#PojokKAA2015: Perpustakaan Baru di Alun-alun

Oleh: Gita Diani Astari (@gitadine)

Ada pemandangan baru di area Alun-alun Bandung: sebuah rangka bangunan di samping hamparan rumput sintetis peningkat indeks kebahagiaan. Saya agak kaget, karena waktu ke Alun-alun Sabtu malam lalu lebih terdistraksi oleh kelap-kelip lampu mainan sehingga tidak menyadari adanya ‘calon’ bangunan itu. Kira-kira apa fungsinya? Apakah target penyelesaian bangunan ini harus sebelum rangkaian KAA dimulai? (By the way, kemarin pagi ternyata sudah dilaksanakan pengibaran 109 bendera negara peserta KAA 2015.)

Karena penasaran, akhirnya saya dan teman saya mengajak salah seorang pekerja yang sedang beristirahat untuk berbincang-bincang soal ini. Namanya Pak Wahyu. Sambil merokok dan sesekali menyeruput kopi, beliau dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Mereka yang Bekerja Keras di Balik Layar

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

“Sebuah bangunan megah bisa saja roboh akibat tak terpasangnya satu baut kecil”.

Anggap saja perhelatan Perayaan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang akan berlangsung di Bandung tanggal 24 April 2015 mendatang adalah sebuah rumah super megah. Jika kontraktor lupa memasang satu baut kecil saat membangun rumah, perhelatan akbar ini bisa hancur berantakan. Bagaimana bisa ini terjadi? Siapakah baut kecil ini?

Di balik segala kemegahan yang nampak di depan mata dalam persiapan Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, seringkali kita melupakan mereka yang secara harfiah bekerja keras siang dan malam di balik layar. Mereka kalah pamor dibanding para tokoh masyarakat yang sering wara-wiri di media karena mereka hanyalah bagian dari beberapa baut kecil yang saya singgung di awal. Mereka tak jadi pusat perhatian, tak pernah diburu awak media, perannya tak kasat mata. Namun tanpa mereka, semua persiapan ini akan percuma. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Derap Pramuka di Jalan Cikapundung Timur

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Suara derap kaki terdengar dari Jalan Cikapundung Timur. Suara derap kaki tersebut berasal dari kumpulan orang yang memakai baju dan celana coklat dan sekelompok drum band dengan pakaian biru tua. Mereka baru saja tampil dan selesai menaikkan 109 bendera negara Asia-Afrika di sekeliling Museum Konferensi Asia-Afrika dan Gedung Merdeka. Penaikan bendera dan rangkaian acara hari ini berjalan mulus hampir tanpa cela.

Latihan yang saya saksikan dua hari ke belakang membuahkan hasil yang manis. Masih jelas di ingatan saya saat itu mereka berlatih menggunakan pakaian sekolah. Awalnya saya kira mereka adalah Paskibra Kota Bandung.

C360_2015-04-14-09-53-28-363

Para Pelajar yang Sedang Berlatih

Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Gedung Swarha

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Sumber foto: kitlv.nl

Sumber foto: kitlv.nl         

Foto ini menggambarkan suasana keramaian di Bandung saat merayakan Jubileum Ratu Wilhelmina pada tahun 1923. Foto diambil di sudut barat daya Alun-alun, di depan sebuah toko pakaian dan kelontong, Toko Tokyo. Pada gambar dapat dilihat plang nama Toko Tokyo di atas pintu gedung di sebelah kanan.

Toko Tokyo dibangun tahun 1914 dan hancur pada tahun 1940-an, kemungkinan pada sekitar peristiwa Bandung Lautan Api. Angka tahun pembangunan didapatkan dari angka yang tercetak besar pada atap gedung sebelah kanan. Dari sebuah foto udara yang dibuat oleh ML-KNIL tahun 1946 dan dimuat dalam buku karya RPGA Voskuil, “Bandung; Citra Sebuah Kota”, tampak lahan Toko Tokyo kosong dan belum ada bangunan penggantinya. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Pesona Chou En Lai di Bandung

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Entah kenapa malam ini saya teringat perkataan Lee We Chuin, salah seorang staf Galeri Sejarah Tionghoa Yayasan Dana Sosial Priangan Bandung sekaligus guru Bahasa Mandarin bagi staf Museum Konperensi Asia-Afrika. Lee We Chuin pernah berujar kepada saya kalau bagi para turis asal Republik Rakyat Tiongkok, belum sempurna rasanya berkunjung ke Bandung apabila tidak melihat foto Chou En Lai yang terdapat di Museum Konperensi Asia-Afrika.

Chou En Lai

Chou En Lai

Baca lebih lanjut

Monteiro

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Kalau melintas di jalan raya Bandung-Tangkubanparahu, mata ini sering melirik ke sebuah bangunan unik bertembok hitam dengan arsitektur yang tampak kuno. Di dinding bagian depan terdapat tulisan yang cukup jelas untuk dibaca dari jauh, “ Dolce Far Niente”, lalu di bawahnya, “Monteiro”. Sebenarnya saya cukup sering berada di dekat bangunan ini, terutama saat salah seorang paman saya mengelola hotel besar yang berada di dekatnya. Pagi-pagi berjalan kaki dari hotel sering melintas dekat bangunan hitam ini, tapi tidak juga ada keinginan untuk mampir. Yang saya tahu, sejak dulu di rumah itu diproduksi selai yang konon sempat populer di kota Bandung.

Tapi pagi ini ada pengalaman lain yang membuat saya mendatangi rumah hitam ini. Suasana sekitar bangunan tampak sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang sedang parkir. Semua pintu dan jendela rumah tertutup, begitu juga garasi yang berwarna merah di sebelahnya. Tak jauh dari rumah utama ada seorang ibu. Saya hampiri dan menyampaikan maksud ingin bertemu penghuni rumah hitam itu. Ibu ini mengantar saya ke sebuah rumah lain di belakang rumah hitam.

IMG-20150406-WA0025_1Di rumah belakang saya diterima oleh seorang ibu muda bernama Herni Monteiro. Saya langsung menangkap, Monteiro yang dikenal sebagai nama produk selai ini ternyata berasal dari nama kelurga. Ibu yang ramah ini mengajak masuk. Di dalam rumah saya lihat ada beberapa puluh botol selai di atas meja. Saya kira saya akan ngobrol soal selai saja sebagai pembuka perkenalan. Ibu yang baik ini menyerahkan beberapa lembar kertas fotokopian sambil menunjukkan botol-botol selai dan bungkus-bungkus dodol produksi keluarganya, YH Dodol Strawberry Milk. Ternyata cerita-cerita berloncatan dengan cepat dan tiba juga pada nama itu, Monteiro.

 

Adolph Bernard Monteiro, menilik namanya saja dia bukanlah orang Indonesia. Tapi Beni, begitu nama kecilnya, tak pernah melihat negeri lain selain Indonesia selama hidupnya. Beni dilahirkan di Manado pada tahun 1917 dari ayah kelahiran Blitar bernama Herman Christian Monteiro dan ibu kelahiran Cirebon, Eugenie Geerath.

 

Dari garis ayahnya, Beni mendapatkan darah Portugis, sementara dari ibunya darah Belanda. Konon kakeknya datang dari Portugis ke Indonesia bersama dua orang saudaranya untuk berkelana. Mungkin mencari penghidupan di negeri yang sempat berada dalam kekuasaan Portugis ini.  Kakeknya wafat dan dimakamkan di Banyuwangi, sementara kedua saudara kakeknya tak ada kabar berita. Makam kakeknya masih ada di Banyuwangi, namun Beni tak pernah melihatnya langsung.

 

Masa kecil dan remaja Beni dihabiskan di Pekalongan. Karena kenakalannya, sekolahnya berantakan. Ia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 3 SD saja. Saat itu ia lebih senang blusukan ke kampung untuk mengadu ayam atau jangkrik daripada bersekolah. Untunglah ia masih sempat belajar membaca dan menulis. Bekal kecil ini membuatnya gemar mengoleksi dan membaca buku2 filsafat di kemudian hari, terutama karya2 MAW Brouwer.

 

Pada tahun 1941 terjadi Perang Dunia II. Saat itu usia Beni 24 tahun dan ia bekerja bertani membantu ayahnya yang ahli pertanian. Namun perang menyeretnya untuk ikut mobilisasi massa dan masuk ketentaraan KNIL. Tahun 1942 Beni menjadi tawanan Jepang dan dipekerjakan secara paksa untuk membangun sebuah lapangan terbang di Pulau Amahai, Ambon. Seluruh keluarganya tercerai berai tak tentu rimba. Selama menjadi tawanan Jepang, Beni mengalami banyak kekerasan yang membuatnya trauma hingga kini. Pekerjaan yang terlalu berat bahkan membuatnya mengidap pembengkakan jantung. Kelaparan sudah menjadi pengalamannya sehari-hari.

 

Beni bertahan hingga Indonesia mencapai kemerdekaan di tahun 1945.  Beni yang bebas segera berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan. Nasibnya sedang mujur, ia diterima bekerja di Amacap, suatu lembaga yang bergerak di bidang sosial. Pengalamannya dengan dunia pertanian membuatnya dipekerjakan untuk mengolah suatu lahan pertanian di Lembang. Hasil tani ini dipakai oleh rumah sakit rumah sakit yang berada di Bandung.

 

Sekitar tahun 1948, Beni dan kawan2nya keluar dari Amacap dan mendirikan sebuah kelompok tani. Mereka menyewa tanah dan menanam arbei serta sayur2an. Ketika itu produksi arbei dari Lembang sedang sangat bagus. Dalam satu hari, Beni bisa memetik arbei sampai seberat 1 kuintal.

Organisasi bentukan Beni tidak bertahan lama, bahkan kemudian terjadi boikot terhadap warga Belanda dan Eropa. Beni kemudian berusaha sendiri dengan berbagai keterbatasan. Sampai sini persoalannya belum selesai karena strawberry miliknya tidak diterima lagi oleh pabrik-pabrik yang melihatnya sebagai seorang Belanda. Saat itu semangat nasionalisme di Indonesia sedang tinggi dan di mana-mana terjadi gerakan anti-asing.

 

Beni tidak menyerah, sebuah ide lain segera muncul. Ia berpikir mungkin tumpukan strawberry di gudangnya bisa diolah menjadi selai. Setelah membuat beberapa eksperimen, Beni menemukan olahan yang dianggapnya pas tanpa menggunakan campuran apapun. Selai ini dipasarkannya sendiri ke masyarakat sekitar dengan merek Monteiro & Sons. Banyak orang asing yang tinggal di sana menggemarinya, terutama karena rasanya yang khas dan pembuatannya yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia.

IMG-20150406-WA0026B

Usaha yang tidak besar ini dikelolanya sendiri dibantu istrinya, mojang asli Lembang, dan anak-anaknya. Ia juga mempekerjakan 10 orang pegawai untuk membantunya. Usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Walaupun selai buatannya yang diberi merek Monteiro & Sons itu sudah cukup dikenal luas, tetapi bahan baku buah arbei tidak selalu tersedia dari kebunnya sehingga kadang-kadang ia harus mendatangkannya dari tempat lain seperti Sukabumi. Lalu pengemasannya pun punya masalah sendiri, untuk pengemasan selainya Monteiro mendapatkan botol-botol ini dari pedagang botol bekas yang ia bersihkan sendiri.

 

Semua itu cerita dulu. Usaha ini berkembang naik-turun hingga akhir tahun 1980-an. Produk selai Monteiro memang tak pernah menjadi industri yang besar, namun namanya cukup dikenal warga Bandung baheula. Monteiro mengelola usaha ini hingga akhir hayatnya di tahun 1987, setelah itu dilanjutkan oleh istrinya, Atikah, dan anak-anaknya. Saat ini minat terhadap selai Monteiro sudah tidak seramai dulu, namanya tersamarkan di tengah produk-produk modern yang sangat beragam.

 

Sampai beberapa tahun lalu selai Monteiro & Sons masih dapat ditemukan di Toko Setiabudhi atau di Roti Gempol yang memang selalu menggunakan selai ini sebagai salah satu pelapis rotinya yang terkenal itu. Bagi generasi sekarang yang mungkin ingin mencicipi selai Monteiro, dapat mencoba mencari di kedua tempat itu atau langsung berkunjung ke rumah Monteiro di Lembang. Dari arah Bandung, letaknya di sebelah kanan setelah Hotel Putri Gunung, lihat sebuah rumah bertembok hitam dengan tulisan “Dolce Far Niente”.

0299f47bbd87e0c5_w300

Foto: http://indischekwestie.nl/

Adolph Bernard Monteiro
1917 Manado
1989 Lembang

Foto-foto: Vecco Suryahadi @veccosuryahadi & Ridwan Hutagalung @pamanridwan

http://indischekwestie.nl/

Update, 11/04/2015

Senang sekali hari ini mendapatkan email dari seseorang bernama Tony yang ternyata keponakannya Ben(i). Ibu Tony beradik-kakak dengan Ben, tetapi sayang sudah wafat juga. Tony juga bercerita bahwa bibit strawberry yang diolah oleh Oom Ben – begitu Tony memanggilnya – dikirimkan oleh ayahnya pada masa-masa sulitnya Oom Ben. Tony dan keluarganya berencana akan berkunjung ke Bandung, semoga kami dapat berjumpa..

Terima kasih sudah mampir, Tony.

Salam.

 

Tautan asli: https://mooibandoeng.wordpress.com/2015/04/07/monteiro/

#PojokKAA2015: Menanti Kembali Papan Baca PR

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

arif1

Surat kabar atau yang lebih dikenal dengan koran, merupakan salah satu media informasi yang ada di masyarakat. Bukan hanya kalangan pejabat atau pengusaha saja yang membaca surat kabar, tetapi ada tukang becak, para pedagang, supir angkot, tukang parkir, dan lain sebagainya. Dengan membaca surat kabar, kita bisa terus mengikuti perkembangan-perkembangan aktual, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pada intinya kita semua membutuhkan informasi. Informasi sudah dianggap sebagai kebutuhan pokok, yang tidak boleh dilewatkan.

Sejak beberapa pekan silam, ada yang hilang di halaman depan Kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia-Afrika. Destinasi bagi mereka yang ingin mencari informasi secara cuma-cuma. Ya, papan baca PR hilang!

Tapi jangan dulu bersedih, karena tempat yang sering dijadikan meeting point ini akan ditegakan kembali. Seperti yang ditulis di edisi Jumat kemarin (10/04/15) dalam artikel “Papan Baca PR Akan Tetap Ada”. Maklum saja, karena Bandung sekarang lagi berbenah dalam menyambut 60 tahun Konferensi Asia-Afrika, utamanya area sekitar Gedung Merdeka. Dan papan baca PR ini ditiadakan sementara.

Papan baca ini akan hadir kembali, tentunya dengan desain baru yang disesuaikan dengan nuansa kota tua. Bakal seperti apa ya?

 

 

Foto: Arif Abdurahman