Wisata Malam, Menyingkap Kisah di Balik Urban Legend Bandung

Tak terkecuali di Kota Bandung, Jawa Barat. Legenda urban yang diyakini ada itu hingga kini ceritanya dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi lain.

Baca lebih lanjut

Iklan

Komunitas Aleut: Bandung Pernah Mendapat Julukan Kota Kuburan

Oleh: Delila Deagrathia

BANDUNG, infobdg.com – Ngaleut punya arti jalan-jalan barengan. Tapi kalau komunitas Aleut bukan cuma jalan-jalan aja tapi juga mencari dan belajar mengenai sejarah Bandung. Jalan-jalannya juga beneran jalan kaki loh wargi Bandung. Setiap hari minggu dengan rutin komunitas ini mencari ilmu sejarah disudut-sudut kota Bandung. Selain jalan-jalan di Bandung, komunitas ini mendapatkan ilmu lebih dalam tentang Bandung.

 

Di setiap sudut kota Bandung banyak kejadian dan sejarah yang wargi Bandung belum banyak tahu. Nah komunitas Aleut ini bakal lebih mengenalkan Bandung dari masa ke masa. Kang Irfan Teguh, anggota dari komunitas Aleut menceritakan bahwa dulu Bandung pernah mendapat julukan kota kuburan. Dulu kawasan Banceuy merupakan area pemakaman untuk warga Tionghoa, Eropa dan Belanda namun dipindahkan ke Kebon Jahe yang sekarang menjadi Gor Pajajaran untuk area kuburan warga Eropa dan Belanda, untuk warga Tionghoa dipindahkan ke Babakan Ciamis kemudian dipindahkan lagi ke Cikadut.

Namun untuk warga pribumi, menguburkan Jenazah hanya dilakukan di perkarangan rumah saja. Namun akhirnya pemerintah Hindia-Belanda melarang dan merubah kawasan Sirnaraga dan Astana Anyar menjadi pemakaman umum untuk warga pribumi. Bisa wargi Bandung bayangkan semerawut apa kuburan pada jaman dulu, pemakaman yang dipindah-pindah. Bahkan komunitas aleut menemukan batu nisan makan orang Belanda yang sekarang dijadikan tempat menyuci. Baca lebih lanjut

Jelajah Kawasan Pecinan Bandung Bersama Komunitas Aleut

Reporter: Astri Agustina

Di sini peserta diceritakan sejarah kedatangan etnis Tionghoa di Kota Kembang, dan perkembangan kawasan pecinan di Bandung.

Peserta jelajah kawasan pecinan Bandung. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com, Bandung – Menjelang pergantian Tahun Baru Cina atau Imlek, Best Western Premier La Grande Hotel menggandeng Komunitas Aleut untuk mengungkap sejarah kawasan pecinan di Bandung dalam hajatan bertajuk “Tour de Petjinan Van Bandoeng”.

“Kami mengajak Koko Cici Jakarta 2016, Mojang Jajaka 2016, dan Amoi Akko Bandung untuk meramaikan kegiatan. Juga rekan media untuk lebih mengetahui sejarah pecinan di Bandung serta Komunitas Aleut yang akan menjelaskan soal sejarah pecinan,” ujar General Manager Best Western Premier La Grande Hotel, Benedictus Jodie, Selasa (24/1).

Kegiatan yang diselenggarakan Selasa (24/1) mulai pukul 07.00 WIB itu dimulai dengan berkumpulnya peserta di Perpustakaan Alun-Alun. Di sini diceritakan sejarah kedatangan etnis Tionghoa di Kota Kembang, dan perkembangan kawasan pecinan di Bandung.

Dengan berjalan kaki, perjalanan dilanjutkan menuju Warung Kopi Purnama. Tempat ngopi penuh sejarah ini berada di kawasan Timur Asing atau Arab yang kini dikenal dengan nama Alkateri. Warung Kopi Purnama sendiri hingga saat ini masih mempertahankan tradisi penyuguhan kopi tiam.

“Warung Kopi Purnama berdiri sejak tahun 1930 dengan nama Chang Chong Se yang berarti silakan mencoba. Kedai kopi ini didirikan oleh Yong A Thong yang hijrah dari Kota Medan sekitar abad ke 20 yang membawa tradisi kopi tiam,” jelas Koordinator Aleut, Arya Vidya Utama.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kopi Aroma, Kawasan Pecinan Lama yang berada di Pasar Baru, Babah Kuya, Cakue Osin, Hotel Surabaya, dan berakhir di Klenteng Satya Budhi sekitar pukul 12.00 WIB.

Baca lebih lanjut

Melihat Masa Lalu Bersama Komunitas Aleut

Oleh: Adi Ginanjar Maulana

Komunitas Aleut.(Ist)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Seorang penulis peraih Nobel Sastra Anatole France pernah mengatakan buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pasti sangat membosankan.

Anatole tidak mencoba sinis dalam kata namun realita yang berkembang mengatakan jika Tuhan sekali pun tidak mampu mengubah sejarah karena hanya ahli sejarah yang dapat melakukannya.

Anatole tidak salah pula tidak benar karena sejarah adalah pedoman cara manusia belajar memperbaiki diri dari masa lalu. Melupakan sejarah adalah sebuah kesalahan yang tidak boleh dilakukan suatu bangsa.

Lantas Komunitas Aleut hadir di tengah persimpangan makna yang membuat sejarah semakin terlupakan tergerus jaman. Para penggiat Aleut percaya jika kesadaran masyarakat untuk mencintai daerahnya dapat tercipta melalui pendekatan sejarah. Baca lebih lanjut

Membukukan Cerita Perjalanan Aleut

Oleh: Sora Soca (@SoraSoca)

Selain mendatangi langsung ke tempat-tempat bersejarah di Bandung, para pegiat aktif Komunitas Aleut, juga mempunyai kegiatan menulis. Meski bukan wajib, namun para pegiat aktif komunitas pecinta sejarah, wisata, dan lingkungan ini terbiasa menuliskan catatan perjalanan Ngaleut. Tulisan-tulisan mereka bisa dikunjungi di situs mereka, komunitasaleut.com.

Menurut pengasuh Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, catatan perjalanan tersebut akan dibuatkan buku.

Kamisan Komunitas Aleut _Huyogo Simbolon

“Baru sekarang ini kita rencanakan buat buku yang relatif mewakilkan Aleut untuk diterbitkan. Bukunya berhubungan dengan catatan perjalanan komunitas Aleut dan kita meggandeng penerbit umum,” terangnya.

Meski tak merinci kapan buku akan diterbitkan, Ridwan mengaku materi buku sudah disiapkan. Terutamanya terkait catatan perjalanan Aleut. “Sudah ada (bahannya),” ujarnya singkat.

Ridwan menambahkan, para pegiat Aleut selalu dirangsang untuk menulis catatan perjalanan. Awalnya berupa tulisan ringan, namun tak jarang di antara mereka yang menggunakan literatur sehingga tulisan menjadi lebih berisi.

Buku Pernik KAA _Huyogo Simbolon

“Kita pernah bikin beberapa buku seperti saat ultah Aleut. Bahkan, anggota kita baik yang perorangan maupun yang ramai-ramai menulis buku terkait sejarah,” ungkapnya.

Selain itu, pegiat Aleut yang berasal dari berbagai latar belakang ilmu juga menambah warna di setiap catatan perjalanan mereka. Bahkan, dalam suatu kesempatan para pegiat Aleut melakukan peliputan dalam rangka Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Catatan peliputan yang dilakukan awak komunitas ini kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Pernik KAA 2015: Serba-Serbi Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika.

(Huyogo Simbolon)

 

Tautan asli: https://qubicle.id/story/membukukan-cerita-perjalanan-aleut

Terinspirasi Suasana Bandung Tempo Dulu

Oleh: Sora Soca (@SoraSoca)

“The most effective way to destroy people is to deny and obliterate their own understanding of their history”

George Orwell

Bersumber dari buku seputar sejarah Bandung, yakni Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, karya Haryoto Kunto (Granesia, 1984). Buku ini lah yang kemudian menginspirasi Ridwan Hutagalung untuk menyusuri situs-situs penting di Bandung. Sekitar tahun 2003, kegiatan berjalan kaki menelusuri fakta-fakta di lapangan yang bersumber dari tulisan Haryoto Kunto sudah dilakukan bersama lima rekannya yang lain.

Tiga tahun kemudian Komunitas Aleut dibentuk. Tujuannya masih sama yaitu menjelajahi situs-situs penting sambil belajar bersama-sama mengenali sejarah di Kota Bandung.

Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe _Huyogo Simbolon

“Intinya ada beberapa orang yang mengoleksi buku-buku tentang Bandung terutama bukunya Pak Haryoto Kunto. Orang-orang yang suka sama buku ini sering ngobrol dan kemudian tercetus ide untuk menelusuri apa yang ditulis dalam buku itu,” ujar Ridwan yang hingga kini aktif mengasuh Komunitas Aleut.

Dalam mencari berbagai fakta di lapangan tersebut, Ridwan mengatakan, banyak hal yang tidak disadari bahwa banyak tempat di Bandung yang memiliki sejarah. Tanpa disadari bahwa apa yang terlihat sehari-hari ternyata memiliki informasi yang menarik.

Ridwan Hutagalung_Huyogo

Setelah itu komunitas ini lebih rutin memperluas wilayahnya. Tidak hanya di kota tapi ke pinggiran Kota Bandung. Serta tidak alasan khusus dipilihnya hari Minggu untuk menggelar kegiatan Ngaleut. Hanya karena waktu luang yang ada hanya di hari Minggu.

Rupanya, anggota komunitas ini banyak menemukan data menarik yang justru tidak terungkap di dalam buku sejarah. Seperti cerita dari warga sekitar lokasi situs berada.

“Kita juga menggunakan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan tempat itu. Referensi buku-buku berbahasa Sunda, Inggris dan Belanda terkait dengan sejarah Bandung,” katanya. (Huyogo Simbolon)

Tautan asli: https://qubicle.id/story/terinspirasi-suasana-bandung-tempo-dulu

Ngaleut, Melangkah Beriringan Memaknai Sejarah

Oleh: Sora Soca (@SoraSoca)

Menuntut ilmu merupakan metode mendapatkan kebahagiaan hidup. Maksud dari ungkapan tersebut memang benar. Namun, apa gunanya ilmu pengetahuan jika tidak bisa disampaikan kepada orang banyak?

Ilmu itu sendiri terdapat banyak cabangnya. Salah satunya sejarah. Mengacu pada kalimat penulis Belanda Edgar du Perron, “Bahasa yang sulit, tidak selalu mewakili pikiran yang bermutu”. Banyak sekali buku sejarah bermutu yang kita temui hanya bisa mengisi tumpukan buku yang tidak dibaca karena penulisannya yang terlalu ilmiah dan berat. Di sinilah ilmu sejarah harus lebih aplikatif.

Persoalan itu kemudian berusaha dipecahkan oleh Komunitas Aleut. Melalui kecintaan kepada Kota Bandung, mereka menggelar kegiatan rutin bernama Ngaleut setiap hari Minggu. Mereka berusaha membangun kesadaran masyarakat akan sejarah yang terjadi di kotanya. Apakah benar begitu?

Salah satu pegiat Komunitas Aleut, Gina Azriana, mengatakan Ngaleut membuatnya menyukai sejarah. Selain itu, kegiatan ini dapat menambah pertemanan dan wawasan tentang situs penting di Bandung.

 

Sejarah bisa apa saja, tidak hanya tempatnya tapi juga ada kisah menarik di sekitarnya. Saat bergabung dengan Aleut wawasan bertambah dan ternyata tidak hanya di Bandung,” kata mahasiswi asal Sintang, Kalimantan Barat itu.

Gina mengaku baru setahun bergabung dengan Komunitas Aleut melalui ajakan seorang teman yang sudah lebih dulu aktif. Sejak saat itu ia rajin mengikuti kegiatan reguler Aleut.

“Saya ikut Ngaleut perdana saat ada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Sejak saat itu jadi sering kegiatan setiap Minggu,” ungkapnya.

Salah seorang koordinator Ngaleut, Arya Vidia Utama menjelaskan, sejak dibentuk 10 tahun lalu komunitas ini memang bertujuan mempelajari sejarah dengan cara mendatangi langsung tempat-tempat bersejarah yang dituju. Dengan menerapkan metode tersebut diharapkan mendatangkan pengetahuan baru bagi para anggotanya terkait sejarah.

“Yang ikut Ngaleut sekarang ini sekitar 20-30 orang. Rata-ratanya memang mahasiswa tapi sebenarnya usia berapapun bisa selama tertarik pada sejarah,” ucapnya.

Setiap Minggu, kata Arya, tema yang dibahas berbeda-beda sehingga lokasi yang menjadi titik-titik keberangkatan komunitas ini pun beragam mulai dari jalan raya, pemukiman penduduk dan sebagainya.

“Kadang temanya ditentukan dari hal apa yang mau dicari. Ada juga yang terkait dengan event terdekat di Bandung. Misal, HUT Kota Bandung kita cari yang berhubungan dengan momen tersebut,” terangnya.

Ngaleut sendiri merupakan kata dari Bahasa Sunda yang berarti berjalan beriringan. Mereka mengadakan Ngaleut untuk bersama-sama saat mempelajari sebuah tempat bersejarah. Hampir seluruh tempat bersejarah di Bandung sudah dikunjungi komunitas ini. “Sumber temanya sendiri dari buku. Tidak hanya baca dari satu literatur saja. Ada dari buku memoar, novel dan lain-lain,” jelas Arya.

 

Setiap koordinator juga berperan penting dalam menyampaikan sejarah. Mereka biasanya bergantian menyampaikan informasi terkait situs penting kepada pegiat Aleut.

“Siapa yang menguasai materi yang jadi penanggung jawabnya. Saya misalnya, bertanggung jawab yang di dalam kota. Yang lain ada tentang literasi, militer, kereta api dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Komunitas Aleut juga pernah menjelajahi jejak sejumlah tokoh dan pahlawan nasional yang pernah tinggal di Bandung, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dr. Tjipto Mangeoenkoesoemo, dan Douwes Dekker.

Sleain itu, pegiat aktif menuliskan pengalaman Ngaleut dalam catatan perjalanan mereka yang dimuat di komunitasaleut.com. Dengan cara bercerita, diharapkan semakin banyak orang tahu akan sejarah dan tertarik mendalaminya.

Dikatakan Arya, para pegiat aktif juga turut menyumbangkan ide untuk tema Ngaleut. “Pegiat aktif juga memberi ide karena di pengurus di sini tidak sentris,” ucapnya.

(Huyogo Simbolon)

 

Tautan asli: https://qubicle.id/story/ngaleut-melangkah-beriringan-memaknai-sejarah