Schoemaker dan Arsitektur Islam

Pada tahun 1924 , Arsitek Charles Proper Schoemaker menambahkan ‘Wolff’ yang diambil dari nama keluarga ibunya di tengah namanya hingga namanya menjadi C.P. Wolff Schoemaker. Beberapa tahun kemudian ia menambahkan lagi nama “Kemal” di depan namanya seiring dengan perpindahan agamanya ke Islam. Keaktifannnya dalam dunia Islam ditunjukannya lewat jabatannya sebagai wakil ketua pada kelompok Western Islamic Association di Bandung. Perpindahan agamanya ke Islam mungkin dipengaruhi pertemanannya dengan Muhammad Natsir yang tinggal di Bandung selama awal tahun 30’an.

Setelah masuk Islam, Schoemaker turut merancang sebuah masjid di Tjipaganti. Selain itu, Jarang diketahui bahwa Schoemaker bersama Natsir pernah menghasilkan sebuah karya berjudul Cultuur Islam yang diterjemahkan menjadi keboedajaan Islam pada tahun 1936. Dalam buku ini, Schoemaker menguraikan sejarah dan unsur2 arsitektur Islam, menegaskan pengetahuan dan keseriusannya dalam mempelajari Islam.

Dalam buku ini Schoemaker mencetuskan kritik yang mungkin masih sesuai dengan keadaan sekarang :

“Alangkah sayangnya melihat, bagaimana keadaan arsitektur Islam zaman kita sekarang, amat jauh dari keadaan di zaman keemasan itu, semasa Islam tidak hanya dianggap sebagai satu paham ketuhanan dan gerak-gerakan bibir saja, semasa dada kaum Muslimin masih terbuka dengan luas menerima dorongan Islam yang membangkitkan semangat supaya turut bersama-sama menegakkan satu kemajuan rohani dalam masyarakat-kebudayaan di Eropa dan Asia!”

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Ada Patung Atlas di Jaarbeurs!!!

Oleh : Dian Palupi Restuputri

Jadi ceritanya minggu kemarin saya ngaleut dengan Komunitas Aleut. Aleut diambil dari bahasa sunda yang berarti jalan bersama-sama. Sebenarnya pengen gabung dari denger di Radio Ardan tapi baru sempet pas minggu kemarin. Tema minggu ini adalah Ngaleut Militer. Dan saya telat datang saudara-saudara =D Rute pertama saya yaitu dimulai dari SMP 5. Komplek SMP 5, SMA 3, SMA 5 memang oleh belanda dipersiapkan sebagai perkomplekan sekolah.
SMP 5 Bandung sekarang
SMP 5 Bandung jaman Belanda http://www.kaskus.us/showthread.php?p=511242656
Belanda dulu memang berencana memindahkan tampuk pemerintahan dari Batavia ke Bandung karena setelah diteliti kota yang paling enak untuk ditinggali adalah kota bandung yang berhawa sejuk dan kemudian jauh dari perairan juga. Jakarta yang deket dengan laut dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa diserang dari laut. Pertama yang dipindahkan oleh pemerintah Belanda adalah militer, akan tetapi sebelum sempat semua dipindah Belanda terkena krisis ekonomi sehingga Gedung Sate termasuk yang distop pembangunannnya karena tidak punya dana lagi.
Peletakan pertama gedung sate diambil dari http://lautanwaktu.blogspot.com/2010_04_01_archive.html
Gedung Sate http://www.bdgcity.com/btd.php?id=13

Setelah dari komplek sekolah kita beranjak ke Taman Lalu Lintas (Taman Ade Irma Suryani = Insulindepark). Di taman ini ditumbuhi berbagai macam tanaman dan pohon yang sekarang sangat jarang kita temui. Katanya sih taman ini disebut juga taman mini-nya Kebun Raya Bogor.

http://mahanagari.multiply.com/photos/photo/4/35

Setelah itu kita ke Komplek Kodam III/Siliwangi, yang mana jika kita ke kawasan militer kita tidak boleh memfoto apapun itu. Dikhawatirkan posisi tersebut diketahui (eh bukannya sekarang GPS akan lebih akurat daripada foto ya, ya sudahlah). Kawasan ini bekas kawasan militer Belanda sampai ada menara untuk pengintai juga loh.

Dari kompleks militer kita beranjak ke Taman maluku yang terkenal dengan patung pastur yang (katanya) bisa jalan-jalan itu loh. Disebut juga dengan MolukkenPark. Perihal patung pastur ini, disebutkan bahwa pastur ini bernama Verbraak . Saat pemerintahan jepang semua patung peninggalan Belanda dihancurkan kecuali patung pastur ini dan patung Ijzerman (di Taman Ganesha depan ITB sekarang disimpan di rektorat ITB). Karena patung pastur ini sempat dikubur dahulu sehingga tidak dihancurkan. katanya nih patung ini suka berubah letaknya ada yang bilang posisi tangannya berubah, bukunya terbuka dan beberapa bilang kadang hilang entah kemana. Ternyata ada teorinya kenapa posisi tangan/bukunya kadang berubah. Ternyata dari sisi penglihatan dan perspektif yang berbeda, patung ini akan terlihat beda apalagi didukung oleh fondasi yang tinggi, dari sudut berbeda bukunya akan terlihat beda.

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/04/07/keep-bandung-beautiful-euy/
Yang menarik lainnya yaitu Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, yang kalau diterjemahin : Bursa dagang tahunan. Nah ini juga salah satu cara pemerintah Belanda untuk menekan krisis ekonomi. Isinya ya buat jualan barang-barang lah. Menariknya disini diatas gedung terdapat 3 patung Atlas (Atlas dalam mitologi yunani adalah putra Titan yang dihukum Zeus memanggul dunia), intinya sih supaya perekonomian Belanda bisa bangkit lagi (karena dipanggul Atlas hehe)
Jaarbeurs www.bandungtempodoeloe.blogspot.com
Patung Atlas di Jaarbeurs http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/04/07/keep-bandung-beautiful-euy/
Ya itu sekelumit ngaleut saya insyallah kapan-kapan saya ikut ngaleut lagi. Dan bisa berbagi cerita disini.

ps : karena batere kamera abis terpaksa comot gambar dari sana sini =(

Pemerintahan Darurat Sjarifudin Prawiranegara di Sumatera Tengah

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Mr. Syarifudin Prawiranegara

Ada tulisan menarik dalam koran Pikiran Rakyat beberapa hari lalu, seorang sejarawan Jawa Barat menceritakan bagaimana usahanya untuk mempromosikan Sjarifudin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional. Namun menurut sy tulisan itu masih lebih banyak membicarakan pribadi sang sejarawan daripada perjuangan Sjarifudin Prawiranegara. Untuk itu sekadar menambahkan, Berikut adalah sedikit ulasan kisah perjuangan Sjarifudin dkk. selama menjalani pemerintahan darurat di Sumatera.

Gamang 

Waktu agresi  Belanda dimulai, negara RI belum sembuh dari penderitaan akibat tikaman yang diberikan PKI Musso dari belakang dengan peristiwa Madiun yang menimbulkan ribuan korban jiwa. Wakil Presiden Moh. Hatta yang pada waktu itu jadi Perdana Menteri beberapa minggu sebelum serangan Belanda, bersama Mr. Sjarifudin Prawiranegara yang ketika itu menjabat Menteri Kemakmuran berangkat dari Jogja ke Bukittinggi, ibukota kedua RI untuk mengadakan perundingan dengan pucuk pemerintahan di Sumatera berkaitan upaya pembentukan pemerintahan sementara di Bukittinggi dengan pimpinan Bung Hatta apabila Belanda melanjutkan agresi baru.

Di tengah persiapan pembentukan pemerintahan itu, Bung Hatta dipanggil kembali ke Jogja untuk berunding dengan pihak Belanda di Kaliurang dengan perantaraan Komisi Tiga Negara. Perundingan ini mengalami kegagalan dan berbuah pada agresi militer ke-II. Saat itu Mr. Sjarifudin baru berada beberapa hari saja di Bukittinggi, dan langsung memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut mengingat kondisi yang semakin tidak menentu.

Sebelum Agresi terjadi, sebenanya Soekarno-Hatta telah mengeluarkan mandat yang mengatakan bahwa  :

Djikalau dalam keadaan darurat pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjarifuddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran untuk membentuk Pemerintah Republik darurat di Sumatera

Selain mandat tersebut, turut dikeluarkan mandat lain kepada Dr. Sudarsono, Palar, dan Mr. Maramis di India yang isinya sbb. :

Djikalau ichtiar Sjarifuddin di Sumatera tidak berhasil, maka saudara2 dikuasakan membentuk exile government Republik Indonesia di India

Rumah2 dan Pabrik2 yang dimusnahkan Belanda sewaktu PDRI

PDRI

Sementara itu rombongan Mr. Sjarifudin mengungsi ke  Halaban, negeri yang terletak 20 Km di luar kota Payakumbuh, di lereng gunung Sugo, sedangkan rombongan lain menuju daerah yang berbeda. Pada tanggal 21 Desember, hari ketiga agresi militer Belanda, Mr. Sjarifudin masih ragu2 dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya, karena  mandat yang diberikan kepadanya dari Kabinet Hatta untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatera ternyata belum didengarnya, karena memang segala bentuk saluran komunikasi telah lebih dulu diputus oleh Belanda.

Mengenai mandat kabinet ini, Mr. Sjarifudin baru mengetahui beberapa bulan setelah PDRI, berbentuk wawancara pers Bung Hatta yang dilakukannya di tempat pembuangannya di Bangka, yang didengar Sjarifudin di tempat persembunyiannya di pedalaman Sumatera Tengah dari radio. Dengan ini terbuktilah bahwa Sjarifudin membentuk pemerintahan darurat ini atas inisiatif sendiri.

Disamping pemerintahan darurat yang didirikan Mr. Sjarifudin, ada pula pemerintahan Gerilya yang dibentuk Tan Malaka di Jawa, namun tampaknya inisiatif Tan Malaka ini kurang populer. 

Dick Tamimi

Dalam suatu wawancara dengan wartawan “Indonesia Raya”, Mr. Sjarifudin mengatakan bahwa “Kalau tidak ada Dick Tamimi, pemerintahan darurat tidak ada artinya”. Menurutnya Dick Tamimi yang waktu itu jadi perwira AURI dan ikut dalam rombongan PDRI berdarurat dengan zender radionya tela berjasa besar buat PDRI karena dengan radio itu dapat dilakukan hubungan dengan pulau Jawa, yhaitu antara lain dengan Kol. Simatupang dan kemudian dengan Menlu PDRI Mr. Maramis yang berkedudukan di New Delhi. Hubungan inilah yang menelorkan resolusi India didalam dewan keamanan PBB yang memerintahkan “cease fire” kepada Belanda.

Waktu itu yang menjadi anggota pemerintahan darurat di Jawa dengan titel komisaris adalah Dr. Sukiman, Mr. Susanto Tirtoprojo, Ij Kasimo dan Supeno yang gugur ditembak Belanda di dekat Kediri.

PDRI Mobil

Karena terus diburu2 Belanda, demikian Mr. Sjarifudin dan perangkat pemerintahan darurat terus mobil dan berpindah2 dari satu tempat ke tempat yang lain dan termasuk radio Dick Tamimi yang  juga dibawa kemana-mana. Karena keadaan Halaban sudah tidak aman lagi, PDRI pindah ke Bangkinang. Disini mereka mengalami pemboman Belanda dan dalam perjalanan diteruskan ke Pekanbaru. Perjalanan masih dilakukan dengan mobil dan jeep, dan kadang2 harus menyebrang sungai dengan rakit. Di dalam perjalanan ke Pekanbaru didengar kabar bahwa Pekan Baru sudah diduduki Belanda, maka tujuan perjalanan dirubah ke Taluk di daerah Riau.

Dikarenakan kondisi pemerintahan Sjarifudin yang selalu mobil, Belanda selalu mengejek PDRI sebagai Pemerintah Dalam Rimba Indonesia, namun Sjarifudin membalas ejekan tersebut melalui pancaran radio ke seluruh dunia sebagai berikut :

Pemerintah kami biarpun dalam rimba, tetapi sah, karena masih di dalam daerah kekuasaan kami (Indonesia). Tetapi Belanda yang terang2an dalam undang2 dasarnya menyatakan tidak sah mendirikan pemerintah atau memindahkannya ke luar daerah kekuasaanya, telah memindahkan kekuasaanya ke London, di waktu Nederland dikuasai Jerman tahun 1940. Pemerintahaanya di Indonesia dipindahkan ke Australi. Lalu kenapa Belanda mencap PDRI yang masih di dalam daerahnya tidak sah?

Mobil2 Dimasukkan ke dalam Sungai

Dalam perjalanan menyusuri rimba inilah, semua mobil2 bagus yang dipakai anggota pemerintahan darurat dimasukkan ke dalam suatu sungai dengan suatu upacara khusus, karena mobil2 ini tidak bisa dipakai lagi berhubung jalan2 yang akan ditempuh amat buruk. Mr. T. Hassan tampaknya amat berat untuk berpisah dengan mobil “Gajah Putihya” dan dengan amat terharu dia melihat mobil kesayangannya itu tenggelam.

Mr. Sjarifudin Kehilangan Kaca Mata

Jeep yan ditumpangi Mr. Sjarifudin bersama Dick Tamimi pernah slip dan masuk ke dalam suatu kali yang cukup  dalamnya, sehingga para penumpang keluar dengan basah kuyup, dimana Mr. Sjarifudin kehilangan barang yang amat diperlukannya, yaitu kaca matanya. Sesampainya di Taluk, kepada Sjarifudin diberikan sebuah “Testbril” yang biasa dipakai kalau seorang dokter mata tengah memeriksa mata seorang pasien yang mau memakai kaca mata. Kaca mata istimewa inilah yang dipakai Sjarifudin sebagai pengganti kaca matanya yang hilang itu, hal mana tentu saja menimbulkan tertawaan kepada siapapun yang melihatnya.

Sesudah mengalami penembakan dengan senapan mesin dari pesawat terbang Belanda di Taluk, rombongan PDRI mengungsi ke sungai Darah. Sementara itu perjalanan dengan jalan kaki dimulai, tidak kurang dari 40 Km sehari. Sesudah berjalan dari satu desa ke desa lain, maka diputuskan bahwa pemerintahan darurat akan berkedudukan di suatu desa bernama Bidaralam. Disinilah kontak dengan Jawa dan New Delhi dilakukan, sehingga perjuangan PDRI berkumandang ke seluruh dunia dan menguatkan tuntutan Palar dengan dibantu wakil2 India di PBB, sehingga perjuangan Indonesia berhasil.

Di Desa2 yang kecil dan miskin kadang-kadang rombongan hanya disuguhkan nasi sama cabe dan daun singkong rebus, tetapi karena cape akibat perjalanan yang dilakukan, makanan ini tetap enak rasanya.

Kegiatan Sehari-hari Pemerintah Darurat di Pedalaman

Gencatan Senjata

Ketika berita gencatan senjata telah didengar oleh PDRI, juga terdapat informasi bahwa Bung Hatta terbang ke Aceh untuk menemui Sjarifudin. Namun karena Sjarifudin berada di Sumatera Tengah, tentu saja usaha Hatta sia-sia. Untuk itu dikirimlah Natsir, Leimena, dan Dr. Halim ke Sumatera Tengah. Mereka melakukan perjalanan kaki sekitar 15 Km hingga akhirnya berhasil menemui Sjarifudin.

Setelah pemerintahan darurat mendengar bahwa pemimpin2 di Bangka mengadakan perundingan dengan Belanda tanpa membuat hubungan terlebih dahulu dengan PDRI, pihak PDRI merasa amat kecewa, karena menurut mereka berunding dengan pemimpin yang berada dalam tawanan, pihak Belanda dapat memaksakan kemauannya. PDRi juga tidak menyetujui hasil persetujuan Roem-Royen karena tidak seimbang dengan kekuatan pejuang yang melakukan gerilya. Namun PDRI kemudian menyetujui perundingan Roem Royen karena ingin menghindari perpecahan dalam usaha perjuangan.

Rujukan :

  • RE Baharudin, Tjerita Tentang Pemerintahan Darurat Sjarifudin di Sumatera Tengah. Dalam Bingkisan Nasional Kenangan 10 Tahun Revolusi Indonesia. 1955
  • ST Rais Alamsyah. 10 Orang Indonessia Terbesar Sekarang. 1952

Yap Tjwan Bing yang Melompat Pagar

Oleh : Indra Pratama

Jangan nikah sama perempuan Sunda, males, terus matre lagi.”.

Biasa laah, orang Batak kan jago ngomong, makanya dia jadi pengacara.”

Pernah dengar kalimat-kalimat seperti itu?. Saya bertaruh pasti semua sudah pernah dengar kalimat sejenis, meskipun dengan variabel suku, sifat dan konotasi yang bisa dirubah sesuai kebutuhan. YAP. Stereotype.

Meskipun di masyarakat kota besar atau daerah kosmopolit lain stereotype itu sudah terkikis, tapi tidak bisa disangkal bahwa prasangka-prasangka (baik dalam konotasi buruk maupun baik) antar etnis, suku, ataupun ras masih banyak tertanam dan tumbuh subur di banyak entitas di negara kita tercinta ini.

Warga negara keturunan China merupakan korban dengan kisah tersedih dari efek buruk prasangka-prasangka diferensial disepanjang sejarah nusantara, khususnya di tanah Jawa. Tahun 1740, VOC yang menerima perlawanan dari para orang China, baik kuli maupun pengusaha kaya membantai 10.000 diantara mereka (dimana jumlah itu lebih dari 95% dari orang China di Batavia saat itu). Peristiwa itu terkenal dengan nama Peristiwa Angke, dan sudah banyak penelitian yang mengkaji mengenai peristiwa itu. Bahkan Remi Silado membuat drama dengan latar peristiwa itu. Lalu dilanjutkan dengan peristiwa Tangerang 1946-1948, peristiwa 1963 di Bandung, dan banyak lagi hingga terakhir pada kerusuhan Mei 1998.

Berbagai peraturan memberatkan kemudian dibebankan pada orang China yang berdiam. Dari peraturan pajak, administrasi, hingga surat jalan. Kehidupan mereka pun “dikurung” di wilayah-wilayah khusus dengan diawasi para letnan dan kapten China. Penguasa melakukan proses disintegrasi yang disengaja antar suku bangsa yang berdiam di Hindia, menjadikan mereka (entah atas alasan rasial ataupun pribadi/kelompok) sebagai the only one that rule. Hal yang sama juga dilakukan terhadap etnis lain tanpa kecuali.

Perkembangannya sebenarnya mudah ditebak. Seperti dua orang yang tidak pernah berkomunikasi, tentu akan saling mencurigai. Begitu juga dengan perkembangan hubungan orang keturunan/totok China dengan pribumi. Pemisahan yang diatur oleh hukum membuat hubungan ini menjadi begitu profesional dan tidak akrab.

Namun ada banyak pula contoh langka antitesis. Dimana interaksi yang terjadi konstruktif dalam konteks nasionalisme Indonesia. Salah satu contoh terbaik interaksi ini adalah Yap Tjwan Bing.

Yap lahir di Solo, 31 Oktober 1910. Putra dari pasangan Yap Yoe Dhiam dan Tan Tien Nio yang berdagang di daerah Slompretan. Pada usia 7 tahun ia tinggal pada keluarga Belanda bernama Killian untuk belajar bahasa Belanda dan sekolah di HCS Kristen Gembelekan, Solo. Ia menamatkan pendidikan MULO di Madiun, satu angkatan dengan Ir. Rooseno, salah satu tokoh penting Indonesia lainnya. Kemudian karena ia bukan berasal dari keluarga China elit maka ia tidak dapat melanjutkan pelajarannya ke HBS melainkan ke AMS B di Malang. Tak lama ia pindah ke AMS Kristen di Jakarta, dimana ia bertemu dengan salah satu calon ujung tombak pergerakan, Amir Sjarifudin.

Sejak umur 18 tahun sebenarnya ia sudah bersimpati pada pergerakan nasional. Kesibukan menuntut ilmu dan menjadi pemain sepakbola amatir di klub Hok Sang Hwee menjauhkannya dari usaha mendekati dunia politik pergerakan. Namun simpati tersebut berubah menjadi kecintaan saat pada tahun 1932 Yap bersekolah di Negeri Belanda. Di Belanda Yap aktif bergaul dengan para aktivis Perhimpunan Indonesia yang dipimpin Moh.Hatta dan Iwa Kusumasumantri, meskipun tidak bergabung dengan mereka. Saat para pemimpin Perhimpunan Indonesia ditangkap dan disidangkan atas kegiatan mereka pun, Yap menghadiri sidang para pemimpin perhimpunan. Kesadaran politik nasional Indonesia Yap mulai tumbuh pesat pada periode ini. Meskipun ia belajar untuk memperoleh gelar Drs. pada bidang farmasi di Amsterdam, namun ia malah makin suka membaca buku-buku politik.

Studinya selesai tepat pada saat dimulainya Perang Dunia ke-II tahun 1939. Yap pun memilih pulang segera ke Hindia. Di Hindia ia bekerja di Apotik Suniaraja, Bandung.Di Bandung lah Yap benar-benar terjun langsung dalam politik pergerakan. Ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia pimpinan Soekarno dan membantu di bidang ekonomi.Ketertarikan Yap terhadap Marhaenisme Soekarno membuatnya loyal pada Soekarno sampai masa kemerdekaan. Tak lama setelah itu, tahun 1942 Jepang datang. Ketika dibentuk badan-badan baru buatan Jepang yang dipakai sebagai “alat” perjuangan oleh para tokoh seperti Soekarno dan Hatta, Yap pun ikut serta, khususnya dalam Gerakan Angkatan Baru Indonesia dan Gerakan Rakyat Baru.

Kemudian pada masa “kepepet”, Jepang mewujudkan janjinya memberi jalan bagi kemerdekaan Indonesia lewat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Yap pun diangkat menjadi anggota, mewakili etnis China di Indonesia. Juga saat perkembangannya BPUPKI dirubah menjadi Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI), Yap pun masih menjadi anggota.

Dalam buku Peranakan idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya karya Yunus Yahya menyebutkan, saat peristiwa proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, Yap sedang berada di rumahnya di Bandung, yang terletak di Jalan Naripan no.31 bersama A.H Nasution dan tokoh-tokoh lain. Disebutkan bahwa Yap dan kawan-kawan merayakan kemerdekaan dengan bersulang dan bergembira. Catatan yang cukup aneh mengingat berita proklamasi tentunya sulit disebarluaskan keluar Jakarta karena pengawasan ketat Jepang.

Yap ikut dalam rapat perumusan Undang-undang Dasar 1945 yang diselenggarakan PPKI yang selesai pada 18 Agustus 1945. Perlu dicatat bahwa pembentukan BPUPKI dan PPKI sendiri diusahakan semaksimal mungkin mengakomodir setiap kepentingan kelompok-kelompok calon rakyat Indonesia. Setelah 27 Agustus PPKI dibubarkan dan dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat sebagai parlemen sementara, nama Yap Tjwan Bing pun ada didalamnya, lagi-lagi sebagai wakil golongan China. Saat pemerintahan pindah ke Jogjakarta, Yap turut hijrah sebagai anggota DPR-RI dan kemudian DPR-RIS. Di Jogjakarta ia tinggal di jalan Pakuningratan, berdekatan dengan para tokoh lain seperti Moh.Roem, Tabrani, Ir.Djuanda, dan Ir.Rooseno. Pada masa ini pula atas permintaan Dr. Sardjito ia turut berperan serta dalam pembentukan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dan menjadi dosen di UGM. Pada masa itu pula ia mendirikan apotik di Jl. Malioboro dan di Bandung bersama Dr. Ir. Tan Sin Hok dan Dr. Tan Peng Ie.

Di Jogjakarta, Yap menjadi besar hatinya akan harapan kehidupan harmonis antar etnis di Indonesia kelak. Yap terpukau akan bagaimana sikap para pemimpin Indonesia dalam berinteraksi dengan rakyat Jogja dan sekitarnya yang multietnis. Yap terutama sekali terpukau dengan usaha bahu-membahu rakyat berbagai etnis dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Golongan China sendiri, diberi tugas mencari suplai onderdil kendaraan, baik pribadi maupun perang dan kereta api, dari wilayah barat Pulau Jawa, yang dikuasai Belanda.

Nasionalisme Yap semakin terwujud dalam gerakan-gerakan politiknya di masa berikutnya. Sebelumnya pada tahun 1948 Yap mendirikan Persatuan Tionghoa, yang pada tahun 1950 dirubah namanya menjadi Partai Demokrat Tionghoa Indonesia, yang menghimpun orang-orang keturunan China yang bersikap pro-Republik Indonesia. Juga saat pada dekade 50-an Yap ditawari menjadi menteri negara dalam Kabinet Negara Pasundan, negara boneka Belanda di Priangan, Yap menolak tegas, membuktikan komitmennya pada Indonesia. Sampai tahun 1950 Yap tetap menjadi anggota DPR, tetapi bukan lagi mewakili golongan China,tetapi sebagai kader dari Partai Nasional Indonesia, dimana Yap (dengan enggan) menjabat ketua di bidang ekonomi. Pada dekade ini ia juga aktif di Institut Teknologi Bandung sebagai Curator dan turut menjadi anggota Ikatan Apoteker Indonesia yang didirikan tahun 1955.

Namun pada tahun 1963, segala kecintaan dan perjuangan Yap dan kaum China lainnya pada Indonesia mendapat ujian berat. Di bandung terjadi kerusuhan berlatar rasial. Peristiwa seorang mahasiswa ITB yang ribut akibat insiden lalu lintas dengan seorang warga keturunan China tiba-tiba berujung pada keributan massal. Para mahasiswa ITB dan Universitas Padjajaran mempelopori massa merusak dan menjarahi toko-toko, rumah tinggal, dan kendaraan milik warga negara keturunan China.Peristiwa ini diduga merupakan rembetan atas peristiwa serupa di Cirebon beberapa waktu sebelumnya.

Yap Tjwan Bing, salah satu dari founding fathers Republik Indonesia rupanya tidak luput dari aksi tak terpuji ini. Mobil terbaru miliknya yang diparkir di rumah Jalan Cipaganti 32 habis dibakar massa. Demikian pula bungalow yang dimilikinya di Lembang. Dimulailah eksodus besar-besaran warga keturunan China dari Indonesia. Yap tentunya tidak mau ikut meninggalkan tanah airnya, namun ia dan istri mengkhawatirkan putra mereka yang mengidap penyakit polio, bagaimana bila ia juga terkena amuk massa. Pada saat keraguan itu, ada sebuah rekomendasi dari dokter suharso dari Solo, bahwa putra Yap bisa dirawat di luar negeri, karena penyakit polio myelitis yang diidap putra Yap belum bisa ditangani di dalam negeri. Dengan perasaan enggan, akhirnya Yap sekeluarga hijrah ke Los Angeles, Amerika Serikat.

Di Amerika, kesehatan Yap menurun. Tahun 1970 ia terkena stroke. Namun bertahan hingga menghembuskan nafas terakhir tahun 1988. Yap Tjwan Bing, pahlawan Indonesia itu dikembumikan di Rose Hill.

Nama Yap terlupakan selama bertahun-tahun dari pengetahuan umum masyarakat republik yang turut dibidaninya. Sampai pada 22 Februari 2008 Walikota Solo Joko Widodo meresmikan nama Jalan Yap Tjwan Bing, menggantikan nama Jalan Jagalan, pada peringatan Imlek tahun yang sama.

Perjuangan Yap menjadi salah satu bukti bahwa tidak selamanya warga keturunan China dan pribumi harus hidup dalam eksklusivitas masing-masing, dengan urusan masing-masing. Nasionalisme yang terkendali bisa menjadi alat pemersatu. Prasangka-prasangka buatan Belanda sudah ketinggalan jaman, mari kita mulai jaman yang baru, sejarah hubungan warga negara keturunan China dan pribumi yang baru, hubungan antar etnis yang baru, hubungan pusat-daerah yang tidak vampirism, dan hubungan antar manusia yang saling menghargai.

Yuk ah!.

Berdasarkan pengalaman saya, terbukti bahwa ganti nama dari nama Cina menjadi nama Indonesia tidak menentukan kepatriotan seseorang. Saya berpendapat bahwa mereka yang telah melepaskan nama Cina nya belum tentu merupakan orang yang cinta Negara Indonesia dan sanggup menjadi Patriot Bangsa. Namun hal ini tidak berarti bahwa mereka yang tetap memakai nama Cina itu kurang cinta kepada tanah air tempat mereka dilahirkan yaitu Negara Indonesia tercinta, yang lebih penting dari pada mengganti nama adalahb perubahan sikap mental baik dari golongan pribumi maupun non pribumi, secara mental mereka harus merasa benar – benar sebagai Bangsa Indonesia yang berbentuk Republik dan berdasarkan pada UUD 1945 dan Pancasila. (Yap Tjwan Bing)

 

Sumber :

Prasangka di Balik Pecinan

Oleh : Nia Janiar

Teman saya, seorang keturunan Tionghoa, pernah menautkan tulisannya yang berjudul ‘Hai, Cina!’ yang berisi keputusannya kuliah di universitas negeri. Keputusan ini sangat besar baginya karena pada saat itu ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berpindah dari lingkungan homogen ke heterogen. Beruntung orang tuanya tidak melarang, hanya mengingatkan bahwa ia akan menjadi minoritas dan pasti akan menemukan banyak perbedaan.

Teman saya itu masuk hitungan cukup beruntung dimana orang tuanya suportif terhadap keputusannya. Tidak sedikit teman-temannya yang dilarang untuk kuliah yang mayoritasnya ada pribumi dan muslim. Kebanyakan mereka dimasukkan ke universitas swasta non-muslim. Ketakutan orang tuanya itu wajar karena ingin melindungi anaknya dari diskriminasi ras Tionghoa yang terjadi di masyarakat.

Darimanakah diskriminasi kaum Tionghoa bisa terjadi, mungkin sedikit banyak jawab terjawab saat saya dan Aleutians jalan-jalan ke Pecinan. Awalnya saya tidak akan ikut karena ide menjelajah kawasan Pecinan tampak tidak menarik bagi saya. Tapi untungnya keputusan salah saya tidak diambil, karena perjalanan kemarin (13/11) sungguh menginspirasi saya dalam menulis tema yang sebenarnya sudah lama ingin saya tulis.

“Udah Cina, pelit lagi. Calon masuk neraka!” teriak salah seorang pemulung kepada ibu saya yang cuek saat ia mengemis minta makan. Ibu saya memang bukan keturunan Tionghoa, tapi kulitnya yang terang, mata sipit, dan perawakannya merujuk seperti warga Tiongho. Tapi kami ikut tersentil mendengar kata ‘Udah Cina, pelit lagi.’ Memangnya kalau Cina, ada yang salah? Memangnya kalau pribumi boleh pelit?

Sebelum menjawab, biarkan saya menceritakan ulang sejarah Pecinan yang saat itu diceritakan oleh Candra dan Indra. Pecinan atau China Town terjadi saat Indonesia masih dijajah Belanda, warganya dipecah-pecah berdasarkan rasnya untuk memudahkan pengendalian warga yaitu Eropa (termasuk Jepang yang dianggap maju dengan orang kulit putih), Timur Asing (Tionghoa), dan pribumi. Untuk warga Tionghoa, dibangun sebuah konsentrasi yang dikenal sebagai Pecinan. Di Bandung, mereka ditempatkan di kawasan Cibadak dan Pasar Baru. Di kawasan Cibadak, mayoritas kaum Tionghoa bekerja sebagai tukang atau pengrajin. Sementara di Pasar Baru, kaum Tionghoa bekerja sebagai pedagang.

Sama seperti Bandung, di Jakarta dan Semarang pun dilakukan pemisahan. Bahkan di tahun 1740, Pecinan dibenteng dan lahan orang Tionghoa dibatasi. Bahkan ada yang namanya kartu pas atau izin jalan. Untuk bisa keluar benteng, mereka harus memiliki kartu pas—mungkin semacam visa kalau kita mau jalan ke negara tetangga. Sistem kartu pas dan benteng ini dihapus di awal abad ke-20.

Terbatasnya lahan ini mempengaruhi tempat tinggal mereka yang bangunannya memiliki karakteristik tinggi dan panjang. Jika kita jalan ke Pecinan yang ada di Bandung, rumah sekaligus toko (ruko) yang dihuni warga Tionghoa adalah hal yang lazim dilihat sekarang ini. Tentu saja tidak semua ruko dihuni warga Tionghoa, begitu juga rumah biasa yang dihuni warga pribumi.

Mereka tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Mereka turut memutar roda ekonomi dengan bisnis atau berdagang. Unggul dalam bidang ekonomi, mereka diberi peran sebagai perantara pasar modern (Belanda dan Barat) dengan pasar tradisional kala itu. Selain itu menimbulkan kesan bahwa warga Tionghoa “berada di atas” pribumi dengan segala eksklusivitas. Ini bisa jadi pencetus prasangka-prasangka dan diskriminasi yang ada di masyarakat.

Salah satu usaha warga Tionghoa yang waktu itu kami datangi adalah warung Cakue Osin yang ada di Jalan Pasar Barat. Pemiliknya yang bernama Lie Tjay Tat membikin cakuenya sendiri. Dengan senang hati, ia mempertunjukkan cara memotong adonan, melekatkan dengan air, hingga menggorengnya yang memiliki teknik tersendiri agar cakuenya mengembang.

Selain menjual cakue, mereka menjual kompia (sejenis roti keras yang cocok dipasangkan dengan bubur kacang tanah) yang memiliki dua jenis yaitu kompia kosong atau kompia yang berisi daging babi, bala-bala daging babi, dan lainnya. Bagi kaum muslim, sebelum makan di daerah Pecinan itu sebaiknya tanya dulu apakah makanannya halal atau tidak.

Islam dengan Tionghoa pun erat kaitannya. Saat melewati viharra yang ada di Jalan Kebon Sirih, Indra mengemukakan tema bahwa beberapa walisongo adalah orang Tionghoa (Indra menambahkan ada juga yang dari Hadramaut dan wilayah Magribi (Afrika Utara), seperti Sunan Gresik). Maka jika ditelusur lewat internet, menurut Prof. Slamet Muljana dalam bukunya yang sempat dilarang edar pada saat Orde Baru berjudul Runtuhnya Kerjaan Hindu Jawa (1968) memang mengatakan seperti yang Indra bilang. Namun pemerintah Orde Baru yang sudah kepalang menganggap Tionghoa sebagai musuh karena dianggap komunis dan membantu gerakan 30 September 1965, melarang buku tersebut.

Berbagai prasangka dan kecurigaan ini terus bergulir melalui berbagai macam peristiwa dari peristiwa pembantaian warga Tionghoa oleh VOC di Muara Angke tahun 1740 hingga tragedi Mei 1998 dimana manusia diperkosa dan dibunuh karena ras yang tentu tidak ia minta. Prasangka yang diturunkan secara berkelanjutan yang seolah-olah dibenarkan oleh beberapa kejadian, memicu pemulung berteriak seperti itu dan jadi alasan orang tua melarang anaknya bersekolah di lingkungan dengan mayoritas pribumi.

Tidak hanya Tionghoa, tapi prasangka negatif juga terjadi di dalam pribumi seperti Sunda itu mata duitan, Jawa itu lamban, Batak itu keras, dan lainnya. Tidakkah yang mata duitan sekarang tidak hanya suku Sunda saja? Tidakkah semua orang membutuhkan uang? Dan sebagaimana semua orang—apapun sukunya—bisa lamban dan keras? Prasangka yang manusia bikin sendiri tentunya menjadi tidak valid.

Tulisan panjang lebar di atas boleh jadi hanya dari sudut pandang saya sebagai pribumi, sebagaimana buku sejarah, literatur, dan bahan-bahan lain yang dijadikan rujukan, dengan kurangnya bagaimana pandangan kaum Tionghoa terhadap pribumi. Proses pencarian yang tidak hanya merujuk benda mati melainkan berdiskusi juga bisa memecah prasangka karena ada interaksi untuk mengkonfirmasi tentang hal-hal yang selama ini manusia duga.

Dan pada akhirnya, Tionghoa dan pribumi adalah sebuah label yang saling membatasi.

“Our greatest strength as a human race is our ability to acknowledge our differences, our greatest weakness is our failure to embrace them.” –Judith Henderson.

Original Post : http://mynameisnia.blogspot.com/2011/11/prasangka-di-balik-pecinan.html?spref=fb

Sebuah Kamar Di Penjara Banceuy

“…Kamar tahanan yang sempit itu isinya hanya bung Karno, balebale yang keras, pispot yang setiap saat harus dicuci dan beberapa cicak-cicak. Hanya itu. kalau malam tiba sepinya tiada ketulungan lagi. Sepi seperti kuburan tua”

Pispot gunanya untuk menampung kotoran manusia. Tetapi pispot yang ada di kamar tahanan bung Karno ber dwi fungsi. Bila siang berfungsi sebagai tempat air seni maupun kotoran. Tetapi sore hari segera dibersihkan dan pada senja hari naiklah derajad sang pispot, yang tadinya diletakkan dibawah kemudian diseret keluar, dan dinaikan ke atas tempat tidur. Menjadi meja darurat yang digunakan untuk menulis pleidoi “Indonesia Menggungat” yang terkenal.

Hampir satu setengah bulan Soekarno menyiapkan pembelaanya. Sepanjang hari Bung Karno menuliskan karyanya selama masih ada penerangan lampu. Bila lampu telah padam, ia tetap mencurahkan inspirasinya dengan berteriak kepada Gatot yang ada di seberangnya, memuntahkan isi otak yang sebenarnya sudah harus dituangkan di atas kertas.

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Profil Dr. J. W Ijzerman

Seorang Insinyur, Arsitek, Arkeolog, dan Akademisi…Semuanya terangkum dalam diri seorang Dr. J. W. IJZERMAN (1851—1932), Perintis pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda, serta pimpinan komisi perguruan tinggi Hindia Belanda yang mendirikan Technische Hogeschool (ITB).

Berlatar belakang pendidikan militer Breda, Ijzerman memulai karirnya di Hindia Belanda sebagai staff peneliti bagi kemungkinan pendirian jalur kereta api di Sumatra. Tugasnya dilakukan dengan perjuangan berat mengingat ganasnya medan hutan Sumatra saat itu. Kemampuannya yang tinggi, membuatnya dikenal sebagai insniyur paling berpengaruh di bidang perkeretaapian yang tengah dirintis di akhir abad 19.

Pada pertengahan 1878 IJzerman diangkat sebagai insinyur yang menangani proyek pembuatan jalur Bogor-Bandung-Cicalengka. Salah satu karyannya adalah Stasiun Bandung (lama) yang didesain oleh dirinya.

Pada tanggal 30 Mei 1917 didirikanlah Komite sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda yang diketuai Dr. C.J.K. van Aalst, yang kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Tugasnya antara lain mengumpulkan dana untuk pendirian sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda.

Dalam pertemuan di Batavia pada bulan Mei 1919 ditetapkan bahwa Perguruan Teknik itu akan bernama “Technische Hogeschool”. Ijzerman sempat dihadapkan pada pilihan Solo, Yogyakarta, Jakarta atau Bandung sebagai lokasi sekolah. Walikota Bandung B. Coops lantas menyatakan bersedia memberikan sebidang lokasi di Bandung Utara seluas 30 Hektar, terletak di antara Cikapundung dan Dago untuk ditempati sekolah tersebut. Ijzerman menyetujui usul itu, didukung oleh Gubernur jenderal Mr. J. P. Graaf Limburg Stirum.

Untuk mengenang jasa-jasanya dalam pendirian sekolah tinggi di Bandung, Prof. Odé merancang suatu taman di selatan TH (ITB) yang dinamai Ijzerman-park, dan sekarang bernama taman Ganesha. Sebuah patung dada Ijzerman sempat bertengger di utara taman itu sebelum kemudian dicopot di jaman jepang, dan saat ini tersimpan di gedung rektorat ITB.

Sekilas Peristiwa APRA

23 Januari 1950, peristiwa kebiadaban APRA di Bandung. Tidak ada perang. Sudah damai. Tenang. Tanpa curiga satuan kecil dan perorangan anggota TNI keluar masuk Bandung untuk menyelesaikan persiapan pengambilalihan tugas keamanan kota yang masih ditangani Belanda.

Apa lacur! Pagi hari itu waktu orang masuk kantor. Ada yang baru datang dari Jakarta, terus masuk ke Open Deur (Pintu Terbuka), Tempat makan di pojok jalan Braga. Oleh pasukan APRA ia diseret keluar sambil dimaki-maki karena berbaju seragam TNI. Disabet kelewang, lalu ditembak, padahal tidak ada perang. Dan tak bersenjata.

Masih di jalan Braga agak ke bawah, di depan bioskop Majestic. Sebuah mobil dari utara diberhentikan. Pengendaranya diseret keluar. Haa, zo’n kleine piel… een luitenant!… Terus saja kelewang diayunkan tepat merobek pipi. Mulut menganga sampai belakang rahang. Terhuyunglah sang pahlawan rebah di atas jalan aspal.

Disertai makian serdadu sewaan, sang pahlawan dipaksa berdiri. Tegar ia berdiri sambil mengenakan pici TNI-nya rapih-rapih. Baru melangkah dua ayunan, ditembaklah ia dari belakang. Dalam jarak kurang dari satu meter, tepat di belakang kepala. Hei, lubang peluru di kepala belakang kecil, di depan menganga besar bukan main! Mereka menggunakan peluru dumdum, peluru yang dilarang menurut konvensi jenewa. Peluru untuk berburu babi hutan. Barbar!

(..Dikutip dari buku Kisah Perjuangan Unsur Ganesa Kurun Waktu 1942-1950)

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Hati yang Bimbang *

Oleh : Andika Budiman

30 Oktober 2011, agenda Komunitas Aleut! adalah makan-makan, mendoakan Indra, mendoakan Indra dan Icha, serta sedikit bercerita tentang film dan buku kesukaan masing-masing.  Kebetulan beberapa minggu lalu saya menamatkan Salah Asuhan (1928). Tokoh favorit saya bernama Corrie, gadis keturunan Eropa centil, periang, dan berlebihan yang digambarkan Abdul Moeis dengan piawainya. Berikut salah satu bagian kesukaan saya:

Semalam-malaman itu Corrie tidak merasai tidur nyenyak. Setiap saat ia bertanya dalam hatinya, cintakah ia kepada Hanafi, tapi senantiasa didengarnya pula sahutan, “Oh! Anak Belanda dengan orang Melayu, bagaimana boleh jadi!” Tapi seketika itu juga berbunyi pula suara: “Orang Melayu boleh disamakan haknya dengan orang Eropa!”

Lalu dihadapkannya ke muka angan-angannya akan diri Hanafi, lahir dan batin. Rupanya, molek, kulitnya tidaklah hitam bagai Bumiputera kebanyakan. Hanafi sendiri ada benci pada bangsanya, Bumiputera. Pelajarannya, tingkah lakunya, perasaannya, semua sudah menurut cara Barat. Kalau ia tidak tinggal bersama ibunya yang sangat kampung, tentang tabiat dan perasaannya tak akan adalah yang menyangka Hanafi orang Melayu. Sebab bencinya pada bangsanya sendiri, sudah tentu ia suka minta disamakan dengan bangsa Eropa, tentu tak ada lagi batasnya pangkat yang boleh dijabatnya.

Tapi—tapi, meskipun demikian, Corrie boleh memastikan, bahwa ia tidak dapat membalas percintaan Hanafi, sebab … ya, sebab … ? Sebab ia tidak cinta!

Hanafi dipandang sebagai seorang sahabat saja yang dibawa bergaul di waktu bertemu saja. Dari kecil ia sudah berkenalan, sudah sama-sama bermain-main, meskipun Hanafi ada tiga tahun lebih tua dari dia. Dahulu, semasa di sekolah rendah di Solok, ia memandang Hanafi seolah-olah saudara tuanya; dan acap kali Hanafi melindungi jika ada seseorang anak laki-laki yang hendak menganiayanya. Waktu datang ke Betawi, ia masih mendapati Hanafi di kota itu, enam bulan sesudah itu baharulah Hanafi pulang ke Sumatera Barat. Tapi dalam enam bulan itu, hanya dua-tiga kali ia berjumpa dengan kawan itu, sedang selama ia di asrama Salemba, tidak pula berkirim-kiriman surat dengan dia. Hanya tiap-tiap vakansi mereka bertemu di Solok, sedangkan pergaulan tetap cara biasa: sebagai kakak dan adik. Secara orang bersaudara, banyak benar timbul pertikaian pikiran antara keduanya, dan tiap-tiap bersahut-sahutan itu, ada jualah salah seorang yang marah. Jika yang seorang sudah bermuka merah, yang lain lalu mengalah. Demikian saja dilakukan oleh mereka berganti-ganti, hingga persahabatan antara keduanya bisa kekal.

Hanya Corrie sudah merasai menjadi gadis, setelah ia masuk sekolah H.B.S.; terutama di negeri kecil dijaganyalah benar namanya, supaya jangan menjadi sebutan.

Oleh karena itu hanya sekali-sekali ia datang ke rumah Hanafi, begitu juga tidak pernah seorang diri, melainkan membawa kawan juga. Dan jika ia berjalan-jalan dengan Hanafipun ia membawa salah seorang kawan. Buat dirinya sendiri ia tidak terlalu peduli, tapi yang dijaganya hanyalah perasaan orang. Hanafi dipandangnya seolah-olah saudaranya: jadi seharusnya ia tidak perlu berhati-hati benar, hanya Hanafi itu memang orang Melayu; dan di dalam adat orang Melayu memang banyak benar pantangan bagi anak gadis. Jika sekiranya di Betawi Hanafi membawanya ke tempat permandian di pinggir laut dengan tidak membawa seorang kawan, akan tidaklah ia berkeberatan, karena—Hanafi dipandangnya sebagai saudaranya benar.

Yang sudah-sudah, Hanafipun berlaku sebagai seorang saudara pula kepadanya, hanya di dalam vakansi sekali ini, dan terlebih pula sehari tadi, perangainya sudah lain. Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya berpegang-pegangan tangan, dengan tidak ada gelinya, tapi waktu tadi siang Hanafi meraba lalu mencium tangan Corrie, bukan saja Corrie terkejut karena kedatangan tuan dan nyonya Brom, melainkan sebenar-benarnya ia terkejut sebab dicium tangannya itu. Dan itupun sudah luar biasa, karena antara kakak dengan adik tak usahlah terkejut pasal bercium-ciuman tangan itu. Tapi Corrie sudah terperanjat, segala darah sudah naik ke kepalanya, dan jantungnya pun berdebar-debar.

Itulah suatu tanda baginya, bahwa dari pihaknya sifat-sifat ‘bersaudara’ itu sudah berubah. Hati berahinya sebagai gadis sudah timbul pada saat itu. Dan mulai dari itu yakinlah ia akan bahaya percampuran laki-laki dengan perempuan. Dahulu disangkanya bahwa seseorang gadis akan bisa bercampur gaul dengan bujang sebagai saudara sejati; bebas dari perasaan lain yang tidak layak bagi orang bersaudara. Persahabatan yang suci antara gadis dengan bujang disangkanya boleh berlaku dengan sesuci-sucinya. Jika ia bergaul dengan bujang-bujang, maka disangkanya adalah ia bergaul dengan sahabat, yang tidak memandang ia sebagai perempuannya, melainkan sebagai sahabat saja, serupa dengan kepada sahabat laki-laki.  Itulah sebabnya Corrie sudah menertawakan sekalian bujang, yang segera saja menulis surat ‘lamaran’ menyatakan cinta yang tidak berhingga kepadanya, setelah bertemu dua-tiga kali di tempat bermain tenis atau di tempat keramaian. Laku serupa itu jauh dari menimbulkan berahi si gadis itu, melainkan menimbulkan bencinya, hingga inginlah ia hendak mempermain-mainkan orang yang serupa itu.

Dalam persangkaan Corrie, pergaulannya dengan Hanafi selama ini hanya dibangunkan di atas rasa persahabatan dan persaudaraan saja. Memang sayanglah ia pada Hanafi, tetapi sebagai sayang kepada saudara.

Tapi nyatalah bahwa perasaan dari kedua belah pihak sudah berubah. Hanafi sudah cinta padanya, bukan lagi kepada adiknya, melainkan kepada seorang perempuan yang dikehendakinya buat menjadi istrinya. Perasaan Corrie terhadapnya sudah berubah pula, tapi cintakah ia pada Hanafi? Itulah suatu pertanyaan besar, yang sedang membimbangkan hatinya, yang mengganggu kesenangannya sampai ke tempat tidurnya. Senantiasa wajah Hanafi sudah terbayang-bayang dalam pandangannya, meskipun ia memicingkan mata. Meskipun perangai Hanafi sudah kebelanda-belandaan, tapi adalah juga sifat ketimuran yang belum hilang sama sekali padanya, yaitu malu-malu sopan orang Timur masih ada dikandungnya; dan sifat yang sebuah inilah yang menarik hati si gadis itu.

Sejurus lamanya termenunglah Corrie. Maka dihitungnya pada buah baju kimononya, seolah-olah meramal-ramali, “Cinta—tidak—cinta—tidak—cinta!” Stop, lima bilangan buah kimono, kesudahannya jatuh pada ‘cinta’.

“Oh,” kata Corrie, “tentu saja disudahi dengan ‘cinta’, karena buah kimono itu memang lima. Sekiranya kumulai menghitung dengan ‘tidak’, tentu ‘tidak’ pula kesudahannya.”

“Tokek!”

“Ha!” kata Corrie pula dalam hatinnya. “Tokek itu jarang bohongnya. Mari kita lihat … tidak–“Tokek!” cinta–”Tokek!” tidak–”Tokek!” cinta–”Tokek!” tidak–”Tokek!” cinta.

“Oh, tokek celaka, biasanya ia berbunyi lima kali, sekarang enam! Pendeknya aku tak cinta pada si Hanafi si gila – bah! Orang Melayu!”

Corrie mencoba menghilangkan segala kenang-kenangan yang berhubungan dengan Hanafi. Kepalanya sudah berasa berat, telinga mendesing-desing.

Sejurus lamanya terlayanglah ia, lalu tertidur. Seketika juga wajah Hanafi sudah nampak pula dimukanya, sambil senyum simpul dengan sapanya. Corrie sudah diganggu oleh mimpi yang bukan-bukan. Rasanya Hanafi meninggalkan dia, pergi mengembara ke negeri jauh, Maka pada saat perceraian, menjeritlah Corrie sekuat-kuatnya, menyeru nama Hanafi, kekasihnya …

“Corrie! Corrie!” kata suara ayahnya di muka pintu kamarnya, “Engkau bermimpi Sadarlah!”

Bukan buatan sungut Corrie, demi ia sadar dan mengingat akan mimpinya. Oh, ia, Corrie du Busée, akan menjerit bila bercerai dengan Hanafi? Orang Melayu! Oh, oh, apakah sangka ayahnya, kalau mendengar seruan Hanafi itu?

Seketika itu timbullah gundah-gulananya yang tidak terkira-kira, mengingatkan keadaan Hanafi. Ia menyalahkan orang itu, karena sudah membimbangkan pikirannya. Dipandangnya sebagai saudara benar dari kecilnya. Dipercayakannya dirinya kepada ‘saudara’ itu. Sekarang inilah jadinya. Tidak patut Hanafi menggoyangkan hatinya sampai serupa itu, merusakkan kesenangannya sama sekali!

Jika ia esok datang ke rumah Hanafi, antara seorang dengan seorang, hendak dinyatakannya kemasygulan hatinya tentang itu. Ia hendak berkata kepada Hanafi, tidak patutlah Hanafi merusakkan kepercayaan Corrie yang diberi selama ini kepadanya, tidak layak mempergunakan kelemahan anak gadis buat mencapai maksudnya.

Tapi—dibalik-balik pula dipikirkan—kalau Corrie sendiri tidak cinta kepadanya, apakah yang buat disusahkan? Kalau ia memang tidak cinta, dengan sepatah kata ia dapat mencegah segala gangguan itu; dan amanlah pula dalam hatinya. Ya – memang sesungguhnya ia tidak cinta kepada Hanafi; dan hal itu hendak diceritakannya esok petang dengan selesai, dengan pendek. Supaya Hanafi mengetahui benar-benar, bahwa ia tidak usah mengharap-harap lagi. Tapi—kasihan, kalau diceritakan pula sekalian itu; alangkah sedih hati Hanafi! Tali persaudaraan yang sekian teguhnya, ditimbulkan dari zaman masih kanak-kanak, tentu akan putus.

Dalam memikirkan yang serupa itu, ia sudah bangkit dari berbaring, lalu membukakan pintu kamarnya.

“Oh, Pa,” demikian ia berkata kepada ayahnya, yang masuk ke dalam kamarnya. “Tadi Corrie sangat riang di tempat bermain tenis. Hanafi sudah mempertakut-takuti dengan keluang, yang banyak bergantungan di pohon ketapang di tempat itu; dan jatuh seekor karena ditembak oleh seorang anak dengan senapan angin. Keriuhan yang tadi siang, sampai terbawa ke dalam mimpi!”

Tuan du Busée melihat dengan bimbang pada air muka anaknya yang merah-merah padam itu.

“Engkau sangat gembira, Corrie! Rupanya seluruh urat sarafmu sedang tergoyang. Minumlah satu tablet bromural. Marilah ayah ambilkan.”

Sejurus lamanya tuan  du Busée meninggalkan anaknya, lalu datang kembali membawa sebuah botol kecil di tangannya.

Setelah dikeluarkannya sebuah tablet, maka dituangkannya air dingin dari karaf ke dalam gelas yang ada di meja toilet, lalu diberikannya air dan tablet itu kepada anaknya.

“Telanlah ini, anakku! Segera juga darahmu akan surut, tidurmu akan nyenyak. Selamat malam!”

Dengan cepat Corrie menurut perintah ayahnya, lalu berbaring pula tidur kembali. Pukul empat sudah berbunyi. Tidak lama setelahnya, tidur nyenyaklah ia.

Hanafipun tak hilang-hilang juga dari kenang-kenangannya. Di dalam tidur nyenyak itu, bermimpilah ia, bahwa ia sudah meramal-ramal pula dari strip kelambu, yang ada pada tumpuan kakinya. Strip itu antara dua puluh sentimeter renggangnya, jadi banyak sekali bilangannya. Rasanya ia sudah mulai menghitung dari ‘tidak’, karena sesungguhnya ia tidak cinta. Tidak – cinta – tidak – cinta – tidak … akhirnya jatuh kepada ‘cinta’ juga!

Sangat masygul hatinya, setelah ia sadar dari tidurnya, melihat matahari sudah tinggi dan teringatlah ia akan mimpinya itu.

“Oh, mimpi itu bohong!” katanya, sambil memperbaiki kain selimutnya, seolah-olah hendak menyambung tidur, meskipun pukul tujuh sudah lama terdengar berbunyi.

Maka memandanglah ia ke kelambu yang ada pada tumpuan kakinya. Banyak benar strip-strip itu, lebih dari tiga puluh. Mari dicoba-coba buat penghabisan. Haruslah dimulai dengan ‘tidak’, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

“Tidak – cinta – tidak – cinta – …”

Tiga puluh kali berganti-ganti antara ‘tidak’ dengan ‘cinta’ kebetulan pada strip yang merapat benar pada tiang tempat tidur, berhenti pulalah bilangan itu dengan ‘cinta’.

“Barangkali aku kena guna-guna!” kata Corrie, sambil merentak bangkit dari tidurnya. “Aku sesungguhnya tidak cinta pada orang itu! Tidak, tidak, tidak! Meramal-ramal itu permainan kanak-kanak, tahayul orang Melayu, sepuluh kali hendak dikatakan cinta, sore hendak kuperlihatkan benar-benar, apa yang kukandung dalam hatiku kepada orang itu. Memang sayang sekali, bila perbuatanku akan memutuskan tali persahabatan dan persaudaraan yang sekukuh itu, tapi apa boleh buat. Oh, oh, sungguhkan tak boleh jadi, pergaulan laki-laki dengan perempuan suci dari perasaan yang bukan-bukan itu?”

Yang sangat dimasygulkan pada Hanafi ialah, karena ialah laki-laki yang pertama kali dapat menimbulkan gelombang yang sehebat itu dalam kalbunya, sehingga urat-urat sarafnya sudah tergoyang, tidur tak lelap, sedang makannyapun sudah tak enak.

Tapi sementara itu gusar pulalah ia pada dirinya sendiri, karena waktu menjelang pukul lima itu berasa amat panjang olehnya, hingga ia hampir-hampir tak sabar menantikan hari petang.

“Tentulah aku ingin buru-buru hendak menyatakan perasaanku kepadanya, buat menyurutkan hatinya jangan sampai berharap-harap,” demikian Corrie sudah memberi keterangan atas halnya tidak sabar menanti hari petang itu. “Lebih dari itu tidak. Mustahil aku resah menentikan waktu, sekadar buat berpandangan dengan dia saja! Mustahil!”

Dan sehari-harian itu sudah pula ia melakukan suatu perbuatan, yang tidak pula dapat diterangkannya apa sebabnya ia berbuat demikian. Peti tempat menaruh ‘surat-surat lamaran dari yang gila-gila di Betawi’ sudah dikeluarkannya dari taruhan, lalu dibawanya sekalian surat-surat itu ke dapur dan dibakarnya. Sambil tersenyum, berkatalah ia dalam hatinya:

“Nah! Mudah-mudahan malam ini mereka akan mendapat wahyu, kemana jalannya surat-surat mereka itu. Supaya jangan membuang-buang perangko juga!”

*) Kalau tidak salah, itulah judul bab ini.

Menyelami Jejak Citarum Purba

Oleh : Anggraini “Rini” Lestari

Kenyataan bahwa Kota Bandung adalah sebuah wilayah yang bebentuk cekungan mungkin sudah diketahui banyak orang. Cerita bahwa ribuan tahun lalu cekungan tersebut seluruhnya berisi air dan merupakan Danau Bandung Purba rasanya juga sudah banyak orang yang tahu. Minimal dari cerita legenda Sangkuriang. Tapi berapa banyak orang yang tahu bagaimana danau raksasa tersebut kemudian menjadi surut hingga memungkinkan kita berpijak di dasarnya sampai hari ini?

Sampai 4 hari yang lalu saya sendiri termasuk orang yang tidak tahu. Tapi kemudian perjalanan bersama komunitas Aleut memberi pencerahan tentang asal-usul tanah tempat saya berdiri hari ini. Berkumpul di depan gedung Asia Afrika kami bersiap menuju tempat tujuan NgAleut edisi Senang-Senang (padahal edisi pegal-pegal). Ternyata tujuan NgAleut yang sempat dirahasiakan dan cukup membuat banyak orang penasaran adalah sungai Citarum di daerah PLTA Saguling. Mobil yang mengangkut kami melaju dengan kecepatan sedang menyusuri wilayah Padalarang. Berhenti sejenak disebuah warung nasi untuk membeli nasi bungkus yang menjadi sumber energi terakhir kami sebelum menyusuri Citarum.

Meneruskan perjalanan menuju Rajamandala, kami melewati deretan tagog-apu (perbukitan kapur) yang sebagian besar sudah habis dikeruk para penambang. Ketika melewati wilayah bukit kapur yang luas, Bang Ridwan bercerita bahwa jutaan tahun lalu tempat ini adalah sebuah lautan dangkal. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil hewan laut dan terumbu karang di perbukitan batu kapur.

Beberapa saat kemudian Bang Ridwan menunjuk satu tempat yang merupakan lokasi Gua Pawon. Katanya gua tersebut dulunya merupakan tempat tinggal manusia purba karena pernah ditemukan artefak dan fosil manusia. Sekarang Gua Pawon menjadi tempat wisata dan dilindungi pemerintah daerah. Tetapi sayangnya wilayah sekitarnya tidak dilindungi dan menjadi pemukiman warga. Padahal jika dilakukan penelitian lebih lanjut ada kemungkinan di wilayah sekitarnya juga ditemukan fosil-fosil bersejarah.

Memasuki wilayah PLTA Saguling kami langsung menuju Sanghyang Tikoro, yaitu sebuah gua yang dilewati aliran sungai Citarum. Sebenarnya saya tidak asing dengan nama ini karena dulu pernah mengunjungi kantor PLTA Saguling yang ada di sebelah Sanghyang Tikoro. Tapi Satu-satunya yang saya ingat dari Sanghyang Tikoro adalah bau belerang yang cukup menyengat. Cerita dibalik Sanghyang Tikoro sendiri baru saya tau dari hasil NgAleut ini. Sanghyang Berarti Dewa dan Tikoro berarti Tenggorokan. Jika dilihat dari bentuknya, gua ini memang mirip dengan mulut manusia yang sedang menganga.

 

Gua ini sempat dihubung-hubungkan dengan cerita bobolnya Danau Bandung Purba. Jadi ternyata Danau Bandung Purba menjadi surut karena terjadi kebocoran. Banyak orang percaya bahwa Sanghyang Tikoro ini tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Tapi menurut Bang Ridwan kebocoran Danau Bandung Purba sebenarnya terjadi akibat timbulnya celah antara Pasir Kiara dan pasir Larang. Mitos yang berkembang mengenai Sanghyang tikoro ini apabila ada sesuatu yang masuk kedalamnya, bahkan jika hanya sebatang lidi, maka akan terdengar suara rintihan wanita yang kesakitan, dan Bandung akan kembali tergenang oleh air seperti zaman Sangkuriang. Mitos yang terdengar mengerikan dan tampaknya cukup sukses membuat manusia takut memasuki Sanghyang Tikoro. Tapi mungkin mitos ini mengandung makna agar manusia jangan membuang apapun kesungai bahkan hanya sebatang lidi pun. Karena jika sampah banyak menumpuk disungai maka akan menyebabkan banjir. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan nenek moyang kita ya teman-teman.

 

Selesai melihat Sanghyang Tikoro, kami berjalan menuju Gua purba lainnya yaitu Sanghyang Poek untuk beristirahat sambil menunggu hujan reda. Sanghyang Poek adalah gua yang sangat indah dengan batuan besar yang menjulang.

 

Tapi sayangnya keindahan tersebut dirusak oleh tangan-tangan vandalisme manusia-manusia labil. Pada dinding-dinding gua terdapat banyak coretan-coretan tidak bermakna. Untung ngga nemu tulisan Aleutian were here.

 

Setelah hujan reda, perjalanan panjang menyusuri jejak citarum purba pun dimulai. Aliran sungai sebenarnya relatif kecil karena hulu sungai Citarum purba ini sudah dibendung oleh PLTA Saguling. Tapi batu-batu yang sangat besar dan terjal cukup menyulitkan perjalanan. Ditambah kondisi batu yang licin akibat guyuran hujan. Saya yang awalnya berjalan tegak, lama kelamaan lebih banyak ngesot pake tangan dan kaki untuk melewati batu-batu yang besar dan licin. Perjalanan yang sulit dan melelahkan apalagi sambil membayangkan bahwa kami harus menyusuri jalan yang sama ketika pulang nanti cukup bikin pengen nyerah aja.

 

Tapi semua kelelahan terbayar ketika kami sampai pada tujuan akhir. Genangan air tenang yang bersih dan sangat indah dikelilingi pohon-pohon dan batuan besar. The hidden treasure. Bang Ridwan menjulukinya The Bi*** (pake t,c,h katanya :D). Satu persatu Aleutian mulai turun ke dalam air dan berenang-renang dengan bahagianya. Kesegaran air yang bersih dan sorot mata bahagia teman-teman yang lain sukses menggoda saya untuk ikut turun ke air. And here we are swimming on the Bi*ch together..

 

Selesai menyelami jejak citarum purba kami kembali begegas untuk pulang. Kesegaran air Citarum cukup membantu memulihkan stamina. Sampai di depan kantor PLTA Saguling kami memasuki mobil dan melewati Sanghyang Tikoro. Kembali tercium bau belerang yang sangat menyengat. Selama bertahun-tahun saya menyangka kalau disana memang terdapat kawah belerang. Tetapi kemudian salah satu pegiat Aleut mengatakan bahwa bau tersebut adalah bau limbah yang mencemari Citarum. Informasi yang cukup mengagetkan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan limbah semacam apa dan sebanyak apa yang mampu menghasilkan bau belerang yang sangat menyengat seperti itu.

Lagi-lagi, selalu menyedihkan ketika harus menyaksikan keindahan arus sungai rusak oleh arus modernisasi.

Original post : Here