Membangun Sistem Sosial yang Mumpuni dalam Menghadapi Wabah

Ditulis oleh: Lenny Martini

Sistem sosial yang baik adalah satu di antara banyak hal penting yang perlu kita usahakan dalam menghadapi wabah saat ini. Sebagai anggota masyarakat, kita dapat ikut membangun sistem sosial yang baik dengan saling bantu menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menghadapi dan melewati wabah ini.

Mari kita mulai dengan memahami apa itu sistem sosial. Dalam bidang sosiologi, sebenarnya banyak sekali sosiolog yang mengemukakan definisi mengenai sistem sosial, berdasarkan kepakaran, fokus penelitian, dan konteks situasi sosial yang diamati di sekeliling mereka. Namun, secara sederhana kita bisa memahami sistem sosial sebagai jaringan interaksi antara aktor. Aktor yang dimaksud bisa individu dengan individu, bisa individu dengan keluarga, bisa antar keluarga, keluarga dengan masyarakat kota, antar masyarakat kota, masyarakat kota dengan negara, antar negara, dan seterusnya, seperti terlihat pada gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1. Sistem sosial

Konsep penting dari sistem sosial adalah bagaimana interaksi ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih daripada potensi masing-masing dari aktor ini. Dalam bahasa Inggris istilahnya,  the whole is more than the sum of its part, atau 1+1 > 2. Peribahasa Indonesia yang sesuai untuk sistem sosial ini adalah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pengertian wabah menurut Undang-undang nomor 4 tahun 1984 adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan bahaya atau bencana. Wabah dapat dibedakan menjadi epidemi, endemik, dan pandemik sesuai panduan dari kbbi sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Ariyono Wahyu

Hasan Mustapa Dunia dan Karyanya

Sastrawan Ajip Rosidi menuliskan petikan “Kinanti Ngandika Gusti” karya Haji Hasan Mustapa dalam buku memoarnya setebal lebih dari 1300 halaman yang berjudul “Hidup Tanpa Ijazah”. Hasan Mustapa tentu memiliki arti yang istimewa bagi Ajip Rosidi sehingga ia memilih petikan karya Kepala Penghulu Bandung tadi sebagai kalimat paling awal dalam buku terpentingnya.

Pengalaman perkenalan, pencarian, dan pemaknaan Ajip Rosidi kepada sosok Hasan Mustapa kemudian dituangkannya dalam satu buku khusus yang ditulisnya dalam bahasa Sunda berjudul “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana”. Memang dalam buku memoarnya tadi bisa juga ditemukan kisah-kisah Ajip Rosidi tentang Hasan Mustapa seiring perjalanan hidupnya. Namun bagi yang ingin membaca sekaligus berkenalan secara khusyuk dengan sosok Hasan Mustapa tanpa terganggu cerita hidup Ajip Rosidi buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana” adalah pilihan yang sangat tepat.

Kenapa buku ini adalah pilihan yang tepat untuk mengenal sosok Haji Hasan Mustapa? Karena Ajip Rosidi menuliskan buku ini sebagai usahanya memperkenalkan sosok yang dikaguminya melalui karya-karyanya. Sebagai sastrawan, Ajip Rosidi tentu paham bahwa bagi banyak orang yang paling dikenal dari sosok Haji Hasan Mustapa adalah anekdot-anekdotnya dan kisah-kisah eksentriknya. Tapi hanya sedikit saja orang yang menaruh minat dan perhatian kepada karya-karya “Sang Begawan Sirna Dirasa”. Padahal sebagai sosok bujangga sastra Sunda terbesar menurut Ajip Rosidi, Hasan Mustapa paling tidak telah menulis lebih dari sepuluh ribu pada dalam bentuk danding (pupuh tradisional) yang terikat aturan baku yang ketat. Berangkat dari hal itulah kemudian Ajip Rosidi menulis buku ini.

Upaya Menemukan Karya Haji Hasan Mustapa

Sejak awal perkenalan Ajip Rosidi dengan sosok Hasan Mustapa adalah melalui karyanya. Karena pada tahun 1950-an saat Ajip Rosidi mulai aktif mencari dan mengumpulkan karya-karya Hasan Mustapa, Hoofd Panghulu atau Kepala Penghulu Bandung yang menjabat dari tahun 1895-1918 ini telah mangkat kurang lebih dua puluh tahun sebelumnya.

Karena itulah buku ini dibuka dengan kisah awal perjumpaan Ajip Rosidi dengan M. Wangsaatmadja yang bertugas sebagai juru tulis Haji Hasan Mustapa setelah pensiun sebagai Kepala Penghulu Bandung hingga tutup usia, tepatnya dari tahun 1920-1930. Perkenalan pertama dengan Wangsaatmadja pada tahun 1958 inilah yang kemudian seiring waktu mengantarkan Ajip Rosidi berkenalan pula dengan awak (anggota) Galih Pakuan, yaitu kumpulan pengagum Haji Hasan Mustapa.

Melalui Wangsaatmadja dan para awak Galih Pakuan, Ajip Rosidi sedikit demi sedikit mengumpulkan karya-karya Hasan Mustapa. Tentu sebagai seorang yang paham tentang sastra, Ajip Rosidi tak cuma mengumpulkan saja tapi juga melakukan telaah kritis dan validasi atas karya yang diperolehnya. Karena menurut Ajip Rosidi karya Haji Hasan Mustapa banyak yang diragukan keasliannya, salah satu faktor penyebabnya adalah proses terjadinya kesalahan dalam penyalinan karya yang aslinya ditulis dalam aksara Arab yang dilakukan oleh juru tulis Haji Hasan Mustapa yaitu Wangsaatmadja.

Meskipun karya-karya Hasan Mustapa yang disalin dan kemudian dipelihara oleh Wangsaatmadja terdapat cacat dalam proses penyalinan, namun karya-karya tersebut tetap sangat penting. Salah satunya adalah untuk mengetahui riwayat hidup Hasan Mustapa. Ditambah dengan riwayat  Hasan Mustapa yang ditulis oleh Wangsaatmadja, Ajip Rosidi kemudian mampu memberikan versi riwayat hidup Sang Begawan Sirna Dirasa dengan lebih orisinal. Riwayat hidup Hasan Mustapa menjadi penting untuk ditelaah menurut Ajip Rosidi adalah salah satunya untuk menentukan berapa lama Haji Hasan Mustapa mukim di Mekah dan kapan kemudian ia berjumpa dengan sosok penting lainnya yaitu Christian Snouck Hurgronje di kota paling suci bagi kaum Muslim ini.

Usaha Ajip Rosidi untuk menemukan karya Hasan Mustapa tak hanya dilakukannya di dalam negeri. Ketika ia menetap di Jepang sebagai dosen pada tahun 1980-an, Toyota Fondation kemudian memberikan bantuan biaya untuk melakukan penelusuran ke Belanda. Dalam koleksi naskah milik Snouck Hurgronje di Universitas Leiden, Ajip Rosidi menemukan beberapa dokumen karya Haji Hasan Mustapa.

Anekdot-Anekdot Hasan Mustapa

Dari kisah-kisah tentang Haji Hasan Mustapa yang hidup di kalangan awak Galih Pakuan, Ajip Rosidi kemudian mengumpulkan anekdot-anekdotnya dan dituliskan sebagai bagian khusus dalam buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana”. Anekdot-anekdot ini penting sebagai upaya untuk menilai kepribadian Hasan Mustapa. Contohnya adalah bagaimana Haji Hasan Mustapa menjawab pertanyaan tentang bagaimana wujud Allah dengan membuat perumpaan bahwa Allah adalah sosok di atas Kanjeng Bupati dan Tuan Gubernur Jenderal. Dari jawaban yang bagi banyak orang dianggap mahiwal inilah Haji Hasan Mustapa dicap berpaham Wahdatul Wujud.

Dengan mempelajari cara Hasan Mustapa memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan, dapat disimpulkan bahwa ia berusaha memahami alam dan cara berpikir orang yang bertanya.

Karya-Karya Hasan Mustapa

Buku “Haji Hasan Mustapa Jeung Karya-Karyana” yang ditulis oleh Ajip Rosidi pertama kali diterbitkan oleh penerbit Pustaka pada tahun 1989. Sesuai dengan judulnya mengenai karya Haji Hasan Mustapa, dari jumlah total 507 halaman hanya 86 halaman yang berkisah tentang proses usaha Ajip Rosidi dalam mencari dan mengumpulkan karyanya, riwayat hidupnya, dan anekdot-anekdotnya.

Sisa halaman buku ini, kurang lebih 400 halaman, berisi berbagai karya Haji Hasan Mustapa yang berupa danding, kumpulan surat, dan kumpulan tulisannya tentang adat istiadat. Tentu saja sisa halaman buku ini tidak cukup untuk menyajikan semua karya sastra Haji Hasan Mustapa secara lengkap, namun setidaknya buku ini memuat cuplikan karya-karya terpenting Haji Hasan Mustapa adalah usaha Ajip Rosidi untuk memperkenalkan sosok sastrawan Sunda terbesar itu melalui karyanya.

Asyiknya Ngaliwet Bersama Komunitas Aleut

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Aditya Wijaya.

Bunyi alarm membangunkan saya dari tidur lelap setelah melakukan perjalanan momotoran Pangalengan-Ciwidey kemarin bersama Komunitas Aleut. Saya bersiap untuk memacu kendaraan menuju sekretariat Aleut di Pasirluyu Hilir. Cuaca Bandung pagi hari seperti biasa dingin dan berawan. Sesampainya di sekretariat Aleut pukul 09.00 pagi, kami para peserta APD (Aleut Program Development) 2020, dengan ditemani teh Rani, bang Ridwan, dan pak Hevi, bersiap untuk melaksanakan kegiatan ngaliwet yang akan diliput oleh sebuah kanal televisi dari Jakarta.

Sambil menunggu teman-teman yang lain datang, teh Rani mebawa secercah harapan karena membeli sebungkus gorengan hangat yang memang cocok disajikan pada pagi hari. Hari semakin siang, satu persatu teman-teman berdatangan dan mulai terlihat kesibukan untuk mempersiapkan liwetan yang akan disajikan nanti. Kejadian yang membuat sedikit cemas adalah ketika teh Rani menyadari bahwa tahu dan oncom yang baru dibelinya di pasar tidak ada. Bergegaslah teh Rani dan pak Hevi menuju pasar untuk menjemput tahu dan oncom yang hilang.

Reza yang tinggal di Ciwidey pun datang membawa banyak jenis lalab yang sudah mulai jarang ditemui di pasar-pasar kota Bandung, mulai dari takokak, jotang, antanan, selada air, daun mint, dan kemangi. Tak lengkap rasanya bila ngaliwet tanpa lalab dan sambal. Soal lalab, saya sebetulnya merasa asing dengan nama-nama lalaban tersebut, karena memang sudah jarang ditemui di restoran atau warung makan biasa.

Dapur sekretariat Aleut menjadi sangat sibuk oleh teman-teman yang mempersiapkan bahan-bahan liwetan. Tugas pertama saya adalah memotong kangkung bersama pak Hevi, Ricky, Reza, dan Farly. Sementara itu, Agnia dan Madiha mempersiapkan tempe yang akan digoreng serta dibacem. Berikutnya, saya lanjutkan dengan memotong bawang merah dan bawang putih. Begini ternyata rasanya memasak, menyenangkan, ucap saya dalam hati. Setelah itu saya menggoreng tahu dan tempe, sementara Lisa menggoreng teri dan asin.

Baca lebih lanjut

Aku dan Kota yang Terpukul

Oleh: Irfan Dary

Mobilitas kota yang berubah aneh, pemerintah harus terus berjalan walaupun babak belur, dan bisnis kehilangan pasarnya. Tiga mimpi buruk ini jadi realitas yang harus kita hadapi saat tulisan ini dibuat. Kehidupan sosial, ekonomi, bahkan spiritual warga kota terguncang secara mendadak saat pandemi merebak. Kita bisa tunjuk secara acak siapapun yang kita temui, pasti semuanya merasakan dampak pandemi ini. Fitrah kota sebagai tempat dimana semuanya serba cepat dan dinamis dipaksa melambat.

Baca lebih lanjut

Panen Padi di Cianjur

Oleh: Deuis Raniarti

Lahir dan besar di salah satu daerah yang dikenal sebagai salahsatu penghasil beras, membuat saya akrab dengan kondisi alam seperti hamparan sawah yang hijau, sungai-sungai kecil dan perbukitan. Semuanya adalah pemandangan yang dapat saya saksikan dengan mudah.

Saya tinggal di Kampung Gombong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Rumah saya berada dekat dengan persawahan. Momen yang paling menyenangkan di rumah adalah menunggu musim panen tiba. Saya bisa bermain bebas di sawah yang padinya sedang diambil oleh alat bernama arit, segenggam tangkai padi kemudian digebug pada sebuah bidang miring bergelombang berbahan kayu yang disebut rekal agar butiran padi terlepas dari tangkainya. Selanjutnya padi dikumpulkan dan dijemur sampai kering. Biasanya saya akan sangat senang membolak-balikkan padi sambil sibuk mengusir kawanan burung yang mencoba memakan hasil panen saya.

Baca lebih lanjut

Jalan Panjang Lahirnya Kamus Bahasa Sunda

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Pada satu pagi di akhir 1973, Ajip Rosidi seorang dosen bahasa dan sastra Sunda pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, didatangi seorang sepuh yang menyampaikan kabar bahwa dirinya baru saja menyelesaikan sebuah kamus bahasa Sunda yang digarap dari 1930.

Orang tua itu memperkenalkan dirinya sebagai R.A. Danadibrata. Ajip tentu saja kaget dan tidak percaya, sebab nama R.A. Danadibrata mulanya tidak dikenal sebagai ahli bahasa Sunda.

Saat itu, penyusun kamus bahasa Sunda identik dengan R. Satjadibrata yang telah melahirkan beberapa karya, di antaranya: Kamus Sunda-Indonesia (1944, 1950), Kamus Basa Sunda (1948, 1954), Kamus Leutik Indonesia-Sunda jeung Sunda-Indonesia (1949, 1950, 1956), dan Kamus Indonesia-Sunda (1952). Selain R. Satjadibrata, ada juga orang asing yang menjadi pelopor penyusunan kamus bahasa Sunda, yaitu Jonathan Rigg (A Dictionary of the Sunda Language of Java) pada 1862.

Ketika sang sepuh itu menyambangi rumahnya, Ajip mendapati kamus bahasa Sunda setebal 2.000 halaman. Setelah itu ia baru yakin bahwa R.A. Danadibrata telah melakukan kerja besar. Penyusun kamus tersebut menyampaikan bahwa ia mengerjakannya tidak menggunakan sistem kartu seperti umumnya para leksikografer bekerja.

Tapi dicatet anu tuluy diketik tapi sering kudu dibalikan deui ngetikna lamun aya kecap anu anyar kapanggih anu kudu diselapkeun. Kitu deui anjeunna mah ngempelkeun kekecapan keur kamus téh lain tina téks anu dimuat dina naskah, majalah atau buku, tapi ngasruk ka pilemburan jeung gang-gang leutik kota Bandung, ngajak ngobrol ka jalma-jalma anu tepung sarta nyatetkeun kumaha ngagunakeunana. Ngan hanjakal, cara anu katingal tina naskahna, henteu dibarengan atawa dilengkepan ku panalungtikan kecap-kenap tina téks.”

“Tapi dicatat yang kemudian diketik, tapi mengetiknya sering harus diulangi lagi kalau ada kata yang baru ditemukan yang harus disisipkan. Beliau juga mengumpulkan kata-kata untuk kamus bukan dari teks yang dimuat dalam naskah, majalah atau buku, tapi berkeliling mendatangi perkampungan dan gang-gang kecil di Kota Bandung, mengajak berbicara kepada orang-orang yang ditemuinya serta mencatat bagaimana menggunakannya. Tapi sayang, seperti yang terlihat dalam naskahnya, tidak dibarengi atau dilengkapi oleh penelitian kata-kata dalam teks,” tulis Ajip Rosidi menjelaskan proses kreatif R. A. Danadibrata dalam pengantar untuk cetakan pertama kamus tersebut pada 2006.

Keterangan Ajip Rosidi ihwal proses kreatif R.A. Danadibrata dalam mengumpulkan kata untuk kamusnya disampaikan juga oleh penyusun kamus tersebut kepada Majalah Manglé No. 993, 16-22 Mei 1985:

Lantaran mindeng ditugaskeun kudu ngasruk ka pilemburan, jorojoy aya niat hayang ngumpulkeun kecap-kecap basa Sunda keur pikamuseun, nya dina taun 1930 éta niat téh dimimitian ku jalan nyatet-nyatetkeun kecap basa Sunda nu kapanggih,” ceuk R.A. Danadibrata.

“Karena sering ditugaskan harus mengunjungi perkampungan, kemudian ada niat ingin mengumpulkan kata-kata bahasa Sunda untuk kamus, maka dalam tahun 1930 niat tersebut dimulai dengan cara mencatat kata bahasa Sunda yang ditemukan,” ungkap R.A. Danadibrata.

Sosok R.A. Danadibrata

R.A. Danadibrata adalah seorang pensiunan wedana yang waktu itu tinggal di lingkungan pendopo Kabupaten Bandung, di selatan alun-alun Kota Bandung sekarang. Tempat tinggalnya tersebut tidak terlalu jauh dari Ajip Rosidi yang pernah menyewa rumah di Gang Asmi, Jalan Moch. Toha, Kota Bandung.

Seperti pengakuannya yang dituturkan kepada Majalah Manglé, R.A. Danadibrata  sudah tertarik pada bahasa Sunda dari sejak masih sekolah di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), pendidikan bagi calon pegawai bumiputera pada zaman Hindia Belanda. Tapi karena kesibukannya di pemerintahan, ketertarikannya itu tidak bisa dikembangkan.

Sementara Ajip Rosidi menambahkan dalam harian Kompas, edisi Selasa, 5 Pebruari 1974, bahwa niat R.A. Danadibrata untuk menyusun kamus bahasa Sunda diperoleh dari guru yang juga pamannya di Sekolah Raja (penyebutan lokal untuk OSVIA), yaitu R. Djajadireja yang terkenal karena buku bacaan yang disusunnya, yaitu Rusdi jeung Misnem.

“Ketika itu mereka berdua menetapkan pula urutan abjad yang akan dipergunakan kamus yang hendak disusun itu,” tutur Ajip kepada Kompas.

Ketika Jepang tiba di Indonesia dan merebut kekuasaan dari Belanda, kamus yang ia susun telah selesai. Namun sayang, kecamuk revolusi fisik membuat R.A. Danadibrata harus mengungsi ke Ciamis, dan kamus yang disusunnya tidak mungkin dibawa serta. Waktu ia kembali ke Bandung, kamus tersebut tak bersisa, hangus terbakar.

Ngan lapur, waktu mulang deui ka Bandung éta naskah téh kapanggih sacewir-cewir acan lantaran béak kaduruk,” ceuk R.A. Danadibrata. Atuh pagawéan nyusun kamus téh dibalikan ti enol deui.

“Tapi luput, waktu kembali lagi ke Bandung naskah tersebut tidak ketemu selembar pun karena habis terbakar,” kata R.A. Danadibrata kepada Manglé. Maka pekerjaan menyusun kamus dimulai lagi dari nol.

Jalan Berliku 

Maksud R.A. Danadibrata menemui Ajip Rosidi 44 tahun silam, tujuannya hanya satu yaitu untuk meminta solusi bagaimana caranya menerbitkan kamus tersebut. Meski waktu itu menjabat sebagai Direktur penerbit Pustaka Jaya, Ajip merasa kesulitan karena garapan utama Pustaka Jaya bukan menerbitkan buku berbahasa Sunda.

Sebagai ikhtiar, akhirnya Ajip mengundang para wartawan untuk mengabarkan ihwal kamus tersebut, dengan harapan ada orang Sunda yang jugala dan mempunyai katineung membantu menerbitkan kamus yang dalam hitungan saat itu memerlukan biaya sebesar Rp15 juta..

Karena dana yang diharapkan tidak kunjung ada, maka Ajip memutuskan untuk menerbitkannya lewat Pustaka Jaya, dengan terlebih dahulu menyusun tim redaksi untuk menyuntingnya. Sampai  1981 ketika Ajip meninggalkan Pustaka Jaya dan pindah ke Jepang, pekerjaan tim redaksi belum juga selesai. Setahun berselang, saat Ajip berlibur ke Indonesia, kamus tersebut belum juga diterbitkan.

Ajip melihat bahwa direktur Pustaka Jaya yang baru tidak berniat menerbitkannya. Ketika bertemu lagi dengan Ajip, R.A. Danadibrata bercerita bahwa dirinya berniat melaksanakan ibadah haji dari honorarium kamus tersebut. Maka Ajip bersama H.I. Martalogawa yang bekerjasama mendirikan penerbit Girimukti Pasaka berunding untuk membeli hak cipta kamus tersebut.

Akhirnya hak cipta kamus dibeli seharga Rp2 juta  dengan dana talangan dari H.I. Martalogawa. Uang sebesar itu cukup untuk biaya ibadah haji R.A. Danadibrata beserta istrinya. Rencana penerbitan kamus bahasa Sunda susunan R.A. Danadibrata kemudian dialihkan ke proyek Sundanologi pimpinan Dr. Edi S. Ekadjati tanpa menunggu hasil penyuntingan dari tim redaksi yang telah dibentuk tapi tak kunjung selesai.

Sebelum rencana itu terlaksana, Dr. Edi S. Ekadjati diberhentikan dari Kepala Proyek Sundanologi, dan tak lama kemudian Proyek Sundanologi dibubarkan. Kamus bahasa Sunda R.A. Danadibrata lagi-lagi gagal terbit. Setelah menemui jalan buntu.

R.A. Danadibrata kemudian membeli kembali hak ciptanya. Hingga pada 13 Oktober 1987, ia meninggal dunia sebelum karyanya terbit. Dua tahun sebelum wafat, kepada Manglé ia berkata: “Sim kuring téh umur geus dalapan puluh taun. Kahayang téh méméh ninggalkeun pawenangan, hayang nempo heula kamus sim kuring geus ngajanggélék jadi buku. Upama sim kuring mulang tur éta kamus masih mangrupa naskah kénéh mah, hartina pagawéan sim kuring téh gaplah,” ceuk R.A. Danadibrata.

“Saya sudah berumur delapan puluh tahun. Keinginan saya sebelum meninggalkan dunia ini adalah ingin melihat kamus saya sudah menjadi buku. Apabila saya wafat dan kamus masih berupa naskah, artinya pekerjaan saya sia-sia,” ujarnya.

Pada 2003 Ajip Rosidi dari Jepang kembali ke tanah air. Ia kemudian mendirikan penerbit Kiblat Buku Utama dan teringat kamus karya R.A. Danadibrata. Rachmat Taufiq Hidayat selaku direktur Kiblat Buku Utama bersama Dr. Edi S. Ekadjati kemudian menghubungi ahli waris R.A. Danadibrata untuk menerbitkan kamus tersebut.

Bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran, pada 2006 Kiblat Buku Utama menerbitkan kamus bahasa Sunda karya R.A. Danadibrata yang telah lama terbengkalai. Selama 33 tahun sejak rampung untuk kedua kalinya, dan 76 tahun sejak R.A. Danadibrata memulai pekerjaannya yang mula-mula, kamus bahasa Sunda dengan lebih dari 40.000 kata tersebut akhirnya hadir memperkaya khazanah bahasa Sunda. Meski tak bisa menyaksikan karyanya,  R.A. Danadibrata menjadi pelajaran bahwa segala usaha keras pada ujungnya akan membuahkan hasil. (tirto.id – irf/dra)

***

Pertama kali dimuat di Tirto.id pada 16 April 2017

Legenda Lagu Anak Sunda Mengkritik Kekuasaan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Lagu yang memuat kritik sosial yang, salah satunya, menyindir kekuasaan bukan baru di Indonesia. Jauh sebelum lagu-lagu kritik Iwan Fals menjadi populer, di tatar Sunda telah hadir lagu “Ayang-ayang Gung”. Lagu ini, meski menjadi pengiring permainan anak-anak dengan cara didendangkan bersama-sama dan dibawakan secara ceria, namun sejatinya adalah sindiran keras terhadap pejabat yang haus kuasa sehingga menjilat kaum kolonial.

Menurut catatan Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, yang mula-mula memperkenalkan lagu ini adalah  R. Poeradiredja (ketua editor untuk bahasa Sunda pada kantor Volkslectuur atau Balai Pustaka) dan M. Soerijadiradja (guru bahasa Sunda dan Melayu di Opleidingsschool atau Sekolah Pelatihan di Serang) dalam makalah yang berjudul “Bijdrage tot de kennis der Soendasche taal” yang dipresentasikan pada Kongres Pertama Bahasa, Geografi, dan Etnografi Jawa pada 1919. Berikut lirik lengkapnya: Baca lebih lanjut

Sejarah Bahasa Sunda dalam Kebudayaan Cetak

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Perkembangan bahasa Sunda sampai bentuknya yang sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari peran orang-orang Belanda. Atau, menurut Mikihiro Moriyama dalam buku Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, bahasa Sunda dalam sejarahnya “ditemukan”, “dimurnikan”, dan “didayagunakan” oleh orang kolonial.

“Kaum cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu baru menemukan bahasa Sunda sebagai bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri pada abad ke-19,” tulis Edi S. Ekadjati dalam pengantar buku tersebut.

Seorang Belanda yang perannya cukup besar dan tidak bisa dilepaskan dari hadirnya budaya cetak dalam bahasa Sunda adalah Karel Frederik Holle atau K.F. Holle. Her Suganda dalam buku Kisah Para Preangerplanters menuturkan bahwa sebelum berkenalan dan mendalami bahasa Sunda, K.F. Holle hanya salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran warga Belanda pimpinan Guillaume Louis Jacques van der Hucth. Pada 1843, rombongan yang berlayar dari Belanda itu hendak menuju tanah harapan di timur jauh, yaitu sebuah negeri koloni yang bernama Hindia Belanda.

Setelah bekerja selama sepuluh tahun di Kantor Residen Cianjur sebagai klerk dan di Kantor Directie van Middelen en Domeinen di Batavia, K.F. Holle merasa tidak puas. Ia akhirnya memilih menjadi administratur sebuah perkebunan teh di Cikajang, Garut. Setelah itu ia lalu membuka perkebunan teh dan kina waspada (Bellevue) di kaki Gunung Cikuray.

Di tempat kerja barunya, K.F. Holle tertarik dengan literasi dan kebudayaan Sunda. Sambil belajar bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-hari dengan masyarakat dan penguasa setempat, ia pun kerap mengenakan pakaian seperti halnya pribumi, seperti sarung dan kerepus.

Baca lebih lanjut

Peran Karel Frederik Holle dalam Perkembangan Literasi Sunda

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Karel Frederik Holle adalah salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran warga Belanda yang dipimpin oleh Guillaume Louis Jacques van der Hucth pada tanggal 25 September 1843. Rombongan yang berlayar dari Belanda itu hendak menuju tanah harapan di timur jauh, yaitu sebuah negeri koloni yang bernama Hindia Belanda. Ia yang waktu pelayaran masih berusia 14 tahun, pada perjalanannya menjadi salah seorang pengusaha perkebunan di Priangan atau Preangerplanters yang sukses.

Mula-mula ia menekuni pekerjaan sebagai seorang klerk di Kantor Residen Cianjur, kemudian di Kantor Directie van Middelen en Domeinen di Batavia. Setelah bekerja selama sepuluh tahun, ia rupanya tidak merasa puas. Maka kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan meninggalkannya pekerjaannya. K.F. Holle lalu diangkat menjadi Administratur Perkebunan Teh di Cikajang, Garut. Setelah itu lalu membuka Perkebunan Teh dan Kina Waspada (Bellevue) di kaki Gunung Cikuray.

Dalam menjalankan pekerjaan barunya di bidang perkebunan, K.F. Holle ternyata tertarik dengan literasi dan kebudayaan Sunda. Dalam keseharian, seperti yang tertulis dalam buku Kisah Para Preangerplanters karya Her Suganda, K.F. Holle selalu berbicara dengan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakat dan penguasa setempat. Tak hanya itu, ia pun kerap berpakaian menyerupai kaum pribumi, seperti memakai sarung dan kerepus.

Di tempat barunya ia berteman dengan Moehamad Moesa (Hoofd Penghulu Limbangan), juga dengan R.A. Lasminingrat, salah seorang putri Moehamad Moesa yang kemudian menjadi tokoh pendidikan dan sastrawan wanita Sunda. Berkat dorongan K.F. Holle, Lasminingrat berhasil mengarang dan menerjemahkan beberapa buku. Selain itu, salah seorang murid K.F. Holle, yakni Hasan Mustapa (Hoofd Penghulu yang pernah bertugas di Aceh dan Bandung), kemudian menjadi sastrawan Sunda yang berhasil melahirkan banyak karya.

Salah satu langkah penting yang pernah dilakukan K.F. Holle yaitu mendorong kawan-kawan pribuminya untuk berkarya. Moehamad Moesa, berkat persahabatan dengannya berhasil membuat beberapa karya yang dituangkan dalam buku, di antaranya : “Wawatjan Woelangkrama” (1862), “Wawatjan Dongeng-dongeng Toeladan” (1862), “Woelang Tani” (1862), “Wawatjan Satja Nala” (1863), “Wawatjan Tjarios Ali Moehtar” (1864), “Elmoe Nyawah” (1864), “Wawatjan Woelang Moerid” (1865), “Wawatjan Woelang Goeroe” (1865), “Wawatjan Pandji Woeloeng” (1871), dan “Dongeng-dongeng Pieunteungeun” (1887).

Di bawah pengawasannya, selain karya Moehamad Moesa, ada juga penulis pribumi lain yang berhasil melahirkan karya, di antaranya; Adi Widjaja, patih daerah Limbangan di Priangan, dan Bratawidjaja, mantan patih daerah Galuh di Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya). Produksi buku-buku berbahasa Sunda yang berada dalam pengawasan K.F. Holle kira-kira berlangsung sampai 1880-an. Buku terakhir yang terbit di bawah pengawasannya adalah “Pagoeneman Soenda djeung Walanda” (Buku Percakapan Sunda Belanda), terbit pada tahun 1883. Dan yang terakhir dieditnya adalah “Mitra noe Tani” (Sahabat Petani) terbit tahun 1896.

Di bidang sejarah, K.F. Holle pernah menulis karangan tentang Dipati Ukur. Dari beberapa versi cerita tentang Dipati Ukur yang beredar di masyarakat, ia menulis tentang bupati Imbanagara dan Bagus Sutapura yang diceritakan memegang peranan penting dalam penumpasan pemberontakan Dipati Ukur terhadap Kerajaan Mataram dan reorganisasi pemerintahan di wilayah Priangan.

Tahun 1877, ia mentranskripsikan Prasasti Geger Hanjuang di Tasikmalaya yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Beschreven Steen uit de Afdeeling Tasikmalaja Residentie Preanger”. Tulisan-tulisan lainnya banyak dijumpai dalam majalah Tijchrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Indische Gids, dan Tijdschrift van Landbouw en Nijverheid, yakni majalah pertanian dan kerajinan.

Dengan kemampuannya membaca bahasa Sunda Kuna, Holle juga sempat berusaha membaca prasati Batutulis yang ada di Buitenzorg (Bogor). Tahun 1869, hasil penelitiannya ditulis dengan judul “De Batoe Toelis te Buitenzorg”. Dalam tulisannya ia menyimpulkan bahwa Pakuan didirikan oleh Sri Baduga.

Salah satu bukunya yang paling populer, yang ia tulis bersama A.W. Holle (adiknya) adalah “Tjarita koera-koera djeung monyet”. Cerita fabel ini kemudian menyebar secara luas di kalangan masyarakat Sunda dengan judul “Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet”. Cerita ini kerap didongengkan kepada anak-anak menjelang tidur. Buku tersebut dianggap sebagai pelopor buku pegangan siswa di Jawa Barat yang diterbitkan pada tahun 1851 oleh Lange & Co, sebuah penerbit swasta di Batavia.

Apa yang dilakukan K.F. Holle di bidang literasi, menurut Mikihiro Moriyama dalam buku “Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, Dan Kesastraan Sunda Abad ke-19” merupakan salah satu dari gerakan penemuan, pemurnian, dan pendayagunaan bahasa Sunda, setelah dua abad sebelumnya dianggap tidak ada karena pengaruh kekuasan Mataram. Sepanjang abad 17 dan 18, bahasa tulisan yang dipakai dan berkembang di Tatar Sunda adalah bahasa Jawa. Hal ini tak lepas dari dikuasainya tanah Priangan oleh Kerajaan Mataram dari Jawa, dampak “penjajahan” Mataram ini terjadi di berbagai lini kehidupan, salah satunya adalah bahasa. Maka tak mengherankan jika selama hampir dua abad kesastraan Sunda berkembang menurut estetika Jawa.

Kondisi terpinggirkannya bahasa Sunda akibat pengaruh Jawa tersebut, juga pernah dikeluhkan oleh Moehamad Moesa dalam sebuah tulisan :

“Basa Soenda noe kalipoet / tanda jén kalipoetan / boektina di Soenda sepi / hanteu aja boekoe woengkoel basa Soenda / Réja maké doewa basa / Nja éta salah-sahidji / Malajoe atawa Djawa.” (Moesa 1867: 5)

“Bahasa Sunda yang tersembunyi / tanda bahwa ia tersembunyi / adalah bahasa Sunda dipencilkan / tidak ada buku yang ditulis / hanya dalam bahasa Sunda / kebanyakan ditulis dalam dua bahasa / yaitu salah satu di antara / bahasa Melayu atau Jawa.”

Bahkan kenyataan ini membuat pemerintah kolonial Belanda pada mulanya menganggap bahwa di Pulau Jawa tidakak ada bahasa etnik lain selain bahasa Jawa. Barulah kemudian pada abad ke-19, para intelektual Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu, menemukan bahasa Sunda sebagai sebuah bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri, yang artinya berbeda dengan bahasa Jawa yang sebelumnya dianggap sebagai bahasa tunggal.

Apa yang di lakukan K.F. Holle dalam pergaulan sehari-harinya yang banyak tercurahkan terhadap budaya dan literasi Sunda, terutama persahabatannya dengan Moehamad Moesa, juga karena ia sendiri menjabat sebagai penasehat kehormatan pemerintah Hindia Belanda untuk urusan pribumi, kemudian melahirkan prasangaka dan kecurigaan, baik dari kalangan pribumi maupun dari pihak Belanda. Mikihiro Moriyama menyebut hal ini dengan kalimat yang tepat, yaitu “paduan ganjil antara oportunisme, persahabatan, dan keingintahuan.”

Namun bagaimanapun, peran K.F. Holle dalam perkembangan literasi Sunda kiranya tak dapat diabaikan begitu saja. Ketika ia meninggal dunia pada tahun 1896, anak lelaki Haji Moehamad Moesa yang bernama Kartawinata, menulis satu buku kecil yang ternyata menandakan berakhirnya suatu zaman. Ya, zaman yang ditinggalkan K.F. Holle dengan segala kecintaan dan peranannya terhadap perkembangan literasi Sunda. [ ]

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.co.id/2016/03/peran-karel-frederik-holle-dalam.html

Rasia Bandoeng: Romeo & Juliet dari Citepus

Ditulis oleh Nia Janiar dan dipublikasikan di Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti

 

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap “aib” karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Baca lebih lanjut