#InfoAleut: #KelasResensi Kiprah Para Pesohor di Bandung (13/02/2014)

2016-02-13 Pesohor di Bandung 3
#InfoAleut Hari Sabtu ini (13/02/2016) di Kelas Resensi Komunitas Aleut, akan diadakan diskusi dan pembahasan mengenai beberapa pesohor yang dikaitkan dengan Kota Bandung. Beberapa nama sudah pernah ditulis secara ringkas dan dipublish di http://komunitasaleut.com dan http://mooibandoeng.com beberapa waktu yang lalu. Nama para pesohor seperti Abdul Muis, Raden Saleh, Sosrokartono, dan masih banyak lagi, akan dibahas pada hari Sabtu ini.
 
Di kelas resensi Sabtu ini, mari kita membahas para pesohor ini lebih banyak dan mendalam. This is an open discussion, of course, everyone is invited! :)
 
Yuk mari kita mendalami pengetahuan kita mengenai para pesohor ini di Kelas Resensi Komunitas Aleut :D
Cara Gabung Aleut-1C
 
Tertarik? Konfirmasikan kehadiranmu (WAJIB) ke nomor 0896-8095-4394 (SMS/WA) atau melalui akun LINE @flf1345r (jangan lupa pake @ yah) dan langsung saja datang ke Kedai Preanger di Jl. Solontongan No. 20D (dekat SMAN 8 Bandung) pukul 13.00 WIB. Tidak ada syarat khusus, apabila memang tertarik untuk mendengarkan dan berdiskusi, silahkan datang. Teman, pacar, mantan, adik, kakak, ayah, ibu, nenek, kakek, yuks ah ajak semuanya :D

Rasia Bandoeng dan Ngaleut Tjerita Tjinta jang Benar Terdjadi di Bandoeng Tahon 1900-an

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Katanya jatuh cinta membuatmu jadi orang dungu. Oh baiklah pembaca yang budiman, sebelumnya maaf hanya judulnya yang pakai Bahasa Melayu Pasar, karena saya malas dan tak punya cukup kedunguan untuk menuliskannya dalam bahasa seprimitif itu, apalagi ejaan yang setuwir itu. Entahlah, kalau sekiranya jatuh cinta, mungkin bisa saja, tapi saya tak sedungu Hilda Tan, tokoh dalam novel klasik Rasia Bandoeng: atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir pada Tahon 1917.

Aih, Hilda Tan ini adalah dia yang berani menentang keluarga dan adatnya sendiri hanya karena dia ingin membela sesuatu yang bernama: CINTA! Mungkin Hilda Tan kebanyakan membaca kisah yang berpenutup, “dan mereka bahagia selamanya dalam pernikahan”. Pernikahan sebagai kebahagiaan yang dibayangkan. Belum terjadi, masih berupa gagasan. Dan Hilda Tan ini ingin kawin dengan kekasihnya yang semarga, sesuatu yang tabu dalam kultur Tionghoa. Rupa-rupanya kisah Hilda Tan kemudian berakhir setragis Anna Karenina, novel epik Leo Tolstoy itu. Seperti kata Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dan ya, hanya keluarga tak bahagia yang ‘menarik’ untuk dikisahkan.

| Lihat: Eka Kurniawan – “Marry You”

Secara cerita, novel klasik karya Chabanneau ini memang asyik untuk dibaca (meski saya baru baca bab-bab awal dan resensinya saja), tapi yang paling bikin menarik adalah bahwa lewat roman ini kita bisa melihat rekaman denyut nadi pusat Kota Bandung pada medio 1900-an awal. Maka Komunitas Aleut! bertepatan dengan momen Tahun Baru Imlek 2567 mengadakan keluyuran malam berawal dari titik temu di BRI Tower depan Alun-Alun Bandung, yang saat itu dipenuhi orang yang berfoto riang sana-sini.

Meski hujan sebentar-sebentar menyirami kami, tapi nampaknya semangat untuk terus mengeluyuri jalanan di pusat Kota Bandung tak ikut luntur. Lebih-lebih bagi saya, di daerah sekitar Pasar Baru yang bisa dibilang sebagai “Pecinan”-nya Kota Bandung ini, saya berasa jadi Kai Man Wong, presenter di saluran fotografi DigitalRev TV. Ternyata, pusat Kota Bandung di kala gelap ini mengingatkan saya pada Hongkong; ada bangunan-bangunan tua peninggalan era kolonial, namun kita mendapati pula plang-plang besar merk dagang juga lampu kerlap-kerlip, serta para tunawisma yang terlelap di depan ruko yang sudah tutup, juga kehidupan malamnya Bandung.

Rute: Alun-Alun Bandung – Jalan Banceuy – Jalan Suniaraja – Pasar Baru – Jalan Kebon Jati – Saritem – Jalan Gardu Jati – Jalan Astana Anyar – Jalan Cibadak

Jika kamu ingin berpetualang lewat mesin waktu ke awal abad 20, maka baca Charles Dickens untuk mengeluyuri London, James Joyce untuk Dublin, Knut Hansum untuk Kristiania (Oslo), dan Bandung terwakili dalam karya Chabanneau ini. Latar kejadian dalam cerita roman berkisar di wilayah Pasar Baru, Cibadak, Pecinan, Suniaraja, Banceuy, Kosambi, Groote Postweg, dan paling jauh ke arah selatan, yaitu di Tegallega. Berikut ini contoh deskripsi situasi Pasar Baru pada Kamis, 10 Februari 1916.

Bangsa Tiong Hoa masih merajaken datangja tahon baroe 2467, kerna itoe waktoe poen baroe tanggal 8 Tjia Gwe, betoel toko-toko soedah moelai boeka, tapi dalam oeroesan dagang belom rame sabagimana biasanja, teroetama dari fihak Tiong Hoa totok.

Di salah satoe toko tjita di sabelah Kidoel pasar, jang madap ka Wetan, antara employenja kalihatan samoewa sempat sabagimana biasanja toko-toko besar jang tida djoewal ketengan, di sebelah loewar dari toko tjita jang terseboet kalihatan tiga anak moeda lagi pasang omong, jang satoe lagi tjeritaken penglihatan dari karamean Pasar-Malam di Batavia…

Entah mengapa, enggak seperti roman lainnya yang muncul pada tahun 1900-an, Rasia Bandoeng ini relatif jarang dibahas. Karya Chabennaue ini sendiri memakai gaya naturalis, aliran yang mementingkan pengungkapan secara terus-terang, tanpa mempedulikan baik buruk dan akibat negatif. Pengarang naturalis dengan tenangnya menulis tentang skandal para penguasa atau siapapun, dengan bahasa yang bebas dan tajam. Aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok.  Lebih-lebih, karena kabarnya Chabennaue menulis novel ini untuk dijadikan bahan pemerasan. Cerita ini memang kisah nyata yang dialami Hermine Tan yang lahir pada tahun 1898 dan meninggal pada tahun 1957 di Bandung. Chabanneau menulis cerita ini berdasarkan surat-surat berisi curahan hati yang dikirim oleh Hilda, yang diduga nama samaran Hermine tadi.

Rasanya, saya perlu ralat pernyataan bahwa Hilda Tan seorang yang dungu. Sebab menurut sejarawan sekaligus feminis dari Kanada, Tineke Hellwig, keberanian Hilda Tan untuk memperjuangkan cintanya meski harus melawan adat dianggap sebagai perjuangan perempuan menentukan pilihan hidupnya. Sosok Hilda juga sangat tegar ketika ternyata kekasih yang dicintainya itu enggak balik mencintainya secara tulus.

Entahlah, bukan hanya Hilda Tan, sekarang pun orang-orang terpelajar, yang sekolah tinggi, bakal menjadi dungu karena yang namanya ‘cinta’, rela disakiti kekasih yang jelas-jelas hanya mempermainkannya. Mungkin, saya pun bakal begitu jika cinta datang menghampiri, berlaga dungu dan berani untuk mengatakan: “Hey, saya benar-benar mencintaimu, dan saya ingin menikahimu, bagaimana?”

“Baik, kuberi waktu 3 bulan, buatkan aku sebuah novel tentang Bandung,” tantang perempuan itu, lalu menyunggingkan senyum renyah, “Mudah, kan?”

Kemudian, berkat energi kedunguan yang hinggap, jadilah saya yang pemalas ini begitu bersemangat untuk terus menulis tak kenal lelah sampai batas waktu yang ditentukan itu. Seperti Sangkuriang, atau Bandung Bondowoso, meski bedanya saya enggak dibantu semacam jin. Kenapa saya begitu bergairah? Inikah yang namanya cinta? saya membatin. Ah maaf pembaca yang budiman sekalian, saya rasa dicukupkan sekian saja sebelum terlalu ngalor-ngidul.

It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages. – Friedrich Nietzsche

*

Bagi yang ingin membaca secara daring, bisa mengakses: “Rasia Bandoeng : atawa satoe tjerita jang benar terdjadi di kota Bandoeng dan berachir pada tahon 1917 / ditjeritaken oleh Chabanneau”.

Atau bisa baca juga ulasan dari Lina Nursanty di Pikiran Rakyat ini.

ngaleut rasia bandoeng imlek 2016

Tautan asli: http://yeaharip.com/2016/02/09/rasia-bandoeng-dan-ngaleut-tjerita-tjinta-jang-benar-terdjadi-di-bandoeng-tahon-1900-an/

Catatan Perjalanan: NgAleut Rasia Bandoeng

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Malam Imlek itu, saya mendengar riuh suara kumpulan anak muda dengan baju coklat bertuliskan “Komunitas Aleut” di depan BRI Tower Asia Afrika. Lalu, saya dekati mereka karena penasaran dengan keributan yang mereka hasilkan.

“Ini lagi pada ngapain?” tanya saya kepada salah satu anak muda yang menyambut saya.

“Oh, ini Komunitas Aleut sedang siap-siap untuk NgAleut Rasia Bandoeng,” jawab anak muda yang bernama Ajay.

“Rasia Bandoeng? Bandung punya rahasia apa? Wah, ikut deh,” seru saya.

***

Sesi perkenalan

Gerimis mulai turun saat kami berkumpul dalam lingkaran. Salah satu penggiat Komunitas Aleut, Irfan TP, membuka NgAleut dengan mempersilahkan peserta memperkenalkan diri. Rupanya mereka dari berbagai institusi.

Lalu setelah perkenalan, Irfan TP bercerita tentang apa yang di-NgAleut-kan hari ini yakni Rasia Bandoeng. NgAleut kali ini berasal dari novel berlatar Bandung abad  ke-19 berjudul “Rasia Bandoeng” yang ditulis oleh Chabanneau. Dalam “Rasia Bandoeng”, Chabanneau menceritakan kisah cinta terlarang pasangan Tionghoa bermarga Tan. Nah, NgAleut malam ini menelusuri titik-titik yang dicerita dalam novel itu.

Titik pertama NgAleut malam itu adalah Bank Escomto yang sekarang Bank Mandiri. Di titik itu, penggiat Aleut berjaket merah bernama Alex mulai bercerita adegan di “Rasia Bandoeng” yang mengambil latar di Bank Escomto.

Dari penuturan Alex, saya mendapat cerita bahwa terjadi kejar-kejaran antar tokoh di “Rasia Bandoeng” bernama Tan Kong Wa serta kakak dan ibunya. Adegan yang mirip dengan film Fast and Furious terjadi di persimpangan jalan di depan Bank Escomto. Tapi berbeda dengan Fast and Furious, mereka menggunakan sado yang seperti delman.

“ Lalu, siapa Tan Kong Wa?” tanya saya pada Alex.

“ Tan Kong Wa adalah kawan baik Tan Tjin Hiauw. Nah, Tan Tjin Hiauw adalah tokoh utama dalam novel romantis ini,” jawab Alex sambil menunjuk bekas jalan di belakang Mesjid Agung yang telah tertutup oleh toko.

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Bangunan di Perempatan Jl. ABC

Setelah bercerita cukup lama, kami berjalan ke arah perempatan Jl. ABC. Alex nyeletuk bahwa kami akan melihat tempat Tan Tjin Hiauw bekerja sebagai akuntan di perempatan Jl. ABC.

Di titik ini, Alex dan Irfan TP bercerita tentang Hilda yang kerap mendatangi tempat Tan Tjin Hiauw bekerja. Sambil menunjuk menara di perempatan, Alex bercerita bahwa Hilda dan Tan Tjin Hiauw sering berjalan kaki dari perempatan ke Pieterspark (sekarang Taman Dewi Sartika). Mereka sering menggunakan jalan sepi di sekitar Braga untuk ke Pieterspark.

“Waduh, siapa lagi Hilda?” tanya saya kepada Alex

“Hilda teh tokoh perempuan yang jatuh cinta kepada Tan Tjin Hiauw. Hilda berkunjung ke kantor Tan Tjin Hiauw selesai les bahasa” jawab Alex.

Lalu, kami berjalan menuju bekas Sentiong atau makam Cina yang sekarang menjadi bangunan baru. Bukan cerita horror yang kami dengar dari Alex di titik ini, melainkan cerita romantis penuh kode antara Tan Tjin Hiauw dengan Hilda.

Menurut hasil membaca “Rasia Bandoeng”, Alex bercerita tentang teater Cina yang ditonton oleh Tan Tjin Huw dan dipanitiai oleh Hilda. Sepanjang teater ini berlangsung, mereka saling melempar pandangan penuh kode yang maknanya hanya diketahui oleh mereka.

“Kalem, ai teater ini di mana?” tanya saya lagi kepada Alex yang sedang terengah-engah karena lelah berjalan.

“Oh, teater ini berlokasi di Teater Apollo di depan Parapatan Kompa,” jawab Alex yang sudah mendapat nafasnya.

Belakang Pasar

Belakang Pasar

Selesai mendengar cerita pasangan penuh kode, kami melangkahkan kaki ke belokan Belakang Pasar. Di titik ini, kami menyimak cerita tentang Lie Tok Sim yang jatuh cinta ke Hilda.

Dalam “Rasia Bandoeng”, Lie Tok Sim jatuh cinta saat melewati rumah Hilda di Jl. Kebon Jati. Setelah itu, mereka saling mengirim surat dengan kurir bernama Gan Chokwim yang merupakan teman Lie Tok Sim. Sayangnya cinta Lie Tok Sim bertepuk sebelah tangan karena Hilda tidak suka Lim.

“Wait, kenapa kita berhenti di sini?” tanya saya.

“Yaa karena Lie Tok Sim tinggal di Belakang Pasar,” jawab Alex yang mulai kelelahan.

Rumah Keluarga Hilda

Rumah Keluarga Hilda

Obrolan cerita cinta bertepuk sebelah tangan ini berlangsung sepanjang perjalanan ke titik berikutnya di depan Hotel Gino Feruci. Lalu, obrolan kami berhenti setelah sampai di depan hotel. Selain berhenti, Alex menunjuk bangunan tua di depan hotel yang dahulu merupakan rumah keluarga Hilda.

Berdasarkan penuturan Alex, keluarga Hilda mulai menempati rumah itu setelah usaha batik ayahnya sukses. Pada awalnya, keluarga Hilda tinggal di sekitar Pasar Baru dan usaha awal mereka adalah Provisien en Dranken. Lalu, mereka beralih ke usaha batik yang berasal dari Solo karena lebih menguntungkan dibanding usaha sebelumnya.

“Oh iya, di situ, Hilda memandang Lie Tok Sim untuk pertama kalinya,” seru Alex sambil menunjuk bangunan tua itu.

Setelah memotret bangunan tua itu, kami berjalan kaki cukup jauh ke Jalan Sudirman. Gerimis kembali turun perlahan saat kami berjalan. Kami pun mulai berdiskusi tentang kedatangan etnis Tionghoa di Bandung sambil berjalan.

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Rumah Kapiten tituler Bandoeng

Lalu, kami berhenti di depan pintu masuk Kafe Jadoel. Di titik itu, Alex menunjuk ke bangunan dua lantai di seberang. Rupanya bangunan itu adalah rumah Kapitein Tionghoa di Bandung bernama Tan Joen Liong. Selain menunjuk rumah Tan Joen Liong, Alex memperlihatkan foto bangunan di belakang kami melalui IPad.

Alex mulai bercerita bahwa bangunan yang dia perlihatkan melalui IPad adalah rumah keluarga Tan Tjin Hiauw. Di rumah itu, ayah Tan Tjin Hiauw bernama Tan Sioe Tji berada di titik kejayaan melalui usaha keluarganya. Sayangnya, pada satu masa, usaha mereka bangkrut sehingga mereka harus pindah ke ujung selatan Gang Kapitein (sekarang Gang Wangsa).

Selain bercerita tentang kejayaan ayah Tan Tjin Hiauw, Alex bercerita tentang dukungan keluarganya atas cinta semarga antara Tan Tjin Hiauw dan Hilda. Menurut Alex, dukungan itu disebabkan kondisi ekonomi yang sedang mendesak keluarga Tan Tjin Hiauw.

“Eh, ai rumah keluarga Tan Tjin Hiauw masih bisa dikunjungi?” tanya saya.

“Bisa dikunjungi karena sekarang rumah itu dipakai sebagai tempat usaha,” jawab Alex sembari memperlihatkan foto rumah keluarga Tan Tjin Hiauw.

Setelah bercerita tentang usaha Tan Sioe Tji, kami berjalan kaki ke titik akhir di PERMABA yang berlokasi di Jalan Klenteng. Sepanjang perjalanan, kami bertanya tentang akhir kisah cinta semarga di “Rasia Bandoeng”.

Ternyata pasangan terlarang itu menikah setelah dua kali kabur dari keluarga Hilda. Usaha kabur pertama hanya sampai Jalan Cibadak. Sedangkan usaha kabur kedua berhasil membawa mereka ke luar dari Bandung.

Obrolan kami berhenti sejenak saat melewati Klenteng. Kami berhenti mengobrol karena bau dupa dan pemandangan penuh warna merah yang mengusik kami. Beberapa orang dari kami mengambil kesempatan ini untuk memotret keadaan sekitar Klenteng.

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Foto Keluarga Komunitas Aleut di PERMABA

Akhirnya kami sampai di halaman PERMABA. Di halaman ini, Irfan TP membuka sesi sharing dengan mempersilahkan peserta untuk berbagi pengalaman sepanjang perjalanan. Setelah sesi sharing, kami berdiri di depan PERMABA untuk foto keluarga Komunitas Aleut. Sungguh perjalanan yang luar biasa menarik!

Sumber foto : @komunitasaleut dan @veccosuryahadi

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2016/02/08/catatan-perjalanan-ngaleut-rasia-bandoeng/

Becak

Oleh: Irfan Arfin (@fan_fin)

“Tuang jang?”
“Mangga.., mangga, Pak”

Begitu serunya dengan mulut yang masih dipenuhi makanan, lantang tapi belepotan menawarkan kepada saya nasi kuning yang tengah ia makan sebagai pengganjal perut di pukul sepuluh pagi.

Sedangkan saya sendiri menjawab tawarannya sambil asyik di belakang jendela bidik menangkap setiap gerakan dari figur unik yang saya temukan hari itu di sekitar Jalan Arjuna Bandung.

Figur yang saya temui itu adalah Pak Aang, seorang penggenjot becak yang sudah 20 tahun lebih mencari nafkah di Bandung, khususnya di sekitaran jalan Arjuna, Ciroyom dan Pajajaran, hampir seluruh warga sekitar sudah sangat mengenalnya, ibu-ibu yang melintas pulang dari pasar pun sudah begitu akrab menyapanya. Dandanannya yang nyentrik cukup mudah dikenali, dan menjadi daya tarik orang yang lalu lalang.

Pak Aang hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mencari penghidupan dari menarik becak, satu moda transportasi yang sampai sekarang masih digunakan di Bandung, namun sudah mengalami pergeseran fungsi. Memang sejatinya becak dapat ditemukan pula di berbagai kota lainnya di Indonesia, bahkan di luar negeri pun becak masih digunakan sebagai saran transportasi dengan berbagai sebutan dan bentuk. Namun, semenjak saya kecil bentuk becak yang di Bandung inilah yang saya kenali sampai saya beranjak dewasa dan mengunjungi beberapa kota lain di Indonesia yang juga masih menggunakan becak.

Saya rasa ada peran pemerintah terhadap majunya becak sebagai moda transportasi wisata di Yogyakarta, dapat saya lihat di Jalan Malioboro, aparat hukum berdampingan dengan tukang becak dan delman di samping jalan.

Cirebon dan Yogyakarta adalah dua kota pertama yang saya sadari memiliki bentuk yang berbeda dari becak di Bandung, selain warnanya yang lebih sederhana dengan menggunakan 1-3 warna dan tempat duduk pada becak tersebut agak sedikit miring sehingga pandangan sang penumpang mendongak ke langit, berbeda dengan becak di Bandung yang badan becaknya penuh warna dan gambar dari cat lukis, serta kursi penumpang yang dibuat datar.

Selain di Indonesia, beberapa kali saya melihat di layar kaca berbagai bentuk becak dari penjuru dunia dengan bentuk yang unik, termasuk dari Jepang dan Tiongkok yang cara menggerakkannya tidak dengan dikayuh, tapi ditarik menggunakan tangan sambil dibawa berlari.

Dari berbagai macam tayangan yang saya amati, sebenarnya becak selalu dijadikan moda transportasi wisata suatu kota di berbagai negara, termasuk di Bandung, tapi sudah sangat jauh berkurang peran wisatanya dibandingkan tahun 90-an, saat masa kecil saya yang bertempat tinggal di Jalan Pagarsih sangat menikmati berkendara dengan becak untuk berkunjung di pusat perbelanjaan Kings Kepatihan, Bandung. Warna becak yang sangat ramai begitu menarik mata saya saat itu, serta perjalanan yang menyenangkan bersama orang tua saya kala itu, yang saya ingat ketika ayah dan ibu saya mengajak untuk naik becak, artinya mereka akan mengajak saya belanja di Matahari Kings dan bermain berbagai wahana permainan di lantai atas gedung tersebut.

Kembali kita melihat becak di Bandung masa kini, trend penggunaan becak bergeser dari transportasi wisata menjadi transportasi multiguna yang condong ke penggunaan komersial layaknya sebuah mobil pick-up. Warna-warnanya yang sudah pudar serta lokasi pangkalan yang lebih banyak di pasar, kini saya lebih banyak melihat sebuah becak ditumpangi karung beras dan kangkung dibandingkan ditumpangi manusia, bahkan sering saya melihat sebuah becak mengangkut bahan bangunan seperti kerangka baja yang saya rasa ukuran dan muatannya akan melebihi berat yang bisa ditanggung oleh sang penarik becak serta akan sangat membahayakan pengguna jalan yang lain.

Tak cukup sampai di situ pergeseran fungsi yang dialami oleh becak di Bandung. Perkembangan lebih signifikan adalah dengan banyaknya muncul becak motor. Beberapa tukang becak mulai memodifikasi becak mereka dengan menggabungkan motor yang mereka miliki untuk memudahkan pekerjaan mereka mengangkut barang-barang besar, seperti seorang tukang becak di daerah saya, di Pagarsih, yang sekarang menggunakan becak motor karena memiliki orderan tetap untuk mengantar kasur dan bed cover dari produsen yang juga salah satu tetangga saya.

Pergeseran trend ini tidak terjadi begitu saja, hal ini terjadi karena tuntutan keadaan penduduk kota Bandung yang saat ini sudah memiliki kendaraan pribadi masing-masing sehingga memilih berkendara sendiri dibanding harus menggunakan jasa becak yang cenderung mahal serta lebih lambat, hal ini dapat terlihat jelas bila kita melihat tingkat kemacetan di kota Bandung saat ini. Salah satu sebabnya adalah jumlah kendaraan yang terlalu banyak beredar.

Saya rasa ada peran pemerintah terhadap majunya becak sebagai moda transportasi wisata di Yogyakarta, dapat saya lihat di Jalan Malioboro, aparat hukum berdampingan dengan tukang becak dan delman di samping jalan.

Tahun lalu saya sempat mengunjungi kembali kota Yogyakarta dan cukup terkesan dengan apa yang saya lihat di Jalan Malioboro, salah satu area pariwisata paling populer bagi wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Sepanjang Jalan Malioboro berjejer rapi delman dan becak yang menunggu para wisatawan keluar dari toko untuk mengantarkan mereka kembali ke hotel masing-masing. Warna-warni yang menarik dan cat yang masih mengilap di badan becak membuat para wisatawan tanpa segan memakai jasa mereka.

Saya rasa ada peran pemerintah terhadap majunya becak sebagai moda transportasi wisata di Yogyakarta, dapat saya lihat di Jalan Malioboro, aparat hukum berdampingan dengan tukang becak dan delman di samping jalan. Lain Yogya, lain juga di Bandung. Aparat dan tukang beca main kucing-kucingan, selain membawa muatan berlebih yang membahayakan pengguna jalan yang lain, sering pula saya hampir bertabrakan dengan tukang becak yang berjalan melawan arah.

Dengan mulai bermunculannya tempat wisata baru di Bandung dan mulainya pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, maka Bandung akan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, namun akankah becak di kota Bandung dapat memulihkan citra serta fungsi sebagai transportasi wisata dan mempertahankan eksistensinya? Tentunya bukan hanya peran dari pemerintah kota saja yang ditunggu namun peran aktif masyarakat dalam bentuk solusi kreatif layaknya peran ojek yang dapat terangkat belakangan ini.

 

Tautan asli: http://mooibandoeng.com/2016/02/01/becak/

#InfoAleut: Ngaleut Rasia Bandoeng (07/02/2016)

2016-02-07 Rasia Bandoeng
#InfoAleut Di malam Tahun Baru Imlek, hari Minggu (07/02/2016), kita akan Ngaleut Rasia Bandoeng. Dalam kegiatan ini, Aleutians akan menyusuri beberapa titik yang diceritakan Chabanneau dalam novel Tionghoa klasik yang berjudul Rasia Bandoeng (1918).
 
Bagi Aleutians yang tertarik untuk bergabung, konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394 (SMS/WA) dan langsung saja kumpul di depan BRI Tower (Jl. Asia-Afrika) pukul 19.00 WIB. Jangan lupa bawa payung atau jas hujan untuk mengantisipasi ketidaktentuan cuaca Bandung belakangan ini :)
 
Cara Gabung Aleut-1C
Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D
 
Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :D

HOS Tjokroaminoto

Oleh @bagusreza

Haji Oemar Said Tjokroaminoto, sang Raja Tanpa Mahkota. Ia dilahirkan di Madiun pada 16 Agustus 1882. Menanggalkan gelar kebangsawanan Raden Mas dan menggantinya dengan Haji Oemar Said. Mengundurkan diri sebagai pegawai juru tulis di Madiun yang sangat pro-kolonial dan kemudian melarikan diri ke Semarang menjadi buruh angkut pelabuhan, tempat Ia dapat merasakan penderitaan kaum bawah. Sepak terjang dan nama besarnya kemudian tidak bisa dilepaskan dari organisasi Sarekat Islam.

Sarekat Islam didirikan di Solo oleh H. Samanhoedi pada 11 November 1911 dengan tujuan menjadi benteng pelindung para saudagar batik dari tekanan Pedagang Cina dan Kalangan Ningrat. Di bawah kepemimpinan H. Samanhoedi, Sarekat Islam berjalan lepas. Meski memiliki tujuan tinggi, kepemimpinannya tidak dapat menjangkau anggota, Sarekat Islam tidak dapat memperluas kegiatannya yang terbatas pada persaingan bisnis dengan Pedagang Cina dan Ningrat Solo saja.

Merasa organisasinya tidak berkembang, H. Samanhoedi sebagai Ketua dan R.M. Tirto Adhi Soerjo sebagai penyusun anggaran dasar pertama, mengajak Tjokro bergabung pada Mei 1912. Pada masa itu Tjokro telah dikenal dengan sikapnya yang radikal dalam menentang perilaku feodal. Tugas pertamanya di Sarekat Islam yaitu menyusun struktur organisasi yang jelas dan membuat ulang Anggaran Dasar Organisasi. Dengan masuknya Tjokro, Sarekat Islam melaju menjadi organisasi politik ideologis berdasarkan Islam. Sarekat Islam menjadi kendaraan politik gaya baru pada masa itu dalam mengekspresikan kesadaran berbangsa melalui penerbitan surat kabar, unjuk rasa, pemogokan buruh dan partai politik. Ia memimpikan anak Bumiputera bisa berdiri sejajar dengan Belanda.

Tidak lama setelah bergabung, Tjokro berinisiatif mengadakan Kongres Sarekat Islam Pertama di Surabaya pada tahun 1912 dengan hasil Kongres membagi Sarekat Islam ke dalam 3 yaitu Wilayah Barat meliputi Jawa Barat dan Sumatera, Wilayah Tengah meliputi Jawa Tengah dan Kalimantan, Wilayah Timur meliputi Jawa Timur dan daerah Indonesia Timur dengan Kantor Pusat yang berkedudukan di Surakarta. Tjokro tidak butuh waktu lama untuk menjadi orang yang berpengaruh di Sarekat Islam, melalui Kongres Sarekat Islam di Jogjakarta tahun 1914 Ia berhasil menggulingkan Samanhoedi dari jabatan Ketua.

Sebagai ketua, Tjokro langsung bergerilya ke semua cabang Sarekat Islam, berpidato atau hanya sekadar memberikan pemahaman mengenai visi kebangsaannya. Salah satu hasil manuvernya sebagai ketua, yaitu diakuinya Sarekat Islam secara hukum sebagai organisasi Organisasi Nasional oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1916. Setelah itu, pada tahun yang sama Sarekat Islam mengadakan Kongres Nasional pertamanya di Bandung. Program Kerja Sarekat Islam meluas, pro kepentingan rakyat dan umat Islam pada khususnya. Dukungan semakin banyak, anggota di daerah semakin bertambah. Rakyat jelata memiliki identitas baru, mereka sangat antusias mengikuti kongres-kongres. Sejak awal Anggaran Dasar Organisasi yang disusun Tjokro tidak hanya berupaya melindungi kepentingan perdagangan saja, ada kepentingan lain untuk memajukan kesejahteraan dan pendidikan kaum bumiputera.

Sarekat Islam semakin berkembang ketika pengaruhnya semakin kuat di cabang-cabang mulai terjadi beberapa pergerakan yang dinilai sebagai tindakan pembangkangan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Khususnya di wilayah Jawa Barat pada tahun 1919, di Afdeling B Garut para petani menolak menjual berasnya kepada Pemerintah Hindia Belanda, terjadi kerusuhan kecil di kota tersebut. H. Gojali sebagai pemimpin pergerakan itu ditangkap. Pemerintah meggunakan kekuatan senjata untuk menghentikan kerusuhan tersebut. H. Gojali yang mempunyai hubungan dengan Sarekat Islam kemudian dijadikan dasar untuk menangkap Tjokro oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ia ditahan pada bulan Agustus 1921 sampai April 1922 tanpa ditunjukkan Ia bersalah atau tidak.

#InfoAleut Ngaleut Kendan (31/01/2016)

12593443_724407721023365_3716226751703159445_o

#InfoAleut Hari Minggu (31/01/2016), kita akan Ngaleut Kendan. Dalam kegiaan ini, Aleutians akan momotoran menyusuri beberapa jejak kerajaan yang dulu pernah berdiri di daerah timur Bandung Raya.

Bagi Aleutians yang tertarik untuk bergabung, konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394 (SMS/WA) dan langsung saja kumpul di Kedai Preanger (Jl. Solontongan 20-D) pukul 07.00 WIB. Untuk Aleutians yang menggunakan motor, harap membawa helm extra untuk Aleutians yang akan nebeng :)

Cara Gabung Aleut-1C

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut siang hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :D