Mencari Selatan, Timur, Ujung dan Tengah Bersama PHH Mustapa

Mencari Selatan, Timur, Ujung dan Tengah Bersama PHH Mustapa

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@Irfanteguh)

Warga Kota Bandung pasti tidak asing dengan Jalan PHH Mustapa, ruas jalan yang menyambungkan Jalan Surapati dengan Terminal Cicaheum, atau biasa disebut Suci (Surapati-Cicaheum).

Penghulu Haji Hasan Mustapa lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang, Garut. Ayahnya bernama Mas Sastramanggala, seorang Camat kontrakan teh Cikajang. Ibunya bernama Nyi Mas Salpah (Emeh), masih keturunan Dalem Sunan Pagerjaya dari Suci, Garut. Sebagian kecil masyarakat berspekulasi, bahwa penamaan Suci di ruas Jalan PHH Mustapa dikaitkan dengan daerah Suci asal Dalem Sunan Pagerjaya.

Hasan Mustapa adalah Hoofd Penghulu (Kepala Penghulu) Bandung yang paling terkenal. Beliau dikenal sebagai ulama mahiwal (nyeleneh) karena beberapa sikapnya dianggap tidak lazim oleh masyarakat umum. Ajip Rosidi dalam buku Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana menulis contoh sikap Hasan Mustapa yang nyeleneh tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

Kuli Gadungan

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

Pak Ahmad adalah opas (office boy) Bung Karno ketika tahun 1927 mendirikan Biro Teknik Bangunan. Tetapi sebenarnya tugasnya bukan hanya sebagai opas saja, melainkan juga sebagai agen PNI. Dia bertugas menyebarkan pamflet ke ranting-ranting di seluruh Bandung. Dari Cimahi sampai Cililin dan Cicalengka, yang jauhnya 30 km lebih dari Kota Bandung. Tugasnya hanya dikerjakan dengan sepeda.

Gajinya? Jangan ditanya. Pak Ahmad tidak mendapat gaji. Hanya mendapat makan dari Bu Inggit. Apa yang dikerjakannya murni demi perjuangan bangsanya.

Tatkala Bung Karno dipenjara, Pak Ahmad berusaha mengadakan kontak dengan pimpinannya yang sekarang mondok di Sukamiskin itu. Tapi bagaimana caranya? Baca lebih lanjut

Haji Anda di Lengkong Besar

Oleh: Ariono Wahyu (@A13Xtriple)

Ke rumah Haji Anda, di Lengkong Besar,” ke sanalah Inggit Garnasih ingin dipulangkan oleh Sukarno. Garnasih teguh memegang prinsipnya “Oh…, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu!” (“Oh…, dimadu? Jika harus dimadu, tak sudi!”).

Setelah mendampingi Sukarno selama kurang lebih dua puluh tahun, Inggit memutuskan untuk berpisah dengan pria kecintaannya itu. Saat itu Inggit praktis tidak memiliki apa-apa lagi. Seluruh daya upaya dia curahkan hanya untuk menyokong perjuangan Sukarno. Pikiran, tenaga, usaha, dan hartanya habis untuk menjagokan Sukarno menjadi orang penting. Tujuannya hanya satu, membantu Kusno hingga dia dapat menjadi pemimpin rakyat, seperti yang diinginkan oleh Haji Sanusi, suaminya yang kedua, saat merelakan Inggit untuk dinikahi Sukarno.

Dalam perjanjian perceraian yang dibuat oleh “Empat Serangkai”, yang kemudian disetujui oleh Sukarno, terdapat beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh Sukarno kepada Inggit, seperti memberikan uang belanja bulanan seumur hidup dan membelikan rumah tinggal bagi Inggit di Bandung. Namun yang ada dalam pikiran Inggit saat itu hanyalah keinginannya untuk pulang kembali ke kampung halamannya di Bandung.

Karena rumah Inggit tempat dia tinggal dahulu di Bandung sudah dijual. Maka ketika Mas Mansur bertanya kepadanya, kemanakah dia ingin diantarkan ke Bandung? Inggit menginginkan dia diantar ke rumah kenalan baiknya, Haji Anda di Jl. Lengkong Besar.

Maka, ke rumah mewah di Jl. Lengkong Besar itulah kemudian Inggit dipulangkan Sukarno dengan diantar oleh Mas Mansur. Rumah Haji Anda, pemilik perusahan kayu “Kencana”  yang menjadi saksi timbang-terima Inggit, dari Sukarno kembali kepada Haji Sanusi. Salah satu syarat utama yang diberikan oleh Haji Sanusi kepada Sukarno untuk menikahi Inggit dahulu, adalah Sukarno tidak boleh menyakiti Inggit Garnasih, baik secara lahir maupun batin.

Di halaman rumah Haji Anda yang luas di Jl. Lengkong Besar itulah akhirnya perpisahan antara Inggit Garnasih dan Sukarno terjadi. Setelah sebelumnya Sukarno menyerahkan kembali Inggit kepada Haji Sanusi, di ruangan dalam rumah Haji Anda.

Lalu siapakah Haji Anda? Serta di manakah lokasi tepatnya rumah yang menjadi saksi perpisahan Inggit Garnasih dan Sukarno?

Menurut penuturan Inggit Garnasih dalam biografinya “Kuantar ke Gerbang” yang ditulis oleh Ramadhan K.H., Haji Anda adalah kenalan baik Inggit Garnasih sejak dulu di Bandung. Haji Anda adalah pemilik perusahaan kayu Kencana. Rumah Haji Anda di Jl. Lengkong Besar tergolong megah dan mewah, karena dia adalah orang kaya.

Pada hari Sukarno memulangkan kembali Inggit ke Bandung, di rumah Haji Anda telah menunggu Haji Sanusi beserta keluarga barunya, kakak perempuannnya, Muntarsih, dan beberapa kerabatnya. Sepertinya keluarga Garnasih di Bandung telah bersiap dan berkumpul di rumah Haji Anda untuk menyambut Inggit Garnasih, Kartika, Sukarno dan Mas Mansur.

Sebenarnya sudah sejak membaca buku “Kuantar ke Gerbang”, kepenasaran saya akan letak lokasi rumah tempat Sukarno memulangkan Inggit muncul. Karena alamat rumah Haji Anda dalam buku tulisan Ramadhan K.H. hanya disebutkan terletak di Jl. Lengkong Besar. Saya membeli buku “Kuantar ke Gerbang” ketika mengikuti kegiatan Komunitas Aleut saat mengadakan “Lacak Jejak Inggit Garnasih” di tahun 2013.

Dari obrolan dengan pengasuh “Komunitas Aleut”, Ridwan Hutagalung, menurutnya rumah Haji Anda adalah rumah tua di persimpangan antara Jl. Lengkong Besar, Jl. Rana dengan Jl. Paledang. Bang Ridwan memperoleh informasi mengenai letak rumah Haji Anda, dari obrolannya dengan Pak Tito, anak dari Ibu Ratna Djuami, yang merupakan anak angkat Ibu Inggit.

Sisa Rumah H. Anda di Jl. Lengkong Besar

Memang tepat di mulut Jl. Rana di pinggir Jl. Lengkong Besar terdapat sebuah rumah tua yang sekarang dipergunakan sebagai bengkel AC dan shock breaker mobil, hanya bagian depannya saja yang masih berdiri, itupun tampak tak terurus. Bagian belakang rumah itu sudah dibiarkan runtuh, sekarang bagian belakang dipergunakan sebagai bengkel mobil.

Sudah sejak lama saya berusaha mendapatkan informasi, apakah benar rumah tua itu milik Haji Anda? Dengan berbekal keberanian, kurang lebih setahun yang lalu, saya pernah mencoba bertanya kepada pegawai bengkel AC mobil yang menempati bagian depan rumah tua itu. Menurut mereka rumah tua itu memang dahulu milik Haji Anda, saat ini kepemilikannya berada pada salah satu anak H. Anda, yang tinggal di daerah Cibaduyut. Dari mereka saya diberi petunjuk untuk mencoba bertanya mengenai H. Anda, kepada salah satu anaknya yang lain yang ternyata tinggal di rumah yang terletak di belakang rumah tua itu atau tepatnya rumah yang beralamat di Jl. Rana No. 1.

Rumah keluarga H. Anda di Jl. Rana

Dan sudah setahun yang lalu pula bersama dengan seorang teman di Komunitas Aleut, saya mencoba mendatangi alamat yang dimaksud. Setelah ngaleut di sekitaran Jl. Rana, pulangnya kami menyempatkan mendatangi rumah tersebut. Sayang Bapak pemilik rumah sedang tak berada di tempat. Dari salah satu putrinya, kami memperoleh kepastian memang benar bahwa ayahnya adalah anak Haji Anda, pemilik rumah tempat Inggit dengan Sukarno berpisah. Dari cucu H. Anda itu kami memperoleh nomer telefon seluler Pak Bambang, ayahnya. Karena kesibukan dan kawan saya kehilangan nomer handphone Pak Bambang, baru setelah setahun kemudian akhirnya saya dapat bertemu dengan beliau dan bertanya mengenai Haji Anda.

Menurut penuturan bapak Bambang Suherman (60), yang merupakan salah satu anak dari Haji Anda, Inggit Garnasih merupakan teman dekat keluarganya. Bahkan jauh sebelum Inggit menikah dengan Sukarno. Mungkin Haji Anda berteman dengan Haji Sanusi (suami kedua Inggit Garnasih) karena mereka sesama pengusaha yang sukses di Bandung saat itu.

Rumah Keluarga H. Anda di Jl. Rana

Haji Anda lahir di Tasikmalaya sekitar tahun 1903 atau 1904. Saat berusia 23 tahun, Haji Anda merantau ke Bandung, dan memulai usahanya dengan berjualan kayu bekas di Jl. Lengkong Besar. Usaha Haji Anda berjualan kayu, mengalami kemajuan ketika dia memperoleh izin untuk membuka kawasan hutan di Ciwidey. Kayu yang diperoleh Haji Anda dari kawasan hutan di Ciwidey itulah yang kemudian dijual sebagai bahan bangunan di Bandung. Pada saat itu di tahun 1920-an, Bandung memang tengah mengalami kemajuan pembangunan dikarenakan adanya rencana untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda ke Bandung. Berbagai infrastruktur dan kawasan-kawasan baru pun dibuka, termasuk penyediaan permukiman bagi warganya.

H. Anda

Pada saat itu bahan-bahan bangunan seperti kayu untuk membangun rumah sangat diperlukan. Haji Anda mampu menyediakan bahan bangunan kayu yang bermutu dari hutan di sekitar daerah Ciwidey, yang terkenal di antaranya menghasilkan jenis kayu bermutu tinggi seperti rasamala. Kayu dari perusahaan Haji Anda laris dipesan untuk pembangunan rumah di antaranya untuk kawasan daerah Dago, Ciumbuleuit dan Setiabudhi. Dari perusahaan kayu yang diberi nama “Kencana” itulah dia kemudian merambah usaha-usaha lain seperti tekstil dan pembuatan batu serta genting di daerah Sayati, Kopo. Haji Anda juga pernah ikut mendirikan Bank Sukapura yang berkantor di Jl. Braga.

Haji Anda mendirikan rumah di lokasi tempat ia berjualan kayu, yaitu di Jl. Lengkong Besar. Menurut penuturan Pak Bambang, rumah yang menjadi saksi penyerahan dan perpisahan Bung Karno dengan Ibu Inggit saat ini telah menjadi bangunan rumah bilyar dan karaoke. Sedangkan lokasi dimana dahulu perusahaan kayu Kencana berada lahannya kini telah menjadi tempat usaha cuci mobil dan rumah makan Sunda. Lahan perusahaan kayu Kencana, terletak di samping kiri rumah bilyar, jika kita melihatnya dari Jl. Paledang. Di sebelah kanan dari rumah bilyar itulah rumah tua yang saya ceritakan sebelumnya. Mungkin rumah tua itu dulu berfungsi sebagai paviliun dari rumah utama Haji Anda.

Pada masa jayanya menurut Pak Bambang, rumah utama H. Anda yang menjadi saksi perpisahan Inggit-Sukarno, memang sangat indah. Rumah itu bagian bawahnya adalah tembok sedangkan bagian atasnya berupa dinding berbahan kayu jati, dengan ornamen penyangga atap dari besi berukir. Halamannya yang luas dibatasi dengan pagar besi yang besar dan kuat. Rumah utama itu memiliki ruangan-ruangan berukuran besar di dalamnya. Salah satu ruangan di bagian dalam itulah yang menjadi saksi bisu perpisahan Inggit dengan Sukarno.

Setelah berpisah dari Sukarno, Inggit yang belum memiliki rumah, sempat tinggal cukup lama dengan keluarga H. Anda. Inggit kemudian pindah setelah memiliki rumah di Jl. Ciateul yang kemudian menjadi Jl. Inggit Garnasih. Walaupun telah pindah rumah, namun hubungan kekeluargaan antara keluarga H. Anda dengan Ibu Inggit tetap terjalin erat. Menurut Pak Bambang, Ibunya adalah pelanggan jamu dan bedak yang dibuat oleh Ibu Inggit, yang kerap berkunjung ke rumah Ibu Inggit.

Usaha Haji Anda terus berkembang, dia kemudian membuka usaha penginapan di belakang rumahnya pada tahun 1955 dan diberi nama “Hotel Tenggara”. Kini bangunan bekas hotel tersebut menjadi rumah tempat tinggal Pak Bambang dengan adik-adiknya. Menurut Pak Bambang, ayahnya yang aktivis Partai Masyumi, kerap mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh partai, seperti Buya Hamka, M. Natshir, Syarifudin Prawiranegara di hotel tersebut.

Kediaman Keluarga H. Anda di Jl. Rana

Pada tahun 1976 setelah menutup peruahaan kayu Kencana, Haji Anda mengalihkan usahanya menjadi Perusahaan Oto Bus (PO) Garuda Kencana, yang berlokasi di bekas pabrik kayunya di Jl. Lengkong Besar.

Pada masa jayanya, Haji Anda sempat memiliki beberapa rumah di Bandung Utara, seperti di daerah Ranca Bentang, Jl. Adipati Kertabumi, dan Jl. Sulanjana. Pak Bambang yang merupakan anak ke-10 dari 19 bersaudara, lahir ketika keluarga H. Anda tinggal di Jl. Sulanjana. Di rumah yang berlokasi di samping rektorat ITB itu Pak Bambang tinggal hingga kelas 3 SD. Bila diperhatikan rumah di Jl. Sulanjana terletak di pinggir kanal Cikapayang yang mengalir juga di depan rumah dan perusahaan kayu Kencana di Jl. Lengkong Besar, suatu kebetulan?

Untuk melihat bahwa rumah-rumah di lahan Jl. Rana tersebut dahulu merupakan sebuah hotel, saya diajak untuk melihat-lihat ruangan yang dulu difungsikan sebagai kamar hotel. Ternyata memang di rumah yang terletak di sayap kiri masih terdapat kamar-kamar yang memiliki nomor-nomor di atas pintunya. Pak Bambang juga menunjukan ruangan-ruangan yang dulu difungsikan sebagai ruang binatu/cuci pakaian, dapur dan kamar mandi hotel. Di bagian belakang deretan kamar-kamar yang saat ini difungsikan sebagai kamar kost, terdapat pintu dengan tangga tembok yang ternyata dulu difungsikan sebagai jalan tembus ke rumah utama dan perusahaan kayu di Jl. Lengkong Besar.

Sepeninggal Haji Anda pada tahun 1980, usaha keluarga ini mengalami kemunduran. Hanya lahan rumah tua di mulut Jl. Rana dan lahan bekas Hotel Tenggara yang masih dimiliki keturunan Haji Anda.  Lahan bekas perusahaan kayu Kencana dan rumah utama yang menjadi saksi berpisahnya Bung Karno dengan Ibu Inggit telah dijual ke pihak lain.

Di halaman rumah utama keluarga Haji Anda di Jl. Lengkong Besar, setelah acara timbang terima Inggit Garnasih, dia mengantarkan pria yang dulu dipujanya seraya mengucap sepatah do’a :

“Selamat jalan. Semoga selamat dalam perjalanan.”

“Selamat jalan.”

Ya, aku mendoakan dia selamat, ujar Inggit. Bukankah kita berdiri di muka gerbang zaman baru setelah menempuh perjalanan panjang, yang bukan bertabur bunga?!.

K.F. Holle dan Politik Anti Islam

Oleh : M. Ryzki Wiryawan ( @sadnesssystem )

Image

K.F. Holle

Sejarah merupakan kawasan abu-abu. Di dalamnya, penilaian terhadap sesuatu hanya bisa dilakukan lewat sudut pandang tertentu dengan konsekwensinya masing-masing. Dalam tulisan ini, saya akan membahas seorang tokoh Kontroversial bernama K.F. Holle (1829-1896) yang bagi sebagian orang merupakan “pahlawan” namun bagi sebagian lainnya merupakan musuh. Adalah cukup penting untuk memahami kedua pandangan tersebut agar sikap terhadap tokoh Holle bisa dilakukan secara lebih berhati-hati. Sebagai referensi terhadap tulisan ini, saya menggunakan  buku “Kawan dalam Pertikaian” karya Karel Steenbrink (Mizan, 1995), “Politik Islam Hindia Belanda” karya H. Aqib Suminto (LP3ES, 1985), dan De Regenten Positie karya R.A.A. Soeria Nata Atmadja (A.C. Nix, 1940).

Karel Frederik Holle tiba ke Hindia Belanda bersama kedua orang tuanya pada usia 14 tahun. Pada tahun 1846 ia mengawali karirnya sebagai pegawai kantor pemerintah hingga sepuluh tahun kemudian mengundurkan diri untuk bisa mengurus perkebunan teh “Waspada” di Garut. Holle memang berasal dari keluarga Hucht yang telah merintis usaha perkebunan di Priangan sejak tahun 1844. Holle menguasai dua lahan perkebunan di Limbangan bernama Waspada I seluas 148 bahu yang didirikan 3 Januari 1865 dan  Waspada II seluas 50 bahu yang didirikan tanggal 29 April 1868.

Tanpa pengetahuan formal, Holle berhasil mengembangkan kemampuannya di bidang perkebunan dan bidang lainnya seperti linguistik dan budaya. Perkebunannya dijadikan labotarium untuk mempelajari berbagai segi pertanian di saat yang sama ia mengembangkan kemampuannya untuk menguasai bahasa Melayu, Sunda dan Jawa. Untuk menghargai jasa-jasanya, pemerintah kolonial pada tahun 1871 mengangkatnya sebagai Penasihat Honorer untuk Urusan Pribumi. Untuk menyebarkan ide-idenya, Holle bekerja sama dengan teman setianya, Raden Muhammad Moesa, kepala pengulu Garut. Perlu diketahui bahwa posisi Penghulu saat itu diangkat oleh pemerintah kolonial dan diberi gaji tetap, sehingga pemilihan orang-orang yang menduduki posisi tersebut haruslah orang yang sejalan dengan kepentingan pemerintah kolonial.

Muhammad Moesa memulai karir kepegawaian sipilnya pada tahun 1852 sebagai akuntan pada depot garam di Garut, hingga para tahun 1855 diangkat sebagai kepala penghulu dan sejak tahun 1860 bekerja sama dengan Holle dalam berbagai kegiatan. Salah satunya dalam penyusunan berbagai brosur populer tentang pertanian. Mereka juga terlibat dalam pendirian Sekolah Guru di Bandung (Kweekschool voor Onderwijsers op Inlandsche Schoolen) pada tahun 1865. Pendirian sekolah yang hanya menerima kalangan menak (bangsawan) ini adalah salah satu usaha Holle untuk menghasilkan”kelompok pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi dan jauh dari pengaruh Islam”. Walau demikian, Kebijakan pemberian pendidikan kepada pribumi ini ditanggapi dengan sangat hati-hati oleh pemerintah karena bisa menjadi “dinamit” bagi pemerintah kolonial.

Image

R.M. Moesa

Holle bersama Holle turut menulis buku-buku bacaan yang menggunakan tulisan Sunda, yang merupakan varian artifisial dari tulisan Jawa. Usaha ini sempat mendapatkan reaksi keras. Asisten Residen Rangkasbitung misalnya, menulis bahwa tidak habis pikir mengapa “tulisan ini dipaksakan kepada penduduk pribumi”.

Alasan Holle mengembangkan aksara tersebut tidak lain untuk menyaingi tulisan Arab yang saat itu populer digunakan masyarakat. Tulisan Arab menurutnya hanya akan memperkuat pengaruh orang-orang yang fanatik agama. Holle sebagaimana Snouck Hurgronje di masa kemudian, lebih suka menggunakan cara-cara halus untuk membendung ajaran Islam karena tindakan yang terlalu masif, seperti pelaksanaan Kristenisasi justru akan menimbulkan reaksi balik yang keras dari umat Muslim.

Untuk menahan peran sosial dan politik Islam di kawasan, Pada tahun 1873 Holle bersama Moesa berangkat ke Singapura dalam misi rahasia untuk mengetahui sejauh mana upaya Islam internasional dalam mendukung perlawanan anti-Belanda di Aceh. Keterlibatan Moesa dalam hal ini tentu saja cukup mengejutkan mengingat posisi strategisnya sebagai pimpinan Islam tertinggi di daerahnya.

Sebagai penasehat Pemerintah Kolonial, Holle mengusulkan agar pemerintah mewaspadai para Haji yang telah pulang dari tanah suci. Menurutnya, para Haji membawa paham fanatisme dan ketertutupan. Holle mengusulkan agar para Haji ini tidak diberi jabatan yang lebih tinggi, mereka juga dilarang memakai pakaian Haji. Holle memuji Bupati Cilacap setelah mengetahui bahwa tidak seorang pun dari wilayahnya yang menunaikan Haji. Bupati Purwokerto juga tidak luput dari pujian berkat tindakannya melarang guru tertentu untuk memberikan pelajaran Agama. Dengan kata lain, Holle pada dasarnya menganggap para Haji dan Guru Agama sebagai bahaya terbesar yang dimiliki oleh Islam.

Di antara mereka yang paling berbahaya menurut anggapan Holle adalah mereka yang terlibat dengan perkumpulan tarekat, yang sejak tahun 1850 berhasil menarik berbagai pengikut dari jajaran kelompok sosial atas. Sejumlah Bupati dan tokoh tertentu di Jawa Barat yang terlibat tarekat tidak luput terkena serangan Holle, salah satunya penghulu Cianjur yang disebutnya “sangat fanatik dan anti-Eropa” gara-gara menolak minum anggur dalam suatu pesta yang diadakan asisten residen. Orang-orang Belanda di pesta tersebut lantas memaksa membuka mulut sang penghulu serta kemudian menuangkan anggur ke dalamnya. Sejak itu sang Penghulu Cianjur berusaha menjauhi orang-orang Eropa.

Dalam peristiwa lain, Holle melaporkan informasi yang dimuat De Javabode tanggal 29 September 1885 berjudul “Perang Sabil”, berisikan adanya rencana perampasan, pembunuhan dan perampokan terhadap orang Eropa dalam skala besar yang tengah digerakan oleh sekelompok umat Muslim. Desas-desus itu tidak pernah terjadi. Malahan koran De Javabode dibredel pemerintah pada 6 Oktober 1885 selama beberapa bulan karena dianggap membuat berita yang meresahkan masyarakat. Penelusuran Residen terhadap kasus ini berujung kepada persoalan politik, yaitu upaya R. M. Moesa yang didukung Holle untuk menempatkan anaknya yang menjadi Bupati Lebak bisa menjadi Bupati Cianjur. Juga anaknya yang termuda yang menjadi Naib di Wanareja agar menjadi kepala Penghulu di Cianjur. Si bungsu ini mendapati keterbatasan karir mengingat cacat fisik dan mental yang dideritanya setelah terjatuh dari kuda pada usia 12 tahun.

Demikian secuplik kiprah K.F. Holle dalam rangka membendung ajaran Islam, yang kemudian langkahnya dilanjutkan oleh Snouck Hurgronje. Seperti halnya Holle yang bermitra dengan M. Moesa, Snouck juga menggunakan peran penghulu dalam melaksanakan misinya. Tapi itu lain cerita. Intinya, kita harus lebih arif dalam menilai atau menyikapi seorang tokoh kolonial. Salam Sadness!~

Image