Selalu Ada “Jeda” Tuk Mengakumulasikan Semua Makna

Oleh : Ajeng Permata Putri

 

“…dalam pembacaan puisi selalu ada jeda dari kalimat ke kalimatnya, tuk menghayati dan memahami arti tersirat didalamnya., Dan itu yang diperlukan dalam kehidupan.

Jangan hanya terus menerus mencari tanpa berfikir apa makna sesungguhnya dari yang kita cari,,

Cari jeda untuk merenungi apa saja  yang terlihat olehmu dan yang terjadi padamu hari ini!

karena selalu ada makna dibelakang sebuah peristiwa bahkan sebuah kata.”

 

Mungkin itu kalimat yang paling saya suka saat ngaleut kedua saya menyusuri taman-taman di Bandung..

Memang sih gak persis sama dengan yang dikatakan oleh narasumber, tapi intinya itu.

Sesuatu yang terus dicari tanpa dikaji itu akan menjadi sia-sia. Dan hanya akan menjadi sebuah memori pendek yang pernah terlintas di otak, dan tak lama, hilang.!!Yang imbasnya hanya akan berujung pada rasa kecanduan untuk terus mencari dan mencari.

Jangan sampai teman-teman aleut yang sangat “serius” ini (termasuk juga saya, hehe), menjadi orang yang terus haus ilmu tanpa mengamalkan ilmu itu. Memang, itu merupakan langkah awal yang baik.Dengan  mempunyai rasa ingin tahu yang besar maka akan mendorong kita untuk terus mencari jawaban dari rasa penasaran keingintahuan itu.

Tapi perlu diingat bahwa perubahan hanya terjadi dengan action, bukan hanya sekedar dari “tau” saja, tapi dari setelah tahu itu apa yang bisa dilakukan dan diberikan pada lingkungan sekitar minimalnya untuk diri sendiri.

Dan diharapkan setelah melakukan action tadi, lakukan perenungan untuk mengambil nilai-nilai kehidupan yang dapat diaplikasikan dalam keseharian.

Misal, dengan kita melihat tulisan-tulisan seperti “jangan injak kami (rumput)” di sekitar taman atau dimanapun, coba perhatikan makna di dalamnya, disana ada pesan moral yang tersirat, bukan kata ‘jangan diinjaknya’ yang harus digaris bawahi, tapi maknanya bahwa kita dituntut untuk menjaga dan merawat sumber-sumber pemberi kehidupan bagi manusia. Harus ada timbal balik yang saling menguntungkan antara manusia dan lingkungan.

Bahasa gaulnya mah harus ada “take and give”nya.

 

Hal kecil lainnya, misalnya melalui  gerakan aleut kemarin yang mencoba membersihkan jalan-jalan dari sampah-sampah atau mencabut pamflet dan benda-benda (seperti paku) yang tidak seharusnya menempel di pepohonan. Itu merupakan salah satu kesadaran dari hasil perenungan pengalaman aleut minggu lalu (mungkin^_^), dimana kami belajar betapa pentingnya fungsi pepohonan/tanaman bagi kehidupan.(hebat yaah aleeut!!hehe)

Semoga dari hal-hal kecil ini  bisa menjadikan kita terus tertantang  melakukan hal -hal yang lebih besar yang berdampak positif khususnya dalam melakukan aksi-aksi peduli terhadap lingkungan. Karena kita hidup berdampingan dengan lingkungan. Tidak harus dengan cara yang sulit, karena selalu ada cara mudah untuk menyelesaikan setiap masalah. Seperti yang Aa Gym bilang mulailah dari diri kita sendiri, mulailah dari hal yang kecil dan mulailah saat ini.

Berharap, dengan mengakumulasikan pengalamana-pengalaman yang telah teman-teman aleut alami, ada banyak perubahan diri dan makna tersendiri tuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

 

semoga jadi inspirasi :)he

Iklan

3 pemikiran pada “Selalu Ada “Jeda” Tuk Mengakumulasikan Semua Makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s