Susur Pantai Ciletuh #2

Jam 8 pagi saya terbangun karena suara berisik orang-orang sedang ngobrol di balik
dinding kamar saya. Di samping saya Audya masih terlelap. Puteri dan Rani entah ke
mana. Nampaknya sedari subuh mereka sudah bangun.

Hari itu, Sabtu, 9 Agustus 2019 ketika saya bangun, pandangan saya menyapu isi
kamar. Oh ya ini di rumahnya Rani di Gekbrong, Cianjur. Serasa masih mimpi, saya
ikut susur pantai lagi. Kali pertama ke Garut Selatan dan sekarang ke Ciletuh.
YEAAAAHHH CILETUH I AM COMING!!!

Kami berangkat dari sekre Komunitas Aleut di Jalan Pasir Jaya XIII pukul 20.30
malam. Sedikit ngaret dari waktu yang dijadwalkan. Total ada 4 motor yang akan
berangkat, 3 motor berboncengan satu orang bermotor sendiri, yaitu Puteri, yang
nantinya akan gantian bawa motor sama saya, kalau-kalau terlalu cape di perjalanan. Perjalanan dimulai dari Pasirjaya, melewati Cimahi lalu ke Padalarang – Cipatat – Ciranjang – Cianjur – Gekbrong. Kami bermalam di rumah Rani di Gekbrong. Lalu keesokan harinya mampir ke rumah Puteri di Nyalindung, Sukabumi, yang memakan
waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Saat itu kami pergi tanpa sarapan dulu. Rencananya memang kami akan sarapan bubur legendaris se-Cianjur, Bubur Ayam
Ummi, yang sering jadi bahan obrolan di sekre kalau lagi ngariung.

Jalanan ke Nyalindung rupanya sedang ada banyak perbaikan. Itu membuat jalanan
berdebu dan terasa gersang. Pasir dan bebatuan membuat jalanan licin, jadi harus
berhati-hati saat melintas. Dan lagi permukaan jalannya banyak yang berlubang.
Sungguh perjalanan yang membuat lelah dan lapar. Setibanya di Nyalindung kami
langsung disuguhi bubur oleh ibunya Puteri yang dipanggil Ummi. Asli! Ini enak
banget. Bukan karena sedang lapar, tapi memang enak. Paduan bumbu dan buburnya pas. Yang paling saya suka adalah tekstur buburnya yang enggak cair. Saya makan bubur dengan, kalau enggak salah, 8 butir telur puyuh. Eh apa lebih ya? Lupa.
Pokoknya cukup banyak makan telur puyuh 😀

Dari Nyalindung kami lanjutkan perjalanan ke Jayamekar – Lembursitu – Kertaraharja – Cikembar – Bantargadung – Pasirsuren – Citarik . Baru sampai melewati tempat ini kami sudah kelelahan. Udara panas cukup menyiksa dan membuat dehidrasi, enggak jarang kami berhenti di beberapa kali di mart untuk beli minuman, juga es krim. Ada yang menarik ketika lewat Cikundul. Ternyata tempat ini punya sebuah Sentiong yang berisi makam-makam tua bila dilihat dari angka-angka tahun wafat di batu nisannya. Ada makam bertuliskan wafat tahun 1926, ejaannya masih menggunakan ejaan lama. Sentiongnya besar tapi sepertinya enggak terawat. Rumput liar tumbuh subur sampai ada yang menutupi nisan. Kami enggak bisa lama-lama berada di sana. Perjalanan masih panjang dan kami belum sampai di destinasi utama kami. Sentiong di Cikundul ini kami simpan buat destinasi momotoran selanjutnya.

Baca Juga: Ciletuh Ratusan Kilometer yang Basah

Kami mulai memasuki kawasan pantai. Pantai Loji adalah pantai utama yang kami
lewati. Tiba-tiba Abang menepikan motornya dan menunjuk ke sebuah belokan di
daerah Simpenan. Jalanan menuju ke sana kondisi rusak . Jalannya sedikit menurun
jadi kalau lewat situ harus hati-hati. Abang bilang di sekitar sini dulu ada perkampungan, sekarang sudah enggak ada lagi. Pantai yang kami datangi itu sepi. Enggak ada warung pula.

1. Pantai Loji

Pantai Loji

Tempat ini sepertinya jarang dikunjungi orang. Hanya ada tiga orang lain waktu itu.
Dari Pantai Loji kami memacu kendaraan, niatnya untuk mencari warung. Setelah
beberapa lama, Abang lagi-lagi menepikan kendaraannya dan menunjuk ke satu
tempat. Tempat itu adalah Curug Cimarinjung yang menjadi salah satu destinasi
pengunjung ketika ke Ciletuh. Saat ini kondisi Curug sedang mengalami kekeringan
parah. Tulisan para blogger tentang keindahan Curug Cimarinjung dan derasnya air
yang terjun dari atas tebing enggak ada sama sekali. Hanya menyisakan sedikit genangan di antara bebatuan. Keringnya Curug Cimarinjung membuat masyarakat
sekitar harus mencari sumber air lagi. Penginapan-penginapan di sekitar curug pun
terpaksa mencari sumber mata air ketika ada tamu yang menginap. Satu kalimat
pertama yang mengawali pencarian penginapan di sini adalah “Ada airnya gak, Pak?” Alih-alih menanyakan tarif penginapannya.

2. Warung Dekat Cimarinjung

Warung dekat Cimarinjung

Kami singgah di sebuah warung yang letaknya enggak jauh dari Curug Cimarinjung. Si ibu pemilik warung membantu kami mencari penginapan dengan menelpon salah satu kerabatnya. Sambil menunggu kabar dari saudaranya si ibu pemilik warung, kami menikmati pemandangan sekitar. Saat itu menjelang magrib. Matahari mulai surut. Sebelum sampai di tempat ini kami disuguhi pemandangan matahari terbenam yang
indah mulai dari Pantai Loji, Puncak Gebang dst. Kalau kata Puteri mah sunset di
tempat ini terlalu indah buat sekedar ditangkap oleh kamera ponsel. Keindahannya
kudu langsung dinikmati oleh mata telanjang. Aku setuju itu pendapat ini. Mending
nikmati sepuasnya dari pada sibuk memotret diri sendiri dan menjadikan langit
seindah itu hanya sebagai latar berfoto.

 

3. Pemandangan Sore Itu

Pemandangan Sore Itu

Saya rebahan di atas bale enggak jauh dari warung si ibu. Abang terlihat sedang tawar menawar harga penginapan untuk kami malam ini dan sekalian menanyakan kemungkinan pergi ke pulau-pulau yang menjadi bagian dari Geopark Ciletuh. Setelah beberapa lama mengobrol ke sana kemari akhirnya kedua belah pihak setuju dengan harga. Uang sewa termasuk biaya makan malam dan sarapan dibayar, kami menuju ke penginapan Pak Herman. Kami menyewa sebuah penginapan di Kampung Cimarinjung. Pak Herman, pemilik penginapannya sigap menyediakan segala kebutuhan kami. Penginapan yang kami sewa adalah sebuah rumah, letaknya di tengah permukiman penduduk. Dari obrolan dengan warga sekitar saya dapat informasi bahwa tempat ini dulu selalu penuh dengan pengunjung. Setiap akhir pekan rumah-rumah di sini selalu terisi penuh, tapi sejak berdirinya penginapan-penginapan di pinggir pantai, pengunjung di kampung ini menjadi sepi.

4. Rumah Menginap di Ciletuh

Rumah menginap di Ciletuh

Esok paginya kami berangkat setelah sarapan. Tujuannya adalah ke pulau-pulau yang berada di Teluk Ciletuh. Motor kami titipkan ke warung di sekitar Pelelangan Ikan dan naik perahu dari sini setelah masing-masing memakai life-jacket. Di sini ada banyak cerita tentang batu-batuan purba. Nah cerita soal batuan purba dan informasi geologis lainnya ini sudah kayak kuliah lapangan geologi aja. Setiap ada hal yang menarik, Abang menjelaskannya kepada kami. Soal terumbu karang yang hidup dan yang sudah mati dan menjadi fosil, rumput kerang, tariptip, yang namanya baru saya dengar saat itu dan katanya bisa dimakan, mungkin kayak tutut kalau di daratan mah.

Baca Juga: Dari Ciletuh ke Ujunggenteng ke Jalan Lain ke Citambur

 

 

Perahu makin lama makin menjauh dari daratan, kadang zigzag di antara tambak-tambak. Lampu pada tambak-tambak inilah yang semalam terlihat seperti titik-titik cahaya di tengah lautan pada malam hari. Mirip bintang di langit. Perlahan-lahan
gugusan pulau mulai terlihat. Ada pulau dengan pantai Pasir Putih yang sepertinya
paling banyak dikunjungi, ada Pulau Kunti, Pulau Burung, dan Pulau Mandra. Dari
semua pulau-pulau itu, kami mampir turun ke Pulau Mandra. Untuk bisa mencapai
Pulau Mandra kami harus turun ke laut berbasah-basahan dan melanjutkan dengan
berjalan kaki. Permukaan airnya mencapai setinggi lutut. Kami tiba di pulau dengan
celana yang setengahnya basah.

5. Pantai Pasir Putih

Pantai Pasir Putih

Berdasarkan penjelasan Abang, bebatuan yang kami injak ini dulunya ada di dasar laut dengan kedalaman 4 kilometer dpl. Dasar laut ini terangkat ke permukaan seperti sekarang karena terdesak oleh lempeng samudra Indo-Australia. sambil menunjuk ke sebuah batuan, Abang menjelaskan bahwa yang mendesak itu namanya lempeng samudera, sedangkan yang terdesak namanya lempeng benua Eurasia. Wilayah Indonesia ini adalah daerah pertemuan tiga lempeng bumi: Eurasia (barat), Indo-Australia (selatan), dan Pasifik (Timur), lanjut Abang.

Aktivitas tiga lempeng bumi yang saling bertumbukan (mendesak, menghunjam, mengangkat) yang membuat magma di perut bumi mencari jalan keluar di sepanjang jalur pertemuan lempeng-lempeng tersebut, makanya kita kenal ada rangkaian gunung api yang sangat panjang atau disebut ring of fire mulai dari utara Sumatera terus ke Selatan, lalu ke sepanjang Pulau Jawa ke Timur sampai NTB-NTT, dan naik lagi ke utara di sekitar kepulauan Maluku. Nah ring of fire itu adalah wilayah-wilayah pertemuan antar lempeng tadi.

 

Baca Juga: Kepingan Perjalanan Susur Pantai Geopark Ciletuh

Jauh waktu wilayah Indonesia masih di bawah laut (120-65 juta tahun yang lalu) yang paling pertama muncul ke atas laut itu wilayah Ciletuh, Kebumen, dan Klaten (tiga lokasi batuan tertua di Indonesia). Setelah wilayah Ciletuh naik ke permukaan dan meninggi sampai beberapa puluh meter sebagian wilayahnya ambruk berbentuk setengah lingkaran yang terbuka ke arah samudera. Bagian runtuhan ini yang jadi sawah-sawah kering yang terlihat dari atas Panenjoan (Tamanjaya). Sedangkan tempat kami berdiri di ketinggian Panenjoan itu adalah bagian tebing-tebing yang enggak runtuh dan disebut sebagai Plateau Jampang. Di sepanjang sisi plateau Jampang ada puluhan curug, termasuk Curug Cimarinjung, Curug Awang, Curug Puncakmanik, dll.

6. Pulau Mandra

Pulau Mandra

Abang menjelaskan bahwa amphiteater adalah istilah popular untuk bahasan Ciletuh yang dicetuskan oleh Pak Awang. Tapi harus dicek kembali untuk memastikannya. Istilah ini digunakan untuk menyebutkan kawasan setengah lingkaran seperti panggung teater atau ruang audio visual. Seperti itulah penampakan umum kawasan Ciletuh kalau dilihat dari atas. Istilah amphiteater sering juga digunakan bergantian dengan tapal kuda.

Masih menurut penuturan Abang, jauh di belakang Pasir Putih, di bagian daratan Pulau Jawa itu terletak hutan Cikepuh yang legendaris. Hutan itu dipakai sebagai arena berburu pada zaman kolonial. Enggak heran Yapto yang gemar berburu itu sejak lama beli rumah singgah di Ciletuh untuk dijadikan sebagai pos ketika mau berburu. Siapakah Yapto? Nanti Abang cerita lagi. Tapi sangat disayangkan sampai sekarang Cikepuh tetap sulit diakses kendaraan. Harus pakai mobil atau motor hutan atau bisa jalan kaki tapi makan waktu 90 menit dari Palangpang. Mau jalan kaki 90 menit menembus hutan? Hmm.

Dari lokasi kami berperahu kami bisa melihat bentukan alam daratannya dengan jelas termasuk bagian berceruk di tengah yang merupakan lokasi Puncak Darma dan Curug Cimarinjung yang katanya adalah dataran yang enggak runtuh ketika terjadi tubrukan antar lempeng sehingga membentuk Plateau Jampang. Cerukan itu adalah bagian tengahnya Teluk Ciletuh.

 

7. Puncak Darma dan

Puncak Darma dan Curug Cimarinjung dilihat dari atas perahu

Setelah mengelilingi pulau-pulau di sekitar Geopark Ciletuh, ternyata banyak sekali tempat-tempat yang masih perlu dikunjungi. Semoga Aleut bisa kembali ke sini dan menjelajahi Geopark yang udah masuk ke Global Geopark UNESCO di tahun 2018 ini. Dari sini kami kembali ke penginapan untuk membawa barang bawaan kami lalu melanjutkan perjalanan menuju pulang. Kami mengambil jalur lewat Tamanjaya, orang-orang menyebutnya Panenjoan. Di sini kita bisa lihat penampakan alam Ciletuh. Namun sayang saat kami datang Tamanjaya enggak memberikan kita pemandangan yang bagus. Ketika kami sampai kami hanya melihat hamparan sawah dan ladang yang kering dan tandus. Membuat patah hati, kata Tegar.

Dataran Ciletuh

Dari kawasan Ciletuh kami langsung ke Agrabinta. Di daerah ini aroma manis menyeruak. Saya baru tahu bahwa kawasan ini terkenal sebagai penghasil gula kelapa dan gula aren. Kami mampir ke sebuah saung yang merupakan ‘kantornya’ bapak pembuat gula kelapa. Beliau sedang mengaduk-ngaduk cairan panas di sebuah wajan besar di atas hawu. Ukuran wajannya besar sekali. Saya saja bisa muat di wajan itu. Kami membeli beberapa bongkah gula kelapa seharga 13.000 per buah. Ukurannya sebesar mangkok cuci tangan di warung-warung tenda. Sesampainya di kosan saya membagi gula sebesar itu menjadi beberapa bagian dan memberikannya sebagian ke ibu kost. Enggak bakal habis kalau dimakan sendiri mah.

Baca Juga: Coretan Dari Ciletuh

 

 

Dari Agrabinta kami lanjut perjalanan mengambil jalur Cikaso – Tegalbuleud – Cidaun – Naringgul – Ciwidey – Soreang – Banjaran – Bojongsoang – Pasir Jaya. Kami sampai di sekre Aleut hampir larut malam. Enggak lama di sekre aku pulang ke kosan di daerah Pasteur. Badan sudah penuh keringat dan debu. Celana yang kena air laut tadi makin terasa lengket. Seharusnya buru-buru mandi, tapi perut lapar padahal sebelumnya sempat makan mie rebus di Ciwidey. Untung ada bekal nasi goreng dari Mang Alex tadi. Selesai mandi langsung makan lalu buka galeri di ponsel. Indah sekali pemandangan yang didapat dari perjalanan susur pantai sama Aleut 3 hari kemarin. Meskipun sudah lama dengar Geopark Ciletuh dari artikel di internet dan dari unggahan kawan-kawan yang sudah lebih dulu ke sana, tapi ini adalah kali pertama buatku. impressive!

Semoga Ciletuh dapat mempertahankan pesonanya, juga statusnya sebagai Geopark Global UNESCO. Enggak menutup kemungkinan kalau pengelolaannya buruk, status tersebut bisa dicabut, seperti yang dialami di tempat lain. Semoga enggak terjadi…

***

Windi Yasna

Baca Catatan Perjalanan lainnya di sini!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s