Guratan Sejarah Staatsspoorwegen di Tjiwidej

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Reza Khoerul Iman

Bangunan bekas stasiun kereta api Ciwidey. Foto: Komunitas Aleut.

Tidak ada yang pernah bisa menentukan masa depan, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Siapa sangka, sebuah proyek besar yang dibangun untuk jangka panjang, akhirnya mati begitu saja dan terbengkalai sampai sekarang. Bandung merupakan salah-satu daerah yang memiliki banyak peninggalan sejarah. Seperti yang pernah dikatakan Mocca dalam lirik lagunya yang berjudul Bandung (flower city), “In my little town, Every corner tells you different stories, There’s so many treasures to be found” (di kota kecilku, setiap sudut menceritakan banyak cerita berbeda, ada banyak harta karun yang bisa ditemukan di sini).

Salah-satu peninggalan itu adalah jejak-jejak kereta api yang membentang dari Bandung sampai Ciwidey. Lingkungan alam Ciwidey yang berbukit-bukit itu akhirnya dapat ditaklukan oleh Staatsspoorwegen. Tidak mudah dan murah memang, sebelumnya pemerintah tak mampu mewujudkan pembangunan jalur kereta api Bandung-Ciwidey ini karena masalah pembiayaan. Pada 17 Juni 1924 Stasiun Ciwidey diresmikan penggunaannya setelah melewati masa pembangunan selama tujuh tahun. Dimulai dari jalur Dayeuhkolot-Banjaran pada tahun 1917, kemudian dilanjutkan stasiun kopo (soreang) pada 13 Februari 1921, dan akhirnya jalur Ciwidey pada 17 Juni 1924.

Segera saja kereta api menjadi sarana transportasi utama, baik untuk pengangkutan penumpang, ataupun hasil perkebunan. Salah-satu indikasi seriusnya Staatsspoorwegen dalam membangun jalur perkeretaapian di Hindia-Belanda, yaitu penggunaan bahan yang berkualitas baik dari perusahaan terbaik untuk pembangunan rel ini. Nama-nama perusahaan tersebut masih dapat kita temukan tercetak pada batang-batang rel. Saya menemukan dua nama, Carnegie dari USA, dan KRUPP dari Jerman.


Kenapa Staatsspoorwegen memilih dua perusahaan baja ini di antara perusahaan-perusahaan lainnya? Perusahaan Krupp adalah perusahaan baja Jerman yang terkenal memproduksi seamless railway tires atay roda (rel) kereta api tanpa sambungan yang terkenal anti retak. Rel buatan Krupp sangat terkenal walaupun harganya tinggi. Kualitasnya sangat baik. Rel Krupp juga digunakan pada jaringan rel kereta api di Amerika Serikat sejak sebelum Perang Sipil (1860-1865), karena pada saat itu pabrik-pabrik di Amerika Serikat belum mampu memproduksi baja dalam kapasitas besar dan dengan kualitas yang sebaik itu (Komunitas Aleut: Rel Kereta Api memiliki Arti, oleh: Alek alias @A13Xtriple).

Tidak hanya menjadi pemasok ke Amerika Serikat, bahkan Krupp menjadi pemasok juga untuk Napoleon, dan merupakan pemasok baja utama di Eropa. Dengan Kerajaan Prusia, KRUPP mendapatkan kontrak untuk pembuatan senjata. Carnegie adalah perusahaan baja asal USA yang didirikan pada tahun 1892 oleh Andrew Carnegie. Ia meraih kesuksesan dengan menciptakan metode peleburan baja yang efesien, dan menghasilkan baja dengan kualitas terbaik, hingga pada tahun 1900-an, produksi baja Carnegie mampu melampaui produksi baja Inggris.

Dari sedikit informasi mengenai kedua perusahaan baja tersebut, setidaknya pertanyaan yang dilontarkan di muka, yaitu mengapa Staatsspoorwegen menggunakan jasa dari kedua perusahaan tersebut, dapat terjawab.

Rel buatan Krupp, Jerman. Foto: Annisa.
Jembatan Cikabuyutan. Foto: Annisa.

Dari beberapa bangunan sisa jalur kereta api Bandung-Ciwidey yang masih dapat dilihat, seperti tiga buah jembatan besar, atau jalur rel yang sebagian besar tertimbun di bawah tanah, sampai ke bekas bangunan-bangunan kompleks stasiun, serta berbagai fasilitasnya seperti menara air dan tandon, tidak sulit menyimpulkan kualitas bahan dan kualitas pembangunannya. Sungguh bagus. Walaupun kusam dimakan zaman, namun semuanya terlihat masih kokoh berdiri.

Berjalan-jalan menyusuri jejak kereta api Bandung-Ciwidey ini rasanya kita seperti ditarik ke masa lalu. Membayangkan Si Kuik melewati segala rintangan alam Ciwidey. Beberapa orang tua yang saya temui masih dapat menceritakan pengalamannya naik kereta api antara Bandung-Ciwidey. Cerita ini bagai harta karun untuk saya.

Hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke aya ma beuheula aya tu ayeuna hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Ada dahulu ada sekarang bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang karena ada masa silam maka ada masa kini bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini. “Amanat Galunggung” Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s