Catatan Dari Selatan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020.

Ditulis oleh : Lisa Nurjanah

Hari Minggu tanggal 8 November 2020, Aleut Development Program mengadakan kegiatan momotoran lagi, kali ini tujuannya ke pantai selatan, Rancabuaya. Kami bersepuluh berangkat pukul tujuh pagi dari sekretariat Komunitas Aleut.

Pemberhentian pertama di sebuah tugu yang terletak di pertigaan jalan Cimaung-Puntang. Tugu yang bernama Tugu Perintis Cimaung ini didirikan pada tahun 1932 untuk memperingati singgahnya Ir. Soekarno ke Cimaung untuk memberikan kursus politik untuk warga di sana. Bakal presiden pertama NKRI ini memang terkenal sering berkeliling ke daerah memberikan kuliah-kuliah politik. Pada tahun 1964, tugu tersebut dipersembahkan sekaligus menjadi tanda peresmian Desa Cimaung. Kami hanya diberi sedikit waktu untuk mempelajari tugu ini.

Tugu Perintis Cimaung, 1932. Foto: Lisa.

Selang beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan dan baru berhenti di sebuah warung setelah melewati gapura Perkebunan Cukul. Di sini ada keseruan atau mungkin kelucuan, karena ketika ingin buang air kecil ke WC yang ada di sana, ternyata dinding bagian bawah WC-nya bolong besar. Jadi begitu jongkok, akan terlihat hamparan kebun yang luas. Entah apa tujuan adanya lubang dinding itu, hahaha.

Persis di belakang warung ada pemukiman warga perkebunan. Tadinya saya pikir itu hanya permukiman warga biasa. Jadi ya, apa yang harus saya tanyakan? Ketika saya melihat rumah-rumah tersebut, yang saya pikirkan hanyalah pemukiman warga lokal yang masih sederhana. Namun ternyata saya salah. Ketika Bang Ridwan menanyakan mengenai pemukiman tersebut kepada Ibu Warung, ternyata ada banyak hal menarik di dalamnya.

Kampung ini bernama Kampung Kahuripan. Di setiap rumahnya ditempati oleh beberapa kepala keluarga. Cerita ini membuat saya takjub. Di tengah kampung terdapat beberapa mata air yang digunakan warga untuk keperluan sehari-hari.

Kahuripan, kampung biasa yang tidak biasa. Foto: Lisa.

Rupanya, hal yang terlihat biasa saja bisa memiliki hal menarik dan ini mungkin seringkali kita lewatkan. Di sinilah saya menyadari bahwa saya belum cukup memiliki rasa ‘ingin tahu’.

Perjalanan dilanjutkan menuju Curug Rahong di Kecamatan Cisewu. Rahong dalam bahasa Sunda berarti ‘celah tebng yang sempit’. Terlihat aliran sungainya memang melewati celah sempit di belakangnya.

Saya baru menyadari, di sekitar sini banyak warga yang memiliki anjing. Banyak juga yang dibiarkan berkeliaran, sepertinya mereka adalah anjing yang digunakan untuk menjaga kebun dan ladang.

Curug Rahong dan seorang warga dengan anjing-anjingnya di Cisewu. Foto: Lisa, Pahepipa.

Selepas dari Curug Rahong, kami menuju Rancabuaya. Sebelum sampai, kami dicegat dan dihampiri oleh beberapa warga lokal, sebagian menggunakan seragam entah apa. Mereka mengatakan bahwa ada biaya masuk sebesar Rp.7.500,-. Bang Ridwan mengatakan bahwa baru kali ini saja dimintai biaya masuk Rancabuaya, padahal terhitung cukup sering ke sana. Saya pun heran, merasa janggal karena biaya masuk itu, apalagi pencegatan tadi bukan seperti pintu masuk atau pos tiket, dan mereka tidak memberikan tiket pula. Menurut Bang Ridwan, kasus seperti ini banyak sekali terjadi di lokasi-lokasi wisata dan kalau dibiarkan malah bisa mematikan potensi wisata wilayah itu sendiri. Selain pungutan liar seperti itu, ada banyak juga kasus harga-harga di lokasi wisata yang dinaikkan secara fantastis.

Sejenak, kami melupakan biaya masuk itu dan mulai bermain di kawasan pantai. Di sana, saya menemukan cangkang-cangkang kelomang yang tidak berpenghuni. Maksudnya, cangkang tersebut tidak berisikan kelomang. Cangkang kelomang memang bukan bagian dari tubuhnya, mereka mendapatkan cangkang itu dari siput laut. Para kelomang akan mencari cangkang baru apabila ukuran cangkangnya sudah tidak muat untuk tubuhnya, atau jika cangkang tersebut rusak. Jadi, walaupun cangkang-cangkang itu memang terlihat indah, jangan diambil untuk dibawa pulang. Jika tidak ada, kelomang akan sulit mendapatkan rumah untuk melindungi diri.

Kiri: Beberapa cangkang kelomang yang biasanya akan dimanfaatkan kembali oleh kelomang sebagai rumah baru. Kanan: Cangkang kepiting yang banyak mengandung kalsium. Foto: Lisa.

Setelah dari Rancabuaya, kami mampir ke sebuah warung untuk makan. Di depan warung itu, terdapat sebuah masjid yang megah, namanya Masjid Al-Jabar. Sayangnya walau terlihat megah dari luar, banyak fasilitas yang tidak berfungsi, seperti keran air yang tidak mengeluarkan air.

Masjid Al-Jabbar di Karangwangi. Foto: Lisa.

Melanjutkan perjalanan pulang, saya mencari tahu beberapa tanda jalan. Misalnya, perbedaan garis putih tanpa putus dan garis putih yang putus-putus. Garis putih tanpa putus biasanya berada di tengah jalan tikungan dan jembatan, artinya pengendara tidak boleh mendahului pengendara lain, sebaliknya dengan garis putih putus-putus. Sementara alasan papan tanda jalan yang berwarna hijau, supaya pengendara mudah melihatnya.

Jalur pulang kami melewati Gununggelap, yang awalnya kami mengira bahwa gelap yang dimaksud dalam bahasa Indonesia. Ternyata, gelap yang dimaksud berasal dari bahasa Sunda yang artinya petir. Terdapat dongeng juga yang menjadi asal muasal Gununggelap tersebut.

Banyak sekali hal baru yang saya dapatkan dari perjalanan ini. Semoga saya masih berkesempatan menulis di perjalanan selanjutnya. ^^

Bonus meme buatan saya, hehe.

Foto: Reza.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s