Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 2

Baca: Senja di Pantai Laut Selatan Pulau Jawa Bagian 1

Starr_080606-7010_Eretmochelys_imbricata

Karena malam semakin gelap, seperempat panjang pantai hampir tak kelihatan. Tetapi sejauh kami masih bisa kenali benda, tampak empat badan gelap, gemuk merayap di atas pantai. Bunyi gemercakpun tak sampai ke telinga kecuali deruan sayup-sayup redam empasan laut. Tiba-tiba terdengar cipatran air di bawah tempat kami: sebuah sosok yang bentuknya lebih panjang dan rayapannya jauh lebih pandai daripada penyu.

saltwater-crocodile-768

Rupanya seekor buaya yang panjangnya palingsedikit 15 kaki. Ia sedang mencari mangsa dan sekarang juga merayap terhuyung-huyung ke kaki perbukitan. Kami diam, menahan napas, menatap adegan di depan mata. Di kejauhan seekor penyu merayap balik dan menghilang di laut. Tak lama kemudian di sekitar tempat kami, sosok seekor penyu juga meninggalkan perbukitan untuk balik ke laut. Dan sosok tersebut pelan-pelan mendekati tempat kami, tetapi sebelum ia bisa menyelesaikan setengah perjalanan, tiba-tiba dari dalam hutan terdekat sekawanan binatang muncul berlarian. Mula-mula mereka tak mengeluarkan bunyi apapun, namun setiba di penyu itu, mereka menyalak, berdengkus singkat dan tajam. Dalam sekejap mereka mengelilingi penyu tersebut dan dengan berang menyerangnya. Menurut perkiraan kami, sekurang-kurangnya terdapat tiga puluh penyerang. Mereka menyambar korbannya di bagian kepala, tenggorokan, kaki mirip sirip, ekor, bagian belakang dan mencoba merobek-robek badannya, membalik-balikannya di antara mereka. Salak yang parau dan halus serta lolongan yang tersendat-sendat menunjukkan kerakusan yang mengerikan atau kerasukan haus darah.

Mereka bekerja dalam tempo tinggi. Agaknya mereka tak sedikitpun jeli mencium kehadiran sang buaya. Ia diam-diam datang merayap atas perutnya, seperti cicak di dinding mau menangkap lalat. Pelan-pelan ia mendekati mereka, dekat dan lebih dekat, lalu tiba-tiba bak anak panah lepas dari busur, ia meluncur ke depan. Sebelum mereka sadar ia telah menghancurkan dua sampai tiga teman mereka dalam rahang yang mengerikan. Namun akhirnya mereka lari juga, menyebar sampai jarak tertentu. Mereka adalah anjing ajag (Canis rutilans), disebut juga anjing liar yang hidup berkawan, bentuk badan mereka lebih kecil dari serigala, tapi boleh dikatakan lebih rakus dan liar.

p1176

Rupanya penyu tersebut belum mati, namun ia sudah terlalu banyak menderita sehingga tak bisa melarikan diri. Si buaya, yang mungkin cukup kenyang, merayap menuju laut. Kawanan ajag sekali lagi menyergap mangsanya dari segala sisi dan sibuk mencoba merobek, melepaskan tempurungnya. Aku bidik senapanku dan siap menarik pelatuk, namun salah satu anak buah meletakkan tangannya pada lenganku dan membisik sesuatu. Mata tajamnya telah mendeteksi sebuah bentuk yang muncul dari kegelapan hutan …

Baca: Franz Willem Junghuhn

5912101a-1d7c-11e3-9a84-e59523143c93

Ia berdiri di sana, diam, mengamat-amati medan, membiarkan tatapan bernyala melewati adegan di depannya. Lalu mengendap ke tanah dan tiba-tiba dengan lompatan yang menakjubkan ia mendarat di tengah-tengah kerumunan anjing. Raungannya amat dasyat, seolah timbul dari bagian terdalam tenggorokannya. Dan kawanan ajag panik, takut, dan lari pontang-panting ke segala arah. Di bawah tangisan, yang lebih mirip siul daripada dengus, mereka lari balik ke dalam hutan.

Dan si tiran rimba, Sang Raja yang muncul untuk bertarung di medan perang, sebagai tanda kemenangan ia meletakkan cakarnya atas tempurung binatang yang baring di hadapannya.

220px-Panthera_pardus_close_up-2

Seekor harimau lain muncul, bentuknya lebih kecil, mungkin seekor macan tutul, ia mengendap-endap mendekat. Sang Raja menengok, berdekus marah. Aku bidik, menarik pelatuk dan dalam keheningan senja, bunyi tembakan menggema di seluruh pegunungan. Untuk kali ini pertarungan penyu raksasa, buaya, anjing liar, dan harimau berakhir.

harimau

Catatan:

Kedua harimau tak kena tembakan, mereka menghilang ke hutan.

Menurut pendapat Junghuhn, kawanan ajak bekerja sama membalikkan penyu ke punggung, supaya bagian bawahnya terekspos sehingga lebih mudah dirobek.

Di mana gerangan lokasi tepat pertarungan ini? Licht- en Schaduwbeelden uit de binnenlanden van Java, menyebut: Tandjoeng Gnodos, tetapi nama dan letak tanjung tsb kurang terang.

J.H. van Balen, dalam artikel De Maleische wilde hond (Anjing liar Melayu) mengulangi pengalaman Junghuhn yang terjadi dalam tahun 1846 di Tandjoeng Sodong dan landtong Pongarok (landtong = daratan sempit yang menjorok ke air, bhs Inggris: spit).

A.E. Brehm dalam bukunya: Het leven der dieren. (Kehidupan binatang) Bab ke-empat ttg Binatang pemangsa, mengulangi juga kejadian ini. Di bawah gambar dua ekor ajag dan tempurung penyu diberi catatan tentang Junghuhn, bahwa ia dalam tahun 1846 melihat kawanan ajag menyerang penyu di pantai Tandjoeng Sodong dan landtong Pangarok.

Junghuhn dalam bukunya Java, deszelfs gedaante, bekleeding en inwendige structuur, 1849- (Google digital copy) kalimat terakhir pada hlm. 264, dan seterusnya pada hlm. 265, bercerita tentang suatu perjalanan ke pantai selatan Bantam (= Banten). Tidak jauh dari daerah terpencil paling barat Pulau Jawa, pada tanggal 14 Mei, 1846 ia menemukan pantai penuh kerangka penyu besar yang berserakan di mana-mana, seolah-olah katanya, suatu medan perang. Kerangkanya ada yang panjangnya 5 kaki dan lebar & tinggi 3 kaki. Pantainya berbentuk bulan sabit, berbukit pasir dan terletak antara 2 tanjung yaitu Tandjoeng Pang orok dan Tandjoeng Sodong, (Tandjoeng = Tanjung). Sebuah kali bermuara di sana yaitu: Kali-Djetan (Kali-Jetan).

Kisah Junghuhn Tentang Suatu Pertarungan 2

Dalam tahun 1855 terbit peta yang digambar Junghuhn berjudul: Kaart van het eiland Java (Peta pulau Jawa). Pada Blatt 1, di bawah gambar berbentuk bulan sabit yang bergaris miring terlihat tulisan: Reuzen-schildpadden (= Penyu raksasa), tepat antara Td. Sodong dan Td. Pangarak. Menurut peta itu Reuzen-schildpadden letaknya di pantai laut selatan Jawa Barat.

Di bawah ini snip dari Kaart van het eiland Java, Blatt 1: Lihat panah merah (ditambah penerjemah) menunjuk tulisan: Reuzen-schildpadden tepat antara Td. Sodong dan Td. Pangarak, di bawah tulisan Tjimokla (Cimokla) dan T. Djeletan. (Ci Jeletan).

Kisah Junghuhn Tentang Suatu Pertarungan 3

Selanjutnya pada Mapcarta terlihat bahwa Tanjung Sodong dan Tanjung Panggorak terletak di bagian paling barat P. Jawa, di pantai selatan Provinsi Banten. Lihat panah pada foto peta:

Kisah Junghuhn Tentang Suatu Pertarungan 4

Jadi, mungkinkah pertarungan penyu raksasa, buaya, kawanan ajag dan harimau yang dilihat Junghuhn pada senja 14 Mei tahun 1846, terjadi di pantai antara Tanjung Sodong dan Tanjung Panggorak yang terletak dekat Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten?

 

Daftar bacaan:

F.W. Junghuhn (1902) Avond aan het zuiderzeestrand van Java. In S. Kalff (ed.) Oost-Indisch landjuweel. Haarlem : Tjeenk Willink

Google digital copy

Retrieved from https://archive.org/details/oostindischland00kalfgoog

F.W. Junghuhn (1849-) v. 1. Java, deszelfs gedaante, bekleeding en inwendige structuur, Google digital copy                                                                                                                Retrieved from https://archive.org/stream/javadeszelfsged01junggoog#page/n9/mode/2up

F.W. Junghuhn (1855) Kaart van het eiland Java. Blatt 1                                                Available from            https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/70/Junghuhn_Kaart_van_het_eiland_Java_-_geologische_Ausgabe_–_Blatt_1.jpg

F.W. Junghuhn (1854-) v. 1. Licht- en schaduwbeelden uit de binnenlanden van Java. Leiden: Hazenberg.                                                                                                                    Project Gutenberg EBook                                                                                                            Release Date: July 2, 2016 [EBook #52477]                                                                              Available from https://www.mirrorservice.org/sites/gutenberg.org/5/2/4/7/52477/52477-h/52477-h.htm

J.H. van Balen (n.d.) De Maleische wilde hond.                                                                            Retrieved from: http://natuurtijdschriften.nl/download?type=document&docid=562302

A.E. Brehm (n.d.) Het leven der dieren. Hoofdstuk 4: De Roofdieren.                            Project Gutenberg Ebook.                                                                                                            Release Date: December 18, 2006 [EBook #20129]                                                                Produced by Jeroen Hellingman and the Online Distributed Proofreading Team at http://www.pgdp.net/                                                                                                                            Available from http://gutenberg.polytechnic.edu.na/2/0/1/2/20129/20129-h/20129-h.htm

Mapcarta. Java map                                                                                                https://mapcarta.com/Java

Semua bahan bacaan diambil dari internet berkat Project Gutenberg, Google, Internet Archive, Wikipedia, Mapcarta, dan berbagai

perpustakaan lain yang telah memindai dan mendigitalisasi koleksi mereka sehingga bisa diakses secara bebas di internet.

Terjemahan oleh I. Karamoy-Loho.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s