Ngaleut Ka Jaya Giri

By : Yanstri M.
Minggu (06-11-2009) saya dan 7 (tujuh) Pegiat Aleut lainnya berkumpul di depan Museum Sri Baduga. Pada awalnya kami berencana akan berkunjung ke Gn. Puntang. Tetapi karena jumlah pegiat yang hadir hanya sedikit, membuat kami merubah haluan. Akhirnya diputuskan untuk menelusuri Wana Wisata Jaya Giri dan sebagian jalur Geotrek 1 dari Buku Wisata Bumi Cekungan Bandung.

Titik awal perjalanan kami adalah Pasar Lembang melalui jalur yang menuju Taman Junghuhn. Kami sempat berkunjung ke taman tersebut. Ini merupakan kali kedua saya berkunjung ke sana. Tidak jauh dari Tugu Jughuhn, yang juga merupakan makam dari Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, kami menemukan sebuah makam lain yang menurut dugaan kami merupakan makan sahabat Junghuhn. Junghuhn merupakan pelopor budidaya kina di Jawa Barat. Beliau lahir di Mansfield/Magdeburg pada 26 Oktober 1809 dan wafat di Lembang pada 24 April 1864. Sejak tahun 1856 hingga akhir hayatnya, Franz Wilhelm Junghuhn bertugas mengelola perkebunan kina pertama di Jawa Barat.

Perjalanan pun berlanjut. Kami sempat terpikir untuk berkunjung ke Benteng Gn. Putri, tetapi karena perjalanan ke sana terlalu jauh maka diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Wana Wisata Jaya Giri. Untuk masuk ke wana wisata tersebut pengunjung harus membayar retribusi sebesar Rp 4.000,- dan sumbangan PMI Rp 500,-. Jalanan terus menanjak membuat saya mulai terengah-engah. Saya merasa ada perbedaan dengan jalan yang kami lalui. Seingat saya, sewaktu pertama kali berkunjung pada bulan Juli 2009 jalanan yang kami lalui tidak terlalu lebar. Tetapi sekarang jalanan tersebut lebih lebar dan lebih landai. Sehingga kami tiba di lapangan yang merupakan titik pemberhentian pertama dalam waktu ± 1 jam. Di perjalanan kami bertemu dengan masyarakat sekitar yang sedang mengangkut kayu bakar dan sekelompok pencinta alam yang juga akan menuju ke Obyek Wisata Gn. Tangkubanparahu.
Kami sempat berdebat mengenai rute yang akan kami lalui selanjutnya karena ada beberapa alternatif jalan. Akhirnya kami mengambil rute yang menuju parkiran Jaya Giri. Di jalan yang kami lalui terdapat 2 (dua) buah pipa air yang membentuk seperti rel kereta api dan salah satunya berujung ke dam air. Lokasi ini cukup bagus untuk digunakan sebagai tempat foto pre wedding menggantikan rel kereta api. Hujan dan kabut menyambut kedatangan kami selewat parkiran Jaya Giri. Perjalanan yang akan dilanjutkan ke Kawah Domas terpaksa dihentikan sementara karena hujan semakin lebat. Udara dingin membuat cacing-cacing perut kami berteriak lagi minta diisi. Padahal belum terlalu lama kami “berpiknik” di Wana Wisata Jaya Giri.
Warung Ibu Kartini merupakan tujuan kami untuk memenuhi tuntutan perut. Beberapa pegiat termasuk saya tanpa ragu langsung memesan semangkuk mie rebus ditambah cabai rawit. Pegiat lainnya cukup puas mengisi perut dengan gorengan. Untuk semangkuk mie rebus+telur kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 7.000,-. Harga yang cukup mahal bila dibandingkan dengan harga mie rebus di warung kopi. Yah, harap dimaklumi, namanya juga tempat wisata. Tak apalah daripada kami harus menahan lapar.
Aroma belerang mulai memanggil kami untuk menyapa Kawah Domas. Jalanan yang kami lalui sempat menurun. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Kami harus sedikit melalui jalanan menanjak. Sekitar 300 m dari Kawah Domas kami sempat beristirahat sejenak untuk menikmati keindahan alam. Hamparan kawah yang berwarna putih dan kebun teh nan hijau di kejauhan benar-benar membawa kedamaian. Perjalanan dilanjutkan menuruni tangga yang cukup curam dan licin. Tangga tersebut sangat lebar dan terkadang jarak antara tangga yang satu dengan yang lainnya bisa mencapai 25cm, yang dengan sukses membuat kaki saya kram. Beberapa meter sebelum mencapai Kawah Domas terdapat papan peringatan bergambar kaki dengan tulisan “kade tisoledat” (bahasa Sunda : awas tergelincir) yang memperingatkan pengunjung agar berhati-hati melangkah supaya tidak tergelincir.
Kepulan asap dan kolam-kolam air panas menyambut kami. Ada satu kolam yang airnya menggelegak. Pengunjung bisa merebus telur di sana, tetapi tidak disarankan untuk memasukkan anggota badan kecuali Anda memang berniat untuk membuat kaki rebus. Pengunjung yang ingin merendam kaki bisa memanfaatkan kolam-kolam kecil lainnya. Tak sedikit pengunjung yang menggunakan lumpur dari kolam tersebut untuk melulur kakinya, karena lumpur tersebut dipercaya bisa menghilangkan penyakit kulit seperti gatal-gatal. Jika ingin mengenal Kawah Domas lebih dalam bisa membaca papan informasi yang tersedia tidak jauh dari pintu masuk Kawah Domas.
Hari beranjak semakin sore. Hujan rintik-rintik mulai turun lagi. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan langkah kami untuk melanjutkan perjalanan ke hamparan kebun teh yang sempat kami nikmati dari atas Kawah Domas. Melalui jalan setapak di belakang Kawah Domas kami mulai melangkah. Semakin ke dalam ilalang semakin rimbun. Beberapa kali kami harus menerobos terowongan ilalang. Pandan hutan berduri terkadang menggores lengan apabila kami tidak berhati-hati. Di kanan kiri jalan rimbunan pohon suplir mengiringi langkah kami.

Di tengah perjalanan kami dihadang hujan deras yang memaksa kami untuk segera menggunakan jas hujan. Langit semakin gelap, tetapi kebun teh yang kami tuju belum juga kelihatan. BR sempat berucap, “nanti kalau sampai kebun teh kita nyanyi bukit berbunga, ya”. Nyatanya begitu sampai kebun teh kami sudah lupa akan nyanyian apapun. Mata begitu terkesima akan pemandangan yang tersaji. Hamparan kebun teh dengan latar belakang pegunungan berselimut kabut membuat saya tak bisa berkata-kata. Mudah-mudahan masih bisa dinikmati juga oleh generasi masa depan.

Sayang kami tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan itu. Hujan deras, udara dingin dan langit senja memaksa kami bergegas menuju jalan raya. Kaki saya mulai terasa kram lagi. Terseok-seok saya paksakan diri melangkah. Akhirnya, tibalah kami ke Jalan Raya Bandung-Subang. Tetapi perjuangan kami belum berakhir. Kami harus segera mencari warung tempat berteduh dan segelas teh manis hangat untuk mengusir dinginnya senja. Perjalanan kali ini ditutup dengan berdesak-desakan di dalam elf yang membawa kami ke kota Bandung tercinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s