Membangun Sistem Sosial yang Mumpuni dalam Menghadapi Wabah

Ditulis oleh: Lenny Martini

Sistem sosial yang baik adalah satu di antara banyak hal penting yang perlu kita usahakan dalam menghadapi wabah saat ini. Sebagai anggota masyarakat, kita dapat ikut membangun sistem sosial yang baik dengan saling bantu menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menghadapi dan melewati wabah ini.

Mari kita mulai dengan memahami apa itu sistem sosial. Dalam bidang sosiologi, sebenarnya banyak sekali sosiolog yang mengemukakan definisi mengenai sistem sosial, berdasarkan kepakaran, fokus penelitian, dan konteks situasi sosial yang diamati di sekeliling mereka. Namun, secara sederhana kita bisa memahami sistem sosial sebagai jaringan interaksi antara aktor. Aktor yang dimaksud bisa individu dengan individu, bisa individu dengan keluarga, bisa antar keluarga, keluarga dengan masyarakat kota, antar masyarakat kota, masyarakat kota dengan negara, antar negara, dan seterusnya, seperti terlihat pada gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1. Sistem sosial

Konsep penting dari sistem sosial adalah bagaimana interaksi ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih daripada potensi masing-masing dari aktor ini. Dalam bahasa Inggris istilahnya,  the whole is more than the sum of its part, atau 1+1 > 2. Peribahasa Indonesia yang sesuai untuk sistem sosial ini adalah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pengertian wabah menurut Undang-undang nomor 4 tahun 1984 adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan bahaya atau bencana. Wabah dapat dibedakan menjadi epidemi, endemik, dan pandemik sesuai panduan dari kbbi sebagai berikut:

Gambar 2. Pengertian epidemi, endemik, pandemik dari kbbi.kemendikbud.go.id

Sejak COVID19 dinyatakan sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020 lalu, kita sudah merasakan sendiri bagaimana kehidupan kita dan sekeliling kita berubah akibat dari penyakit ini. Per Desember 2020 tercatat lebih dari 743 ribu orang terkena penyakit COVID19, dan lebih dari 22 ribu orang di antaranya menjadi korban meninggal. Setiap hari kita mendengar kabar duka dari sekeliling, saat kerabat dan sahabat kehilangan orang-orang terkasihnya akibat penyakit ini. Dari sekian banyak yang pulih dan selamat pun, banyak yang kehilangan fungsi fisik sebagai jejak dari penyakit COVID19 ini. Hal ini tentu saja membawa kesedihan untuk yang bersangkutan dan keluarganya. Trauma keluarga besar yang kehilangan anggota keluarganya satu persatu karena penyakit COVID19 yang sulit dihindari dalam cluster keluarga, atau duka di kantor, sekolah atau tempat aktivitas karena pegawai atau anggotanya yang sakit dan berpulang satu demi satu akibat COVID19.

Dampak ini ditambah lagi dengan banyaknya kasus perundungan yang terjadi kepada korban dan keluarganya yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia: di antaranya Banyumas, Padang, Cianjur, Kapuas, Toba, Pamekasan. Sungguh miris membaca beritanya di media, membayangkan bagaimana hancurnya perasaan keluarga, sudah berduka kehilangan keluarga yang berpulang, makin terluka dengan penolakan jenazah dari lingkungan tempat tinggalnya. Tidak sedikit pula yang mengalami konflik dengan keluarga akibat perbedaan cara pandang terhadap penanganan COVID19. Karena kesimpangsiuran informasi yang beredar, ada kelompok yang lebih percaya dengan pencegahan COVID19 lewat rempah-rempah dan ramuan alami. Ada yang hanya yakin jika telah ditangani tenaga medis professional. Bahkan ada pula yang mentah-mentah menolak keberadaan COVID19 dan menganggap ini semua hanya konspirasi dari pihak asing yang ingin merusak ketentraman masyarakat.

Penderita COVID19 tanpa gejala berarti pun terkena dampak negatif dari wabah ini. Harus mengisolasi diri, tidak bisa bertemu, bersentuhan dan beraktivitas seperti biasa di rumah bersama anggota keluarganya. Hidup bersama di bawah satu atap namun berkomunikasi lewat panggilan video seakan berpisah sekian ribu kilometer jauhnya. Hal yang sama juga dialami oleh mereka yang tidak terkonfirmasi menjadi penderita COVID19 namun secara tidak sadar berinteraksi dengan penderita, sehingga harus menjalani karantina selama sekian hari tidak bisa keluar dari rumah untuk melakukan aktivitas harian. Terkurung dalam rumah selama sekian hari, sambil menanti hasil pemeriksaan dengan harap-harap cemas.

Ketentuan pembatasan sosial baik yang berskala besar maupun yang berskala kecil pun pasti sangat mempengaruhi kehidupan kita semua. Secara umum semua orang jadi lebih terbatas ruang geraknya. Tidak bisa pergi sekolah bertemu teman dan guru. Tidak bisa ke kantor dan terpaksa harus kerja di rumah dengan segala keterbatasan fasilitas. Tidak bisa jalan-jalan di mall dan berbelanja seperti biasa ke toko favorite. Tidak bisa nongkrong di kafe dan resto bersama teman-teman. Tidak bisa pentas bermusik, menari, teater dan kegiatan seni lainnya. Tidak bisa datang kajian, beribadah bersama dengan jemaat lain. Kita jadi tidak bisa beraktivitas seperti biasa dan terpaksa menghabiskan sepanjang waktu bersama anggota keluarga lain (pasangan suami/isteri, anak, orangtua, kakak adik, sepupu, teman kos, dll) yang biasanya hanya berinteraksi maksimal 5 jam sehari di luar waktu akhir pekan, pasti merubah ritme kehidupan kita. Pada kasus tertentu bisa juga mengakibatkan shadow pandemic, yaitu peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan dalam rumah tangga, sebagai akibat dari pembatasan gerak yang diberlakukan untuk meredakan penyebaran pandemi di mana perempuan dan anak terperangkap di dalam rumah bersama pelaku.

Pembatasan sosial ini juga mengakibatkan banyak tempat usaha jadi harus tutup. Restoran dan toko mengurangi jam buka. Sekolah dan gedung perkantoran ditutup. Sektor jasa formal dan informal juga harus mengikuti peraturan, tutup atau mengurangi jam kerja. Konsekuensinya, penghasilan yang didapat juga makin berkurang. Demi memenuhi tekanan untuk membayar kredit usaha dan kewajiban keuangan lain, banyak perusahaan dari skala besar, menengah, dan kecil yang terpaksa merumahkan pegawainya. Akibatnya, banyak orang kehilangan pekerjaan atau mengalami kekurangan pendapatan. Masyarakat secara umum sedang berkekurangan dan sulit untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun kebutuhan batinnya untuk bersosialisasi.

Namun sebagaimana kita pahami bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian, there is always a silver lining in every cloud, pandemic COVID19 ini juga membawa dampak positif bagi sebagian orang. Manusia jadi beristirahat dari rutinitas dan punya bisa menggunakan nya untuk melakukan refleksi diri. Lingkungan juga beristirahat dari aktivitas harian manusia yang lebih banyak merusak daripada memelihara. Tumbuhan dan hewan bisa cukup leluasa mendapatkan ruang geraknya lagi karena bergantian manusia yang dipaksa untuk berada di rumah saja. Selain itu, cukup banyak juga yang mempelajari keahlian baru pada masa pandemi, misalnya berkebun, memasak, menggambar, dan membuat karya lainnya.

Bagaimanapun, tetap masih jauh lebih banyak dampak negative dari wabah COVID19 ini di bandingkan dampak negatifnya. Kita perlu membangun sistem sosial yang mumpuni untuk mencapai satu tujuan Bersama, yaitu untuk bertahan atau survive. Jika pandemic COVID19 ini diibaratkan perjalanan umat manusia sedunia, kita harus sama-sama berusaha agar sebanyak mungkin dari kita selamat sampai ke tujuan, sampai ke garis finish dalam keadaan sehat lahir batin.

Untuk menjelaskan bagaimana membangun sistem sosial yang baik dalam menghadapi wabah, kita bisa menggunakan kerangka sederhana dari Talcott Parsons, seorang sosiolog Amerika. Menurut Talcott Parsons suatu sistem sosial harus memiliki 4 fungsi (A-G-I-L, disingkat dengan AGIL) untuk dapat bertahan. A adalah adaptasi, yaitu kemampuan untuk menanggulangi situasi eksternal yang gawat. G adalah goal, kemampuan untuk mendefinisikan dan mencapai tujuan Bersama. I adalah integrasi, kemampuan untuk mengatur hubungan antar komponen. L adalah Latensi, kemampuan utuk memelihara dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang informasi.

Beberapa bentuk adaptasi yang dilakukan oleh sistem sosial di sekitar kita diantaranya adalah protokol kesehatan, pembatasan sosial, upaya diam di rumah (stay at home) dan adaptasi secara ekonomi. Protokol Kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No HK.01.07/MENKES/382/2020, adalah menggunakan masker kesehatan, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 orang, meminimalkan interaksi langsung, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Pemerintah dan organisasi lokal seperti sekolah dan kantor juga memiliki protokol kesehatannya masing-masing yang harus dipatuhi oleh warga dan anggotanya dalam rangka beradaptasi terhadap keberadaan COVID19 ini, agar virus tidak semakin mudah menular dan merajalela. Dalam skala kota dan negara, pemerintah menerapkan pembatasan sosial dengan menutup tempat-tempat berkumpul dan membatasi jam kerja lokasi pelayanan masyarakat, menganjurkan semua orang untuk beraktivitas dari rumah. Sekolah dan bekerja secara daring telah kita alami Bersama selama sembilan bulan terakhir di tahun 2020, dengan berbagai keterbatasan fasilitas tetap harus berjalan.

Gambar 3. Anjuran untuk beraktivitas dari rumah (sumber Kementerian Kesehatan RI)

Bentuk adaptasi lainnya adalah usaha adaptasi terhadap kesulitan ekonomi. Keluarga mengurangi pengeluaran dengan membatasi konsumsi dan menghindar dari aktivitas-aktivitas yang menimbulkan biaya. Anggota keluarga seperti isteri dan anak yang biasanya tidak bekerja juga membantu mencari alternatif penghasilan tambahan, misalnya dengan berjualan masakan rumah, menjadi reseller suatu barang, menjual barang layak yang sudah tidak terlalu dipakai (garage sale) atau memanfaatkan sumber daya yang ada di rumah (contohnya, menyewakan kendaraan yang biasa dipakai sehari-hari). Segala cara dilakukan agar anggota keluarga tetap bisa terpenuhi kebutuhan fisiknya, terutama kebutuhan pangannya, agar imunitas terjaga dan terhidar dari tertularnya wabah.

Komponen berikutnya adalah Goal, atau tujuan. Seperti disebutkan tadi, usaha adaptasi yang dilakukan bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran virus COVID19, dengan tujuan utama menyelamatkan sebanyak mungkin melewati wabah. Karena sesungguhnya, wabah COVID19 ini bukan hanya tentang kita. Sebagai anggota masyarakat, kita juga perlu memahami bahwa COVID19 bisa saja menyerang kita dan tidak membawa dampak fisik yang berarti. Namun ketika kita lalai beradaptasi, cuek dan menolak mematuhi protokol kesehatan dan ketentuan pembatasan sosial lalu kita menjadi pembawa virus untuk orang lain yang lebih beresiko secara kesehatan, berarti kita telah melakukan suatu kejahatan. Kita gagal melaksanakan fungsi sebagai anggota sistem sosial yang baik dengan menyebabkan anggota lain menjadi korban dari kelalaian kita.

Komponen ketiga dari kerangka membangun sistem sosial yang mumpuni adalah integrasi, yaitu kemampuan untuk mengatur hubungan baik antar komponen penyusunnya, Dimulai dengan adanya kejelasan informasi dari institusi yang berwenang. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kesimpangsiuran informasi sangat berpotensi menimbulkan konflik dalam sistem sosial. Kita semua mengalami sendiri membaca begitu banyak hoax dan berita-berita provokasi terkait wabah COVID!19 yang beredar di akun sosial media, di WhatsApp Group maupun di kanal-kanal berita daring. Untuk mencegah hal ini, pemerintah perlu menetapkan sumber berita yang kredibel dan bisa dipercaya yang dengan mudah diakses oleh seluruh komponen masyarakat. Sebagai contoh di Bandung, informasi seputar COVID19 dapat diakses di situs covid19.bandung.go.ids

Gambar 4 Informasi terpusat mengenai COVID19 yang disediakan oleh pemerintah kota Bandung

Kemampuan integrasi lain juga bisa dalam wujud sistem dan fasilitas pendukung dari institusi (sekolah, kantor, tempat ibadah, dll). Diantaranya berupa informasi yang jelas dan pelaksanaan yang tegas, sistem kerja dari rumah (working from home) dengan sistem fleksibel tanpa mengganggu waktu pribadi dan istirahat, anjuran dari pemuka agama untuk beribadah dari rumah, pemanfaatan teknologi untuk kegiatan sekolah, kantor, ibadah (pertemuan daring) serta penyesuaian target pencapaian di sekolah dan kantor. Selain itu, institusi sosial juga perlu mendukung dari sisi fasilitas misalnya berupa pembagian masker dan desinfektan untuk murid, guru, pengawai, adanya pembagian kuota internet/sinyal wifi, peminjaman gawai untuk siswa dan karyawan yang membutuhkan, serta pembagian materi pelajaran dan bahan pekerjaan untuk siswa dan karyawan. Jangan sampai usaha adaptasi yang dilakukan (misalnya sekolah dari dari rumah ) malah merusak integrasi dengan tidak memperhitungkan keterbatasan siswa dan guru dalam pelaksanaanya.

Dalam skala kecil, kekompakan keluarga, karyawan dan anggota kelompok juga sangat penting untuk membangun sistem sosial yang mumpuni dalam menghadapi pandemi. Dengan aktivitas yang terpusat di rumah, anggota keluarga perlu kompak mengatur jadwal dan aktivitas masing-masing agar tidak berebut ruang dan bisa terlaksana dengan optimal. Maka sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat yang baik, kita harus berusaha untuk saling menghargai kepentingan dan kebutuhan yang lain, berbagi tugas dan tanggung jawab dengan baik untuk mencapai tujuan bersama.

Komponen terakhir dalam AGIL adalah Latensi, yaitu kemampuan untuk memelihara dan memperbaiki motivasi individual dan pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi. Hal sederhana yang sangat bisa kita lakukan adalah dukungan moral melalui komunikasi rutin dengan anggota sistem sosial lainnya. Kita bisa memanfaatkan media komunikasi konvensional seperti surat, kartu, dan telepon, maupun akun sosial media untuk sekedar berkabar dengan keluarga dan sahabat, saling memotivasi, menguatkan teman dan kerabat yang sedang berduka dan kesulitan. Masing-masing dari kita bisa mengambil peran kecil di lingkungan terdekat untuk saling bantu dan menebar manfaat. Misal lebih memilih belanja di warung tetangga atau membeli dari teman yang baru memulai usaha jualan online sebagai bentuk adaptasinya setelah kehilangan pekerjaan. Atau bisa juga kita barteran atau saling pinjam barnag yang dibutuhkan daripada harus beli masing-masing.

Kita juga bisa berinisiatif menyelenggarakan kegiatan donasi atau turut serta berpartisipasi dalam banyak sekali kegiatan donasi yang tersedia. Misalnya, donasi alat pelindung diri, menjahitkan masker untuk dibagikan kepada tetangga, mengirimkan sembako dan bahan pangan kepada yang membutuhkan, atau menyediakan tempat cuci tangan gratis di luar rumah.

Selalu ada yang bisa dilakukan jika kita ingin membangun sistem sosial yang mumpuni dalam menghadapi wabah. Yuk mari menjadi bagian dari solusi dan saling bantu menyelamatkan sebanyak mungkin dari kita melewati wabah ini dengan selamat lahir batin.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s