Catatan Perjalanan Pantai Selatan

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Melelahkan dan mengasyikkan, Itulah kesan Momotoran kedua yang kurasakan bersama ADP-20 Komunitas Aleut. Melelahkan karena panjangnya rute yang harus dilalui, mengasyikkan karena banyak sekali pengalaman dan hal-hal baru yang kulihat dan kualami. Sesuai dengan rencana, Momotoran kali ini (Minggu, 8/11/2020) akan menyusuri Pantai Selatan. Rute keberangkatan kami dimulai dari Pasirluyu Hilir (PH) – Dayeuhkolot – Banjaran – Cimaung – Pangalengan – Talegong – Cisewu – Rancabuaya. Sedangkan untuk jalur pulangnya: Rancabuaya – Santolo – Cisompet – Gunung Gelap – Batu Tumpang – Cikajang – Kota Garut – Leles – Nagreg – Cileunyi – Cibiru – PH.

Kami berangkat sekitar pukul tujuh tigapuluh pagi. Kemacetan dan kerumunan adalah pemandangan yang banyak kulihat di perjalanan pergi dan juga pulang. Pada saat berangkat, dari mulai Dayeuhkolot hingga Banjaran tampak rutinitas masyarakat yang umumnya dilakukan setiap hari Minggu pagi, seperti bersepeda, berbelanja, ataupun sekadar bersantai di kawasan Alun-alun. Di Cimaung, kami berhenti di salah satu tempat bersejarah, yaitu Tugu Perintis Kemerdekaan atau disebut juga Tugu Cimaung. Tugu ini didirikan dan diresmikan pada tahun 1932 dan dipelopori oleh Sukarno yang pada saat itu pernah singgah di Desa Cimaung untuk  memberikan pelajaran politik bagi warga desa Cimaung. Terdapat imbauan untuk tidak memasang spanduk ataupun baligo di area Tugu Cimaung. Imbauan hanya sekedar imbauan. Dapat dilihat beberapa spanduk dan baligo terpampang di sekitar area tugu. Mengapa bisa demikian? Entahlah.

Spanduk dan baligo yang terpampang di area Tugu Cimaung. Foto: Inas. Qori Aina

Di Pangalengan, aku menemukan hal menarik yaitu pada angkutan kota atau angkot yang model pintunya berbeda dengan angkot yang selama ini kulihat di sekitar kota Bandung. Angkot berwarna kuning dengan trayek Banjaran-Pangalengan ini pintunya terletak di bagian belakang mobil dan selalu dalam keadaan terbuka. Model pintu seperti itu membuatku berpikir apakah tidak bahaya untuk para penumpangnya? Apalagi dengan jalur Pangalengan yang relatif menanjak dan cukup curam. Entahlah.

Angkot Banjaran – Pangalengan di tengah kemacetan. Foto: Inas Qori Aina.

Masih di Pangalengan, di tengah perjalanan kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di warung yang terletak di kawasan Perkebunan Cukul. Siapa sangka, di warung ini aku mendapat pengetahuan baru mengenai kampung perkebunan. Di bawah tempat kami bersitirahat, ada sebuah kampung bernama Kahuripan. Kampung kecil yang terdiri dari 14 buah rumah ini dihuni oleh 48 kk yang semuanya adalah para pekerja di Perkebunan Cukul. Uniknya, di tengah kampung tersebut terdapat beberapa sumber mata air yang ditampung dalam beberapa kolam. Air ini selain digunakan untuk kebutuhan warga sehari-hari, juga ada yang disalurkan ke Pabrik Cukul.

Kampung Kahuripan di Tengah Perkebunan Teh Cukul. Foto: Inas Qori Aina.

Kami melanjutkan perjalanan. Sekarang jalanan berubah jadi lebih sempit, berkelok-kelok dengan tanjakan dan turunan yang cukup curam. Kondisi jalan ini membuat kami harus berhati-hati. Insiden kecil sempat menimpa salah satu teman kami, Annisa yang memboceng Madiha, terperosok ke pinggir jalan. Keduanya terjatuh dari motor saat melewati turunan tajam yang langsung disusul belokan dan tanjakan yang cukup curam. Sukurlah, keduanya tidak mengalami luka-luka serius dan masih bisa melanjutkan perjalanan.

Pemberhentian selanjutnya di tengah perjalanan kami adalah Curug Rahong yang berada di Cisewu, Kabupaten Garut. Rahong dalam Bahasa Sunda artinya celah tebing yang sempit. Sesuai dengan namanya, jika tidak cukup jeli orang tidak akan sadar jika terdapat Curug Rahong karena letaknya yang berada di pinggir jalan dan terlihat seperti sungai biasa saja.

Berfoto dulu di depan Curug Rahong. Foto: Komunitas Aleut.

Setelah hampir lima jam perjalanan, sekitar pukul satu siang kami tiba di Kawasan Objek Wisata  Pantai Rancabuaya. Hal yang mengejutkan kami adalah pada saat akan memasuki pantai, kami diberhentikan oleh beberapa orang warga yang meminta kami untuk membayar “tiket” masuk ke pantai dengan harga Rp.7.500 per orang. Tempat mencegat pengunjung tidak terlihat seperti pos tiket biasanya. Aku makin heran karena setelah membayar, kami tidak diberikan bukti berupa tiket atau karcis. Kejadian ini cukup kami disesalkan, apakah pungutan ini resmi atau tidak? Bukankah tindakan seperti ini yang disebut sebagai pungli? Entahlah.

Memasuki area pantai, tampak saung-saung serta penginapan berjejer di pinggiran pantai. Suasana pantai Rancabuaya saat itu tidak telalu ramai. Saung-saung sepi pengunjung. Kami melewati jajaran perahu nelayan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang selalu ada di kawasan pantai. TPI di Pantai Rancabuaya ini bernama TPI Palabuan Ciliab. Ukurannya tidak terlalu besar. Di depan TPI ini juga terlihat perahu-perahu nelayan yang sedang parkir.

Fasilitas di Pantai Rancabuaya. Foto: Inas Qori Aina.

Kami berhenti di sebuah spot di ujung pantai, langsung disambut oleh deburan ombak dan hembusan angin sepoi-sepoi. Setelah memarkir kendaraan, aku bersama teman-teman yang lain pun bergegas turun menikmati suasana pantai sambil berfoto-foto.

Mencari kerang dan kepiting. Foto: Inas Qori Aina.

Setelah merasa cukup menikmati suasana Pantai Rancabuaya, kami melanjutkan perjalanan dengan melalui jalan berbeda yang disebut Kandang Sapi. Di sini terdapat hamparan ladang yang ditanami oleh jagung dan padi. Ada banyak sapi ternak yang mungkin sengaja dibiarkan untuk merumput di situ.

Sapi di tengah hamparan ladang di Rancabuaya. Foto: Inas Qori Aina.

Kita berencana, Tuhan yang menentukan. Rencana awal kami untuk melewati Pantai Santolo pun kami lewatkan agar dapat mengalami kawasan Gununggelap sebelum malam tiba. Karena ada cukup waktu tersissa, kami berhenti di sebuah warung pinggir jalan yang terletak di Desa Karangwangi. Di sini kami mengisi perut dan beristirahat sejenak sebelum bersiap untuk perjalanan pulang.

Menunggu mie, baso, dan batagor di Karangwangi. Foto: Inas Qori Aina.

Perjalanan pulang sampai ke Bandung ditempuh selama kurang lebih 6 jam. Memasuki Kota Garut, lampu-lampu dan keramaian kota menjadi teman perjalanan kami di sini. Agak berbeda pemandangan dalam perjalanan pulang, terutama di kawasan industri daerah Rancaekek. Pukul sepuluh malam tampak banyak pekerja pabrik, sebagian besar perempuan, baru selesai bekerja dan keluar dari area pabrik. Yang cukup menarik, banyak di antara mereka yang bersepeda.

Rasanya diri ini sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Tubuh dan pikiranku sudah terlalu lelah dan hanya ingin segera rebahan. Benar, melelahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s