Moriyama dalam buku “Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, Dan Kesastraan Sunda Abad ke-19” merupakan salah satu dari gerakan penemuan, pemurnian, dan pendayagunaan bahasa Sunda, setelah dua abad sebelumnya dianggap tidak ada karena pengaruh kekuasan Mataram. Sepanjang abad 17 dan 18, bahasa tulisan yang dipakai dan berkembang di Tatar Sunda adalah bahasa Jawa. Hal ini tak lepas dari dikuasainya tanah Priangan oleh Kerajaan Mataram dari Jawa, dampak “penjajahan” Mataram ini terjadi di berbagai lini kehidupan, salah satunya adalah bahasa. Maka tak mengherankan jika selama hampir dua abad kesastraan Sunda berkembang menurut estetika Jawa.

Kondisi terpinggirkannya bahasa Sunda akibat pengaruh Jawa tersebut, juga pernah dikeluhkan oleh Moehamad Moesa dalam sebuah tulisan :

“Basa Soenda noe kalipoet / tanda jén kalipoetan / boektina di Soenda sepi / hanteu aja boekoe woengkoel basa Soenda / Réja maké doewa basa / Nja éta salah-sahidji / Malajoe atawa Djawa.” (Moesa 1867: 5)

“Bahasa Sunda yang tersembunyi / tanda bahwa ia tersembunyi / adalah bahasa Sunda dipencilkan / tidak ada buku yang ditulis / hanya dalam bahasa Sunda / kebanyakan ditulis dalam dua bahasa / yaitu salah satu di antara / bahasa Melayu atau Jawa.”

Bahkan kenyataan ini membuat pemerintah kolonial Belanda pada mulanya menganggap bahwa di Pulau Jawa tidakak ada bahasa etnik lain selain bahasa Jawa. Barulah kemudian pada abad ke-19, para intelektual Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu, menemukan bahasa Sunda sebagai sebuah bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri, yang artinya berbeda dengan bahasa Jawa yang sebelumnya dianggap sebagai bahasa tunggal.

Apa yang di lakukan K.F. Holle dalam pergaulan sehari-harinya yang banyak tercurahkan terhadap budaya dan literasi Sunda, terutama persahabatannya dengan Moehamad Moesa, juga karena ia sendiri menjabat sebagai penasehat kehormatan pemerintah Hindia Belanda untuk urusan pribumi, kemudian melahirkan prasangaka dan kecurigaan, baik dari kalangan pribumi maupun dari pihak Belanda. Mikihiro Moriyama menyebut hal ini dengan kalimat yang tepat, yaitu “paduan ganjil antara oportunisme, persahabatan, dan keingintahuan.”

Namun bagaimanapun, peran K.F. Holle dalam perkembangan literasi Sunda kiranya tak dapat diabaikan begitu saja. Ketika ia meninggal dunia pada tahun 1896, anak lelaki Haji Moehamad Moesa yang bernama Kartawinata, menulis satu buku kecil yang ternyata menandakan berakhirnya suatu zaman. Ya, zaman yang ditinggalkan K.F. Holle dengan segala kecintaan dan peranannya terhadap perkembangan literasi Sunda. [ ]

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.co.id/2016/03/peran-karel-frederik-holle-dalam.html

Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus

Ditulis oleh Nia Janiar dan dipublikasikan di Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti

 

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap “aib” karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Baca lebih lanjut

Kropak 632

Oleh: Mooi Bandoeng (@mooibandoeng)

Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna.

Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya.

Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy.
______________________

Kropak 632 adalah sebuah naskah yang terdiri dari enam lembar lontar yang ditulis dengan tinta hitam dengan perkiraan pembuatan pada abad ke-15, lebih tua dari naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (1518 M) atau Carita Parahyangan (1580 M). Naskah ini ditemukan di Kampung Ciburuy yang terletak di lereng Gunung Cikuray.

Adalah Karel Frederik Holle, pengusaha perkebunan teh Waspada, yang pertama kali menyebutkan keberadaan naskah ini dalam Bijdragen tot de Geschiedenis der Preanger-Regentschappen (1869). Di situ Holle menyebut tentang tiga buah naskah Sunda kuno yang diserahkan oleh Raden Saleh ke Bataviaatsch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1867.

Naskah ini dikumpulkan oleh Jan Laurens Andries Brandes dan dicatat oleh Nicolaas Johannes Krom dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (Laporan Kepurbakalaan Jawa Barat) pada tahun 1914. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Karel Frederik Holle, kemudian dilanjutkan oleh Cornelis Marinus Pleyte dan Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka (1917).

Penelitian awal tidak ada yang berhasil tuntas sehingga terbengkalai sampai kemudian Atja dan Daleh Danasasmita melakukan penelitian ulang pada tahun 1987. Atja dan Saleh memberikan judul “Amanat Galunggung” untuk pembahasan enam lembar naskah ini. Menurut Atja, inti naskah ini memang merupakan nasihat Rakeyan Darmasiksa kepada puteranya, Sang Lumahing Taman. Menurutnya nasihat itu berasal dari Penguasa Kerajaan Galunggung.

Lembar kelima kropak 632 ini menyuratkan nasihat yang belakangan ini sering disebut sebagai “kesadaran sejarah”. Dua baris dari lembar kelima ini sudah lama juga dikutip jadi moto kegiatan2 @KomunitasAleut selama ini: “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”.

*Salinan naskah di atas diambil dari “Amanat Galunggung” karya Atja dan Saleh Danasasmita.

 

Tautan asli: http://mooibandoeng.com/2016/01/26/kropak-632/

Ngarumat Pusaka di Bumi Alit

Oleh: Anggi Aldila (@anggicau)

Rabu malam (23/12) setelah selesai shalat Maghrib, saya memberanikan diri untuk masuk ke lingkungan situs Bumi Alit di Lebakwangi – Batukarut, Banjaran. Menurut informasi yang saya terima, malam itu ada acara yang akan digelar semalam suntuk sebelum acara inti digelar keesokan harinya, Kamis (24/12). Akan tetapi, hanya ada anak – anak yang sedang latihan menabuh gamelan pada malam itu.

Saya cukup beruntung, karena di sana ada beberapa orang panitia acara. Salah satunya Bapak. H. Itang Wismaya yang terkadang menjadi penabuh gamelan “Goong Renteng”. Beliau cukup membantu memberikan informasi terkait rangkaian acara inti Kamis esok hari, yang meliputi acara memandikan pusaka yang disimpan di dalam Bumi Alit sepanjang tahun dan juga acara memandikan Gamelan yang menjadi acara utama.

Setelah melaksanakan aktivitas rutin di rumah di keesokan harinya, sekitar pukul 06.00 saya mulai berangkat ke Bumi Alit. Waktu yang diperlukan untuk sampai di sana cukup setengah jam saja. Setibanya di sana, terlihat masih belum banyak orang yang masuk area Bumi Alit. Namun, para pupuhu, panitia, dan juga kuncen sudah hadir.

Para Pupuhu Berkumpul Sebelum Memandikan Senjata Pusaka

Kami para peliput dipersilahkan masuk ke dalam Bumi Alit untuk mengikuti proses memandikan pusaka yang hanya dikeluarkan setiap tanggal 12 Rabiul Awal atau setiap memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekitar pukul 07.15, acara di Bumi Alit dimulai. Suasana heningpun menyelimuti semua yang ada di dalam Bumi Alit. Kami sempat dikagetkan oleh seseorang yang menangis sebelum pusaka dikeluarkan.

Saat kami sedang menunggu acara memandikan pusaka, tiba–tiba melintas arak–arakan gamelan yang dibawa dari rumah kuncen. Gamelan tersebut akan dimandikan setelah acara memandikan pusaka selesai. Kami para peliput dengan sopan langsung keluar, sedikit berlari, untuk mendapatkan momen arak–arakan gamelan. Setelah mengambil sedikit gambar, kami masuk kembali ke dalam Bumi Alit, dan acara pun dimulai.

Satu persatu benda pusaka yang dibalut oleh kain kafan mulai dikeluarkan. Setelah seluruh barang dikeluarkan, kuncen menerangkan bahwa semua barang pusaka akan dimandikan secara berurutan. Dari pusaka yang yang dimandikan pertama, kedua, ketiga, begitu seterusnya sampai terakhir.

Gobang, Salah Satu Pusaka yang Dikeluarkan untuk Dimandikan

Jika proses memandikan pusaka di dalam Bumi Alit berlangsung dalam keadaan hening, lain halnya dengan proses memandikan gamelan yang sudah ditunggu oleh banyak orang.Maklum, proses memandikan gamelan ini dilakukan di lingkungan luar Bumi Alit dan bisa disaksikan oleh khalayak ramai. Beberapa orang mulai merapat ke tempat pemandian gamelan yang disediakan di samping bale. Sebelum gamelan mulai dimandikan, para petugas yang bertugas memandikan gamelan berdoa terlebih dahulu. Sesaji pun disiapkan, dan wangi harum kemenyan mulai merebak di sekitar pemandian.

Berdoa Sebelum Memandikan Goong Renteng

Banyak orang membawa botol air mineral sampai ember untuk menampung air bekas memandikan gamelan secara berebut. Anak–anak dan sejumlah ibu–ibu bahkan dengan sengaja berdiam di bawah gamelan yang sedang dimandikan.

Anak–anak Mandi di Bawah Goong Renteng

Gamelan “Goong Renteng” adalah seperangkat gamelan yang masih utuh dan lengkap peninggalan dari leluhur Lebakwangi. Ada yang mengatakan kalau usia Goong Renteng dan juga pusaka yang ada di Bumi Alit itu sudah mencapai ribuan tahun. Kalimat ini sering diutarakan oleh para keturunan Lebakwangi. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan usia sebenarnya dari gamelan tersebut.

Selesai dimandikan, pusaka di Bumi Alit kembali ditutup oleh kain kafan dan disimpan di dalam Bumi Alit. Lain halnya dengan perangkat gamelan. Setelah dibersihkan dan diberikan wewangian, gamelan kemudian akan ditabuh oleh para nayaga yang sudah bersiap di bale Situs Bumi Alit. Kebanyakan dari nayaga tersebut sudah berusia sepuh, hanya ada satu orang yang masih terlihat muda.

Pagi itu, banyak dari keturunan Lebakwangi yang biasa dipanggil Siwi Suwu berdatangan ke Situs Bumi Alit sambil membawa tikar dan makanan (banyak pula yang membawa nasi tumpeng). Nasi dan lauk pauk yang mereka bawa tersebut tidak dimakan langsung melainkan disantap setelah ada perintah dari pembawa acara.

Pukul 08.45 semua pusaka sudah selesai dimandikan. Pembawa acara kemudian naik ke podium untuk memberikan pengumuman. Beliau meminta kepada para nayaga untuk memainkan satu buah lagu sebagai hiburan bagi para Siwi Suwu dan masyarakat yang sudah hadir di acara yang rutin dilakukan setiap tahun ini.

Nayaga Memainkan Goong Renteng (Gamelan Embah Bandong)

Acara pun dibuka. Dimulai dengan memanjatkan doa terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan sambutan – sambutan yang selalu ada di setiap acara. Para nayaga kemudian memainkan lagu – lagu yang rutin dimainkan setiap helatan ngarumat pusaka. Lagu – lagu ini kebanyakan berisi cerita maupun petuah. Menurut informasi yang penulis dapatkan, dari total 14 lagu ini masih ada beberapa lagu yang nadanya belum diketahui.

Demikian serangkaian kegiatan acara “Ngarumat Pusaka” di Situs Bumi Alit Kabuyutan Lebakwangi-Batu Karut, Arjasari yang rutin digelar setiap tahun. Sebenarnya, setelah acara inti masih ada acara yang dilaksanakan tanggal 26 Desember 2015, yaitu Ngabungbang di mana para peserta Ngabungbang akan melepaskan apa yang ada didalam hati sambil diiringi gamelan. Sayang, penulis berhalangan hadir di acara ini karena berbenturan dengan acara keluarga yang tak bisa ditinggalkan.

Seuweu Siwi Berkumpul di Halaman Situs Bumi Alit

 

Tautan asli: https://tulisansikasep.wordpress.com/2015/12/28/ngarumat-barang-pusaka-kabuyutan-bumi-alit/