Sejarah Singkat Organisasi Kasundaan (Part 1)

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

 

SUNDA NGAHIJI

 

Muga sing mulus

muga sing banglus

nembongkeun daya

nembongkeun jaya

anaking sing panjang-punjung

aranjeun sing nanjeur nanjung

makayakeun urang sunda

nyabak hanca nu katunda

 

Kolot mihape

rame ing gawe

ka hareup djeujeuh

ka tukang mejeuh

jadi hulu mangka nyanggut

mangka ngepot lamun buntut

ciriwanci ati hurip

cadu ngandung jawi laip

 

(Majalah sunda – Kandaga Kasustran Sunda, MA Salmun)

 

 

Dalam beberapa acara diskusi tentang kesundaan, selalu saja dikemukakan permasalahan utama yang menghambat kemajuan orang Sunda, salah satunya adalah sulitnya menyatukan orang-orang Sunda dalam satu wadah. Ada banyak analisis yang mencoba mencari penyebab kecenderungan ini, namun ada baiknya kita sedikit meninjau sejarah, sejauh mana usaha urang Sunda untuk bersatu dalam suatu wadah/organisasi pergerakan, dan apakah benar bahwa elit-elit Sunda  sulit untuk dipersatukan? Oleh karena itu dalam tulisan ini sy akan mencoba mengupas sedikit sejarah organisasi kesundaan mulai dari Paguyuban Pasundan hingga yang terbaru, Badan Musyawarah Masyarakat Sunda. Dari tulisan kecil ini diharapkan akan ditemukan pola-pola positif tertentu dalam sejarah pergerakan organisasi Sunda yang dapat diaplikasikan guna mendukung kemajuan organisasi kesundaan modern.

 

Masa Pergerakan – Paguyuban Pasundan

 

Di masa-masa pergerakan politik melawan penjajah di awal abad -20, Organisasi Kesundaan paling terkenal yang mencoba untuk memberi sumbangsih dalam perjuangan kemerdekaan adalah Paguyuban Pasundan. Sepertihalnya Budi Utomo, Organisasi Paguyuban Pasundan lahir dalam lingkungan pribumi elit yang bersekolah di STOVIA. Dari sini, organisasi-organisasi kesundaan turut modern mengikuti pola tersebut, yaitu selalu berasal dari kalangan  elit/menak. Pengagas pendirian Paguyuban Pasundan sendiri adalah DR. Raden H. Djoendjoenan beserta beberapa murid STOVIA asal Sunda lainnya, yang kerap mengadakan pertemuan – pertemuan di antara waktu senggang pelajaran. Pada awalnya ide pembentukan organisasi ini muncul dilandasi oleh kekecewaan akibat kurangnya perhatian Budi Utomo terhadap kepentingan orang Sunda. Dalam pertemuan itu sempat dikemukakan siapa yang nantinya akan mengepalai organisasi ini, ada yang menyebut R. Iskandar Brata, sebagian mendukung D.K.  Ardiwinata  Ardiwinata, dan lainnya mengajukan R. Emoeng Poerawinata.

 

D.K. Ardiwinata

 

Obrolan-obrolan tersebut berujung pada sebuah rapat yang  dilakukan murid-murid STOVIA serta  tokoh-tokoh Sunda di Jakarta di sebuah rumah di gang Paseban Jakarta, yaitu kediaman D. K. Ardiwinata, seorang tokoh Sunda terkemuka. Dalam pertemuan tersebut akhirnya disepakati untuk mendudukan D.K. Ardiwinata sebagai ketua dari organisasi “Pagoejoeban Pasoendan”  ini. Adapun pengurus dari organisasi adalah sebagai berikut :

 

Ketua : Daeng Kandoeroean Ardiwinata (Hoofdredacteur bij de Commisie van de Volkslectuur)

Wakil Ketua : Dajat hidayat (Murid STOVIA)

Sekertaris I : R. Iskandar brata (Pegawai Firma tiedeman en van Kerchem)

Sekertaris II : R. Emoeng Poerawinata, (Schrijver bij de Commisie voor de Volkslectuur)

Bendahara : R. Koesoema Soedjana (Murid STOVIA)

Para komisaris : R. Djoendjoenan (Murid STOVIA), M. Iskandar (Murid STOVIA), M. Ardiwangsa  (Hoofdschatter Gouverments Pandhuis Pasar Senen), M. Sastraprawira) Onderwijzer Inladsche School II Gang Kelinci)

 

Di pertemuan yang diadakan pada hari Minggu tanggal 20 Juli 1913 itu juga disepakati juga bahwa sifat keanggotaan untuk Pagoejoeban Pasoendan tidak hanya bagi orang Sunda, melainkan juga terbuka untuk semua orang pribumi lainnya. Dapat dilihat dari anggaran dasarnya yang disahkan pemerintah berdasarkan keputusan no. 46 tanggal 9 Desember 1914 pada pasal 5 yang menyebutkan “Gewone leden, uitsluitend inlanders” (Anggota biasa, hanya orang pribumi).  Oleh karena itu bisa dilihat keunggulan organisasi ini dibandingkan Budi Utomo yang lebih ekslusif. Ketua PP sendiri, Daeng Kandoeroean Ardiwinata, bukanlah seorang Sunda asli dilihat dari namanya yang mengandung unsur Bugis. Salah satu anggota PP lain, Hoesni Thamrin, yang kelak akan mendirikan perkumpulan sendiri, juga bukan orang Sunda asli. Bahkan dalam perjalanannya, PP berhasil mendirikan cabang-cabang di Surabaya dan Palembang.

 

Perkembangan tersebut bukan berarti PP tidak menghadapi permasalahan. Dalam salah satu suratnya yang bertanggal 17 September 1964 dalam rangka memperingati 50 tahun Haul Paguyuban Pasundan, DR. Raden haji Djoendjoenan menyebutkan bahwa “Yang paling hebat menyerang Paguyuban Pasundan dalam rapat-rapat adalah anggota-anggota Budi Utomo. Terutama saudara Alimin. Tapi jangan diributkan. Siapa tahu nantinya bisa menguatkan tujuan bersama”.

 

Berdasarkan putusan no. 72 Tanggal 13 Juni 1919, Paguyuban Pasundan  merubah anggaran dasar untuk menjadi perkumpulan politik. Terjadi perubahan pengurus, posisi yang tadinya dijabat D.K. Ardiwinata digantikan R. Poeradireja, kemudian dilanjutkan oleh R. Soeria di Radja, serta R. Otto Koesoemabrata.  Pada masa kepemimpinan R. Poeradiredja (1921-1924) PP mulai menempatkan perwakilannya di Volksraad,yaitu R. Kosasih Soeratakoesoemah, seorang Guru pertanian dari Bandung.

 

Ketika R. Otto Kooesoemabrata menjabat ketua PP, beliau turut diangkat sebagai anggota Volksraad. Ketika melepaskan jabatan ketua PP, sisa masa kepemimpinannya dilanjutkan oleh R. Idih Prawira di Poetra. Setelah itu barulah tampuk ketua diisi oleh R. Otto Iskandar di Nata. Dalam kepemimpinannya, ketika kantor pusat masih terletak di Petodjodwarsweg (Batavia), jabatan pengurus PP diisi oleh : Atik Soeardi (Wakil ketua), Moehammad Moehjiddin (Sekertaris), Pradjakoesoemah (Bendahara), R. Loekman Dajadiningrat, R. Moehammad Enoch, R. Enoeh dan R. Ahmad Atmadja (Komisaris). Beberapa waktu kemudian posisi sekertaris digantikan oleh Ir. R. Djoeanda, R. Enoeh oleh E. Soeparman, sedangkan Komisaris ditambah S. Soeradiredja. Ketika kantor pusat Paguyuban Pasundan dipindahkan ke Bandung (Dalem Kaumweg), susunan pengurusnya pun berubah. Ketua tetap R. Otto Iskandar di Nata, Wakil ketua : R.S. Soeradiradja, Sekertaris : Ir. R. Oekar Bratakoesoemah, Bendahara : Wiriaatmadja. Komisaris : R. Moehammad Enoch, R. Loekman Djajadiningrat, E. Soeparman dan R. Ahmad Atmadja.

 

Oto Iskandar di Nata

 

Masih dalam kepemimpinan Otto Iskandar di Nata, Paguyuban Pasundan mencapai puncak perjuangan politiknya ditandai dengan berhasil masuknya wakil-wakil PP dalam dewan rakyat dari tingkat pusat hingga provinsi.  Bidang pendidikan juga turut mengalami kemajuan setelah sebelumnya perintisan pendirian sekolah telah dimulai di awal tahun 20’an, antara lain H.I.S.  (1922) dan M.U.L.O (1928) di Tasikamalaya. Perkembangan ini dilanjutkan dengan pendirian satu lagi H.I.S. di Tasikmalaya dan Bandung, Schakelschool di Kuningan dan Sukabumi, Inheemsche Muloschool dan sekolah Dagang di Bandung dll. Di tahun 30’an, sekolah Paguyuban Pasundan menyebar cepat ke berbagai kota, kawedanan, hingga kecamatan-kecamatan se-Jawa Barat. Bagian khusus yang mengurusi pendidikan ini kemudian bernama Bale Pamulangan Pasundan yang dipimpin oleh Ahmad Atmadja.

 

Di bidang ekonomi, tahun 1934 didirikan Bank Pasundan yang kemudian berkembang menjadi Bale Ekonomi Pasundan yang dipimpin oleh R.S. Soeradiradja. Di bidang politik, organ PP yang khusus menangani ini pertama disebut Papaes Nonoman yang kemudian diganti menjadi “Pasundan”. Tanggal 20 April 1923, organ politik cabang Tasikmalaya mulai mengeluarkan mingguan Sipatahoenan. Pada tahun 1931, kantor Sipatahoenan  dipindahkan dari Tasikmalaya ke Bandung, bertempat di percetakan “Pengharepan” di Oude Kerkhofweg (banceuy), yang kemudian pindah lagi ke Groote Postweg (Jl. Asia Afrika). Setelah tiga tahun, pengurus pusar PP lantas mendirikan “Gebouwen Complex Sipatahoenan’ di jalan Moskeeweg no. 42. Ketua PP berkantor di lantai atas bangunan tersebut, sedangkan percetakan “Pengharepan” di no. 44, dan Kantor pengurus pusat di No. 46. Dari kompleks bangunan inilah kemudian diterbitkan harian “Sepakat” yang berbahasa Indonesia. Bidang-bidang Paguyuban Pasundan kemudian meluas lagi dengan didirikannya organ Adviesbureau, Reclasseering, Raksa Perlaya  dan Pemuda Pasundan.

 

 

Volksraad

 

Pada tanggal 30 April 1930 didirikanlah badan yang lain, bernama Pasundan Istri di Gedung Himpunan Saudara, di jalan Moskeeweg (Dalem Kaum) Bandung. Ketuanya adalah Emma Poeradiredja (anak dari R. Poeradiredja), Sekertaris – Emma Somanagara, Sekertaris II – Komanah Sarkawi, Bendahara – Oetari Satjadidjaja, Anggota –  Salsih Woelan (Istri Dokter Djoendjoenan), Kasomi Atmadinata (Istri Atmadinata), Neno Ratnawinadi (Anak D.K. Ardiwinata), Haningsih Marahdjani, Oeboes Satjadidjaja, dll.

 

Pasundan Istri adalah organisasi pertama yang mendorong pemerintah supaya memberikan hak memilih dan dipilih kepada kaum wanita. Walau sulit, pada 1938 akhirnya pemerintah memberi kesempatan kepada kaum wanita untuk duduk di dewan kotamadya (Stadsgemeenteraden). Pada tanggal 23-27 Juli 1938, Ny. Emma Poeradiredja diamanahkan memimpin Kongres Perempuan Indonesia yang membahas :

 

1. Hak Pilih Wanita

2. Pelacuran di Indonesia3. Kedudukan wanita dalam pernikahan

4. Kedudukan pekerja wanita

5. Pendidikan pemuda-pemudi Indonesia.

 

Kongres ini memutuskan untuk terus mendesak pemerintah guna memberikan hak pilih wanita serta merancang panitia khusus yang memperbaiki kedudukan hukum pernikahan bagi wanita, dipimpin oleh Ny. Sri Mangoensarkoro.

 

Pada akhir tahun 30’an, jumlah perkumpulan wanita di Indonesia mencapai puncaknya yaitu 160 buah. Tapi dari sebanyak itu hanya Pasundan Istri-lah yang berhasil tergabung dalam G.A.P.I. (Gabungan Politik Indonesia). Di masa itu juga, Pasundan Istri juga berhasil membangun 28 buah cabang  dan 3 ranting. Dari semua itu Cabang Bandung dan Tasikmalaya merupakan yang paling besar.

 

(…Bersambung)

 

Di Balik “Kamisan”

Oleh : Candra Asmara Safaka

yang hilang, menjadi katalis, di setiap kamis…(Hilang by Efek Rumah Kaca)

Bagi orang-orang yang berkeyakinan tertentu, hari Kamis merupakan hari saat Tuhan menghujani berkah bagi umatnya. Hari Kamis menjadi hari pilihan umat Islam, biasa bersanding dengan hari Senin. Penganut Islam mengenal puasa “Senin-Kamis”, sedangkan untuk penganut Nasrani mengenal Holy Thursday (Kamis Suci, menjelang paskah), dan bagi orang yang gemar berakronim ria hari Kamis dipecah menjadi satu frase “Kami Sukses”, tentu dengan alasan tertentu. Dengan alasan apapun hari Kamis akan terasa menjadi penting dan bermakna bagi orang-orang yang peduli dan memiliki keinginan.

Saat ini tapi entah sampai kapan, setiap pukul 4 sore di depan Istana Negara kerap dijumpai beberapa orang berbusana hitam-hitam yang berkumpul, bukan untuk merencanakan pergerakan menghancurkan tempat bilyar dan diskotik-diskotik, melainkan untuk “diam”. Mereka adalah keluarga yang ditinggalkan oleh orang-orang tercintanya yang HILANG. Semanggi 1998, Kerusuhan Mei, Peristiwa 1965, dan beberapa kasus kehilangan secara paksa lainnya adalah episode terburuk yang mereka alami di negara yang katanya sudah “merdeka” ini. Suciwati (janda almarhum Munir) pun kerap hadir lengkap dengan payung berwarna hitamnya setiap Kamis sore di depan Istana Negara. Keberagaman tragedi yang menimpa mereka bermuara pada satu tujuan yang sama, yaitu pengusutan kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Setelah aksi “diam”, para aktivis Kamisan melakukan berbagai kegiatan diantaranya sesi “refleksi”. Mereka sharing  mengenai isu-isu hak asasi manusia. Selain itu, hampir setiap Kamisan mereka mengirimkan surat kepada presiden yang isinya mengenai tuntutan untuk menguak tragedi-tragedi hak asasi manusia di Indonesia. Dari puluhan surat yang dikirim, hanya berbalas sepucuk surat yang masih banyak menyisakan tanya yang sampai di tangan orang-orang sakit hati ini.

14 tahun sudah warna hitam di depan Istana Negara mewarnai gelapnya sejarah bangsa ini. Tak hentinya orang-orang yang menyimpan rindu dan marah ini berdiri di depan istana, menuntut satu jawaban yang sama: keadilan. Mereka tak bergeming seteguh besi. Meski keinginan yang tak digubris, meski rasa mustahil untuk pengusutan tuntas semakin menghantui, mereka tetap tak pernah bosan untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak mereka. Keteguhan terlihat dari warna hitam yang mereka pilih sebagai warna pakaian yang wajib dipakai setiap Kamisan.

Aksi ini terinspirasi oleh gerakan perlawanan korban hak asasi manusia di belahan dunia lainnya. Seperti gerakan perempuan Korea selaku korban dari kasus Jugun Ianfu, dan gerakan perempuan Argentina yang anaknya hilang oleh pihak militer Argentina.

Cerita di atas adalah salah satu contoh kegiatan Kamisan berdasarkan keinginan untuk memperjuangkan hak asasi manusia.

Lalu ada apa di balik Kamisan yang lainnya? Nahh, Komunitas Aleut rutin melakukan Kamisan setiap minggunya. Sederhana saja, kegiatan ini untuk para pegiat yang berkeinginan untuk mengakrabkan diri dengan pegiat lain dan juga belajar. Baik itu belajar sejarah, musik, film, dan hal lainnya. Kegiatan ini juga tidak selalu serius dan harus pakai baju hitam-hitam (kecuali untuk M. Ryzki Wiryawan), hehe. Para pegiat datang saja setiap kamis sore ke Kedai Preanger yang terketak di Jalan Solontongan No. 20-D. D.

Kata “belajar” mungkin mengesankan Kamisan Aleut adalah acara yang serius, padahal kenyataannya tidak. Kamisan Aleut ini dikemas dalam bentuk yang sederhana, nyaman, dan penuh canda tawa. Selain menyehatkan jiwa, juga menambah asupan pengetahuan bagi kita.

Ayo teman-teman, ramaikan Kamisan…!

@cas

Upacara dan Nasionalisme

Oleh : Indra Pratama

Kenapa kita upacara?. Apakah upacara itu adalah kewajiban seorang nasionalis?. Bagaimana perjuangan kita untuk berupacara dapat disamakan dengan perjuangan para pahlawan?. Terimakasih banyak untuk pertanyaan Lika yang di forward oleh Bang Ridwan ke saya yang masih lelap di pukul 10.30. Membuat saya berpikir keras tentang apa sih upacara itu, dan bagaimana kita harus menyikapi upacara itu?. Apa harus ikut atau tidak.

Sebuah upacara kenegaraan, seperti layaknya upacara-upacara lain, adalah sebuah ritual. Emile Durkheim mendefinisikan ritual didalam dua kategori, ritual keagamaan dan ritual sekuler. Ritual yang lebih awal merupakan tindakan (actions) untuk menguatkan hubungan antara manusia yang beriman (believer) dengan apa yang ia percayai (god). Namun pada perkembangannya format ini juga dipakai dalam kehidupan sekuler manusia. Dengan tujuan-tujuan tertentu, para pemimpin masyarakat membawa format ritual keagamaan dalam mentransformasi “the chaotic crowd” menjadi “a mass movement“. Dengan kata lain, mengindoktrinasi tujuan society yang dirumuskan para pemimpin kepada para anggota society sebagai setu set kepercayaan umum (shared beliefs), baik secara logis maupun mistik.

Dalam menanamkan kultus kepada anggota masyarakat, dilakukanlah upacara di tempat-tempat yang sakral, dengan dikelilingi oleh objek-objek yang secara historis simbolik masyarakat itu, seperti bendera, senjata-senjata keramat, lagu, doa, kenangan bagi para pendahulu/pahlawan, dan lain-lain. George L.Mosse menyebut prosesi itu sebagai “convey a clearly defined cult to the faceless masses“. Dimana ditanamkanlah identitas masyarakat, serta tujuan dan kepercayaan bersama, yang tentunya dirumuskan oleh para founding fathers.

Dalam konteks nasionalisme, upacara menjadi sangat penting karena fokus aliran ini pada identitas “nation” (menurut World Book Dictionary : sekumpulan manusia yang berbagi wilayah dan berda dibawah satu pemerintahan, dan biasanya memiliki persamaan bahasa, ras, garis keturunan, dan sejarah). Nation, atau sekarang identik dengan bentuk nation-state (negara), memiliki landasan, pedoman, dan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu oleh para elit. Para nasionalis tentunya akan memperjuangkan kepentingan nasional mereka, dimana indoktrinasi kepentingan nasional menjadi sesuatu yang menguntungkan. Dan upacara kenegaraan tentunya bisa menjadi arena indoktrinasi yang baik, sekaligus pengikat secara sosial antar rakyat dengan negara.

Upacara bendera seperti yang dilakukan pada 17 Agustus, maupun upacara mingguan, menjadi sarana bagi Indonesia untuk mempererat lagi hubungan antara negara (konsep, bukan orang-orang) dengan rakyat. Dimana para peserta menghormat kepada bendera, dibacakan Pancasila sebagai dasar negara dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstituante, mengenang dan mendoakan para pahlawan, wejangan pembina upacara, serta berdoa untuk kepentingan bangsa. Disinilah para peserta upacara didekatkan lagi dengan Indonesia secara simbolik-historis (bendera, mengenang dan mendoakan para pahlawan), diingatkan lagi akan landasan-landasan negara (Pancasila dan UUD 1945), diberi informasi tentang kondisi terkini (wejangan pembina upacara), serta harapan negara di masa yang akan datang (doa).

Disinilah kita sebagai warga Indonesia bisa memilih, antara menjadi nasionalis dengan berupacara, dimana identitas kebangsaan kita akan selalu diingatkan tertanam, dan lebih memungkinkan segala perbuatan kita selepas upacara akan didedikasikan pada kemajuan Indonesia. Ataukah kita tipe orang realis nation-centric yang selalu ingat akan sejarah, dasar, pedoman, tujuan dan segala identitas kebangsaan dan memilih untuk melakukan sesuatu yang less-symbolic untuk kemajuan bangsa dan negara. Menurut saya dua-duanya tidak ada yang lebih baik, semua baik, tergantung bagaimana kapasitas otak kita, pilihan sikap kita, kemauan kita untuk berbuat,lingkungan sosial upacara, dan kondisi tubuh dan cuaca.

Sikap saya?. Bagi saya upacara memiliki kelebihan, dimana para peserta dimungkinkan untuk berinteraksi secara moral dengan sesama anggota masyarakat lainnya, dimana kita secara psikologis mendapat keuntungan dengan mengetahui bahwa orang-orang yang ada di sekeliling kita juga ditanamkan hal yang serupa. Tapi karena telat bangun seperti hari ini, saya mencoba mendoktrinasi diri dengan menonton televisi, browsing internet, dan mengumpulkan doktrin-doktrin yang biasa disampaikan di upacara dan berusaha membagi pemikiran saya yang rapuh ini kepada teman-teman. Menurut saya itu pilihan yang tidak bisa dibilang buruk. Karena sekecil apapun tindakan kita, selama lebih menguntungkan buat bangsa kita, tentunya sifat nasionalis sudah ada pada kita, meskipun tentunya tindakan besar jauh lebih baik. Eh iya, tidur saya itu bukan pilihan saya, melainkan murni lalainya saya.

Sumber :

  • Mosse. George L.. 1975. The Nationalisation of the Masses. New York: Howard Fertig
  • Durkheim, Emile. 1915. The Elementary Forms of the Religious Life.
  • Uzelac, Gordana. 2009. National ceremonies: the Pursuit of Authenticity (Jurnal). Dimuat di Ethnic and Racial Studies. Department of Applied Social Sciences, London Metropolitan University.
  • Smith, Anthony D. 1993. National Identity. Reno: University of Nevada Press.
  • Tim Purna Paskibraka Indonesia Kabupaten Tasikmalaya. 2008. Tata Upacara Bendera (TUB). Dimuat di http://ppikabtasikmalaya.wordpress.com/aturan-tata-cara/tata-upacara-bendera-tub/ diakses 17 Agustus 2011.

Yang Muda Yang Memaksa : Golongan Muda dalam 17 Agustus 1945

Oleh : Indra Pratama

Orang tua dan anak muda itu seringkali seperti dua sisi rel kereta, selalu berdampingan berjalan, tujuannya sama, jalannya tidak pernah bertemu satu sama lain.

Pendudukan Jepang semenjak tahun 1942 adalah sebuah revolusi yang kasar. Sistem penghisapan darah yang berkedok kehalusan dan keteraturan selama kurang lebih 140 tahun yang dijalankan kolonial Hindia-Belanda dengan waktu yang cepat berganti dengan penghisapan darah yang nyaris tanpa kedok. Propaganda “Saudara Tua” ataupun 3A tidak bisa disebut topeng, hanya riasan yang cukup tebal, yang terhapus dalam hitungan hari. Sistem yang samasekali baru langsung berlaku. Sistem kepemilikan, sistem pendidikan, sistem bahasa, sistem kependudukan, sistem militer, dan sistem moral dan susila diganti seolah hanya tinggal merobek lembaran kertas dan menulis yang baru dengan pensil. Seluruh kebutuhan wilayah kolonial dibebankan pada rakyat, sementara raga pemerintah kolonial Jepang sedang berkonsentrasi bersenyum sapa dengan Adolf Hitler dan Benito Mussolini.

Dalam kondisi aneh tersebut, para pegiat pergerakan mengambil caranya masing-masing dalam mempertahankan visi dan misi mereka. Tan Malaka, menceburkan diri dalam kesedihan para pekerja pabrik sepatu di Kalibata dan Cililitan, menghasilkan MADILOG, dan lalu beranjak ke Bayah, Banten Selatan untuk mendekatkan diri pada salahs atu kehidupan paling menyedihkan, kehidupan para Romusha. Sedangkan Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Mas Mansyur menyiasati kekejaman Jepang dengan mengambil langkah kooperatif, berkarya di organisasi-organisasi Jepang, yaitu Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), dan kemudian Jawa Hokkokai. Tapi kemanakah Sutan Sjahrir?.

Sjahrir ternyata memiliki pandangan lain dalam menyiasati keadaan pendudukan Jepang. Di masa pendudukan Jepang, secara mencolok para pemuda diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan yang berbau militeristik Jepang. Penduduk laki-laki usia muda, baik yang tidak bisa membaca hingga para mahasiswa tak luput dari “ajakan” Jepang untuk berlatih secara militer. Arus propaganda yang terlalu deras diinfiltrasikan Jepang pada pemuda-pemuda ini menghasilkan kemuakan ideologis dan fisik pada para pemuda. Sjahrir memanfaatkan kejenuhan para pemuda, dan menyulap kemuakan itu menjadi perasan dan pemikiran-pemikiran yang kritis, yang berujung pada gerakan-gerakan bawah tanah para pemuda.

Gerakan-gerakan itu terpusat di Jakarta, di asrama-asrama mahasiswa. Ada gerakan di Asrama Mahasiswa Kedokteran, Asrama Angkatan Baru Indonesia, dan kemudian menyusul Asrama Indonesia Merdeka. Asrama Mahasiswa Kedokteran secara ideologis dekat dengan Sjahrir, berhaluan sosial-demokrat dan tidak setuju dengan tindakan kooperasi pergerakan dengan pemerintah Jepang.

Sedangkan Asrama Angkatan Baru Indonesia yang berpusat di Jl.Menteng 31 adalah gerakan yang berasal dari bentukan Departemen Propaganda Jepang, tetapi oleh para anggotanya diselewengkan, sehingga memiliki ciri pergerakan yang progresif dan beragam. Kursus-kurusus tentang nasionalisme yang diberikan Jepang kepada asrama ini justru menjadi bekal pemikiran nasionalisme Indonesia mereka. Soekarno dan Hatta pun pernah menjadi “kompor” bagi asrama ini. Tokoh-tokoh asrama ini adalah Chairul Saleh, Sukarni, Dipa Nusantara Aidit, dan Lukman. Asrama ini menjalin kerjasama dengan para pemuda yang lebih senior, seperti Adam Malik, B.M. Diah, serta Anwar dan Harsono Tjokroaminoto.

Satu pusat kegiatan pemuda yang menarik adalah Asrama Indonesia Merdeka. Asrama ini didirikan pada bulan Oktober 1944 oleh Laksmana Tadashi Maeda. Asrama ini dipimpin oleh Subardjo dan Wikana, serta Sjahrir sebagai mentor. Apa yang mendasari Maeda mendirikan asrama ini dan kemudian terlibat banyak dalam kemerdekaan Indonesia masih menjadi pertanyaan dan memiliki banyak versi jawaban. Asrama Angkatan Baru Indonesia dan Asrama Indonesia Merdeka kemudian menjalin hubungan kerjasama yang erat. Banyak anggotanya yang menjadi anggota rangkap di kedua asrama.

Pada pertengahan 1944 Jepang memaksakan mendirikan organisasi pemuda bernama Angkatan Muda, dan memaksa para pemuda untuk ambil bagian didalamnya, dengan tujuan untuk mengontrol pergerakan politik para pemuda. Di Jakarta Sukarni dan Chairul Saleh dipaksa menduduki tempat pimpinan. Namun paksaan hanya akan mendorong dendam menjadi lebih besar. Kemudian terbukti bahwa para anggota Angkatan Muda tidaklah melunak, bahkan semakin keras dan radikal. Hal itu dibuktikan bahwa dalam Kongres Pemuda di Bandung tangal 18 Mei 1945, yang diprakarsai oleh Jepang melalui paksaan terhadap Angkatan Muda, malah menjadi wadah para pemuda seluruh Nusantara untuk bersatu dan berkonsensus dengan dua buah resolusi. Yang pertama, “Semua kelompok Indonesia harus dipersatukan di bawah satu pimpinan” dan yang kedua : ” Dan kemerdekaan Indonesia harus secepat mungkin menjadi kenyataan.”. Kemudian dicapai pula kesepakatan bahwa kongres ini akan disambung dengan kongres-kongres daerah yang dipimpin oleh para utusan daerah masing-masing yang hadir pada Kongres Pemuda ini.

Setelah kongres, gerakan para pemuda makin politis. Pada 15 Juni 1945 gabungan para pemuda Angkatan Muda membentuk gerakan sampingan yang idealis bernama Angkatan Baru, dan berperan sebagai kelompok politik ilegal. kelompok ini dipimpin B.M. Diah, Sukarni, Chairul Saleh, Anwar dan Harsono Tjokroaminoto dan Pandu Kartawiguna. Haluan kelompok ini jauh lebih radikal dari gerakan apapun yang pernah mereka lakukan sebalumnya. Dan menyulut Jepang untuk melarang setiap konperensi apapun dari kelompok ini.

Haluan pergerakan membuat para pemuda ini menemui jurang perbedaan dengan golongan pemimpin tua. Mereka menginginkan bahwa kemerdekaan harus dicapai sendiri tanpa bantuan Jepang, sementara para pemimpin tua lebih memilih mempersiapkan kemerdekaan dengan persetujuan Jepang melalui Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan. Mungkin mereka lupa bahwa pada awal pergerakan mereka ada peran penting dari Laksamana Maeda.

Ketika tersiar kabar bahwa Jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, para pemuda langsung mencari keberadaan Soekarno dan Hatta, untuk memanfaatkan keadaan vacuum of power ini untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tapi rupanya mereka harus menunggu dwitunggal pulang dari Dalat. Mereka pun mencegat Soekarno-Hatta di bandara dan memberitahukan kabar tersebut. Hatta mencoba mengkroscek kebenaran berita tersebut ke berbagai sumber, dan dia mendapat jawaban positif. Namun Soekarno-Hatta sebagai pimpinan BPUPKI (yang telah berubah nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia /PPKI) tentunya harus menyelenggarakan rapat PPKI dahulu sebelum memutuskan proklamasi akan dilaksanakan. Dan jawaban itu menimbulkan kekecewaan para pemuda.

Mereka lalu mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta. Rapat dilaksanakan pada tanggal 15 agustus 1945, pukul 20.30 waktu Jawa. Rapat yang dipimpin oleh Chairul Saleh itu menghasilkan keputusan ” kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantungkan pada orang dan negara lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakan perundingan dengan golongan muda agar mereka diikut sertakan dalam pernyataan proklamasi.” Keputusan rapat itu disampaikan oleh Wikana dan Darwis pada pukul 22.30 waktu Jawa kepada Soekarno di rumahnya, Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Kedua utusan tersebut segera menyampaikan keputusan golongan muda agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa menunggu hadiah dari Jepang. Tapi darah muda yang menggelegak membuat penyampaian keputusan itu disertai dengan ancaman bahwa akan terjadi pertumpahan darah jika Soekarno tidak menyatakan proklamasi keesokan harinya. Hal itu tidak menggoyahkan pendirian Soekarno-Hatta, yang bahkan menantang balik para pemuda apakah mereka mampu menjalankan proklamasi itu oleh mereka sendiri. Wikana dan Darwis yang menyadari bahwa proklamasi membutuhkan Soekarno-Hatta, akhirnya terpaksa pulang dengan kecewa.

Darwis dan Wikana pulang menuju Jl.Cikini 71, dimana para pemuda berkumpul. Sampai sana mereka melaporkan tanggapan Soekarno-Hatta. Lalu  kembali menggelar rapat dini hari itu juga. Selain dihadiri oleh para pemuda yang mengikuti rapat sebelumnya, rapat ini juga dihadiri juga oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dr.Muwardi dari Barisan Pelopor dan Shudanco Singgih, Daidan PETA Jakarta Syu. Rapat ini membuat keputusan “menyingkirkan Soekarno dan Hatta ke luar kota dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang”. Untuk menghindari kecurigaan dari pihak Jepang, Shudanco Singgih mendapatkan kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut.

Sekita pukul 3.30 pagi harinya, para pemuda telah menyiapkan dua buah mobil. Satu mobil untuk ‘menjemput’ Soekarno, satu mobil lagi untuk menjemput Moh.Hatta. Kira-kira sehabis sahur tim penjemput Soekarno telah mencapai Pegangsaan Timur 56. Dan berhasil membawa Soekarno, yang disertai Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra.Setelah bertemu dengan mobil yang membawa Hatta, di Jatinegara, kendaraan pembawa diganti dengan dua kendaraan PETA, agar mudah lolos dari pemeriksaan militer Jepang, dan Soekarno lalu lanjut lagi kearah Karawang, hingga tiba sekitar pukul 6.30 pagi di kantor PETA Chudan Rengasdengklok. Oleh Sukarni dan Singgih yang telah menunggu, Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur dibawa ke rumah milik Djiau Kie Siong, seorang petani Tionghoa.

Tak lama setelah itu, mereka kedatangan beberapa tokoh, antara lain Mr.Soebardjo. Setelah kedatangan Soebardjo, para pemuda pun mohon ijin masuk rumah untuk berunding, lagi-lagi tentang waktu proklamasi kemerdekaan. Argumen para pemuda bahwa proklamasi harus dilakukan secepatnya, didukung oleh fakta terbaru bahwa tanggal 15 malam Jepang sudah mengeluarkan keputusan untuk melucuti senjata PETA. Dan jika PETA terlanjur dilucuti, maka tak ada jaminan perlindungan atas proklamasi dan para proklamator itu sendiri ketika nanti seandainya terjadi gonjang-ganjing pasca proklamasi. Hingga akhirnya Soekarno menyetujui bahwa esok hari, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 proklamasi akan diproklamirkan. Menjelang ashar, rombongan Soekarno-Hatta dibawa kembali menuju Jakarta.

Wikana, A.M. Hanafi, Pardjono, Pandu Kartawiguna, Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar lalu menyusun rapat singkat. Masing-masing membagi tugas untuk persiapan penyelenggaraan proklamasi. Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar bertugas menghubungi kantor berita Domei dan kantor Radio Hosokioku. Pardjono mengurus stensil dan penyebaran kabar proklamasi kemerdekaan.  Sementara itu Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Soekarno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. Wikana pulalah yang mengatur agar para Kaigun (Angkatan Laut Jepang) untuk tidak mengganggu jalannya proklamasi. Melalui perantara Subardjo, Wikana memang punya hubungan luas di kalangan Jepang, tidak terkecuali di kalangan intelijen Kaigun.

Setelah tiba, Soekarno mendapat kabar bahwa Jepang berkhianat, dan akan menyerahkan Indonesia kepada Sekutu. Beliau pun secara kilat menyusun jadwal rapat penyusunan proklamasi dengan PPKI,dengan mengambil tempat di rumah Laksamana Maeda, untuk menghindari kecurigaan Jepang, dengan para pemuda diperbolehkan ikut ambil bagian. Sebelum rapat, pukul 22.00 Soekarno-Hatta disertai Laksamana Maeda berangkat ke tempat Letjen Yamamoto Moichiro selaku pimpinan militer Jepang untuk mengkonfirmasikan kekalahan Jepang serta melaporkan akan adanya proklamasi esok hari. Moichiro, yang berencana menyerahkan Indonesia pada sekutu memerintahkan agar rencana kemerdekaan ditunda. JSoekarno-Hattayang kecewa walk out dari ruangan. Uniknya Maeda pun mempertaruhkan karirnya setelah ia pun ikut walk out dari ruangan itu.

Para pemuda yang sudah berkumpul dan berjaga di rumah Maeda beserta para anggota PPKI, menunggu datangnya konfirmasi dari Soekarno-Hatta. Setelah Soekarno-Hatta tiba membawa kabar genting dari Jepang, penyusunan teks proklamasi yang singkat pun dilakukan, karena tak ada seorang anggota PPKI pun yang membawa naskah teks proklamasi yang telah dirumuskan sebelumnya dalam rapat PPKI tanggal 22 Juni 1945. Penyusunan teks singkat ini dilakukan di ruangan yang terpisah oleh Soekarno-Hatta, Soebardjo, Sukarni, dan Sayuti Melik.

Setelah naskah selesai, Soekarno-Hatta meminta semua yang hadir untuk menandatangani naskah tersebut, namun entah apa yang mendasari para haridin, khususnya para pemuda, enggan mencatatkan diri dalam sejarah bangsa dengan menolak menandatangani naskah tersebut, dan meminta agar Soekarno-Hatta yang menandatanganinya atas nama Bangsa Indonesia.

Dan keesokan harinya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan.

Peran golongan muda ini berlanjut hingga masa setelah kemerdekaan. Sukarni membentuk Comite Van Aksi (semacam panitia gerak cepat) pada 18 Agustus 1945 yang tugasnya menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh Indonesia, dan membantu konsolidasi golongan-golongan di Indonesia melalui pembentukan API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan BBI (Barisan Buruh Indonesia) serta lalu aktif di gerakan oposisi Persatuan Perjuangan bersama Tan Malaka tahun 1946. Setelah Persatuan Perjuangan dibubarkan ia aktif di partai MURBA sejak tahun 1948 sampai ketika MURBA dibekukan tahun 1965. Sukarni pernha menduduki kursi konstituante, hasil pemilihan umum 1955, juga pernah menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Republik Rakyat China tahun 1961-1964, dan di akhir karirnya duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung tahun 1967 dibawah Orde Baru, hingga wafat tanggal 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Sedangkan Wikana yang setia pada jalur pemikiran politik kiri, bertualang di berbagai gerakan politik dan kepemudaan, mulai dari Partai Nasional Indonesia pada Agustus 1945, Angkatan Pemuda Indonesia di tahun yang sama, membentuk Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) juga di tahun yang sama hingga terpilih sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda dalam Kabinet Sjahrir dan Amir Sjarifuddin I dan II. Pernah pula menjadi Gubernur Militer Surakarta pada masa Kabinet Hatta, untuk kemudian aktif bersama Partai Komunis Indonesia dibawah Aidit, Lukman dan Njoto. Pada peristiwa 30 September 1965, Wikana sedang mewakili PKI menghadiri perayaan hari Nasional Cina 1 Oktober 1965. Kemudian ia pulang ke Indonesia pada 5 Oktober dan tiba di Jakarta pada 10 Oktober 1965 dan langsung diciduk dan ditahan selama dua hari, dipulangkan, dan dijemput lagi pada 9 Juni 1966 di rumahnya di Jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat, dan hilang tak berbekas.

Chairul Saleh sendiri aktif di pemerintahan pasca proklamasi. Ia tercatat menduduki beberapa jabatan kenegaraan seperti Menteri Negara Urusan Veteran di Kabinet Djuanda (1957), Menteri Muda Perindustrian Dasar dan Pertambangan, Kabinet Kerja I (1959-1960), Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan, Kabinet Kerja II dan Kabinet Kerja III (1960-1963), Wakil Perdana Menteri III, Kabinet Kerja IV dan Kabinet Dwikora I (1963-1966) dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (1960-1965). Pasca peristiwa 30 September 1965, Chairul Saleh termasuk yang ditahan tanpa alasan resmi oleh pemerintah, dan meninggal dalam status tahanan tahun 1967.

Sumber :

Titik Nol Kilometer Bandung

Oleh : Arya Vidya Utama

Sesuai janji, saya lanjutkan ke seri berikutnya. Kali ini tentang Titik Nol Kilometer Bandung, yang merupakan salah satu trademark kota yang memiliki sebutan Kota Kembang.

Semua orang tentu sudah tahu siapa Herman Willem Daendels.

Ya, dia adalah Gubernur Jendral Hindia Belanda yang mempunyai mega proyek jalan raya pos dari Anyer hingga Panarukan. Daendels ditunjuk menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda oleh Raja Perancis, karena saat itu Belanda sedang dikuasai Perancis. Sekitar 30.000 pribumi terbunuh dalam mega proyek tersebut, jumlah yang sangat banyak. Walaupun terkenal dengan kekejamannya, Daendels merupakan orang yang punya jasa dalam pembangunan Kota Bandung.

Sebenarnya kalau kita perhatikan, jalan raya pos Anyer-Panarukan itu membentang di sekitar pantai utara Pulau Jawa, namun mengapa jalan tersebut belok ke daerah Bandung? Karena pada saat itu hasil bumi dari Priangan sangat banyak, dan dibelokan karena jalan ini juga mempunyai fungsi untuk mengangkut/jalur distribusi hasil bumi tersebut.

Lalu mengapa di tempat itu dijadikan titik nol kilometer Bandung? Jalan raya pos (groote postweg) di daerah Bandung harus membelah sungai Cikapundung, maka dibangunlah sebuah jembatan untuk menghubungkan jalan tersebut. Pada hari peresmiannya, Daendels bersama Wiranatakusumah II, yang menjabat sebagai Bupati Bandung saat itu, sedang berjalan ke arah timur. Lalu pada suatu titik, Daendels menancapkan tongkatnya dan berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd”, yang kurang lebih artinya “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”. Seperti yang kita ketahui, Bandung, pada tahun 1800-an awal, belum menjadi sebuah peradaban seperti Batavia atau Cirebon.

Tak lama setelah kejadian tersebut, terbitlah sebuah surat perintah yang isinya meminta perpindahan Ibu Kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke sisi Groote Postweg. Dan tempat dimana konon Daendels menancapkan tongkatnya dijadikan titik nol kilometer Bandung.

Namun setelah Bandung menjadi sebuah kota, konon (lagi) Daendels tidak pernah kembali ke Bandung, karena pada saat itu masa jabatan Daendels di Hindia Belanda sudah habis dan diganti.

Dan, apa ada hubungan antara titik nol kilometer Bandung dengan stoom walls yang ada di gambar atas? Jawabannya tidak, hanya kebetulan saja karena kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat berada di depan titik nol kilometer Bandung :D

Tambahan:

Tanda “CLN 18″ pada tugu menunjukan bahwa kota/daerah terdekat ke arah timur adalah Cileunyi, dengan jarak 18 km. Sedangkan “PDL 18″ menunjukan bahwa kota/daerah terdekat ke arah barat adalah Padalarang dengan jarak 18 km.

Dikutip dari data Komunitas Aleut!

Original Post : http://aryawasho.wordpress.com/2011/08/11/titik-nol-kilometer-bandung/

Cerita Pasang Surutnya Bioskop Majestic Bandung

Oleh : Arya Vidya Utama

Sesuai janji kemaren, sekarang saya mau lanjutin pengalaman sekalian bagi ilmu tentang pemanduan sebelumnya. Dan… *jengjreng*

Majestic Bioscoop

Dibangun pada tahun 1924, didesain oleh C.P. Wolff Schoemaker dan dikerjakan oleh Biro Arsitek Soenda. Terletak di Bragaweg (Jalan Braga), bioskop ini masih ada hubungan dengan bangunan di sebelahnya, Societeit Concordia (sekarang Museum Konprensi Asia-Afrika, telah dibahas disini) sebagai sarana hiburan tambahan orang-orang yang berkumpul disana. Bagian atas dari bangunan ini menyerupai kaleng biskuit, yang membuat bioskop ini disebut juga Bilken trommel. Sebagaimana pada umumnya bangunan yang dibangun oleh C.P. Wolff Schoemaker, bangunan ini bergaya Eropa namun juga memiliki ornamen Nusantara yaitu kala.

Kursi bagi penonton didalamnya dibuat bertingkat, mirip seperti bioskop di masa sekarang, namun perbedaan tingkat tempat duduk akan membedakan harga tiket masuknya. Semakin bawah posisi tempat duduk, semakin murah harganya. Sedangkan harga tiket paling mahal berada di balkon. Posisi duduk di balkon pun cukup eksklusif, karena para penonton yang membayar untuk menonton di balkon akan  diposisikan seperti di café. Hal yang cukup unik adalah letak duduk bagi lelaki dan perempuan dipisahkan di sisi kanan dan kiri bioskop, meskipun bagi para pasangan yang telah menikah aturan ini dilanggar juga.

Pertunjukkan diadakan hanya pukul 19.30 dan 21.00. Mendekati saat tersebut, pelataran bioskop biasanya sudah ramai oleh berbagai kegiatan, mulai dari pedagang yang menawarkan barangnya hingga orkes yang disewa bioskop untuk memainkan lagu-lagu gembira penarik perhatian. Menjelang film dimulai, orkes mini yang biasanya terdiri atas alat musik biola, gitar, chelo dan tambur ini pindah ke dalam bioskop, untuk memberikan musik latar pada film yang dimainkan. Pertengahan tahun 20-an film bicara belum dikenal di Bandung, sehingga film harus ditingkahi oleh musik orkes beserta seorang “komentator”. Pemain-pemain orkes kerap ikut menjadi terkenal, selain karena ditonton banyak orang, juga skill musik yang dimiliki umumnya cukup tinggi. Maklumlah, permainannya harus sangat disesuaikan dengan cerita yang tengah berlangsung di layar

Film yang diputar, jangan harap berjalan selancar sekarang. Proyektor yang ada hanya cukup untuk memutar satu reel film, yaitu rol film sepanjang sekitar 300 m. dengan durasi 15 menit. Bayangkan saja untuk film sepanjang satu setengah jam pastilah harus ada jeda lima kali sepanjang beberapa menit untuk mengganti reel. Untuk mengisi waktu, biasanya ditayangkan slide -waktu itu populer dengan sebutan “gambar mati”- reklame dari rekanan bioskop.

Sama seperti gedung Societeit Concordia, di bangunan ini juga terdapat tulisan “Verbodden voor Honder en irlander” (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi).

Pada tahun 31 Desember 1926, bioskop ini juga memutar film lokal pertama di Hindia Belanda, yaitu “Loetoeng Kasaroeng”  yang diproduksi oleh NV Java Film Company. Film ini diputar hingga 6 Januari 1927. Film ini dibuat di sekitar Bandung dan Padalarang, pemeran-pemeran di film ini merupakan pribumi  terpilih dari golongan priayi yang berpendidikan.

Namun, karena sutradara film ini berkebangsaan Belanda, film ini tidak dianggap sebagai film pertama di Indonesia (Hindia Belanda merupakan sebutan bagi Indonesia saat masih dibawah kependudukan Belanda).

Setelah masa kemerdekaan, gedung ini juga masih berfungsi sebagai bioskop bagi masayarakat Indonesia. Namun seiring bermunculannya bioskop-bioskop modern, pada tahun 80-an Majestic mulai ditinggalkan, dan hanya segelintir orang yang menonton sampai pada akhirnya bangunan ini tidak berfungsi sebagai bioskop lagi.

Sempat terbaikan, pada 2002 Majestic direvitalisasi menjadi gedung pertemuan dan berganti nama menjadi Asia Afrika Cultural Centre (AACC). Selain sebagai tempat pertunjukkan kesenian tradisional, gedung ini juga disewakan untuk kegiatan lainnya. SMA saya (SMA Negeri 5 Bandung) sempat mengadakan pra-event bazaar disini pada tahun 2007. Tidak hanya itu, karena kurangnya ruangan/tempat bagi musisi lokal untuk berkreasi, gedung ini juga digunakan sebagai tempat konser. Dan yang memilukan, pada 9 Februari 2008, 10 orang meninggal saat menonton konser band Beside di gedung ini.

Setelah mati suri semenjak kejadian tersebut, akhirnya gedung ini kembali direvitalisasi menjadi New Majsetic pada tahun 2010.

Referensi:

http://historicalofbuilding.blogspot.com/2010/12/gedung-new-majestic-aacc.html

Data dari Komunitas Aleut!

http://www.arsitekturindis.com/?p=42

http://www.syukrie.co.cc/2011/01/sejarah-film-bioskop-di-indonesia.html

http://www.pikiran-rakyat.com/node/144277

http://dedidude.multiply.com/journal/item/66/KRONOLOGIS_TRAGEDI_KONSER_BESIDE_DI_AACC_BANDUNG_dari_Eben_BK

Orginal Post : http://aryawasho.wordpress.com/2011/08/02/cerita-pasang-surutnya-bioskop-majestic-bandung/

Guratan Sejarah Melalui Cihapit

Oleh : Nia Janiar

Mungkin keluarga Simangunsong–yang mencetak Dewi Lestari, Arina Mocca, atau Imelda Rosalin–pernah memiliki kesan tersendiri pada pasar tradisional Cihapit karena menghabiskan masa kecilnya di sana. Ada keluarga lain yang juga makan nasi rames Cihapit, lotek di gang dekat masjid, atau juga makan kupat tahu Galunggung yang masih berkiprah hingga sekarang. Lorong-lorong bisu yang bertahun-tahun terbangun ini menjadi saksi bisu orang-orang Bandung yang tumbuh dan berkembang.

Sejarah Bandung tidak hanya kawasan Braga atau Asia-Afrika yang ramai diceritakan karena penuh bangunan tua. Kawasan Cihapit dan rumah saya (Taman Pramuka) juga memiliki nilai sejarah. Bangunan tuanya berupa rumah-rumah, bukan gedung megah layaknya di daerah Alun-Alun Bandung. Namun siapa sangka rumah-rumah itu juga menyimpan cerita yang lebih mengerikan.
Bang Ridwan–si pencerita sejarah Bandung dari Komunitas Aleut!– mengatakan bahwa Cihapit dulu dikenal sebagai Bloemenkamp. Saat penjajahan Jepang, wilayah ini dikelilingi kawat karena rumah-rumah di sini dijadikan kamp konsentrasi orang Eropa yang ditahan dan dikumpulkan. Satu rumah bisa mencapai 20 keluarga. Jika mereka keluar, bisa ditembak mati oleh warga Jepang, sehingga wilayah ini (juga Jalan Cibeunying dan Jalan Mangga dikenal sebagai rumah hantu). Karena untuk anak, wanita, dan pria itu berbeda, maka warga menciptakan gorong-gorong bawah tanah agar bisa saling berkomunikasi.
Ini yang saya dapat informasinya mengenai Bloemenkamp dan sekitarnya. Foto dan tulisan dari Komunitas Aleut!
Kawasan Cihapit pernah memiliki masa-masa kelam, tepatnya ketika kawasan tersebut difungsikan sebagai salah satu lokasi Interniran terbesar di Bandung. Dikenal juga sebagai kamp Bunsho II, Kamp Tjiapit ditujukan untuk menampung tawanan wanita, orang-orang tua dan anak-anak Belanda. Pada saat dibuka pada 17 November 1942 penghuninya sekitar 14.000 orang, dan ketika ditutup pada Desember 1944 penghuninya sekitar 10.000 orang dipindahkan ke berbagai kamp di Jakarta, Bogor dan Jawa tengah. Tercatat sekitar 243 korban pernah meninggal di Kamp ini.
Dalam kamp ini tawanan menempati rumah-rumah dan bangunan lain yang dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan gedek (bilik). Komandan Kamp antara lain Mr. Boenjamin, Mr. Arsad, Kapten Susumu Suzuki, Letnan Ryoichi Takahashi. Kepala penjaga: Muroi, Otsuka, Hashimoto, Nada, Yashuda, Shirakawa. Pengawasan kamp dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam Heiho.
Pada bulan Agustus 1943 di Bagian barat dari kawasan ini didirikan kamp baru yang disebut Bloemenkamp.
Sedangkan foto-foto di bawah adalah kawasan Cihapit sekarang. Selain merupakan bagian sejarah Bandung, Cihapit juga bagian dari sejarah saya karena ia berkontribusi sebagai tempat yang sering saya kunjungi ketika saya kecil. Tidak ada perubahan yang signifikan, hanya keadaan pasar yang lebih teratur oleh kios-kios baru serta kebersihan yang terbilang baik untuk sebuah pasar.

Dari peta cokelat di atas, rumah saya berada di sekitaran Oranje Plein (yang juga disebut Kapiteinhill). Informasi lebihnya belum saya dapatkan mengenai kawasan ini. Namun kemarin ada bocoran dari Bang Ridwan bahwa Jalan Riau, jalan yang panjang yang membelah peta tersebut, merupakan perbatasan Bandung. Jadi, tulisan Luchtdoel itu (mungkin kisaran Gandapura) adalah Bandung. Sedangkan Oranje Plein ke Houtman Straat adalah luar kota Bandung.

Biasanya pembangunan villa dilakukan di kawasan luar kota Bandung. Jadi, rumah saya dulu itu merupakan sebuah villa–kawasan elit dari dulu hingga sekarang. Hm, bukan elit kali ya … karena kalau mendengar kata elit, saya membayangkan kawasan Kemang atau Menteng Jakarta. Karena bentuk dari rupa kawasan Taman Pramuka jauh dari itu. Namun beruntung betul bisa tinggal di rumah ini karena saya yakin, rumah saya sendiri pun memiliki banyak sejarah yang belum terkuak.

Kamp Interniran Cihapit

Kawasan Cihapit pernah memiliki masa-masa kelam, tepatnya ketika kawasan tersebut difungsikan sebagai salah satu lokasi Interniran terbesar di Bandung. Dikenal juga sebagai kamp Bunsho II, Kamp Tjiapit ditujukan untuk menampung tawanan wanita, orang-orang tua dan anak-anak Belanda. Pada saat dibuka pada 17 November 1942 penghuninya sekitar 14.000 orang, dan ketika ditutup pada Desember 1944 penghuninya sekitar 10.000 orang dipindahkan ke berbagai kamp di Jakarta, Bogor dan Jawa tengah. Tercatat sekitar 243 korban pernah meninggal di Kamp ini.

Dalam kamp ini tawanan menempati rumah-rumah dan bangunan lain yang dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan gedek (bilik). Komandan Kamp antara lain Mr. Boenjamin, Mr. Arsad, Kapten Susumu Suzuki, Letnan Ryoichi Takahashi. Kepala penjaga: Muroi, Otsuka, Hashimoto, Nada, Yashuda, Shirakawa. Pengawasan kamp dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam Heiho.

Pada bulan Agustus 1943 di Bagian barat dari kawasan ini didrikan kamp baru yang disebut Bloemenkamp.

Oleh : M.Ryzki Wiryawan