Menapaki Jejak Van Oort dan Muller

Ditulis oleh: Annisa Almunfahannah

Minggu, 06 Februari 2022.

Cuaca cukup cerah ketika kita berangkat dari Sekre Komunitas Aleut. Matahari pagi memberikan rasa hangat kepada kami dalam perjalanan menuju Cililin. Agenda kami hari itu adalah untuk menghadiri pernikahan salah satu rekan Komunitas Aleut yang berlokasi di Kelurahan Bongas, Cililin. Tapi, tentu saja kita tidak melewatkan kesempatan untuk bisa menyambangi area Cililin dan sekitarnya.

Salah satu catatan yang menjadi acuan perjalanan kami kali ini adalah yang ditulis oleh P. van Oort dan Salomon Muller dan diterbitkan tahun 1836 dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Dalam catatan ini Salomon dan Muller melakukan perjalanan penelitian mengenai dunia binatang dan tumbuhan sambil mencatat berbagai temuan kuno, termasuk mengenai arca yang mereka lihat di puncak Gunung Lumbung.

Lokasi keberadaan arca ini cukup dikenal oleh warga sekitar karena ketika kami bertanya mengenai lokasi arca tersebut ke beberapa warga mereka dengan yakin menunjukkan arah kepada kami. Bardasarkan catatan Van Oort dan Muller sudah sejak lama lokasi arca ini digunakan sebagai tempat untuk meminta pentunjuk atau permohonan atas urusan dunia, terlihat dari adanya batang-batang dupa di sekitar arca.

Arca, terlihat batang-batang dupa berwarna merah di bagian bawah foto. Foto: Inas Qori Aina

Berkat catatan Van Oort dan Muller, selama ini sudah banyak juga yang mendatangi lokasi arca ini untuk berbagai keperluan, termasuk teman-teman Aleut yang dalam salah satu kesempatan mengunjungi lokasi ini tahun 2017; lainnya datang mungkin untuk keperluan penelitian dan untuk urusan-urusan “petunjuk”.

Kami datang dari arah Ciminyak, kemudian berbelok menuju desa Mukapayung. Dalam perjalanan menelusuri jalan desa, langit tampak tidak begitu cerah, gerimis sempat turun selepas kami dari Ciminyak, tapi untunglah hanya mendung yang mengikuti. Jalan mulai menanjak ketika kami menuju ke arah dusun Lembang bersamaan dengan bukit-bukit yang mulai terlihat di depan kami. Setelah sekitar 20 menit, akhirnya kami tiba di warung yang juga pernah disambangi oleh teman-teman Komunitas Aleut tahun 2017 lalu. Kami beristirahat sebentar sambil meminta izin pemilik warung untuk memarkirkan motor kami. Lalu kami mulai perjalanan yang sebenarnya hahaha.

Warung tempat kami memarkirkan motor. Foto: Inas Qori Aina

Berdasarkan informasi sebelumnya, jalan untuk menuju puncak Gunung Lumbung tidak terlau jauh dari warung tadi. Setelah bertanya kepada warga yang kami temui, kami mendapat informasi bahwa ada jalan yang lebih enak untuk dilalui karena jalan tersebut sudah dilapisi aspal yaitu berada di dekat sekolah. Dengan harapan bisa melewati jalan yang bagus, kami pun naik dari jalan dekat sekolah.

Ternyata ekspektasi kami terlalu tinggi! Jalan yang sudah dilapisi aspal hanya ¼nya dari total perjalanan yang harus kami lalui. Sisanya? Jalan setapak dengan semak belukar dan kebun-kebun sayur warga. Jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu orang, ditambah tanah yang basah karena habis diguyur hujan. Kami sempat ragu ketika menemui ujung jalan aspal ini.

Hanya ada dua kemungkinan, lurus mengikuti jalan aspal di depan atau belok kanan ke jalan setapak ke arah kebon. Kami meyakini kalau kami seharusnya mengambil jalan ke kanan, tapi kami ingin melewati jalan yang mudah yaitu jalan aspal hahaha, dan akhirnya kami istirahat sebentar sambil menunggu warga yang bisa kami tanyai.

Jalan aspal di sebelah kanan  yang kami ambil untuk naik, bangunan berwarna oranye adalah SDN Lembang, Kp. Poponcol. Foto: Reza Khoerul Iman

Dua menit, lima menit, tidak ada satupun warga yang bisa kami tanyai. Kami pun memutuskan untuk mengikuti firasat kami yaitu mengambil jalan setapak. Baru berapa langkah kami memasuki jalan setapak terdengar suara motor yang menuju ke arah kami. Ternyata itu adalah warga yang datang dari arah kebon. Dia adalah seorang laki-laki kisaran awal 40 tahun yang membonceng dua orang perempuan yang terlihat masih belasan tahun sambil membawa karung pada setiap celah yang memungkinkan. Kami bertanya arah menuju lokasi arca kepada laki-laki tersebut “Oh teras weh, ke nemu pertigaan ka kanan” kurang lebih seperti itu penjelasannya. Setelah bertanya mengenai beberapa kemungkinan  jalur lainnya kami pun melanjutkan perjalanan.

Warga yang datang dari arah kebon dan menujukan arah menuju lokasi arca. Foto: Reza Khoerul Iman

Rasanya sudah begitu jauh kami berjalan tapi tidak kunjung menemukan pertigaan yang dimaksud oleh warga yang membawa motor tadi. Sampai kami menemukan jalan yang lebih menanjak dengan permukaan yang berbatu. Karena tidak ada jalan lain di depan kami maka, mungkin inilah pertigaan yang dimaksud oleh warga tadi. Kami pun mengambil arah ke kanan menelusuri jalan berbatu itu. Kemiringan yang cukup curam sedikit memperlambat laju kami yang tidak berpengalaman dalam mendaki gunung, tapi tak apa toh tidak ada yang mengharuskan kami untuk cepat-cepat.

Mendaki jalan berbatu. Foto: Komunitas Aleut

Ketika mendaki jalan berbatu, Adit dan Mang Alex membayangkan bagaimana situasi pasukan Mataram ketika mengejar Dipati Ukur ke Gunung Lumbung. Sungguh merepotkan harus mengejar Dipati Ukur sampai ke sini, sudah medannya sulit mereka juga masih harus terkena lemparan batu yang besar-besar dari pasukannya Dipati Ukur. Tapi tolong, situasi yang dibayangkan itu ternyata jadi tidak terasa menegangkan ketika mereka yang bercerita seperti itu hahahaha.

Setelah pendakian yang cukup menguras fisik kami yang amatir dalam daki-mendaki gunung, akhirnya kami menemukan sepetak tanah datar. Sungguh hal-hal kecil memang selalu lebih berharga ketika sulit untuk didapat, seperti tanah datar ini contohnya. Di sini kami bertemu dengan seorang ibu yang sedang memetik leunca. Ibu ini berasal dari Desa Cisapen dan memiliki kebun di area Gunung Lumbung ini. Berdasarkan informasi dari ibu tersebut, ada jalan lebih dekat menuju lokasi arca dari area kebunnya, tapi sekarang jalan itu sudah tertutupi dengan semak belukar karena tidak ada warga yang bercocok tanam di area tersebut. Maka kami diarahkan untuk jalan ke arah kebon pisang.

Setelah melewati kebon pisang, kami melihat sepetak sawah kecil di dekat area yang ditanami kapulaga. Mang Alexxx memperkirakan mungkin inilah area yang disebut dalam catatan Muller dan van Oort tempat mereka bertemu dengan seorang wanita tua yang memberikan koin tembaga (pietis) dan toples batu bundar kecil.

Kami terus berjalan, menanjak, menurun, melewati berbagai macam kebun sayur. Kenapa perjalanan ini rasanya jauh sekali? Jika mengacu pada cerita teman-teman Aleut sebelumnya rasanya perjalanan mereka tidak sejauh ini. Sepertinya kami mengambil jalur yang memutari Gunung Lumbung untuk sampai ke lokasi arca. Setelah disorientasi arah untuk terakhir kalinya akhirnya kami sampai di lokasi arca. Waaaah akhirnya.

Lokasi arca. Sudah berdiri bangunan tambahan di sekitarnya. Foto: Inas Qori Aina

Tapi lokasi ini cukup berbeda dari foto pada tahun 2017 yang kami lihat. Batu arcanya tetap sama, berdiri pada posisinya, yang berbeda adalah di area sekitarnya sudah hadir bangunan saung dengan atap yang tidak terlalu tinggi. Pada sekeliling arcanya pun dibangun tembok kurang lebih setinggi betis orang dewasa. Area arca tersebut jadi terasa lebih gelap dan sesak.

Sambil beristirahat Adit membacakan bagian dari catatan van Oort dan Muller yang menceritakan mengenai Gunung Lumbung. Penunjukan arah dengan menggunakan arah mata angin dalam catatan tersebut membuatku jadi menyadari pentingnya pengetahuan mengenai ilmu navigasi konvensional, terlebih ketika kami berada di antah berantah sepeti tadi. Sambil mendengarkan cerita, sambil kami mencoba melihat ke area-area yang disebutkan dalam catatan. Banyak hal yang berubah, tapi tidak sedikit juga yang tetap sama.

Setelah berdiskusi sebentar kami memutuskan untuk turun karena langit yang terlihat mulai gelap ditambah Inas mengingatkan bahwa waktu sudah menujukkan pukul tiga sore. Hmmm okay, tadi kami menempuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke puncak. Fix ini mah tadi itu naiknya dengan rute yang memutar. Sekarang kami akan turun dengan mengambil jalur berbeda dari jalur kami naik tadi.

Selama perjalanan turun kami terus membahas rute yang kami ambil untuk naik, kemungkinan-kemungkinan jalur serta petunjuk-petunjuk warga yang selalu mengarahkan rute ke jalanan aspal dekat sekolah karena “katanya lebih mudah”. Dari pembahasan itu munculah quotes “kalau ada jalan yang lebih jauh, ngapain ngambil yang dekat” hahaha lucu sekali ketika mengingat situasi kita saat itu.

Jalur pulang yang kami ambil. Foto: Reza Khoerul Iman

Benar saja jalan pulang kami memerlukan waktu yang lebih singkat. Kira-kira 30 menit kami sudah sampai di jalanan desa Lembang. Jalan ini keluar di dekat garasi warga, beberapa meter lebih dekat dari warung tempat kami memarkirkan motor. Jalan ini memang masih sepenuhnya jalan tanah dan terus menanjak dari bawah sampai puncak, hujan telah membuat jalur tanah ini basah licin.

Begitulah perjalanan kami mendaki gunung untuk melihat arca, mendatangi tempat persembunyian Dipati Ukur dan menapaki jejak perjalanan Van Oort dan Muller. Tidak benar-benar menapaki sih, karena aku pun tidak sepenuhnya mengetahui jalur mana yang diambil oleh Muller dan van Oort pada waktu itu hahaha.

Sampai jumpa di perjalanan lainnya!

 Garasi warga, ujung dari jalur yang kami ambil untuk pulang. Foto: Inas Qori Aina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s