Dari Kina Sampai Bosscha

Tulisan ini adalah hasil “Kelas Menulis” yang merupakan bagian dari kegiatan pelatihan Aleut Development Program (APD) 2020

Ditulis oleh: Lisa Nurjanah

“Sampai di tujuan itu urusan nanti, yang penting perjalanannya dan apa yang bisa kita dapatkan dari sana.”

Begitulah prinsip dari Komunitas Aleut setiap momotoran. Hari sabtu tanggal 24 Oktober 2020, kami momotoran ke Pangalengan Ciwidey dengan menyusuri rute Banjaran, Kertamanah, Pangalengan, Malabar, Pasirmalang, Cileunca, Riunggunung, Gambung, dan Ciwidey.

Berangkat pukul 07:30 dari sekre Komunitas Aleut di Komplek Pasirluyu saat cuaca cerah. Setelah melewati Banjaran, kami berhenti sejenak untuk mendengarkan penjelasan tentang beberapa gunung yang ada dalam jangkauan pandangan. “Itu Gunung Tilu,” tunjuk Bang Ridwan, terlihat tiga puncak gunung berjejer di sana. “Di sebelah sini adalah gunung Malabar, dan saat ini kita sedang berada di kaki gunung Malabar. Di balik Gunung Tilu itu adalah kawasan Pacet, sedang di balik Gunung Tilu ada kawasan Gambung, Pasirjambu, dan Ciwidey,” lanjutnya.

Perjalanan berlanjut sampai ke kawasan Perkebunan Cinyiruan. Di sini kami mendatangi sebuah tugu yang didirikan untuk memperingati 100 Tahun Penanaman Kina (1855-1955). Walau bukan tanaman asli dari Indonesia, kina memiliki sejarah panjang dan penting. Tanaman ini dibawa dari Peru oleh seorang yang bernama Justus Carl Hasskarl ke Hindia Belanda. “Hanya 70 dari 121 benihnya berhasil selamat dari perjalanan,” begitu keterangan dari Pak Alex. Dulu, kina digunakan sebagai obat utama untuk penyakit malaria. Tanaman ini kemudian dikembangkan oleh seorang Jerman yang bernama Franz Wilhelm Junghuhn. Ia sebenarnya bukan hanya ahli budidaya tanaman, ada banyak kisah dalam perjalanan hidupnya. Masa remajanya pernah depresi dan hampir bunuh diri, dan pernah juga dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena berduel dan secara tidak langsung membuat lawannya tewas. Junghuhn juga memiliki keahlian sebagai seorang dokter bedah, geologi, dan fotografer. Junghuhn secara tidak langsung memberikan nama wilayah “Pangalengan”, karena ia pernah membuka usaha pengalengan kopi di sana.

Setelahnya, kami cukup beruntung karena kami sempat berkunjung ke Tugu Chinchona. Chinchona adalah nama latin untuk tanaman kina. Dikatakan beruntung, karena katanya Aleut sudah lama sekali tidak ke sini. Dulu di sini terdapat Pusat Penelitian Teh dan Kina. Tidak diketahui apakah pusat penelitian ini masih aktif atau tidak, karena tidak ada seorang pun di situ untuk menanyakan. Di dekatnya masih terdapat satu area kebun teh yang tidak terlalu luas. Lokasi pusat penelitian ini berada di kampung Cibeureum dan dulunya merupakan bagian dari Perkebunan Cinyiruan.

Hari semakin siang, jadi kami mampir dulu membeli makan di sebuah warung nasi daerah Malabar. Rasanya aneh saat membeli sebungkus nasi dan beberapa lauk (telur, tempe, kentang, dan bihun), harganya hanya delapan ribu rupiah. Murah sekali.

Kami tidak langsung makan di warung nasi, tapi dibungkus saja buat bekal di jalan. Dari sini kami berkunjung ke makam Bosscha. Walau Observatariumnya berada di Lembang, Bosscha dimakamkan di Malabar. Sebelum sampai di makam, dekat tempat kami membeli makan, ada gerbang depan. Rupanya jalan di daerah situ dinamakan Jalan Pintu, dan gerbang depan inilah yang dimaksud dengan pintu.

Bosscha yang bernama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha adalah salah satu preanger planters, artinya ia adalah pemilik atau pengusaha perkebunan di Priangan. Bosscha mengelola kebun teh Malabar selama 30 tahun lebih. Selain itu, ia juga seorang yang dermawan dan terobsesi dengan bintang. Sehingga akhirnya ia mendirikan Observatarium yang masih ada sampai sekarang, dikenal dengan Observatarium Bosscha di Lembang. Ia meninggal karena jatuh dari kuda dan mengakibatkan dirinya terkena tetanus, akhirnya ia dimakamkan di Malabar atas permintaannya karena kecintaannya pada wilayah tersebut.

Oh ya, tinggi pohon teh juga sebenarnya tidaklah pendek seperti yang kita kenal sekarang. Aslinya, teh bisa tumbuh tinggi sekitar 6 sampai 7 meter. Karena teh harus terus dipetik pucuknya, akhirnya tanamannya selalu pendek dan seperti tanaman bonsai.

Dikenal dermawan, Bosscha juga pernah mendirikan sekolah dasar bernama Vervoloog Malabar. Setelah mengunjungi makam, kami berkunjung ke sekolah dasar yang didirikannya ini. Kami menggelar alas di teras sekolah ini untuk makan nasi bungkus yang kami beli tadi. Banyak lalat saat kami makan, tetapi itu hal wajar mengingat wilayah tersebut terdapat ladang. Ladang diisi oleh sayuran dan biasanya memanfaatkan pupuk hewani, begitu kata Bang Ridwan.

Bangunan sekolah dasar yang ada saat ini bukanlah bangunan yang aslinya, melainkan replika. Hal ini dikarenakan bangunan yang asli telah runtuh akibat bencana gempa Pangalengan. Namun replika tersebut juga sempat rusak akibat angin, jadi diperbaiki ulang. Terdapat tiga kelas di sekolah dasar ini.

Di belakang bangunan replika, ada SDN 04 Malabar. Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya berada di bangunan lama, telah dipindahkan ke bangunan baru ini.

Setelah perut terisi, kami berlanjut menuju Rumah Bosscha. Bosscha tidak memiliki keturunan, karena ia memilih untuk hidup seorang diri sampai akhir hayatnya. Di sana, kami juga menemukan buah unik berukuran kecil yang agak mirip manggis, namanya Sauropus macranthus.

Saya sempat memotret sedikit isi rumah Bosscha dari jendela. Jika dilihat, menurut saya seperti rumah bergaya Eropa.

Setelah dari rumah Bosscha, kami menuju Situ Cileunca yang airnya menjadi konsumsi sehari-hari penduduk kota Bandung, tentunya setelah diolah oleh PDAM. Sayangnya kami tidak bisa mengunjungi lebih dekat karena hujan. Jadi, kami menikmati pemandangan danau buatan tersebut dari sebuah warung sambil menikmati bakso dan mi instan, hehehe.

Waktunya pulang, kami harus menembus hujan. Namun, ban motor Pak Hevi bocor. Jadi kami semua harus ikut menunggu ban motor selesai ditambal. Di sini, saya belajar bahwa pentingnya kebersamaan dalam perjalanan. Sambil menunggu ban selesai ditambal, kami menikmati hujan dan mengobrol. Tidak ada gunanya mengeluh, ‘kan?

Semua foto oleh Komunitas Aleut.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s