Sketsa Borobudur Maclaine Pont

Sejauh yang saya tahu, tidak ada arsitek Nusantara selain Maclaine Pont yang benar-benar menaruh perhatian tinggi terhadap kekayaan budaya Nusantara. Beliau memang tidak banyak mendirikan bangunan, namun sumbangan terbesarnya adalah usahanya dalam menemukan jati diri arsitektur indis. Salah satu mahakaryanya yang didirikan di Bandung adalah bangunan Aula Barat Timur di Komplek ITB.

Sketsa Borobudur di atas dibuat Maclaine Pont semasa meneliti bangunan-bangunan Candi di Jawa tengah di awal abad-20. Maclaine Pont menunjukan apresiasinya yang luar biasa terhadap peninggalan-peninggalan sejarah Nusantara terutama kompleks ibukota Majapahit di Trowulan dan berbagai Candi yang tersebar di Jawa Tengah. Minatnya yang tinggi terhadap kebudayaan nusantara ini bahkan membuatnya tidak hanya dikenal sebagai arsitek melainkan juga sebagai arkeolog.

Masih adakah arsitek yang menaruh perhatian sedemikian tinggi terhadap budaya Nusantara saat ini ?

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Metamorfosis si Bale Nyungcung

Mesjid Agung Bandung merupakan salah satu bangunan tertua di Bandung, dibangun tahun 1811/1812 seiring dengan pembangunan Negorij Bandong yang dipindahkan dari Krapyak. Bangunan asli sudah tidak ada karena renovasi sering dilakukan terhadapnya. Sejak bangunan awal yang hanya terbuat dari kayu dan bambu saja, kemudian tahun 1825 sempat diperkokoh dengan kayu, Perubahan besar dilakukan ketika bangunan ini direnovasi pada tahun 1850 oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874). Ketika itu bangunan ini sudah mulai menggunakan tembok sebagaimana diiliustrasikan dalam buku Rambles of Java karya Charles Walter Kinloch.

Masjid Agung sempat mengalami berbagai renovasi lagi di abad 20, dan istilah Bale Nyuncung mungkin baru dipakai tahun 1905 ketika sang Masjid menggunakan atap bertumpang tiga dan berujung lancip khas masjid Nusantara.

Sejak tahun 1955, Masjid ini mulai meninggalkan arsitektur khasnya, yaitu ketika Soekarno memasang kubah bawang di atasnya menggantikan atap “nyungcung”. Sejak saat itu pesona masjid agung mulai memudar, hingga bentuk sekarang yang terhalang oleh keramaian alun-alun Bandung….

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Loge Sint Jan si Gedung Setan!

Bandung dikenal sebagai salah satu pusat gerakan Vrijmetselarij (Freemasonry) di Hindia Belanda. Loge Freemason Bandung bernama “Sint Jan” didirikan tahun 1896 dan merupakan Loge ke-13 di Hindia Belanda.

Kegiatan Sint Jan antara lain membuka perpustakaan “De Openbare bibliotheek van Bandoeng” . Dari perpustakaan inilah Soekarno selama masa penahanannya di Banceuy memperoleh buku-buku yang dijadikan referensi dalam pembuatan peldoi Indonesia menggugat. Selain itu Sint Jan mengadakan kegiatan “Pro Juventute” untuk membina remaja nakal. Di bidang ekonomi, Sint Jan memberikan kredit ringan kepada masyarakat untuk memerangi rentenir. Di Bidang pendidikan, mereka mendirikan Bandoengsche Schoolvereniging yang berhasil mengadakan 3 sekolah dasar, 3 sekolah menengah dan sebuah Taman Kanak-kanak. Aksi terkenal lainnya dari perkumpulan Freemason Hindia Belanda adalah sokongan bagi pendirian lembaga orang buta di Bandung.

Sebelum dibongkar tahun 60an, Loge Sint Jan disebut sebagai ‘Gedung Setan’ oleh masyarakat karena konon berbagai upacara ritual asing dan aneh pernah dilakukan di dalamnya. Kini di atas lokasi Loge tersebut telah berdiri suatu Masjid ‘Al Ukhuwah’ yang mungkin disimbolkan sebagai upaya menetralisasi ‘kekuatan jahat’ yang pernah bersarang di tempat tersebut.

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Prof. Kemal C.P. Wolff Schoemaker

Oleh : Ridwan Hutagalung

Para peminat sejarah kolonialisme di Hindia Belanda dan terutamaBandung, tentunya tak asing dengan nama Wolff Schoemaker. Beliau adalah arsitek yang banyak merancang gedung-gedung monumental di Bandung. Dapat disebutkan beberapa karyanya yang terkemuka seperti Villa Isola, Hotel Preanger, Gedung Merdeka, Peneropongan Bintang Bosscha, Bioskop Majestic, Landmark Building, Gedung Jaarbeurs, Penjara Sukamiskin, Gereja Bethel, Katedral St. Petrus, Mesjid Raya Cipaganti, dan banyak lagi yang lainnya. Demikian banyak karyanya diBandungsehingga seorang pakar arsitektur dari Belanda, H.P. Berlage, pernah mengatakan bahwaBandungadalah “kotanya Schoemaker bersaudara”. Ya, Wolff Schoemaker memang memiliki seorang kakak yang juga terpandang dalam dunia arsitektur masa kolonial, yaitu Richard Schoemaker.

Walaupun demikian populer karya-karyanya diBandung, namun kehidupan pribadinya sama sekali tidak demikian. Tidak banyak informasi mengenai kehidupan Wolff Schoemaker yang bisa didapatkan baik melalui buku-buku lama ataupun melalui internet di masa sekarang ini. Salah satu kemungkinan yang menjadi penyebabnya adalah hilang atau hancurnya semua data-data itu pada masa penjajahan Jepang di Nusantara dan berlanjut pada masa Agresi Militer I dan II. Oleh karena itu dalam tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Wolff Schoemaker umumnya terbatasi hanya dalam bidang arsitektur saja.

Kelangkaan informasi mengenai sosok Wolff Schoemaker tak ayal menimbulkan berbagai dugaan dan keraguan pula. Misalnya saja pertanyaan mengenai apakah sebenarnya agama yang dianut oleh Wolff Schoemaker seperti yang disinggung dalam tulisan mengenai Masjid Cipaganti di buku “200 IkonBandung: Ieu Bandung, Lur” yang baru saja diterbitkan oleh Pikiran Rakyat. Pertanyaan yang sangat wajar karena penulis artikel itu menemui bahwa ada beberapa tulisan yang menyebutkan nama arsitek ini dengan Profesor Kemal C.P. Wolff Schoemaker. Sumber lainnya dengan agak ragu menyebutkan bahwa gelar Kemal didapatkan oleh Wolff Schoemaker setelah ia memeluk agama Islam.

Berikut ini saya sarikan sejumlah informasi tentang Wolff Schoemaker seperti yang terdapat dalam buku “Tropical Modernity; The Life & Work of C.P. Wolff Schoemaker” karya C.J. van Dullemen ditambah dengan beberapa buku lain sebagai bahan pendukung. Penulis buku ini (Dullemen) mengakui kelangkaan informasi tentang sosok arsitek yang karya-karya monumentalnya tersebar diKotaBandung. Oleh karena itu van Dullemen banyak mengandalkan berbagai ingatan dari mantan mahasiswa professor ini saat aktif mengajar di Technische Hoogeschool (sekarang ITB).

Charles Prosper Wolff Schoemaker dilahirkan di Banyubiru, Jawa Tengah, pada tahun 1882. Ia menjalani pendidikan di Akademi Militer di Belanda hingga lulus dengan pangkat letnan zeni militer. Sekembalinya di Hindia Belanda pada tahun 1905, Wolff Schoemaker bekerja sebagai arsitek militer untuk pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1911 Wolff keluar dari dinas militer dan dua tahun kemudian bekerja sebagai insinyur teknik pada Dienst Burgerlijk Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum Batavia. Saat menjabat sebagai direktur di GemeentewerkenBatavia, diketahui ia menjadi seorang Muslim. Tidak ada informasi mengenai faktor apa yang menyebabkannya memutuskan berpindah agama saat itu.

Tak lama setelah memeluk agama Islam, Wolff Schoemaker mendapatkan gelar Kemal dari rekan-rekan Muslimnya. Kegiatannya dalam dunia Islam dilakukannya melalui jabatannya sebagai wakil ketua pada kelompok Western Islamic Association di Bandung. Ia juga bergabung dengan organisasi Persatoean Oemmat Islam setelah masa perang kemerdekaan. Melalui sebuah suratpanjang, Ia bahkan menyarankan pada mantan muridnya yang saat itu menjadi PresidenR.I., Ir. Soekarno, agar mengarahkan republik yang baru berdiri ini menjadi Kesultanan Indonesia Islamyah. Menurut pandangannya sistem demokrasi dengan dasar-dasar yang berasal dari barat itu tidak tepat untuk dijalankan di Indonesia. Beberapa pandangannya mengenai Islam dituangkannya pula dalam sebuah tulisan yang diterbitkan dalam koleksi essay yang berjudul Cultuur Islam (1937).

Pada tahun 1938 Wolff Schoemaker mendapatkan tugas untuk menggantikan kakaknya, Richard, sebagai pengajar di Techincal University di Delft. Dalam perjalanan menuju Belanda itu Wolff berkesempatan untuk mampir dan tinggal sebentar di Kairo, Mesir. Setelah berada di Belanda, Wolff memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah pada akhir tahun 1938. Pada akhir tahun 1939 Wolff kembali keBandungdan melanjutkan tugasnya sebagai professor di Technische Hoogeschool.

Sebagai seorang Muslim yang cukup aktif dalam kegiatan keagamaan, Wolff Schoemaker cukup disegani oleh para mahasiswa Indonesianya. Sementara kalangan mahasiswa Belanda dan orang-orang Eropa lainnya tak dapat memahami pilihan Wolff Schoemaker untuk menjadi Islam. Dalam pengantar untuk Cultuur Islam, Wolff Schoemaker menyatakan bahwa karakter yang humanis dan toleran dalam Islam memberikan peluang bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mungkin hal itulah yang membuat Wolff Schoemaker merasa cocok dengan pilihannya. Wolff Schoemaker memang merupakan figur yang sangat terbuka bagi ilmu pengetahuan. Ia juga unik sehingga tidak mudah dipahami oleh lingkungannya. Tidak mudah juga untuk dapat berteman dengannya. Kebanyakan rekannya menilainya sebagai seorang yang temperamental, emosional, sekaligus juga flamboyan dan sensual.

Walaupun kegiatannya sebagai Muslim cukup menonjol, dari empat kali pernikahannya Ia tidak pernah menikahi sesama Muslim. Bahkan satu-satunya karya yang berkarakter Islam yang pernah dibuatnya hanyalah Masjid Kaum Cipaganti yang diselesaikannya pada tahun 1934. Masjid ini dibangun di Nijlandweg, di tengah-tengah kompleks permukiman bangsa Eropa di Bandung Utara pada masa pemerintahan Bupati Rd. Tg. Hassan Soemadipradja. Keanehan lainnya adalah fakta bahwa Ia dimakamkan di TPU Kristen Pandu pada tahun 1949.

Ridwan Hutagalung

Penulis buku “Braga; Jantung Parijs van Java”

Sumber-sumber bacaan :

Haryoto Kunto, “Seabad Grand Hotel Preanger; 1897-1997″

C.J. van Dulleman, “Tropical Modernity; The Life & Works of C.P. Wolff Schoemaker”

Huib Akihary, “Architectuur & Steedebouw in Indonesie, 1870/1970″

Her Suganda, “Jendela Bandung”

Sumber foto :

C.J. van Dulleman, “Tropical Modernity; The Life & Works of C.P. Wolff Schoemaker”

1. C.P. Wolff Schoemaker di studionya tahun 1924. Di latar belakang adalah ukiran-ukiran yang dipergunakannya untuk ornamen gedung Societeit Concordia dan Gereja Bethel.

2. C.P. Wolff Schoemaker dengan kostum haji.

3. C.P. Wolff Schoemaker dengan latar belakang piramid saat kunjungannya ke Mesir.

4 & 5. Plakat di Mesjid Cipaganti.

Original Post : http://rgalung.wordpress.com/2011/06/04/prof-kemal-c-p-wolff-schoemaker/